Font Size
15px

Masih sambil ngupil, Randika mperhatikan Indra dengan seksama.

Setelah semua preman itu ngepung, entah itu mukul ataupun nindih Indra, tiba-tiba udara terhisap ke tubuh Indra dan ledak.

Kerumunan orang itu terpental jauh sebanyak 10 langkah! Ternyata itu adalah ledakan tenaga dalam Indra.

'nggunakan taktik lautan manusia ke Indra ntang-ntang dia gemuk? Polos sekali reka, tenaga dalam Indra jauh lebih besar dariku tahu!' Pikir Randika.

"Bagus, bagus." Randika bertepuk tangan sambil muji Indra.

"Hehe." Indra malu-malu ndengarnya.

Setelah nyelesaikan masalah ini, Randika sudah berniat pergi dari situ. Tetapi, dalam sekejap ada teriakan muncul dari arah gang. "Kalian berdua jangan bergerak!"

noleh ke belakang, pemimpin geng gagak natap dirinya dengan tajam. Di tangannya sudah ada pistol mbidik ke arahnya.

"Indra, berlindunglah di belakangku." Kata Randika dengan pelan, lalu Randika maju perlahan. "Kenapa? Kau ingin dihajar juga?"

"Bedebah!" Muka si pemimpin ini buruk sekali. Hari ini dia hanya sedang nghajar geng yang berani langkahi wilayahnya, tidak pernah terpikir dia akan bertemu dengan duo bocah seperti reka itu. skipun mukanya terlihat bodoh, orang gemuk itu sungguh kuat. Dia bisa nghajar gabungan kekuatan antara dua geng dalam sekejap!

Mau ditaruh mana wajahnya kalau dia mbiarkan kedua orang itu pergi begitu saja?

"Kalian semua cukup main-mainnya, berdiri dan bunuh bedebah satu itu." Teriaknya.

Beberapa preman yang ringkuk kesakitan segera berdiri dan berjalan kembali ke mobil dan ngambil senjata api reka. Tak lama, 12 orang sudah mbidik ke arah Randika.

"Sebentar, sebentar, aku sudah ngomong kalau kami cuma lewat." Randika lalu tersenyum. "Kami hanya kebetulan saja lihat ke arah kalian dan tiba-tiba kalian ndatangi kami. Tentu saja kami harus mbela diri kami bukan?"

"Setelah lihat pistol ini kau njadi takut?" Pemimpin geng gagak ini mulai besar kepala. Hari ini kau akan makan malam di neraka kalau tidak nuruti kata-kata kami."

Randika hanya nghela napas, kenapa nasibnya selalu bertemu dengan orang-orang seperti ini?

Randika lalu nganalisa situasinya. Ke-12 orang ini jaraknya cukup berdekatan jadi cukup mudah baginya untuk naklukan reka.

Tapi dia harus mikirkan Indra yang berdiri di belakangnya. Dia tidak punya kemampuan untuk bergerak cepat jadi apabila musuh nembak maka reka bisa celaka. Terlebih lagi, api kebencian mulai mbara di mata para preman ini, situasinya bisa lebih buruk lagi.

"Ikat reka berdua! Kita lihat pria gemuk itu bisa sok hebat lagi tidak saat kita siksa dia."

"Kak, aku ingin ngalahkan reka." Indra tidak bisa nerima ejekan yang dilontarkan tersebut.

"Jangan khawatir, serahkan ini padaku." Kata Randika dengan santai.

Beberapa preman ndekati reka berdua dan Randika hanya berkata sambil nghela napas, "Tidak ada jalan damai kah?"

"Mimpi! Berlutut dan nyerahlah!"

"Kalau begitu, nanti jangan minta ampun padaku!" Tiba-tiba Randika sudah berubah jadi gumpalan asap!

Para preman tersebut terkejut target bidikan reka tiba-tiba nghilang.

Dalam sekejap, tenaga dalamnya yang dia alirkan di tangannya sudah mutar pergelangan tangan si pemimpin geng gagak dan pistolnya layang di udara. Dia sama sekali tidak bisa lawan saat dia dibanting oleh Randika.

Para preman itu terkejut ketika pemimpin reka tiba-tiba ringkuk kesakitan, reka segera mbidik Randika kembali. Tapi Randika sudah lompat tinggi bahkan sebelum reka noleh. Senjata yang ada di udara itu dia ambil dan tembakkan.

Dor! Dor! Dor!

Hanya dalam satu detik sejak dia gang pistolnya itu, Randika sudah nembak ke-11 orang lainnya yang mbawa pistol.

"Ah!"

Ke-11 orang itu langsung gang tangan reka yang tertembak itu.

"Apa yang terjadi?!" Para preman lainnya hanya bisa longo lihat teman-teman reka tertembak. reka bingung harus berbuat apa.

"Dasar bodoh! Ambil senjata dan tembak dia!" Teriak pemimpin reka.

"Mana orangnya?" Para preman itu masih tidak bisa lihat di mana sosok Randika. Di saat reka masih kebingungan, Randika sudah berada tepat di depan reka.

Randika bagaikan asap yang nyelimuti reka semua, setiap kali dia lewati seseorang maka orang itu akan berteriak kesakitan. Setiap teriakan akan mbuat ketakutan para preman yang lain, reka tetap tidak bisa lihat sosok yang nyakiti kawan reka.

Dalam sekejap, ke-12 pistol berhasil dia ambil ataupun hancurkan dan 20an orang telah Randika taklukan dengan mudah.

Para preman sisanya itu berdiri mbeku, apakah musuh reka ini masih bisa dibilang manusia?

Randika lalu berjalan nuju kedua pemimpin geng yang ringkuk ketakutan di belakang. Para preman tanpa sadar mbukakan jalan untuknya.

"Hiiii apa yang kau mau!" Randika mbidik kepala reka berdua, dalam sekejap reka berdua ketakutan dan berkeringat deras.

"Ampuni aku!" Pemimpin geng ini sudah tidak mikirkan harga diri atau semacamnya, baginya nyawanya adalah segalanya.

"Hmm? Bukankah kau ingin mbunuhku tadi?" Tanya Randika dengan nada datar.

"Ah! Kau salah dengar, aku tidak pernah berkata seperti itu." Pemimpin itu langsung nunjuk si pemimpin geng gagak. "Dia yang berkoar ingin mbunuhmu, bukan aku!"

Pemimpin geng gagak ini langsung berkeringat deras, dia tidak bisa mbantah omongan rivalnya ini.

"Oh benar juga." Randika lalu cuma mbidik si pemimpin geng gagak itu. Ketika para bawahannya lihat ini, beberapa dari reka yang nekat hendak rebut senjata yang dibawa oleh Randika itu. Tetapi setelah 3 langkah, Randika dengan akurat nembak salah satu kaki orang yang paling depan.

Detik itu juga, orang-orang nekat itu tidak berani bertindak gegabah lagi. Lawannya ini sudah bukan manusia!

"Nah kita kembali ke urusan kita lagi." Randika lalu berkata dengan nada dingin. "Bukankah kau akan mbunuhku?"

"Geng gagak tidak akan pernah berhenti mburumu!" Pemimpin ini berusaha ngintimidasi Randika. Tetapi Randika dengan cepat nggelengkan kepalanya. Dia lalu mpreteli ke-12 senjata yang ada dan ncengkram erat tangan si pemimpin gagak itu. Dalam sekejap dia ringkik kesakitan.

"Berani nunjukan mukamu lagi, aku akan mbunuhmu!" Randika lalu berjalan pergi.

lihat punggung Randika, api kebencian berkobar di mata si pemimpin ini. Dia lalu ngambil pistol yang dia sembunyikan di celananya dan nembak Randika.

Dor!

Ketika peluru itu lesat, dia tersenyum lebar. Tetapi detik berikutnya sosok Randika sudah nghilang dari jalur peluru tersebut.

Apa? Bagaimana bisa?

Mata pemimpin geng gagak ini terbelalak dan suara Randika terdengar dari arah belakangnya. "Pistolmu terlalu lambat."

Ketika dia noleh, dia sudah nerima pukulan Randika yang mbuatnya terpental jauh.

Randika lalu nghampirinya dan remukkan kedua tulang tangannya, dia mastikan bahwa orang ini akan cacat seumur hidupnya.

Para preman lainnya hanya bisa lihat semua ini terjadi. reka sudah tahu bahwa reka bukan tandingan setan satu itu.

"Kakak seperguruan mang hebat!" Muka Indra penuh dengan kekaguman.

"Sudah kubilang, panggil aku kak Randika." Randika nepuk jidatnya, bisa-bisanya Indra sudah lupa.

"Baik kak Randika." Kata Indra sambil tersenyum.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 67: Ares Beraksi! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.