Font Size
15px

lihat Indra yang mbungkuk pada dirinya, Randika tidak bisa nahan diri untuk nampar jidatnya. Kakek-kakeknya ini sedang bercanda? Yang dimaksud 100 tahun sekali itu bakat atau tubuh gemuknya itu?

mang benar Indra miliki aura yang berbeda, tapi apakah penilaian kakeknya itu benar? Inikah jenius yang lahir 100 tahun sekali?

lihat Randika yang tidak respon, Indra berkata sambil tersenyum. "Aku tidak nyangka kau adalah kakak seperguruan."

"Yah aku juga tidak nyangka juga kalau kau adalah adik seperguruanku." Randika benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Bagaimana mungkin tubuh sebesar ini bisa bela diri? Masuk akal kalau kakek hanya ngajarinya ilmu pengobatan, tetapi bela diri?

lihat keraguan di wajah Randika, kakek kedua ngatakan. "Jangan nilai buku dari sampulnya nak."

Kakek kedua miliki ide, "nurutmu, bagaimana kekuatan adik seperguruanmu itu? Jangan nilai fisiknya saja."

"Oh? Tenaga dalamnya lumayan besar." Randika baru nyadarinya.

"nurutmu, seberapa kuat dia?"

"Kalau dinilai dari peringkat dunia, mungkin dia bisa dikatakan masuk ke peringkat Dewa. Mungkin dia berada di angka puluhan dengan kekuatan yang 1/50 milikku."

"Kalau begitu coba bertarunglah dengan Indra." Kata kakek kedua sambil tersenyum. "Pakailah kekuatan penuhmu."

Karena kakeknya nyuruhnya, Randika pun nurutinya.

Randika natap Indra yang masih masang ekspresi bodohnya itu, lalu Randika tiba-tiba mukulnya!

Pukulannya tidak rumit maupun cepat, itu hanyalah pukulan sederhana dan pelan yang ngandung seluruh kekuatan Randika. skipun dia dalam kondisi puncak, dia sendiri tidak ingin terkena oleh pukulan tersebut.

lihat pukulan itu ngarah padanya, Indra mbalas pukulan itu dengan pukulannya sendiri!

Kedua pukulan itu beradu dan kedua kekuatan itu bertemu. Kekuatan yang dimiliki oleh Indra mbuat Randika terkejut.

Karena ledakan kekuatan ini mbuat keduanya terpental ke belakang. Indra terpental sejauh 5 langkah sedangkan Randika tidak bisa berhenti, dia terpental sejauh 12 langkah!

Bagaimana mungkin ini terjadi?

Randika natap Indra dengan mata terbelalak, kekuatannya luar biasa!

Dia yakin kekuatan Indra lebih lemah daripadanya tetapi pukulannya barusan ngandung kekuatan yang amat luar biasa.

Randika lalu tersadar, itu bukan pukulan tenaga dalam tetapi pukulan murni kekuatannya!

Jika Indra bisa nyalurkan tenaga dalamnya seperti dirinya ini, mungkin apa yang dikatakan kakeknya itu benar. Indra adalah pendekar jenius yang lahir 100 tahun sekali!

lihat wajah terkejut Randika kakek kedua tersenyum lebar, "Jadi kamu nyadari bahwa tenaga dalam Indra masih lemah, jujur kami baru latih tenaga dalamnya beberapa hari saja."

"Apa?" Randika tidak habis pikir. Cuma beberapa hari latih tenaga dalamnya Indra sudah setara dengan orang yang di peringkat Dewa?

Randika benar-benar tidak bisa berkata-kata, ini adalah bakat dari seorang jenius dari lahir!

Namun, adik seperguruannya ini nampak sedikit bodoh.

Kakek kedua tersenyum, "Jadi kau paham kan ngapa aku nyebutnya bakat yang lahir 100 tahun sekali?"

Randika ngangguk cepat, dunia ini mang luas.

"Kalau begitu, Indra pergilah ke kamarmu dan lakukan apa yang kuajarkan kemarin." Kata kakek kedua.

"Baik guru." Indra mbungkuk hormat dan pergi nuju kamarnya.

"Ran, kedatanganmu pasti ngenai kekuatan misteriusmu itu lagi kan?" Kata kakek ketiga sambil ngelus-elus janggutnya.

Randika noleh sambil tersenyum, "Hehehe kakek mang pintar."

"Hum." Kakek ketiga masang wajah bangga, "Tentu saja, bocah sepertimu hanya pulang ketika ada masalah."

Randika mulai berkeringat dingin ketika ndengarnya.

"Sini mana tanganmu."

Randika dengan cepat njulurkan tangannya dan kakek ketiga segera ngecek denyut nadinya. Dengan cepat kakeknya itu ngetahui kondisi Randika.

"Kau itu ya, sudah minum obatku kok ya bisa tenaga dalammu sampai tidak teratur seperti ini?"

Kakek ketiga benar-benar tidak habis pikir.

Randika sedikit malu, dia lalu nceritakan pengalaman hampir matinya itu dan kakeknya nggelengkan kepalanya tanpa henti.

"Bisakah kakek nyembuhkanku?" Randika nahan napasnya.

"Bah! Kalau bukan aku mangnya siapa lagi yang bisa nyembuhkanmu?"

Lalu reka berdua masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.

"Tenaga dalammu itu bercampur dengan kekuatan misteriusmu itu dan kita harus misahkannya dulu." Lalu kakek ketiga pergi ke kamar mandi dan ngambil handuk. "Mandilah dulu dengan campuran obatku dulu, setelah itu aku akan mberikan akupuntur."

Randika ngangguk, di kamar mandi sudah ada ember air yang sudah dicampuri obat-obatan khusus kakeknya.

Ketika air hangat itu nyentuh kulitnya, pori-porinya mbuka dan obat-obat yang terkandung di dalam air serasa masuk ke dalam tubuhnya. Dia rasa sangat nyaman dan rasakan bahwa tenaga dalamnya yang ngamuk itu mulai njadi jinak berkat obat-obat ini.

Setelah itu, kakek ketiga mulai nusukkan jarum akupuntur miliknya ke punggung Randika.

Randika nutup matanya dan rasakan putaran energi dalam tubuhnya. Tenaga dalamnya yang terlilit itu mulai njadi lurus kembali dan misahkan diri dengan kekuatan misteriusnya.

Setelah setengah jam, Randika mbuka matanya dan rasa tubuhnya sangat ringan.

"Hei bocah bandel, aku masih belum bisa nyentuh kekuatan misteriusmu itu. Tetapi kakek sudah mikirkan bagaimana caranya untuk ngendalikannya." Kata kakek ketiga sambil mainkan janggutnya.

ndengar itu, Randika langsung masang muka kagum pada kakeknya itu.

"Berdirilah dan pakai bajumu."

Seperti anak kecil yang nurut, Randika dengan cepat berdiri. Tetapi setelah itu Randika hanya berdiri diam, "Kek, jarumnya belum kakek lepaskan."

"Lepaskan sendiri."

"Ha? Jarumnya kan ada di punggungku, bagaimana caranya aku lepaskannya?"

"Ah rewel kamu!" Kakek ketiga berjalan keluar.

Hmmm?

Randika tidak bisa berkata-kata, rupanya kakeknya ini masih dendam karena dirinya dulu rusak tanaman obatnya pas masih kecil.

Dengan bantuan kakek kedua, Randika sudah lepas semua jarumnya dan makai bajunya. Dia lalu nyusul kakek ketiga yang duduk di teras.

Tak lama kemudian, kakek ketiga mberi secarik kertas pada dirinya.

"Setelah neliti buku-buku milikku, kakek nemukan cara ini. Kau harus ngikuti setiap langkah yang kutulis dan rebuslah semua tanaman obat itu. Setelah tiga tahun, kau pasti bisa ngendalikannya dengan sempurna."

"Tiga tahun?" Randika terkejut ndengarnya.

"Tidak ada yang namanya jalan pintas." Kakek ketiga ngusap kepala anaknya itu. "Ini satu-satunya cara yang kakek temukan tanpa perlu rusak tubuhmu, bersyukurlah kamu bisa ngendalikannya dalam 3 tahun."

Ketika ndengar itu, hati Randika terasa hangat. Dia lalu mbalas kakeknya sambil tersenyum, "Iya terima kasih kek, kakek mang yang terhebat."

"Kalau begitu, kita akan ke Kebon Raya besok untuk ncari bahan yang tidak ada. Aku akan ngajarkanmu sekali untuk mbuat sup obat itu."

Ketika Randika hendak njawab, kakeknya segera nyela. "Jangan lupa untuk mbersihkan ladang obat kita sama rumah kita agak kotor."

Randika terdiam, kakeknya ini mang malas.

...........

Hari berikutnya, Randika ncoba mbuat sup obat didampingi kakek ketiga.

"Pahit sekali!" Randika baru minum seteguk dan dia sudah tidak kuat. Ini adalah obat yang paling pahit yang pernah dia minum.

Saking pahitnya, Randika ingin muntah. Namun, kakek ketiga dengan cepat marahinya. "Makin pahit makin bagus buat tubuh. Mau sembuh tidak?"

"Iya kek." Randika tidak bisa mbantah kakeknya itu.

Setelah sepagian mbersihkan ladang dan rumah, Randika pamit untuk pulang ke Cendrawasih. Dia nyimpan baik-baik resep yang diberikan kakek ketiga di saku celananya. Luka internal tubuhnya sudah baik-baik saja jadi dia tidak perlu khawatir apabila diserang dalam waktu dekat.

"Nak, tunggu sebentar." Tiba-tiba kakek kedua nyuruhnya jangan pergi dulu.

Randika noleh dan masang muka bingung.

"Indra!" Suara kakek kedua sangat keras, kamar Indra berada di balik rumah jadi dia lari sekuat tenaga ke hadapan gurunya.

"Guru kedua, Indra sudah datang." Indra nyeka keringatnya.

Kakek kedua ngangguk dan nunjuk ke arah Randika. "Mulai hari ini, pergilah bersama kakak seperguruanmu."

"Ah?"

"Ah?"

Randika terkejut, Indra pun terkejut. Apa maksudnya?

DUAK!

Kedua lutut Indra dengan cepat terbenam di tanah. "Guru apa salah Indra sampai kau ngusirku?"

"Kek, apa kakek tidak terlalu keras?"

"Indra berdirilah dulu, bukan itu maksud kami. Kita tidak bermaksud ngusirmu." Kakek kedua lalu njelaskan. "Kami ingin kau ngikuti kakak seperguruanmu itu."

"APA?" Randika sampai njatuhkan tasnya.

Randika tidak habis pikir, skipun bela diri Indra sangat hebat, kecerdasannya kurang jadi kurang cocok baginya untuk tinggal di perkotaan.

"Baiklah guru, Indra akan belajar di bawah arahan kakak seperguruan."

"Randika, kau akan belajar banyak pada akhirnya." Kata kakek keempat sambil tertawa.

Randika cuma bisa ngangguk.

Ketika Indra berkemas, Randika natap langit dan cuma bisa nghela napas.

Dia harus nuruti perkataan kakeknya ini dan mbawa Indra bersamanya.

Selama ini ramalan kakek keempatnya tidak pernah salah, dia hanya harus percaya bahwa pada akhirnya semua akan njadi indah.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 65: Memulihkan Diri on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.