Font Size
15px

Bersama dengan Indra, Randika naiki bis nuju kota Cendrawasih. Dalam perjalanan reka, Indra tidak pernah berhenti bicara.

"Kakak seperguruan apa itu?" Indra nunjuk pemandangan luar dan mulai penasaran.

"Kakak seperguruan, anjing itu mirip anjing di desa!" Indra nunjuk kedua anjing yang sedang berlari dengan majikannya.

"Oh? Kau punya anjing?" Randika bertanya.

"Bukan, biasanya aku lihatnya di hutan saat aku ncari kayu. reka selalu ngiler dan berteriak 'Aummm' setiap kali lihatku."

Bukankah itu serigala? Randika rasa bahwa serigala-serigala itu sudah lama nerkam Indra kalau tidak rasakan tenaga dalam Indra.

"Kakak seperguruan lihat gedung itu tinggi sekali!" Indra benar-benar seperti anak kecil.

"Hei, apakah kakak sudah pernah pergi ke sana?"

"Sudah." Randika njawab tanpa noleh. Dia sudah lama lelah ladeni Indra.

"Wahhh, kakak seperguruan mang hebat." Indra natap kagum pada Randika. Percakapan reka ini didengar oleh beberapa orang di belakang maupun depan reka, reka nganggap hal ini lucu.

Randika lalu nggaruk-garuk kepalanya dan noleh ke Indra, "Indra, nanti jangan panggil aku kakak seperguruanmu."

"Baik kakak senior." Indra bingung.

Randika benar-benar frustasi, dia lalu bingung harus berkata apa. Indra yang lihatnya ikut tambah bingung, "Kalau begitu aku harus manggilmu apa?"

"Kak Randika." Randika mulai nutup matanya.

"Baiklah, nanti aku akan manggilmu kak Randika, kakak seperguruan." Kata Indra sambil tersenyum.

Sepanjang perjalanan Indra selalu ngoceh tidak jelas dan Randika harus ladeninya sampai reka tiba di Cendrawasih.

Setelah turun dari bis, Indra ngatakan. "Kakak seperguruan, eh maksudku kak Randika aku haus."

"Ikuti aku." Randika mbawanya ke toko kelontong kecil yang ada di luar terminal dan mbelikannya es teh manis.

Saat reka sedang asyik nikmatinya, Indra lihat sesuatu. "Kak Randika, ada orang berkelahi."

Saat Randika noleh ke arah gang yang ditunjuk Indra, dia lihat beberapa orang sedang gang golok dan tongkat logam. Belum lagi ada sejumlah orang yang sudah ringkuk kesakitan di tanah.

Sepertinya itu pertarungan antar geng, Randika tentu tidak ingin campur dengan masalah seperti itu. Mau reka saling bunuh, itu bukan urusannya.

Ketika dia hendak mbawa Indra pergi, Indra berkata dengan nada bingung. "Kak Randika, apakah reka sedang berkelahi? Kata guru berkelahi itu buruk."

"Bukan, bukan, itu reka cuma berdebat saja." Randika ncium bau-bau repotkan dan berusaha narik Indra pergi, namun semua itu percuma karena dia tidak bisa nariknya 1 cm pun.

"Kenapa kau lototi reka? Kau ingin berkelahi juga seperti reka?" Randika tahu percuma berbohong terus sama Indra, yang bisa dilakukannya adalah mbuatnya kehilangan rasa penasarannya.

"Tidak" Indra nggelengkan kepalanya, "Aku orang yang baik, guru ngatakan berkelahi itu kegiatannya orang jahat."

Randika tersenyum pahit, adik seperguruannya ini benar-benar polos.

"Sudah kita pergi saja dan biarkan reka berkelahi semaunya." Kata Randika.

"Kakak tidak peduli dengan reka?" Indra mulai ragu ninggalkan orang-orang tersebut.

"Bukankah kata guru kau harus ngikutiku?" Randika natap Indra, "Apakah kau akan mbantah perintahnya sekarang?"

Indra berpikir sesaat dan ngatakan, "Aku akan ndengarkan kakak seperguruan."

Namun, keadaan di gang semakin manas. Terlihat dua orang sedang beradu mulut.

Salah satu reka berteriak keras, "Ternyata cuma segitu kekuatan geng gagak?"

"Hah? Teman-temanmu sudah terkapar begitu masih berani bacot?"

"Kau kira kami takut sama kalian?" Pria ini segera mbalas, "Kalian saja yang tidak sadar kalau pertarungan kita direkam sama kedua orang itu!" Pria yang sepertinya pemimpin geng ini sedang ncari cara untuk ngulur waktu agar bala bantuannya datang.

Pemimpin geng gagak itu juga dari tadi nyadari keberadaan Indra dan Randika. Dia tidak peduli dengan keduanya tetapi karena perkataan rivalnya itu, dia mulai curiga bahwa perkataannya itu benar. Gengnya terkenal di internet bukanlah pertanda bagus.

Randika baru saja berhasil mbuat Indra mau pergi dari situ tetapi tiba-tiba reka didatangi 2 orang. Kedua orang itu dengan cepat berteriak. "Kalian berdua, ikut kami!"

Randika lalu noleh dan lihat kedua pemimpin geng yang lototi dirinya. Dia dengan santai ngatakan, "Aku hanya sedang lewat dan tak mau berurusan dengan kalian. Lanjutkan saja."

Apa?

Pemimpin geng gagak dan pemimpin satunya terkejut ndengarnya. Tidak mau berurusan? Bukankah kau sudah rekam tawuran ini? Hal ini sama seperti ketika sepasang kekasih ingin berhubungan badan dan tiba-tiba muncul seseorang dari balik pintu dan rekam kejadiannya. Apakah itu masih bisa dibilang tidak ada urusannya dengan kita?

Pemimpin geng gagak itu marah, ini sudah bukan perkara video rekaman lagi. Ini masalah harga diri!

Hei bocah, berani mbantah kami?" Para preman bawahan geng gagak mulai ngayun-ayunkan senjata reka. reka tidak terima tidak dihormati seperti itu.

Randika ngerutkan dahinya, secercah kilau dingin lewati matanya. Dia lalu berkata pada Indra, "Indra, berilah reka pelajaran."

Indra segera nggelengkan kepalanya. "Kak, guru ngatakan bahwa aku tidak boleh bertarung sembarangan."

"Kalau kau tidak mau mberi reka pelajaran, reka akan nghajar kita." Muka Randika njadi serius. "Kau juga dengar kalau reka sendiri yang nyari gara-gara sama kita. Kita hanya mbela diri, tidak lebih. Lagipula bukankah kau berkata akan ndengarkanku? Jangan ragukan penilaianku."

Indra nganggukan kepalanya dan maju ke arah gang, tempat geng itu berada.

"Wow dia cukup nindih kita dan kita pasti mati." Salah seorang preman terpukau lihat betapa besar Indra.

Semua orang yang lihat Indra juga terdiam, reka baru pertama kali lihat nara daging sebesar ini.

"Jangan kira ntang-ntang badanmu besar kita akan takut! Aku akan nghajarmu duluan!" Teriak pemimpin geng gagak.

Para geng gagak segera nyerbu Indra. Namun, Indra tiba-tiba noleh ke arah Randika. "Kak, reka semua lemah. Guru ngatakan aku tidak boleh nindas yang lebih lemah."

Randika yang ndengarnya benar-benar njadi frustasi. "Indra, gurumu untuk sekarang adalah aku. reka semua itu ingin mbunuh kita dan kita hanya mbela diri. Lihat reka semua mbawa senjata, bukankah niat reka jelas? Justru reka yang ingin nindas kita, kita hanya mbela diri kita!"

Indra ngangguk dan rasa semua perkataan Randika masuk akal. "Baiklah."

Setelah reka selesai berdebat, 3 orang preman sudah berada di depan reka. Indra hanya ngayunkan tangannya dan reka bertiga sudah layang bagai lalat. Ketiga orang itu langsung terkapar tak sadarkan diri.

Para preman yang lain lihat teman reka sambil longo.

"Dasar bodoh! Ngapain ragu? Kepung dia dan serang bersamaan!" Teriak pemimpin geng gagak.

"Mati kalian!"

Para preman itu segera nyerang dari segala arah tetapi Indra dengan muka polosnya itu tidak peduli.

Pukulan dan ayunan tongkat logam para preman ini berhasil ndarat di tubuh Indra, tetapi tidak ada perubahan ekspresi ataupun suara kesakitan dari Indra.

Semua serangan itu hanya ngenai dagingnya bahkan tidak ngenai tulangnya.

Para preman itu longo, daging orang ini tebal sekali!

Indra lalu ngangkat satu orang dan lemparnya ke kerumunan. Seketika itu juga beberapa orang terjatuh di tanah.

Pada saat yang sama, seseorang nebas golok reka. Tetapi, dalam sekejap pergelangan tangannya patah dan dia ringkik kesakitan.

"Indra, kau harus lebih luwes dan tidak boleh mbiarkan pukulan ngenai dirimu." Randika mberi evaluasi.

"Baik." Indra segera rubah gaya bertarungnya.

Indra berubah dari pasif njadi aktif nyerang.

Ketika kaki gajahnya itu nginjak tanah, tanah pun ikut terguncang. Indra nahan serangan-serangan yang ada bahkan remuk tongkat logam yang dia tangkap!

Kepungan para preman ini terasa percuma. Ketika reka berusaha nyerang dari belakang, Indra langsung berputar dengan cepat dan njatuhkan siapapun yang ndekat. Setiap senjata yang ada njadi debu di tangannya.

Benar-benar pendekar jenius yang lahir 100 tahun sekali!

Para preman ini terheran-heran, mana ada orang gendut yang lincah seperti ini?

Indra segera rusak formasi kepungan para preman itu dengan cepat. Seluruh senjata yang reka bawa telah hancur ataupun telah terjatuh di tanah bersama tuan reka.

"Indra, kecepatanmu masih kurang." Randika yang berada di belakang nampak sedang ngupil. Indra benar-benar luar biasa, dia cuma masih kurang pengalaman saja. skipun dia miliki reaksi yang cepat, seorang pendekar sebenarnya tidak akan mbiarkan dirinya disentuh oleh seekor nyamuk. Mungkin ada enaknya dia mbawa Indra bersamanya.

Pada saat ini, Indra bagaikan dewa perang. Dia nghabisi seluruh preman yang berani nerjang.

Ketika 6 orang hendak nyerangnya dari segala arah, dia lompat dan nghentakkan kakinya keras-keras. Ketika para preman itu kehilangan keseimbangan, reka sudah layang jauh berkat pukulan Indra.

"Kalian semua bodoh! Sama orang segendut itu bisa kalah? Mana harga diri kalian sebagai geng terkuat wilayah ini?"

"Bos, orang gendut itu sangat kuat! Kita bukan tandingannya." Para preman ini mulai rasa malu. Dari segi jumlah dan senjata reka unggul jauh tetapi serangan reka tidak mampu nembus lapisan daging tebal itu. Bagaimana caranya reka nang kalau begitu?

"Kepung dia!" Pemimpin geng lainnya tiba-tiba nyela. "Kami akan mbantu, kita akan kepung dia sampai dia tidak bisa bergerak!"

Semua preman yang tidak ikut bertarung dari kedua kubu langsung nerjang maju. Pertarungan ini harus segera diselesaikan untuk nyelamatkan muka reka.

Ketika Indra sibuk nghajar, 2 orang lompat ke punggungnya berusaha untuk nahannya dan njatuhkannya. Beberapa orang juga ikut lompat.

Beberapa orang lainnya nyerang dan beberapa orang bergelantungan di tubuhnya, pertarungan ini benar-benar sudah bagaikan godzilla lawan manusia.

Orang-orang yang bergelantungan itu berusaha nutup mata Indra, nahan lengannya agar tidak bisa nyerang bahkan ada yang nggigitnya.

Randika yang lihat taktik musuh yang baru ini masih tetap ngupil dengan santai. Dia masih penasaran teknik apa yang akan dipakai oleh Indra.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 66: Sang Jenius Bela Diri Beraksi! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Nightwatcher cover
Similar genre

Nightwatcher

Paperboy ·Harem

Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,andMagicians.XuQi’an,a...Readmore Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,a...

On the Path to the Great Dao cover
Trending now

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.