"Apa?" Satria, ayah dari Bagus, marah ketika ndengar cerita anaknya itu.
Wajah Bagus yang masih bengkak itu tampak tertunduk malu. lihat ayahnya yang marah itu dia benar-benar tidak berani natapnya. mang kalah berkelahi itu malukan, tetapi anaknya ini telah dihajar di depan publik dan njadi viral di dia sosial. Ditambah lagi, orang-orang tahu bahwa dia adalah anak dari bos perusahaan Galaksi. Hal ini mbuat ayahnya pusing bukan main.
Tetapi, yang mbuat Satria benar-benar marah adalah anaknya dihajar sampai wajahnya berubah drastis. Mana ada seorang ayah yang terima anaknya dihajar habis-habisan seperti ini?
"Kau tidak ngatakan bahwa kau berasal dari perusahaan ayah?" Satria ngerutkan dahinya, seharusnya orang di kota ini ketika ndengar nama perusahaannya langsung bergetar tanpa henti.
"Sudah ayah, tapi dia sama sekali tidak takut."
"Kalau begitu bisa jelaskan kenapa kau tetap bisa dihajar seperti ini walaupun sudah mbawa pengawal sebanyak itu?" Anaknya sudah mbawa puluhan pengawal elit dan masih kalah? Lelucon macam apa itu?
Satria paham tempat seperti apa anaknya itu suka bermain ketika malam hari, oleh karena itu dia mberikan banyak pengawal elit untuk lindungi anaknya.
"Itu." Bagus hanya bisa bergetar tanpa henti.
"Apa yang mau kau katakan?"
"Semua pengawal ayah itu tumbang dalam 1 nit." Kata Bagus dengan suara yang kecil.
"APA!?" Kali ini Satria benar-benar terkejut bukan main.
Sambil nghirup napas dalam-dalam, dia lalu bertanya. "Tolong kau jelaskan lebih detail."
Bagus kemudian nceritakan semua kejadian hari ini dari awal. Mulai dari dia bertemu Inggrid sampai dia mbawa puluhan pengawal untuk nghajar Randika kembali. Satria ndengarnya dengan wajah datar sampai dia ndengar ancaman Randika itu, ekspresi Satria berubah njadi serius.
"Bajingan itu benar-benar ngatakan hal itu?"
"Benar ayah, dia ngatakan bahwa kalau kita berani nghancurkan Perusahaan Cendrawasih maka dia akan mbunuhku dan nggantung mayatku di tempat umum." Bagus sedikit nambah-nambahkan.
"narik." Wajah Satria terlihat bengis. Pertama kalinya dia nemui orang yang berani berhadapan dengan perusahaannya, hal ini mbuat darahnya ndidih.
"Apakah kau tahu namanya?" Satria segera ingin lenyapkan orang ini, jika orang ini masih bernapas maka anaknya itu masih belum aman.
Demi kerajaannya dan keluarganya, Satria rela lakukan apa saja.
"Randika." Jawab Bagus.
Namun, pada saat ini teleponnya tiba-tiba bunyi. Suara panik sekretarisnya segera nuhi telinganya.
ndengar kabar tersebut, wajah Satria langsung njadi muram.
"Bagaimana bisa dia tertangkap?" Satria benar-benar tidak habis pikir bahwa salah satu pimpinan di perusahaannya tertangkap atas tuduhan mperkosa.
Lalu dia bertanya kembali kepada sekretarisnya. "Bagaimana dengan orang-orang kita di kepolisian? Apakah dia tidak bisa mbantunya?"
"Maafkan aku tuan, pemimpin kasus ini seorang wanita dari satuan khusus, kita tidak bisa apa-apa terhadapnya."
"Siapa yang laporkannya?"
"Aku telah minta laporan tersebut dan ternyata itu adalah Hannah, adik dari pemimpin Perusahaan Cendrawasih Inggrid Elina. Hannah dan temannya Monika laporkan bahwa orang kita telah ncoba mperkosa Monika dengan cara mberinya alkohol sampai tidak sadarkan diri. Lalu orang kita tersebut dibuat ngaku oleh seseorang bernama Randika dan mberikan sebuah foto sebagai buktinya."
PRANG!
Tiba-tiba, asbak yang ada di atas ja sudah layang ke tembok.
Pria itu lagi!
Bagaimana bisa dalam sehari perusahaannya diserang oleh pria itu terus-nerus??
"Tuan?" Sekretaris itu masih bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
"Baiklah, aku akan ngurus masalah ini sendiri. Aku akan ngabarimu jika aku perlu apa-apa."
Setelah nutup teleponnya, Satria lalu nelepon seseorang.
"Halo David? Bantu aku untuk mbunuh seseorang."
......
Pagi berikutnya, Randika kembali sarapan di luar. Hari ini dia berniat makan nasi pecel di dekat rumahnya. Namun, dia sudah diikuti oleh beberapa orang sejak dia keluar dari kompleks perumahannya.
Randika pura-pura cuek dan san makanannya. Dia tahu bahwa pihak lain tidak akan mbuat keributan di tempat umum.
Setelah selesai makan dan mbungkus, Randika segera nuntun reka ke gang sepi. Setelah dia berjalan beberapa nit, dia ncuri pandang ke belakang dan sudah ada puluhan orang ngikutinya. Sepertinya pemimpinnya berada di belakang sambil mbawa golok itu.
"Hoi berhenti!"
ndengar ini Randika lalu noleh dan lihat puluhan orang mulai ngepungnya. Ekspresinya tetap sama dan dia lalu masang ekspresi bingung. "Apakah kalian ncariku?"
"Kau buta ya? Jelas-jelas di sini cuma ada kamu seorang." Salah satu preman itu muak dengan sikap pura-pura bodohnya Randika.
"Kalian mau apa? Perasaan aku tidak punya hutang." Randika bertanya sambil makan peyeknya.
"Salahmu adalah nyinggung orang yang salah." David, si pemimpin dari geng golok ini, maju dan nghampiri Randika.
"Ah? Apakah ini gara-gara aku ketahuan ngambil kerupuk 4 tapi aku ngakunya 1? Atau apakah karena kapan hari aku ngambil uang jatuh di jalan? Atau jangan-jangan aku ketahuan ngintip kamar mandi perempuan di taman itu ya? Jadi kalian orang suruhan yang mana? Bisa dikatakan bahwa aku telah nyinggung banyak orang." Kata Randika sambil tersenyum.
skipun sedikit terhibur dengan ocehan Randika, David segera mberi sinyal kepada bawahannya untuk lemparkan golok ke arah Randika. Saat golok itu lesat, Randika sudah hilang dari tempatnya berdiri.
"Ah kalau kau berniat mbunuhku seperti itu, berarti satu-satunya orang yang kupikirkan adalah orang-orang dari Perusahaan Galaksi. Apakah salah satu dari reka ngirim kalian?" Randika mulai paham akan situasinya.
Semua orang terkejut ketika ngetahui Randika sudah berada di belakang David.
David segera ngambil langkah mundur, dia rasakan sensasi bahaya yang mancar dari targetnya ini. skipun dia sudah mbawa banyak orang bersamanya hari ini, dia masih rasa ketakutan.
"Karena kalian adalah suruhan Perusahaan Galaksi, aku tidak perlu nahan diri." Tatapan mata Randika njadi dingin dan tanpa aba-aba, dia sudah nghilang kembali.
Para preman ini terkejut lihat sosok Randika yang sudah nghilang lagi. Yang reka tahu adalah teriakan ketakutan dan kesakitan yang berada di sisi kanan reka. Satu per satu preman telah dipukul hingga pingsan oleh Randika.
"Tunggu apa lagi? Bunuh dia!"
Semua orang yang masih bengong langsung tersadar dan nyerang. Namun, ketika reka sampai di tempat Randika, sosok Randika sudah nghilang lagi. Hal ini mbuat bingung para preman namun, teriakan kesakitan dari pihak reka sama sekali tidak berkurang.
"Berpencar!"
Kata David dengan keras.
Randika masih nggunakan taktik Hit and Run, Randika nggunakan kelincahannya untuk mbuat reka bingung. Ketika dia tiba di hadapan seseorang, Randika akan layangkan pukulannya dengan keras ke wajah ataupun perut. Setelah itu dia akan kembali njadi gumpalan asap, mukul orang di arah lainnya.
Di mana pun Randika terlihat, seseorang akan terjatuh di tanah. Lama kelamaan sudah lebih dari 12 orang pingsan hanya dalam waktu 1 nit.
Para preman yang tersisa mulai ngucurkan keringat dingin, reka benar-benar tidak bisa lihat sosok Randika sama sekali. Tetapi, Randika tiba-tiba muncul di tengah-tengah reka sambil nguap. "Pertarungan yang mbosankan, aku sampai ngantuk begini. Sudah sini kalian semua maju saja bersamaan, akan kuhabisi kalian."
David dan bawahannya tersinggung lalu nerjang ke arah Randika.
Ketika semua preman berlarian ke arahnya dari segala arah, Randika nginjak keras kaki reka hingga gepeng. Hanya satu serangan dari Randika sudah mampu mbuat 10 orang kesakitan dan terjatuh.
Lapisan kedua sudah ndekati dirinya dan yang dilakukan Randika di luar ekspetasinya reka. Randika nyalurkan tenaga dalamnya ke tinjunya dan nghantamkannya ke tanah! Dalam sekejap tanah reka berdiri runtuh dan reka terjatuh ke dalamnya. Setelah itu Randika hanya perlu mbereskan reka satu per satu.
David, yang tidak ikut nerjang, nelan air ludahnya sambil terus gang goloknya dengan erat.
Saat dia nerima tugas ini dari Satria, kenapa dia tidak nyinggung bahwa orang ini sangat kuat?
Jika targetnya ini bisa nghajar seluruh bawahanku sendirian, bahkan aku lari ke ujung dunia pun rasanya aku tetap akan mati.
Hati David dipenuhi dengan penyesalan. Sekarang setelah semua bawahannya sudah ringkuk di tanah, Randika mulai berjalan nghampirinya.
"Hiii apa maumu?"
"Apa mauku?" Randika terlihat bingung. "mangnya tadi apa yang mau kau lakukan ke aku?"
"Kau salah paham!" David berharap polisi atau siapapun lewat dan nyelamatkan dirinya. "Kami hanya sedang lewat, kami hanya ingin sarapan."
"Lewat? Bukankah itu aneh?" Randika berkata sambil tersenyum. "Sejak aku keluar dari rumah bukankah kalian sudah ngikutiku? Saat aku makan pun kalian ngawasiku dari dekat."
David terkejut, orang ini sudah tahu bahwa dia telah diikuti sejak awal?
"Bukankah orang-orang dari Perusahaan Galaksi nyuruhmu untuk mbunuhku?" Kata Randika dengan nada dingin.
David tidak bisa berhenti getar. "Benar, ini salah reka!"
David sudah tidak berani berbohong, orang di depannya ini sudah bagaikan setan di siang bolong!
Randika lalu bertanya kembali, "Siapa yang nyuruhmu?"
"Satria, dia pemimpin dari Perusahaan Galaksi." Kata David tanpa ragu.
"Kau tahu tempat tinggalnya?"
"Pondok Indah."
"Nomor rumahnya?"
"Pondok Indah N/23."
David berharap dengan ngatakan segalanya orang ini akan ngampuninya dan Satria akan ndapatkan pengalaman horror ini juga. Randika tidak berbicara lagi dan berdiri diam natap David.
Randika lalu berkata dengan dingin, "Golok itu buat apa?"
Dalam sekejap David mbuangnya jauh-jauh.
"Apa yang harus kulakukan ketika aku bertemu denganmu suatu saat nanti?" Tanya Randika sambil tersenyum.
"Kami akan nuruti apa kata kakak tertua, apabila kakak nyuruh kami terjun ke jurang kami akan terjun!"
Randika ngangguk puas lalu bertanya, "Apakah kau masih ingin mbunuhku?"
"Kami tidak berani berpikiran seperti itu!" David segera sujud di hadapan Randika.
Randika ngangguk lagi dan ninggalkan gang sepi tersebut.
lihat Randika yang berjalan ninggalkan dirinya, David nghela napas lega.
Namun, tiba-tiba Randika berhenti berjalan dan bertanya. "Omong-omong."
David langsung njadi tegang kembali dan nahan napasnya.
"Apa nama gengmu ini?"
"Geng golok." Jawab David dengan cepat.
"Nama yang buruk, cepat ganti." Randika berpikir keras selama beberapa detik.
"Aku rasa geng goblok lebih cocok buat kalian." Kata Randika sambil ngangguk puas.
"Baik, kami akan dikenal sebagai geng goblok mulai dari sekarang." David hanya berharap Randika sudah puas dan pergi ninggalkan hidupnya.
"Aku punya teman di dunia malam, jangan kira aku tidak tahu apa-apa. Jika aku dengar nama kalian tidak berubah, kalian tahu apa yang akan terjadi bukan?"
"Kakak tidak perlu khawatir, kami adalah geng goblok." Teriak David.
Randika ninggalkan gang itu dengan perasaan puas.
David dan bawahannya tertawa pahit dalam hati. Mulai sekarang reka akan diejek terus-terusan karena nama baru reka.
Reviews
All reviews (0)