Font Size
15px

Randika natap cahaya ntari yang begitu hangat. Ya hari ini benar-benar terlihat sempurna!

Ketika dia turun dari bisnya, Randika mulai perjalanan kakinya dari Kota Kebon Raya nuju Desa Jagad.

Keempat kakeknya rupakan pendiri dari desa tersebut jadi bisa dibilang, desa itu adalah milik kakeknya.

Tidak butuh waktu yang lama untuk Randika lihat pemandangan pedesaan. Banyak petani sedang bercocok tanam, anak-anak dari desa sebelah yang sedang bermain dan yang paling ncolok di matanya adalah seorang pesumo yang sedang duduk sambil makan nasi bungkus!

Randika belum pernah lihat orang segemuk itu.

Bukan hanya itu, dia juga tinggi mungkin sekitar 190 cm.

Tinggi dan gendut, bobotnya mungkin ncapai 175 kg!

Pria gemuk itu makai jubah longgar seperti yang biasa dipakai kakeknya. Maklum, mungkin tidak ada baju yang bisa nutupi badan itu! Dia lalu lihat leher orang itu yang setebal kepalan tangannya.

Cuma ada satu ciri khas yang dimiliki orang segemuk dia, mau dilihat dari sisi manapun, hanya daging yang terlihat!

Bisa dikatakan bahwa orang ini adalah daging berjalan.

Randika lalu berpikir kalau dia ditindih orang ini mungkin dia akan mati dalam sekejap.

Lalu, dia lihat bahwa pria gemuk itu sedang duduk bersama seorang petani tua dan ada tumpukan kayu di sampingnya.

Rasanya nasi bungkus itu rupakan hadiah karena sudah mbantu kakek tua itu.

Kemudian setelah dia selesai makan, pria gemuk itu berdiri dan berjalan nuju ladang.

Dari caranya bernapas dan berjalan sudah nunjukkan bahwa dia bukan orang gemuk sembarangan. Langkah kakinya mantap dan terlihat ringan, napasnya teratur dan tidak tergesa-gesa.

Sepertinya orang itu telah berlatih bela diri.

Karena penasaran, dia nghampiri orang tersebut.

"Selamat siang pak." Randika nyapa petani tua yang masih duduk. Petani itu mbalas sapaannya. "Siang juga nak."

Orang gemuk itu juga nyadari Randika dan berjalan kembali ke arahnya. Ketika Randika lihat wajahnya, dia langsung teringat Krilin dari Dragon Ball. Bundar dan sipit, bedanya mungkin cuma ukuran kepalanya saja.

"Selamat siang, namaku Indra." Pria gemuk itu nyapa Randika.

Ketika berdekatan seperti ini, Randika baru benar-benar rasakan betapa tingginya orang ini.

"Hahaha Indra jangan buat kaget orang luar. Dia ini pemuda kebanggaan kami, tubuhnya besar dan hatinya juga besar. Dia selalu ada untuk nolong kami para petani tua ini." Petani tua itu terlihat senang.

Indra hanya tersenyum diam ndengarnya.

"Maafkan kalau aku lancang, berat badanmu berapa? Kenapa bisa kau begitu gemuk?" Randika tidak bisa nahan rasa penasarannya tersebut. Kalau dilihat dari dekat, orang ini benar-benar sehat.

Randika tidak bisa dikelabui, kemampuan orang ini termasuk hebat.

"Aku tidak tahu, aku lahir-lahir sudah gemuk." Indra njawabnya sambil tersenyum.

"Dari kecil dia sudah besar dan gemuk seperti ini. skipun begitu, dia tidak pernah kelelahan ataupun ngeluh sakit. Hebat bukan? Hahahaha." Petani tua itu seakan mbanggakan anaknya sendiri.

Yah Randika bisa nyimpulkan satu hal dari pertemuan singkatnya ini. skipun orang ini ramah tetapi dia bodoh.

Wajahnya terlihat bloon ketika dia tersenyum.

"Hmm? Kenapa kau terus natapku?" Tanya Indra.

Inderanya tajam!

Dia hanya liriknya dari sudut matanya dan Indra bisa ngetahuinya.

Randika lumayan terkejut dan njawab sambil tersenyum. "Hahaha aku hanya takjub saja, kau orang tergemuk yang pernah kulihat."

Karena markasnya dulu berada di Jepang, Randika familiar dengan para pesumo. reka sangat gemuk dan ketika reka berjalan sedikit saja sudah berkeringat sekaligus tarikan napasnya njadi singkat. Berbeda dengan Indra yang pernapasannya stabil dan terlebih lagi inderanya yang tajam itu.

"Kau benar. Banyak orang yang terkejut ketika lihatku." Kata Indra dengan polos.

Karena matahari sudah mulai turun, petani tua itu hendak kembali ke rumah. Indra mbantunya mbawa kayu bakar tadi dan nuntunnya pulang.

Karena arah yang ditujunya sama, reka bertiga berjalan sambil berbincang-bincang.

Ketika reka sampai di rumah petani tua itu, Indra naruh kayu bakarnya. "Kau benar-benar pemuda yang baik Indra." Petani tua itu rasa bersyukur.

Sekarang Indra dan Randika berjalan berdua ninggalkan rumah si petani. Randika mulai bertanya untuk cahkan keheningan, "Kau tinggal di mana?"

Indra tampak bingung untuk njawabnya dan akhirnya ngatakan, "Aku tidak bisa bilang."

"Hmm? Kenapa?" Randika penasaran.

"Guruku bilang jangan beritahu siapa-siapa tempat tinggalku."

Randika terkejut, dugaannya tentang Indra seorang ahli bela diri ternyata benar.

"Oh? Siapa nama gurumu mangnya?"

"Aku tidak bisa bilang." Wajah simpel Indra terlihat semakin serius.

"Gurumu larangmu bicara tentang itu juga?" Randika ngerutkan dahinya.

"Eh? Kenapa kau bisa tahu?" Mata Indra terlihat berbinar. "Kau pintar juga ya."

Anak kecil pun juga tahu kalau kau ngulangi jawaban yang sama, pikir Randika.

"Apakah tempat tinggalmu di Kota Kebon Raya?" Randika terus ngorek informasi.

Indra berpikir keras sambil nyilangkan tangannya. Karena gurunya nyuruhnya tidak ngatakan di mana dia tinggal, seharusnya tidak apa-apa jika dia njawab iya atau tidak. "Aku bukan tinggal di sana."

Eh?

Bukan dari Kebon Raya?

"Terus kenapa kamu berada di pinggiran desa begini?"

"Itu" Indra berpikir keras lagi. "Aku tidak bisa bilang."

Randika heran dan bertanya kembali, "Kenapa kau tidak bisa bilang?"

"Selain dari larangan guru, aku akan njawabnya." Indra benar-benar naif dan polos.

Ketika reka berjalan berdampingan begini, Randika benar-benar tertutup bayangan.

Randika lalu malingkan wajahnya dan rasa malas untuk berbicara lagi.

"Kenapa njadi diam?" Indra penasaran.

"Sepertinya kau dilarang banyak hal oleh gurumu itu, jadi aku tidak tahu harus bertanya apa."

"Oh!" Indra nggaruk-garuk kepalanya. "Benar juga."

Randika kehabisan kata-kata, kenapa orang ini begitu patuh?

reka lalu berjalan berdampingan tanpa ngatakan sepatah kata pun.

Tak lama kemudian, Desa Jagad sudah terlihat di depan mata. lihat pemandangan yang familiar ini mbuat Randika njadi rileks. Entah kenapa dia rasa bahagia ketika pulang ke rumahnya satu ini.

Bagaimanapun juga, ini adalah tempat dia tumbuh besar.

Ketika ncapai di perbatasan Desa Jagad, Randika rasa ada yang aneh. "Kenapa kau ngikutiku ke desa ini?"

Arah Randika tepat nuju Desa Jagad, seharusnya Indra sudah lama berpisah dengannya.

"Aku.... Aku tidak bisa bilang."

Randika njadi jengkel dan ncuekinya.

lihat bahwa Indra terus ngikutinya, Randika mutuskan untuk berlari sekuat tenaga.

"Hei tunggu aku!" Indra masih bingung dengan tujuan Randika.

Setelah berlari beberapa detik, Randika berhenti dan lihat kedua kakeknya sedang manen tanaman obat.

"Kakek!" Randika berteriak keras.

Kedua kakek itu noleh dan kakek kedua langsung ngol. "Bah bocah ingusan ini kembali lagi."

"Hahaha ini dia anak kebanggaan kakek." Kakek keempat segera nghampiri Randika. Senyuman di wajahnya sangat lebar.

"Randika sudah balik?" Kakek ketiga yang ada di rumah segera keluar dan nyambut Randika. Dengan sedikit tersenyum dia ngatakan. "Hahaha ramalanku mang tepat."

"Kakek ketiga mang hebat." Kata Randika.

"Omong-omong, bagaimana dengan ramalanku sebelumnya tentangmu?" Tanya kakek ketiga.

"Berkat bantuan kakek berikan sebelumnya, aku berhasil selamat dari maut." Kata Randika.

"Syukurlah kalau begitu." Kakek ketiga tersenyum lebar. "Aku juga ramal ulang tentang nasibmu ketika kau pergi kapan hari. Hasilnya sudah jauh lebih bagus."

"Oya kek, obat kakek benar-benar manjur lho." Kata Randika.

"Tentu saja!" Janggut kakek ketiga bergetar, dengan muka bangganya dia ngatakan. "Itu obat yang kukembangkan bertahun-tahun, mana mungkin tidak manjur?"

"Kalau begitu aku minta lagi kek, sudah kuminum kapan hari soalnya."

"Apa?" Kakek ketiga terkejut. "Bajingan, kau kira gampang mbuat obat seperti itu? Aku kerja susah payah tahu, bagaimana bisa aku mbuatnya semudah itu?"

Saking antusiasnya kakek ketiga ngoli Randika, air ludahnya itu berterbangan.

Kakek keempat terlihat senang lihat pemandangan penuh nostalgia ini, dia lalu ngatakan. "Oya, akhir-akhir ini kami nerima murid baru. Kemampuannya cukup hebat."

"Murid?" Randika terkejut. Berarti kakeknya ini ngadopsi anak lagi?

"Butuh beberapa waktu untuk kita semua setuju ngangkatnya." Kakek kedua nghampirinya. Dia lalu berkata sambil tersenyum, "Dia adalah pendekar hebat yang lahir 100 tahun sekali."

"100 tahun sekali?" Randika terpukau ketika ndengarnya. Sehebat apa orang itu?

"Siapa dia?" Randika penasaran. Kalau para kakeknya ini berani ngatakan seperti itu, maka orang tersebut sudah jenius sejak lahir.

"Sebentar lagi seharusnya dia pulang." Lalu kakek kedua nunjuk ke arah jalan yang dilalui Randika tadi.

Yang dilihat Randika hanyalah Indra!

"Kek, jangan omong itu murid baru kakek?" Tanya Randika.

"Benar orang gemuk itu." Kakek kedua lumayan bingung dengan pertanyaan Randika, masa bocahnya itu tidak bisa rasakan tenaga dalam Indra yang limpah?

"Ah!" Mulut Randika terbuka lebar ketika ndengarnya. Ketika dia masih longo, Indra sudah sampai di belakangnya.

"Salam kepada ketiga guru!" Indra mberi hormat pada ketiga gurunya.

APA?

Randika masih tidak percaya ndengarnya. Tiga guru? Berarti Indra belajar tentang ilmu pengobatan dan bela diri?

Ini benar-benar masih tidak dapat Randika percaya.

"Indra ini adalah Randika. Dia adalah kakak seperguruanmu." Kata kakek kedua sambil tersenyum.

"Baik."

Indra lalu berbalik ke arah Randika dan berkata sambil mbungkuk hormat. "Salam kakak seperguruan, namaku adalah Indra."

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 64: Namaku Indra on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.