Font Size
15px

Tapi ketika pria itu mbuka sedikit pintunya untuk ngintip, pintunya tiba-tiba terdorong dengan kuat! Seketika itu juga, pintu terbuka lebar dan pria ini terjepit di balik pintu gara-garanya.

"Aku kan sudah bilang lebih baik dobrak saja daripada nggedor begitu." Randika hanya tersenyum ke arah Hannah.

Hannah yang panik segera nerjang masuk dan ncari sahabatnya. "Monika!"

Hannah segera lihat Monika yang penuh air mata dengan pakaian dalamnya saja di atas kasur. Dia lalu ngambil sebuah jubah dan nutupinya sambil luk erat sahabatnya itu. "Tenanglah, aku sudah di sini."

"Hannah!" Monika nangis semakin keras, dia rasa lega temannya berhasil nyelamatkannya.

"Sudah, sudah." Hannah sedikit neteskan air mata sambil ngelus kepala Monika.

Di sisi lain, Randika sedang riksa sekelilingnya. Mana orang yang bertanggung jawab atas perbuatan hina ini?

Seketika itu juga, dari balik pintu terdengar orang nangis. Randika lalu nyadari ada kaki yang ncuat dari balik pintu dan ternyata ada orang di baliknya.

"Siapa kalian?" Pria tersebut marah-marah pada Randika. "Berani-beraninya kalian nerjang masuk tanpa ijin! Akan kubuat kalian masuk penjara!"

"Aku sadar akan perbuatanku ini." Randika hanya nggelengkan kepalanya.

"Baguslah kalau begitu, aku ingin kalian segera keluar!" Pria itu ngusir Randika dan Hannah, dia lalu ncengkram tangan Monika dan berkata dengan nada dingin. "Kau ikut denganku!"

"Bajingan rendahan!" Hannah langsung nampar pria tersebut.

Pria itu sudah hendak mukul Hannah karena sudah rusak malam indahnya ini. Tiba-tiba, suara kara handphone terdengar dan ketika dia noleh, dia tertampar sekali lagi.

"Kau!" Pria itu terkejut, bisa-bisanya pria itu masih berani lawannya juga?

Namun, Randika namparnya sekali lagi. "Hei pak tua, sepertinya kau tidak sadar akan situasimu saat ini."

Ketika pria tersebut hendak njawab, Randika namparnya sekali lagi. Dia lalu berkata dengan dingin. "Apakah aku nyuruhmu untuk njawab?"

Beda dengan tamparan para perempuan itu, tamparan Randika sangat keras dan nyakitkan. Ketika dia berusaha nghindar, tamparan Randika masih tetap akurat ndarat di wajahnya.

"Apakah anjing sepertimu pantas natapku seperti itu?" Wajah Randika mulai terlihat bengis. "Kau mbuat mabuk perempuan yang masih muda dan mbawanya ke hotel, kau adalah sampah dari sampah."

"Apakah kau punya bukti?" Pria tersebut sudah siap dengan pertanyaan seperti itu. "Apakah kau punya bukti bahwa aku maksanya? Dia sudah 18 tahun dan kita sama-sama nginginkannya!"

Tanpa berbicara, Randika nendangnya keras. Pria tersebut segera natap tembok dan ngerang kesakitan di lantai.

"Aku tidak perlu bukti," Randika lalu nghampirinya. "Lelaki macam kamu mang tidak layak untuk hidup."

Setelah ngatakan seperti itu, Randika nendangnya lagi. Kali ini pria tersebut nahan dengan tangannya tetapi dia masih kesakitan.

Jangan pura-pura mati." Kata Randika dengan nada ngancam. "Aku masih belum selesai denganmu."

"Hajar dia sampai mati kak!" Hannah benar-benar marah, tega-teganya pria itu mbuat temannya seperti ini?

"Kau Apakah kau tidak tahu siapa aku?" Pria tersebut terbatuk berkali-kali dan darah mulai ngucur dari sudut mulutnya.

"Oh? Apakah kau orang terkenal? Kalau begitu akan kudengar terlebih dahulu." Kata Randika dengan santai.

"Hahaha!" Pria itu tertawa keras sambil natap tajam Randika. "Jangan kabur ketakutan kalau sudah ndengarnya, aku adalah salah satu atasan dari Perusahaan Galaksi."

Perusahaan Galaksi?

Randika hanya terdiam mbeku, dia natap bingung ke arah pria tersebut. Bisa-bisanya dia berurusan dengan orang Perusahaan Galaksi 3x sehari? Apakah reka fansnya?

lihat ekspresi Randika yang tampak kebingungan itu, si pria ini semakin besar kepalanya. "Kalian semua akan kukubur dalam-dalam! Dengan kekuatan perusahaanku, tidak aka nada masa depan bagi kalian semua!"

Randika hanya tersenyum ketika ndengarnya. "Aku rasa semua orang dari Perusahaan Galaksi ternyata busuk-busuk."

"Kau masih tidak ngerti situasimu bocah?" Pria itu ludahi sepatu Randika. "Jika kau nyentuhku sekali lagi, akan kupastikan keluargamu ikut terseret ke jurang bersamamu!"

Namun, tiba-tiba, Randika nghampirinya dan nendangnya sekali lagi.

"mangnya kenapa kalau kau berasal dari Perusahaan Galaksi?"

"Kau! Kau masih berani nyakitiku?!" Pria itu benar-benar marah.

"Mau kamu itu utusan negara atau presiden suatu perusahaan, aku tetap tidak peduli. Hari ini kau akan tetap kusiksa." Randika lalu ngambil tali raffia yang dibawanya dan ngikatnya ke kursi.

Setelah dirinya terikat, pria ini benar-benar ketakutan.

Ada apa dengan pria satu itu? Apakah dia tidak tahu kekuatan sebesar apa yang dimiliki Perusahaan Galaksi? Apakah pria ini masih waras?

lihat Randika yang ngutak-atik celana panjangnya, pria tersebut segera marah kembali.

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku hanya ingin lihat namamu siapa sebelum mbuatmu rasakan apa yang telah kau lakukan kepada perempuan itu tadi." Setelah ngambil foto KTP pria tersebut, Randika mulai mikirkan cara untuk nyiksa orang ini.

Pertama-tama dia mbuka jubah mandi orang tersebut. Badan penuh bulu yang njijikkan dan bau ketiaknya sangat nyengat mbuat Randika ingin muntah di tempat.

Hannah langsung malingkan wajahnya, tidak ingin lihat tubuh njijikkan pria itu. Apa yang akan dilakukan kakak iparnya tidak sebanding dengan penderitaan yang telah diterima oleh Monika. Hannah berharap pria itu mati saja.

"Tunggu! Kita sepertinya salah paham dengan semua kejadian ini." Wajah pria itu njadi pucat ketika lihat bahwa Randika kembali mbawa pisau makan yang ada di laci. "Aku bekerja di Perusahaan Galaksi jadi kalau ini masalah uang, aku akan mberikan padamu berapapun!"

Namun, di bawah tatapan minta ampun pria itu, Randika nggores pisaunya tepat di pipinya.

Setelah itu Randika kembali ngiris orang tersebut beberapa kali lalu berbisik padanya. "Jangan khawatir, luka itu tidak dalam. Semua ini hanyalah hidangan pembuka, nanti akan kuberi obat agar lukamu itu cepat nutup. Lagipula mati dengan 1000 sayatan mbutuhkan lebih dari 1 hari."

Mati dengan 1000 sayatan?

"TIDAK! Lepaskan aku! Katakan berapa uang yang kau mau! Aku akan berikan seluruhnya padamu!" Pria itu segera raung ketakutan seperti anjing nggonggong.

"Percuma mohon ampun sekarang." Randika lalu duduk dan nunjuk ke arah Monika. "Minta maaf padanya."

Pria itu segera noleh dan berkata sambil nangis. "Monika maafkan aku. Kau perempuan tercantik yang pernah kulihat dan aku tidak bisa ngendalikan diriku sendiri. Maafkan aku dan aku akan mberikanmu uang yang banyak."

Monika hanya terdiam, dia sudah tidak sudi lihat wajah pria itu sedetik pun. Hannah tertawa lalu ngatakan. "Uang? Kau kira rasa malu ini bisa digantikan dengan uang?"

"Malu? Aku bahkan belum lakukan apa pun terhadap tubuhnya. Lepaskan aku dan aku jamin uang yang kau terima bisa tahan 7 turunan."

Monika lalu ngumpulkan seluruh keberaniannya dan natap ke arah pria yang hampir nodai tubuhnya itu. "Aku akan laporkan kejadian ini kepada polisi."

"Baiklah, kita akan nurutimu." Hannah lalu luk erat temannya itu.

"Polisi?" Pria itu segera nghela napas lega. Dia miliki teman kuat di dalam kepolisian kota ini, dengan bantuannya dia akan lolos dari kejadian ngerikan ini. Tapi, Randika dengan cepat ngatakan, "Aku akan mbawa orang ini ke kenalanku di satuan khusus kepolisian kota ini. Dengan bantuan polisi tersebut, aku jamin orang ini tidak akan pernah bisa lepas dari penjara."

Ketika ndengarnya, orang tersebut segera panik dan ronta-ronta. Randika lalu mukul bagian belakang kepalanya dan mbuatnya pingsan.

Setelah keadaan njadi tenang, Hannah lepas jaketnya dan mbantu Monika berdiri.

Setelah manggil keamanan hotel dan njelaskan situasinya, Hannah dan Randika mbawa pria tersebut ke Deviana.

"Masuklah ke dalam dan ceritakan segalanya kepada temanku itu. Aku akan nunggu di luar untuk mberikan temanmu itu privasi." Kata Randika dengan santai.

"Baik kak." Hannah tersenyum dan ngangguk. Kemudian dia nyuruh Randika nunduk dan ncium pipinya. "Terima kasih kak!"

"Hahaha bisa saja kau!" Randika lalu ngelus-elus kepala adik iparnya itu sambil tersenyum.

Hannah tersipu malu, entah kenapa dia terpikir untuk ncium kakak iparnya itu!

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 73: Hotel Mawar (2) on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.