Font Size
15px

Randika masih berdiri longo lihat Inggrid, istrinya itu benar-benar mbuat darahnya naik ke otak!

Dada itu, pantat itu, pinggang yang ramping itu! Sempurna! Terpujilah engkau ya Tuhan!

Randika natap linglung ke arah pantat bundar Inggrid yang nggoda itu.

Inggrid masih tidak sadar kalau Randika sudah kembali. Dia sedang ngikuti video gerakan senam aerobik di ruang tamu. Dia sekarang sedang makai sport bra dengan celana yang super pendek. Dadanya yang besar itu naik turun seakan-akan bisa mbelah bumi. Belum lagi yang mbuatnya terpukau adalah perutnya yang ramping serta pahanya yang putih mulus itu!

Hmmm lezat!

Rupanya istrinya njaga tubuhnya tetap sexy untuk dirinya, bagaimana mungkin dia tidak terharu?

Randika nelan air liurnya, matanya benar-benar tidak bisa lepas dari tubuh sexy istrinya itu. Dia lalu nghampirinya.

Suara gerakan senam itu nutupi suara langkah kaki Randika jadi Inggrid benar-benar tidak bisa ndengar Randika yang ngendap-ngendap.

lihat pantat yang terus bergoyang ke sana kemari, Randika mutuskan untuk remasnya sekali.

Empuk!

Tangannya langsung dipenuhi oleh keempukan sebuah bakpau dan dia pun tersenyum lebar. Sedangkan Inggrid, yang pantatnya diremas, terkejut dan berteriak. Dia akhirnya nyadari bahwa orang yang nyerangnya adalah Randika.

"Ah! Kau sudah kembali?" Muka marah Inggrid segera berubah njadi terkejut. Hilangnya Randika kemarin mbuatnya khawatir.

Ketika Inggrid nghadap ke arahnya, Randika nyadari bahwa puting Inggrid ngeras dan lototinya. Dia sangat ingin nyentilnya.

"Hei, kau tidak apa-apa?" lihat Randika yang bengong mbuat Inggrid khawatir, jangan-jangan dia masih sakit. Lalu dia nyadari bahwa tatapan mata Randika tepat nuju dadanya, seketika itu juga dia langsung nutupi dadanya.

Pria ini benar-benar sum!

Inggrid rasa malu karena berpakaian minim seperti ini, dia benar-benar tidak nyangka Randika akan pulang hari ini.

"Uhuk!" Randika segera malingkan wajahnya. "Lukaku sudah dikatakan baik-baik saja, hei kau sedang aerobik kah?"

Inggrid langsung natap curiga pada Randika, jangan-jangan ini siasat sumnya lagi.

Randika nyadari tatapan waspada istrinya itu dan ngatakan, "Jangan ikuti gerakannya itu, mubazir! Hasilnya tidak akan sepadan."

Kemudian Randika mbuka bajunya dan berkata dengan nada semangat, "Ayo aku akan ngajarimu teknik yang benar agar kau bisa njaga bentuk tubuhmu yang indah itu. Ikuti gerakanku, satu, dua, tiga, empat!"

lihat Randika yang mulai nari itu mbuat Inggrid tertawa lepas, gerakan Randika benar-benar berbeda dan unik.

"Hei jangan tertawa saja, ikuti gerakanku!" Randika mulai bergerak sesuai irama.

lihat Randika yang begitu antusias mbuat Inggrid mutuskan untuk nurutinya.

Bisa dikatakan Inggrid mang orang yang berbakat, dalam sekejap dia bisa ngikuti pergerakan Randika dengan lancar. Tetapi, gerakan Randika lama-lama mulai berubah.

lihat Randika yang mbungkuk dan nggoyangkan pantatnya secara liar, Inggrid rasa ada yang aneh dengannya.

'Gerakannya malu-maluin' Pikirnya.

"Hei, kenapa gerakanmu kaku begitu?" Pemilihan waktu Randika bisa dibilang tepat sekali ketika Inggrid ragu-ragu ngikuti gerakannya.

Randika lalu matikan videonya.

"Sebentar, aku peragakan lagi ya." Randika tidak boleh mbiarkan Inggrid berpikir kalau tidak tujuannya tidak akan tercapai. "Coba sekarang kamu. Pelan-pelan dulu saja."

Inggrid lalu mbungkuk badannya hingga mbentuk sudut 90 derajat. Tapi karena badannya yang kurang lentur, dia kesusahan.

Randika lalu nghampirinya dan berkata dengan nada santai. "Sini kubantu."

Kemudian Randika berjalan nuju belakang Inggrid dan tangannya nyentuh pinggangnya.

Ahhhh nikmatnya!

Randika nahan air liurnya tidak netes dan berusaha rasakan sensasi surgawi ini sediam mungkin.

"AH? Randika kau." Inggrid terkejut Randika tiba-tiba nyentuhnya. Randika dengan cepat mbalas. "Istriku, aku hanya mbantumu untuk ndapatkan tubuh idealmu. Setelah kau paham gerakannya kita akan mulainya dari awal lagi. Nih, posisi yang benar. Sudah paham?"

"Oke kita coba dari awal ya, setelah mbentuk sudut 90 derajat itu tekuklah pahamu dan mbentuk kuda-kuda layang."

"Ah kau kurang mbungkuk barusan, sedikit lagi." Randika berada di belakang Inggrid, dia mperhatikan pantat bundar itu dengan seksama.

"Turun lagi!"

"Aku tidak bisa!" Inggrid benar-benar sudah di batasnya, karena saking fokusnya dia tidak nyadari bahwa Randika hanya ingin lihat pantatnya yang nonjok itu dari belakang.

"Baiklah kalau begitu, tahan posisimu itu dan untuk gerakan keduanya goyangkan pinggangmu itu."

"Ah?" Inggrid terkejut.

"Sayang, ini untuk latih pinggangmu dan otot pahamu. Nanti kau akan rasakan manfaatnya jika sudah selesai." Kata Randika dengan nada yakinkan.

"Baiklah." skipun posisinya ini malukan, demi tubuh ideal dia nahan rasa malu itu dan lakukannya sesuai arahan Randika.

Randika nyaksikan bakpau itu bergetar hebat!

"Ya betul! Hebat sekali!" Pujian Randika ini tidak jelas diarahkan pada usaha Inggrid atau pantat Inggrid yang bergoyang ria. Tapi yang jelas, Randika mberi nilai 100 untuk pantat empuk itu.

Setelah beberapa saat, Inggrid mulai lelah dan berhenti. Randika segera malingkan wajahnya. "Baiklah untuk berikutnya kita latih otot punggungmu, kita akan ncoba posisi kayang."

Randika manfaatkan kepercayaan Inggrid ini hingga ke batasnya. Sekarang dia ingin nikmati pemandangan gunung kembar itu berdiri tegak. Dengan posisi kayang ini, dia juga bisa nyentuh pinggang Inggrid lagi. Sayangnya, Inggrid bisa lakukan kayang dengan sendirinya jadi Randika harus puas dengan pemandangan dadanya saja.

"Tahanlah posisi ini untuk beberapa detik." Randika lalu mundur dan mperhatikan gunung Everest itu njulang tinggi. Gunung kembar itu miliki puncak yang runcing, dia benar-benar ingin njelajahinya.

Inggrid sama sekali tidak curiga dan berusaha sekuat tenaga nahan posisi kayang tersebut. Karena wajah Inggrid berada di bawah, dia bisa natap Randika. Dia lihat bahwa bagian bawah Randika itu ngeras.

Tiba-tiba dia nyadari siasat di balik semua ini.

"Bagaimana? Indahkah pemandangannya?" Pancing Inggrid.

"Sangat indah, ah. Maksudku kau hebat bisa bertahan selama ini! Aku kagum!" Randika langsung nutupi wajahnya yang terlihat mimisan itu.

"Dasar pria sum!" Inggrid langsung pergi dari situ. Ternyata Randika selama ini mbuat gerakan aneh untuk ngeksploitasi dirinya.

"Sayangku jangan pergi!" Tiba-tiba, Randika terbatuk keras dan muntahkan setetes darah. Inggrid langsung noleh dan lihat Randika tersungkur kesakitan.

"Kenapa!?" Inggrid langsung njadi khawatir lagi dan berlari ke arah Randika.

Randika lalu berdiri sambil ditopang oleh Inggrid, "Uhuk, uhuk, aku tidak apa-apa kok sayang. Mungkin karena aku banyak bergerak, badanku jadi sedikit lelah."

"Aku akan mbawamu ke rumah sakit." Inggrid benar-benar terlihat cemas.

Randika yang hampir pingsan itu berkata dengan suara pelan, "Tidak apa-apa, aku hanya perlu istirahat."

Setelah berkata seperti itu, Randika terjatuh tepat di tengah dada Inggrid.

"Randika!" Inggrid panik.

Besar, empuk dan nikmat.

Randika nikmati sensasi dada empuk Inggrid dan berusaha mati-matian tetap tersadar.

"Sayangku tidak perlu khawatir, aku hanya perlu istirahat sebentar." Kata Randika sebelum nutup matanya lagi.

lihat kondisi Randika seperti ini mbuat Inggrid tidak tahu harus berbuat apa.

Randika hanya berpura-pura sakit saja biar bisa mbenamkan wajahnya di dada istrinya itu. Dia benar-benar tidak ingin pisah dengan bantal empuk ini.

"Hei Randika Ayo bangun!" Sudah 2 nit berlalu dan Randika masih belum terbangun, apakah kondisinya mburuk lagi?

"Aku Tidak. Apa-apa." Kata Randika dengan pelan.

Bersandiwara seperti ini sangatlah mudah baginya.

Inggrid rasa ada yang aneh. skipun suaranya yang pelan dan tubuhnya yang panas, kenapa wajah Randika masih baik-baik saja? ngingat dua hari yang lalu dia miliki wajah yang sangat pucat dan tidak berhenti batuk.

Muka Randika terlihat sehat dan berwarna, apakah dia pura-pura sakit?

Inggrid lalu ngintip tanpa nggerakkan kepalanya ke arah wajah Randika. Dan benar saja, satu mata Randika terbuka dan sedang mperhatikan dadanya!

"Ah!" Inggrid langsung njatuhkan tubuh Randika ke lantai. Karena masih begitu nikmatinya, Randika tidak siap dan terjatuh keras di lantai.

"Aw!"

Kali ini dia benar-benar kesakitan.

"Dasar pria tidak tahu diri, aku kira kau sekarat seperti kemarin! Sekarang kau malah manfaatkan kebaikanku, dasar pria sum!" Inggrid langsung ninggalkan Randika sambil marah-marah.

Randika tidak mbalas apa-apa, dia hanya tetap ngamati pantat indah yang naik turun itu ketika naiki tangga.

Rasa sakit yang dia alami hari ini sepadan dengan mori indah yang dia dapatkan. Benar-benar luar biasa!

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 63: Terpujilah Engkau ya Tuhan! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Tycoon War God cover
Trending now

Tycoon War God

Once Young ·Other

Inhispreviouslife,LinMuwasthetopassassinonEarth.HeaccidentallytraversedtotheEternalImmortalRealm,where,overthespanofeighthundredyears,hecultivatedf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.