Font Size
15px

"Kak, kau baik-baik saja?" Hannah yang masih luk Randika noleh ke atas.

Randika yang bisa lihat kedua gunung Hannah itu tersipu malu. skipun begitu, dirinya sedang berdiri di tengah mayat Bulan Kegelapan dan pembunuh yang terikat itu.

"Aku baik-baik saja." Kata Randika sambil ngelus kepala Hannah. Dia lalu mindahkan mayat itu ke pinggir dulu.

Ketika Ibu Ipah lihat dua musuhnya yang mati dengan mudah itu, dia sekarang paham betul kekuatan Randika yang sebenarnya.

"Hahaha kau mang bukan pria sembarangan. Aku yakin nona akan nemukan kebahagiaannya kalau bersama dirimu." Pikirnya dalam hati.

Tapi tiba-tiba, Randika yang berdiri tegak itu muntahkan seteguk darah dan seluruh tubuhnya jatuh ke lantai.

"Kak!" Hannah dengan cepat mangku kepala Randika di pahanya. "Kak, kau kenapa? Jangan buat aku takut lagi."

"Nak kau baik-baik saja?" Ibu Ipah juga nghampiri Randika.

Wajah Randika semakin pucat daripada sebelumnya. Tenaga dalamnya yang sebelumnya ngalir deras itu ternyata bukan karena dia berhasil njinakkannya tetapi karena kekuatan tekadnya yang berhasil mbuatnya berhasil. Sekarang, karena keadaan sudah kembali damai, kondisi tubuhnya kembali mburuk.

Mungkin kondisinya yang sekarang hanya bisa disembuhkan oleh kakek ketiganya yang ahli dalam pengobatan tradisional. Kalau dia ngandalkan dirinya sendiri, mungkin akan butuh beberapa bulan agar bisa sembuh total.

"Uhuk!" Randika ngeluarkan seteguk darah lagi. Kepalanya terasa pusing. Hannah dan Ibu Ipah lihat dirinya dengan wajah khawatir.

"Aku tidak apa-apa." Kata Randika sambil tersenyum.

"Mukamu saja pucat seperti mayat, bagaimana mungkin kau baik-baik saja?" Ibu Ipah segera mbantu Randika duduk. "Kalau kau mati bagaimana aku akan njelaskannya ke nona muda?"

"Ah? Kak jangan mati!" Hannah langsung luknya lagi.

Randika masih kesusahan bernapas, sekarang badannya rupakan dan pertempuran. Kekuatan misteriusnya berusaha ngambil alih kesadarannya dan alam sadarnya minta dirinya untuk pingsan agar bisa njinakkannya dengan lebih baik.

Tapi Randika tidak boleh pingsan, Bulan Kegelapan masih ngintai dirinya dari balik kegelapan. Bagaimana kalau tiba-tiba kloningnya itu nyerang kembali? Bagaimana nasib Hannah dan Ibu Ipah kalau itu benar-benar terjadi?

Dia tidak boleh pingsan.

Randika maksakan dirinya untuk tetap sadar. Seluruh tubuhnya ngucurkan keringat dan darah kembali naik ke mulutnya. Tubuhnya benar-benar terluka.

Dia nggertakan giginya tetapi darah masih rembes keluar dari celah giginya.

"Kak Randika!" Tiba-tiba ada suara manggilnya dari arah pintu.

Safira!

Safira lihat kondisi ngerikan Randika ini dan mulai neteskan air matanya. Dia segera gang erat tangan kakaknya itu dan ngatakan, "Tenanglah kak, tidurlah dengan tenang. Aku mbawa Arwah Garuda bersamaku."

Arwah Garuda!

Beban hati Randika sudah terpecahkan dan dirinya langsung nutup matanya dan pingsan.

lihat bahwa Randika sudah tidak sadarkan diri, Safira nghembuskan napas lega. Dia lalu berdiri dan berkata pada Hannah dan Ibu Ipah. "Luka kak Randika tidak bisa disembuhkan di tempat ini, aku akan mbawanya pergi."

........

Randika rasa dirinya dikejar-kejar oleh belasan Bulan Kegelapan. Tidak peduli seberapa banyak yang dia bunuh, reka terus ngejarnya tanpa henti.

Tiba-tiba pergelangan tangannya tertangkap dan dirinya ditahan oleh empat orang. Lalu dia dipukul bergantian oleh belasan Bulan Kegelapan.

"Ah!" Randika langsung terbangun dari mimpi buruknya itu. Napasnya terengah-engah sambil berusaha ngingat apa yang telah terjadi. Dia mperhatikan sekelilingnya dan nyadari bahwa dia ada di sebuah ruangan hangat yang tidak dia kenal tapi hal ini tidak mbuatnya panik karena ingatan terakhirnya adalah Safira yang njemput dirinya.

Tapi mimpinya benar-benar buruk sekali.

Dia tidak bisa ngerti ngapa Bulan Kegelapan ini begitu nghantui dirinya? Apakah dia takut pada akhirnya terbunuh olehnya atau mungkin dia tidak bisa lindungi orang yang disayangnya dari musuh-musuhnya?

"Hmmm? Kakak sudah bangun?" Randika noleh dan lihat bahwa Safira berada di sampingnya sambil mbaca buku.

Lalu Safira pergi dari ruangan dan mbawa kembali semangkuk bubur.

"Makanlah ini dulu kak, perutmu harus terisi dan kita harus tetap mbuat tubuhmu hangat." Safira duduk kembali di samping Randika dan nyuapkannya.

Randika tersenyum dan lahapnya. "Hmmm enak sekali! Aku tidak nyangka kalau kamu pintar masak seperti ini."

"Tentu saja!" Safira tersenyum lebar. lihat Randika yang lahap makan makanannya, mbuat hatinya gembira. "Ini bubur yang diajarkan kakek ketiga."

"Bubur ini enak karena ngandung cintamu kepadaku, aku bisa rasakan kehangatan di dalamnya." Randika gang erat tangan adiknya itu. "Terima kasih."

Safira langsung tersipu malu sambil terus nyuapi Randika. Dalam hatinya dia sangat senang bisa berguna untuk kakaknya.

Randika natap Safira dan ngatakan, "Saf, aku ingin kau nyuapiku setiap hari."

"Baiklah kalau itu maunya kakak, Safira senang kok bisa berduaan dengan kakak." Senyum Safira dipenuhi kehangatan.

Namun, suasana romantis ini tidak berlangsung lama karena mangkok bubur itu akhirnya telah habis.

Safira ngelap mulut Randika yang belepotan sambil ngatakan, "Kak, kau barusan mimpi buruk kah? Kau terlihat tidak nyaman saat tidur tadi."

"Begitulah." Randika tidak perlu nutup-nutupinya dari Safira. "Bulan Kegelapan dan Shadow masih ada di luar sana dan reka selalu ngincarku setiap saat. Jika reka belum kubereskan maka aku belum bisa bernapas lega."

Masalahnya Bulan Kegelapan dan Shadow benar-benar ahli dalam nutupi jejak reka. Hal ini mbuat Randika tidak miliki petunjuk di mana reka berada. Dia rasa was-was dengan perasaan tidak berdaya ini.

Terlebih lagi, ketika Bulan Kegelapan dan Shadow lihat bahwa dirinya sedang terluka langsung manfaatkannya dan nyerang dirinya.

Oleh karena itu, reka berdua harus mati!

"Kakak tidak perlu khawatir, Arwah Garuda juga ikut nyelidiki keberadaan reka." Kata Safira.

"Kau minta Arwah Garuda untuk mbantuku?" Randika terkejut.

"Benar." Safira ngangguk. "Kak Randika sudah nolong kami sebelumnya jadi anggap saja ini hadiahnya. Lagipula, kakak kan orang warga negara sini jadi sudah njadi tanggung jawab kami untuk lindungimu dari serangan."

Randika nggaruk kepalanya, dia tidak nyangka bahwa adiknya ini begitu dermawan. Ini benar-benar berita bagus.

"Bagaimana cara kalian lacaknya?"

"Sayangnya aku tidak bisa njelaskannya secara detail." Kata Safira dengan nada nyesal. "Tapi yang perlu kakak tahu, kita telah nemukan markas reka berdua. Tetapi sayang, reka berdua sudah kabur dan ninggalkan negara ini. Sepertinya keberadaan kami sudah diketahuinya sejak lama."

Kabur?

Randika sedikit bingung dengan perasaannya. Di satu sisi dia rasa lega karena dia bisa fokus mulihkan diri tetapi di sisi yang lain dia masih tidak terima bisa disudutkan hingga sedemikian rupa oleh reka berdua.

Tetapi, dia mutuskan untuk nyimpan dendamnya itu dan nikmati gencatan senjata ini. Sekarang dia tidak perlu khawatir akan serangan ndadak reka.

Terlebih, skipun Bulan Kegelapan dan Shadow sembunyi di ujung dunia pun, reka tidak akan bisa lepas dari takdir reka.

Takdir dari seorang pengkhianat adalah kematian!

Hal ini nyangkut harga diri Randika sebagai salah satu Dewa dari 12 Dewa Olimpus dan yang lebih penting lagi, reka telah ngkhianati kepercayaan yang diberikannya itu.

"Jangan khawatir kak, reka tidak akan berani nyentuhkan kakinya lagi di negara ini." Safira negaskan. "Arwah Garuda sudah ngirimkan beberapa orang untuk ngejar reka dan nempatkan beberapa orang di titik-titik tertentu jadi kalau reka masuk kembali ke negara ini maka kau pasti akan pertama yang tahu."

"Wow terima kasih!" Randika ncium kening adiknya itu. Dia benar-benar bangga adiknya njadi bisa diandalkan seperti ini.

"Ah kak Randika ingat kau masih nikah dengan orang lain." Muka Safira segera rah.

"Benar." Randika lalu narik Safira ke kasurnya dan nahan dirinya. Dia lalu mbelai muka cantik Safira dan berbisik di telinganya. "Hari ini kau adalah istriku, karena kita suami istri jadi tidak masalah kalau kita sedikit intim."

"Kak!" Safira tersipu malu. "Kakek, kakek belum restui hubungan kita."

"Lupakan para penatua itu, reka sudah pelupa." Kata Randika sambil tersenyum. "Saf, hari ini kau adalah istriku, aku tidak mau ndengar kata tidak!"

"Ah kompornya lupa aku matiin, tadi aku rebus air buat teh hangat." Safira segera ncari alasan dan berusaha ndorong Randika.

lihat muka panik sekaligus malu Safira mbuat Randika semakin nyayanginya.

Adiknya ini benar-benar seperti pengantin baru yang malu-malu. Sifatnya itu makin mbuat Randika nyukainya.

Randika lalu lepasnya dan mbiarkan Safira pergi ke dapur. "Saf, bagaimana keadaan tubuhku?"

Safira lalu berputar dan berkata dengan nada serius. "Kak, aku Cuma bisa nahannya sentara waktu. Kemarin, tenaga dalammu benar-benar kacau dan seluruh pembuluh darahmu mbengkak. Aku rasa butuh 1 bulan untukmu sembuh."

"Bisakah tubuhku kembali ke keadaan semula?"

"Sayangnya tidak kalau aku yang rawatmu." Safira nggelengkan kepalanya. "Kemampuanku belum madai dan aku tidak bisa njinakkan tenaga dalammu yang luar biasa kuat itu."

"Tidak apa-apa, kakek ketiga pasti bisa ngatasinya." Randika mang harus kembali ke kampung halamannya. Tapi untuk sekarang, dia ingin bermanja-manja dengan istrinya hari ini. "Katanya kau ingin mbuat teh hangat untukku?"

"Ah iya sampai lupa aku. Tunggulah di sini."

Setelah Safira kembali pun Randika masih nggoda adik kecilnya itu. Setelah beberapa saat, Safira pamit sebentar untuk masak.

Randika sekarang duduk sendirian sambil gangi gelas teh hangatnya.

Dia lalu lamun dan mikirkan kelanjutan kehidupannya ini.

Untuk sekarang, kesembuhan badannya benar-benar krusial. Tubuhnya ini benar-benar berantakan, dia sama sekali tidak bisa ngeluarkan kekuatannya 100%. Teknik akupuntur milik kakeknya itu hanya mberikan dirinya sekitar 80% tenaga dalamnya kembali. Yang lebih parahnya lagi, dia tidak bisa dengan cepat ngisi kembali tenaga dalamnya itu. Oleh karena itu, dia hampir saja kalah dengan 20 kloning Bulan Kegelapan.

Hanya dengan nguasai tubuhnya 100% dia bisa bernapas lega dan tidak takut apa pun. Dia harus berjaga-jaga apabila salah satu Dewa dari 12 Dewa Olimpus nyerangnya. skipun kecil kemungkinannya, kemungkinan itu masih ada.

Randika mutuskan, saatnya dia pulang kampung dan mulihkan diri.

Satu-satunya harapan baginya adalah para kakeknya.

"Hei jangan lamun begitu!" Pada saat ini, Safira masuk sambil mbawa sup. "Coba makananku ini."

"Tidak mau kalau aku tidak kamu suap."

"Ah kakak kok jadi manja begini sih?" skipun begitu, Safira tetap ndulangnya.

"Wah enak sekali, kau benar-benar cocok njadi istri." Randika puas dengan makanan adiknya.

"Syukurlah kalau kamu suka." Safira tersenyum dan ngatakan. "Setelah ini selesai, aku akan rawat tubuhmu."

"Hmm rawat?" Randika natapnya.

"Iya." Safira ngangguk. "Kakak masih miliki luka di tubuhmu, aku harus riksanya."

"Berarti aku akan tinggal di sini selama sebulan?" Randika tersenyum pahit.

"Bukan itu." Safira tertawa lihat kakaknya yang panik. "Cuma luka luarmu saja kok. Tetapi tenaga dalammu mang masalah utamanya."

"Tidak masalah, aku sudah mutuskan cara untuk ngatasinya." Randika kemudian ngambil supnya itu dari Safira dan lahapnya langsung. "Aku akan kembali ke kakek setelah keluar dari sini. Seharusnya kakek ke-3 punya solusi untuknya."

"Kakek ke-3 mang miliki kemampuan untuk itu. Jika kakek yang rawatmu, kemungkinanmu untuk sembuh sangat besar."

Setelah itu, Randika langsung nghabiskan supnya dan natap Safira.

"Masih adakah supnya? Aku masih lapar." Karena belum makan sama sekali sejak kemarin, perutnya terasa kosong dan sup saja tidak cukup nuhinya.

"Kak, tadi itu sup obat bukan sarapanmu." Safira tertawa ketika ndengarnya. "Kita akan ncari sarapan ketika aku selesai rawatmu."

"Untuk sekarang berbaringlah." Safira ngeluarkan jarum akupunturnya.

Randika berbari di tempat tidur dan Safira ngangkat bajunya itu. Saat jarumnya itu nusuk punggungnya, kehangatan segera nyebar ke seluruh tubuhnya.

Nyaman, enak dan hangat bagaikan sinar matahari pagi.

Di saat yang sama, Safira juga mijat punggung Randika.

"Ahhh enak sekali, coba turun sedikit. Nah itu! Nikmatnya" Randika jamkan matanya, nikmati sensasi nikmat ini. Berkat perawatan adiknya ini, untuk pertama kalinya dia bisa rileks setelah kejadian-kejadian yang nimpanya.

"Baiklah kak, untuk hari ini sudah cukup." Safira segera ncabuti jarum-jarumnya.

"Lho sudah selesai?" Tanpa disadarinya, satu jam telah berlalu.

Safira tertawa kecil, "Kak, bukannya tadi kau lapar? Ayo kita sarapan sekarang."

"Makan? Yuk!" Randika langsung loncat dan makai bajunya. Perutnya benar-benar sudah tidak tahan lagi.

Sekarang waktu sudah nunjukkan jam 12 siang, Randika baru terbangun dari tidurnya itu jam 10 pagi. skipun ini jam makan siang, untuk Randika ini masih waktunya sarapan.

Setelah ncari-cari tempat makan, reka akhirnya tiba di restoran iga penyet.

Randika segera san makanannya. "Ini, ini, itu dan ini."

"Total 4 hidangan ya?" Pelayannya mastikan kembali pesanannya.

Randika terlihat bingung, "Ha? Kau salah dengar, maksudku semua yang ada di kolom ini selain 4 makanan tadi. Aku kurang begitu suka dengan tumisan sayur."

"Hah?" Pelayan itu terkejut. Ketika dia lihat nunya, ada lebih dari 10 makanan utama di kolom itu. mangnya bisa 2 orang nghabiskan itu semua?

Safira tertawa lepas lihatnya, lalu dia natap Randika dan berkedip-kedip.

Randika nghela napas dan ngerti maksud adiknya. "Maaf yang tadi lupakan saja, aku hanya san 5 makanan ini saja."

"Oya, nasinya 4 ya!"

"Kak, kenapa kau begitu rakus?" Safira njadi sedikit malu.

"Aku lapar sekali." Randika natap Safira dan ngerti apa yang dikhawatirkan adiknya itu. "Jangan khawatir, aku masih bisa makanmu nanti kok!"

Muka Safira langsung rah, sejak kapan kakaknya ini njadi begitu genit.

lihat wajah rah adiknya, Randika tertawa. "Hahaha aku belum makan sejak kemarin siang jadi maafkan kakakmu ini."

Tentu saja karena pemakaian tenaga dalamnya yang berlebihan itu mbuat Randika harus ngisi ulang tenaganya.

Tak lama kemudian makanan reka datang. ja reka penuh dengan piring dan nasi yang dimakan Randika benar-benar seperti gunung. Namun, Randika lahap makanannya seperti vacuum cleaner, habis tidak tersisa.

Pemandangan ini narik perhatian pelanggan yang lain.

"Kak pelan-pelan makannya, kita dilihati orang tahu!" Safira berbisik.

"Tidak usah mpedulikan reka, kita kan bayar." Randika lalu gang tangan adiknya.

"Ah Tanganmu begitu lembut." Randika tersenyum. "Kakak benar-benar ingin makanmu."

"Kak ini tempat umum!" Safira benar-benar malu ndengarnya.

"Tidak apa-apa. Pada akhirnya kau akan njadi wanitaku dan aku akan ngumumkannya ke dunia. Buat apa malu nunjukan cinta kita? Biarkan cinta kita mbakar reka yang iri." Randika lalu natap Safira dalam-dalam dan nciumnya!

Oh!

Safira nutup matanya dan mbiarkan kakaknya itu nuntun dirinya. Tetapi kesenangannya harus berhenti, "Maaf ini pesanan Anda."

Safira langsung ndorong Randika yang masih ngunci lidahnya itu. Namun, Randika tidak peduli dan masih ingin bersraan.

rasa tidak dihiraukan, pelayan itu terbatuk sebagai usaha terakhirnya.

Randika noleh dan nyadari bahwa pelayan itu datang sambil mbawa makanannya. Mau tidak mau Randika lepas ciumannya.

Saat pelayan itu pergi Randika masang ekspresi kecewa. Kenapa orang itu tidak peka? Dia masih asyik bersraan dan dia malah ngganggu dirinya.

Safira, yang sudah terbebas, tidak mberikan kesempatan Randika untuk nciumnya kembali. Dia lalu berkata dengan nada sedikit marah, "Cepat habiskan kak."

Setelah reka selesai makan, reka segera keluar dan berpamitan.

"Kalau kakak mbutuhkanku, telepon saja dan aku akan segera datang."

"Baiklah." Randika ngangguk dan kemudian luknya. "Maafkan kakak yang sudah repotimu, kakak akan segera bertambah kuat dan giliran kakak yang akan lindungimu!"

Ketika ndengarnya, Safira semakin erat luk kakak sekaligus calon suaminya itu. Kemudian reka berdua saling natap dan berciuman.

Kali ini reka ada di gang di sisi gedung restoran tadi, tidak akan ada orang yang ngganggu reka. Ciuman itu sangat panjang hingga Safira kehabisan napas, Randika benar-benar tidak ingin berpisah dengan bibir lembut itu.

Setelah selesai, Safira hanya bisa nunduk malu tidak berani natap mata Randika.

Randika hanya tertawa dan manggil taksi.

Setelah ini, Randika harus pulang dulu ke rumah Inggrid dan berkemas untuk pulang ke gunung lagi.

Tidak butuh waktu lama untuk Randika tiba di rumahnya. Ketika dia masuk ke dalam rumah, pemandangan di depannya mbuat dia ngiler tidak karuan.

Buset sexy sekali!

Randika lalu nutup pintu dengan pelan sambil nelan air liurnya itu.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 62: Takdir Dari Seorang Pengkhianat adalah Kematian! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Am the Fated Villain cover
Similar genre

I Am the Fated Villain

Fated Villain ·Harem

ImmediatelyafterGuChanggerealizedhehadtransgressedintoafantasyworld,theworld’sprotagonist,andfortune’schosen,vowedtotakerevengeonhim.Enviedbyall,he...

Elven Invasion cover
Trending now

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.