"Hannah, lain kali jangan usil lagi ya." Kata Randika dengan suara pelan. skipun wajahnya masih pucat, kondisinya lebih baik dari tadi malam.
"Aku kan sudah minta maaf." Hannah masih rasa bersalah. Dia tidak nyangka hanya dengan nggoyangkan bahu kakak iparnya itu, dia akan nginap di rumah sakit.
Randika lalu mbalas sambil tersenyum pahit. "Kemarin aku benar-benar rapuh."
"mangnya kemarin kau sedang ngapain?" Hannah mulai penasaran kembali. "Aku lihat kalau kamu ngeluarkan asap putih dari punggungmu. Kau miliki kelainan atau sedang latih sulap?"
"Mungkin itu terlalu rumit untuk njelaskannya padamu." Randika tidak habis pikir, setelah kejadian semalam adiknya masih penasaran? "Nanti kalau kau sudah besar akan kujelaskan lebih lanjut."
"Ah curang! Aku ngerti kok kalau kau jelaskan." Hannah tidak akan pernah nyerah.
Randika natapnya, "Kau benar-benar ingin tahu?"
"Tentu saja!" Hannah ngangguk cepat seperti ayam ncari makanan.
"Kalau gitu pijat dulu punggungku." Kata Randika dengan santai. "Aku hampir saja mati karenamu."
Hannah sama sekali tidak nolak setelah 'diingatkan kembali' oleh Randika. Dia duduk dan mulai mijat Randika walau ogah-ogahan.
"Hei yang kuat dong! Ya bagian itu enak sekali! Turun sedikit, yak di situ!" Randika benar-benar nikmatinya.
lihat kakak iparnya yang terlihat puas itu, Hannah nagih janjinya. "Hei katanya kau mau beritahu aku."
"Ha? Beritahu apa?" Randika pura-pura bodoh.
"Asap yang keluar dari punggungmu itu."
"Aku cuma sedang berlatih." Balas Randika dengan santai. "Ayo tanganmu jangan berhenti, pijatanmu sangat enak lho."
"Latihan? Latihan apa mangnya?" Hannah malah semakin penasaran. "Apa hubungannya dengan asap yang keluar dari punggung itu?"
"Kau tidak perlu tahu itu." Randika mberi batasan jelas pada rasa penasaran Hannah. "Omong-omong, bukankah kemarin kau ngatakan aku boleh rabamu sebagai ganti kejadian kemarin?"
Hannah tersipu malu dan nyangkalnya secepat mungkin, "Ha? Mana mungkin aku berkata begitu! Mungkin kakak kebanyakan dikasih obat sampai berhalusinasi seperti itu."
Randika tidak bisa berkata apa-apa. Adik iparnya ini sama liciknya dengan Deviana.
"Sampai kapan aku perlu mijatmu? Tanganku sudah pegal." Kata Hannah.
"Aduh, kakakmu ini sedang sakit kok kamu manja begini? 5 nit lagi deh."
"Kak, tanganku benar-benar capek!" Hannah mulai malas ladeni Randika.
"Hannah, jangan lupa kalau kau yang mbuatku berada di sini, aku Cuma mintamu mijatku sebagai gantinya. Apakah kau ingin aku rabamu saja?"
"Tapi.. tanganku sudah capek kak." Kata Hannah sambil tersenyum pahit.
...........
Ketika reka masih berdebat, Randika sudah tidak tega lihat adik iparnya itu dan nyuruhnya berhenti.
Kali ini Hannah telah lakukan yang terbaik, walau mulutnya tidak bisa berhenti bicara, jadi dia cukup puas dengannya. Yah masalah kemarin sebagian juga salahku tidak ngunci pintu jadi aku tidak akan ngungkit-ungkitnya lagi, pikir Randika.
Tapi mumpung rasa bersalah masih nguasai Hannah, Randika mikirkan bagaimana cara untuk ngeksploitasi adik iparnya itu. Di tengah keheningan itu, terdengar suara dari arah pintu. "Aku tidak nyangka Dewa Perang dunia bawah tanah ternyata lemah begini."
Randika langsung masang muka serius, siapa yang baru datang itu?
Hannah juga noleh ke arah pintu dan nemukan ada sosok pria tidak dikenal.
"Kak, orang itu nakutkan." Hannah segera luk tangan Randika.
Kalau pembunuh yang ngetuk pintumu sudah jelas itu nakutkan!
Randika tidak bisa berkata apa-apa, wajahnya masih tanpa ekspresi. "Jadi Bulan Kegelapan ngirimmu ke sini? Aku tidak nyangka kabar tentang diriku yang sakit ini tersebar begitu cepat."
"Hahaha tidak peduli siapa yang ngirimku, yang penting Ares sang Dewa Perang akan mati di tanganku!" Pembunuh ini berbicara dengan nada dingin. Di saat yang sama, dia ngeluarkan sebuah pisau dari balik bajunya. Seketika itu juga Hannah berteriak ketakutan, orang ini pembunuh?
Randika masih tidak bergerak, tetapi tenaga dalamnya yang masih tersisa sudah bersirkulasi. Selama pembunuh ini ndekat, dia bisa ngalahkannya skipun dalam kondisinya yang sekarang.
"Sepertinya reputasiku sudah nyebar luas di dunia para pembunuh." Randika ndengus dingin.
"Tentu saja." Dengan mbunuh Randika, reputasi pembunuh ini pasti lesat jauh. Dia langsung nerjang Randika.
"Kak awas!"
Hannah hanya bisa nutup matanya, sedangkan Randika dia sudah siap lancarkan serangan balik. Di saat pisau itu hampir ngenai dirinya, dia sudah layangkan pukulan tepat ke arah wajah pembunuh itu.
Seluruh badannya terpental dan pisaunya ikut terjatuh.
Seketika itu juga, tenaga dalam Randika habis tak tersisa.
Sial aku masih butuh waktu untuk pulih, pikir Randika.
Randika masih dalam proses ngumpulkan tenaga dalamnya kembali yang sebelumnya telah tercampur di kekuatan misteriusnya itu. Sekarang dengan kedatangan pembunuh ini, tenaga dalamnya yang awalnya sudah sedikit itu sudah benar-benar habis.
"mang kau tidak boleh direhkan skipun kondisimu seperti ini." Pembunuh itu ludahkan darah yang ada di mulutnya dan berdiri kembali. "Tetapi hari ini kau akan mati!"
Pembunuh itu lesat kembali sambil ngeluarkan pisau keduanya yang ngarah ke tenggorokan Randika.
Situasi dirinya benar-benar gawat.
Randika sudah tidak miliki cara lain untuk ngatasi serangan kedua ini.
Tetapi, sebuah pukulan datang dari samping dan ntalkan pembunuh itu. Pembunuh itu tidak bisa nghindar dan hanya bisa tersungkur kesakitan.
Randika terkejut dan Hannah nangis bahagia, Ibu Ipah sudah datang!
"Aku harap kau bisa ngimbangiku!" Ibu Ipah terlihat sangat bersemangat.
lihat kehadiran Ibu Ipah mbuat Randika bernapas lega, dia langsung mfokuskan dirinya ngumpulkan kembali tenaga dalamnya. Dia harus berjaga-jaga karena dia tidak tahu berapa pembunuh yang dikirim untuk mbunuhnya.
"Ibu Ipah!" skipun terkejut, Hannah lega karena pembantunya berhasil ngatasi keadaan.
"Jangan khawatir, tidak akan ada yang bisa lukai kalian."
Pembunuh itu lalu berdiri dan nyadari yang mukulnya barusan adalah seorang nenek-nenek. Dia sedikit malu karenanya. Seorang tua bangka sepertinya bisa mukulku? Kubunuh kau!
"Sudah tua tapi masih berlagak muda, jangan salahkan aku kalau tulang rapuhmu itu patah." Pembunuh itu tidak peduli siapa lawannya itu, jika dia nghalanginya maka orang itu akan mati.
"Rapuh?" Ibu Ipah nggelengkan kepalanya. "Kita lihat siapa yang akan tertawa pada akhirnya."
"Kalau begitu matilah!" Pembunuh itu ngganti target dan nerjang Ibu Ipah.
Namun, ketika pembunuh itu nerjang maju, Ibu Ipah ncengkram pergelangan tangannya dan mbanting pembunuh itu. Di saat tubuhnya di tengah udara, Ibu Ipah tidak lupa layangkan pukulan ke arah dadanya. Dalam sekejap pembunuh itu ringkuk kesakitan.
"Ibu Ipah luar biasa!" Hannah njadi bersemangat. "Hajar dia!"
Hati si pembunuh ngepal, bagaimana bisa nenek-nenek ngalahkannya?
Tanpa disadarinya, Ibu Ipah sudah nghentakan kakinya hendak nginjaknya hingga mati. Pembunuh itu nyaris tidak berhasil nghindarinya.
Ketika dirinya berdiri susah payah sambil gangi dadanya yang sakit, pembunuh itu natap tajam ke arah Ibu Ipah. Kekuatan orang tua itu benar-benar di luar dugaan.
Serangan pertamanya adalah serangan ndadak jadi wajar saja dia lengah, tetapi di serangannya yang kedua dia sama sekali tidak berkutik. Bagaimana bisa itu terjadi?
Ibu ini skipun terlihat tua tetapi aura mbunuhnya begitu pekat, apakah dia sedang makai penyamaran?
"Seperti kata pepatah, Air beriak tanda tak dalam. [1]" Ejek Ibu Ipah.
Ketika dirinya dihina, pembunuh itu nerjang kembali. Dia terlihat nerjang dengan kecepatan tinggi tetapi di detik terakhir dia ngambil langkah samping. Dia langsung lemparkan beberapa pisau.
Ketika Ibu Ipah nghindari serangan pisau itu, pembunuh itu lancarkan serangan aslinya yaitu tendangan yang ngarah ke wajah Ibu Ipah.
Tetapi Ibu Ipah dengan sigap nangkap kakinya itu dan mbanting dirinya lagi. Dia terpental ke arah pintu.
"Ibu Ipah benar-benar kuat!" Hannah ingin lompat kegirangan sedangkan Randika hanya tersenyum lega, untung dirinya tidak macam-macam dengan Ibu Ipah!
Ketika pembunuh itu berusaha berdiri lagi, dia diinjak oleh Ibu Ipah. Dia serasa ditindih oleh mobil. skipun dia berusaha lepaskan diri, dia tidak bisa lepas.
"Percuma mberontak, kau sudah tamat." Ibu Ipah benar-benar tidak mberi ampun. Dia lalu berlutut di dada pembunuh itu dan nghajarnya berkali-kali tepat di wajahnya. Yang terdengar hanyalah suara kesakitan dan gigi jatuh. Nenek tua ini ternyata kejam!
Pukulan terakhir Ibu Ipah sukses mbuat pembunuh ini pingsan sambil neteskan air mata. Pipinya begitu bengkak dan bibirnya ngucurkan darah.
"Ibu Ipah kau luar biasa! Aku tidak nyangka kau begitu hebat." Hannah segera luk Ibu Ipah. Pembunuh itu tidak berdaya di hadapan pembantunya yang perkasa ini.
Namun, Randika ngerutkan dahinya dan ekspresi Ibu Ipah juga ikut berubah.
Hannah yang nyadari situasi canggung itu bertanya, "Ada apa?"
Seketika itu juga, pintu ruangannya terbuka dan dua pria masuk.
reka langsung ngeluarkan pisau reka dan mancarkan aura mbunuh yang pekat ke arah Randika.
Kloning Bulan Kegelapan!
Musuhnya kali ini ingin manfaatkan kondisinya yang tidak sehat ini untuk mbunuhnya. Benar-benar ciri khas seorang Bulan Kegelapan.
"reka berdua. Kuat!" Ibu Ipah nelan air liurnya. Jika satu lawan satu mungkin dia miliki kesempatan tetapi di hadapan serangan gabungan, dia akan kewalahan.
"Mati kau Ares!" Kedua kloning Bulan Kegelapan ini segera nerjang Randika!
Tidak peduli kau sehat ataupun sakit, kau akan mati di tanganku!
Randika ngerutkan dahinya. Tenaga dalamnya masih belum pulih sama sekali, pemilihan waktu Bulan Kegelapan sangat tepat.
Di saat yang sama, Ibu Ipah juga nerjang maju. Di udara sekarang ada 3 orang sedang beradu tinju. Ibu Ipah tidak repot-repot bertahan dan lancarkan pukulan serta tendangannya tanpa mpedulikan dirinya.
Ketiganya jatuh ke lantai dan langsung berdiri kembali.
"Tidak akan ada yang mati di bawah pengawasanku." Kata Ibu Ipah sambil ngambil ancang-ancang nyerang.
"Kami hanya ingin mbunuh pria itu. Kalau kau halangi kami sekali lagi, kau akan ikut mati bersamanya!" Bulan Kegelapan tidak bercanda.
"Oh? Kalau begitu mari kita berdansa!"
"Mati!"
Bulan Kegelapan segera nerjang ke arah Ibu Ipah, reka lancarkan serangan gabungan untuk segera mbunuh nenek peyot itu.
Satu lompat di udara, satu bertarung dengan Ibu Ipah. Setelah dia ndarat, dia segera nendang punggung Ibu Ipah.
Ibu Ipah terpental ke depan, di mana pukulan Bulan Kegelapan sudah nantinya. Dia nangkap tinju itu tapi dari belakangnya sudah ada serangan siku nantinya. Dia segera lepaskan tangannya dan lompat ke udara.
Dia ndarat di ja dan nggunakannya sebagai pijakan untuk lesat maju. Dengan kecepatan tingginya itu, dia berhasil layangkan tendangan di wajah Bulan Kegelapan dan makainya sebagai pijakan untuk lesat ke Bulan Kegelapan yang satunya.
Bulan Kegelapan itu segera ngambil langkah mundur sambil lihat kondisi temannya. reka berdua lalu natap tajam ke Ibu Ipah. "Boleh juga kau nenek peyot, tapi hari ini kau akan bergabung dengannya di neraka."
Kedua Bulan Kegelapan ini nerjang kembali. Ibu Ipah mau tidak mau njadi defensif karena serangan gabungan kedua orang itu sangat bagus. Jika tadi dia lengah sedikit saja, mungkin dialah yang terkapar.
Hannah hanya bisa nonton ini dari samping. Dia berdoa sepenuh hati bahwa Ibu Ipah berhasil ngalahkan kedua orang itu.
Randika mulai cemas dalam hatinya. Sialan, berani-beraninya kalian bermain licik seperti ini?
Selama beberapa waktu, ketiga orang ini bertukar pukulan. Pada awalnya, pertarungan ini seimbang tetapi lambat laun perbedaan stamina mulai terlihat. Ibu Ipah harus bertahan dari dua serangan kombinasi sambil ncari celah untuk nyerang balik.
Pada saat ini, salah satu Bulan Kegelapan berhasil ngunci kedua tangan Ibu Ipah. Bulan Kegelapan dengan cepat layangkan tendangan ke dada Ibu Ipah, yang mbuat Ibu Ipah layang dan mbentur tembok.
Duak!
Ibu Ipah yang tangannya terkunci itu tidak bisa nghindar sama sekali.
Namun, dalam sekejap dia berdiri kembali dan masang kuda-kuda nyerang. Mulutnya mulai ngucurkan darah.
"Cepatlah mati nenek peyot." Kata Bulan Kegelapan. "Masih ada Ares yang nunggu kami!"
Kedua kloning itu segera nerjang kembali dan kali ini aura mbunuhnya mancar kuat. Ini serangan pamungkas reka!
Ibu Ipah ngerti bahwa ini mon krusial dari pertarungannya. Tetapi, dia tidak bisa nghindar karena Hannah dan Randika berada tepat di belakangnya!
Randika saat ini rupakan suami dari nona mudanya, jadi dia adalah salah satu keluarganya. skipun pria itu sering mbuat marah majikannya, dia tahu bahwa nonanya benar-benar peduli dengannya.
Lagipula, dia rasa bahwa Randika adalah pasangan yang cocok untuk nona mudanya itu. Demi masa depan nona mudanya itu, dia tidak akan nyerah dan rela mberikan nyawanya.
Ibu Ipah tidak tinggal diam dan nerjang ke arah Bulan Kegelapan!
Inilah mon penentuan!
Randika nghela napas dalam-dalam. Sepertinya tenaga dalamnya bereaksi terhadap dirinya dan mulai ngalir deras kembali ke dirinya!
Cepatlah!
Randika butuh waktu sekitar 1 nit lagi untuk ngembalikan tenaga dalamnya, sekarang dia hanya bisa nonton Ibu Ipah dari samping dan berharap yang terbaik.
Di tengah udara, Ibu Ipah terlihat sedikit kehilangan keseimbangan ketika dadanya berdenyut kesakitan. Bulan Kegelapan lihat hal ini dan manfaatkannya. Kedua pukulan itu berhasil ditangkis oleh Ibu Ipah namun dia masih terpental oleh kekuatannya.
"Cih, ternyata aku sudah tua." Ibu Ipah nghembuskan napas dingin, musuhnya ngerti bahwa dirinya sudah di ambang batas. reka benar-benar tidak mberi ampun pada dirinya, karena kedua orang itu sudah nerjang kembali!
"Awas!" Teriak Hannah.
Ibu Ipah dengan cepat berdiri tetapi dia segera diapit oleh Bulan Kegelapan. Kedua kloning ini manfaatkan sudut mati ini untuk mberikan Ibu Ipah dua pilihan. lompat dan mati di tengah udara atau nangkis satu serangannya dan mati oleh serangan satunya.
Yang ada hanyalah kematian!
Bisa dikatakan bahwa Ibu Ipah sudah tamat riwayatnya. Sebelum lancarkan serangannya, Bulan Kegelapan masih sempat noleh ke arah Randika dan natapnya dengan tatapan ngejek.
Apanya yang Dewa Perang? Kau mbiarkan orang lain mati hanya karena kau tidak rela dirimu mati, sekarang saksikan temanmu ini mati!
Setelah nenek tua ini mati, giliran perempuan di sampingmu itu yang akan mati! Aku akan mbunuh semua orang yang kau sayangi!
Bulan Kegelapan benar-benar bahagia. Dia tahu bahwa nenek peyot di depannya ini sudah pasti mati.
Hari ini, legenda Ares akan berakhir!
lihat tatapan ngejek Bulan Kegelapan mbuat Randika ledak. Dia hanya seekor semut, bagaimana bisa dia dengan arogannya ngancam mbunuhku?
"Matilah!"
lihat dua serangan Bulan Kegelapan itu ngarah pada Ibu Ipah, sesosok bayangan segera lesat ke arah reka bertiga.
Ibu Ipah segera nangkis serangan dari kanannya dan sosok bayangan itu nangkis serangan dari kirinya.
Bulan Kegelapan dengan cepat ngambil langkah mundur. lihat bahwa Randika berdiri kembali, mbuatnya harus nyusun kembali rencananya.
"Hanya seorang Dewa yang bisa nentukan hidup dan mati seseorang, kau hanya seekor semut yang bisanya Cuma diinjak-injak." Tatapan mata Randika dipenuhi api amarah, dia tidak akan mberi ampun pada dua kloning itu. Dia nerjang Bulan Kegelapan dengan aura mbunuhnya yang pekat.
Salah satu Bulan Kegelapan dengan cepat lompat dan satunya berusaha nangkis serangannya.
Kedua orang itu sangat kompak, satu bertahan dan satu nyerang dari belakang. Tetapi, di hadapan sang Ares semua itu percuma. Randika dengan cepat layangkan dua pukulan, satu ke depannya dan satu ke atasnya. mbuat kedua Bulan Kegelapan itu terpental!
Kedua Bulan Kegelapan itu terkejut, kekuatan pukulan Randika benar-benar tidak masuk akal.
Keduanya mbentur tembok dan ringkuk kesakitan.
Randika perlahan nghampiri reka. "Karena kau berani mbunuhku, aku tidak akan segan-segan mbunuhmu!"
Setelah berkata demikian, dengan satu tangannya Randika ngangkat tempat tidurnya.
Mata Hannah terbuka lebar, kakak iparnya begitu kuat!
Kedua Bulan Kegelapan ini terkejut, bukankah orang ini sedang terluka parah? Keduanya rasa nyawa reka terancam dan berusaha ncari celah untuk kabur.
"Tidak peduli berapa kloning yang kau buat, aku akan mbunuh semuanya!" Tatapan mata Randika njadi dingin sambil dirinya lempar tempat tidurnya itu. Selagi kedua Bulan Kegelapan itu nahan tempat tidur itu, Randika layangkan pukulannya ke arah kedua paha Bulan Kegelapan
Krak!
Suara tulang patah terdengar jelas di telinga Hannah dan Ibu Ipah.
"Nak Randika mang kuat." Ibu Ipah bernapas lega lihat pria yang dianggap putranya itu sudah pulih.
Hannah benar-benar terkejut, kakak iparnya ternyata lebih kuat dari Ibu Ipah! Dan entah kenapa dia terlihat gagah dan tampan!
Bulan Kegelapan hampir tidak bisa berdiri dengan dua kaki. Satunya berusaha layangkan pukulan tetapi tangannya malah tertangkap oleh Randika. Dalam sekejap, bahunya telah lepas dari sendinya.
Kaki Randika dengan keras nendang Bulan Kegelapan yang satunya dan tulang rusuknya segera patah.
Apabila Shadow lihat dirinya ini, dia pasti lebih ngeri lagi lihat Randika yang sekarang. Benar-benar kuat!
"Semut tidak pantas berkoar." Randika lempar Bulan Kegelapan yang bahunya lepas itu.
Randika lalu nghampiri Bulan Kegelapan yang tulang rusuknya patah itu. Kedua Bulan Kegelapan ini ingin lawan tetapi reka sudah tidak bertenaga lagi.
"Matilah!" Randika kembali nginjak dadanya dan tulangnya yang patah itu telah mbunuhnya.
Randika dengan cepat nghampiri Bulan Kegelapan yang bahunya lepas itu dan matahkan lehernya.
Karena tenaga dalamnya itu ngalir dengan deras, dia jadi terlalu sedikit bersemangat.
Akhirnya kedua Bulan Kegelapan telah mati di tempat dan pembunuh yang masih pingsan itu dia ikat di kursi.
Setelah semuanya selesai, Hannah nghampiri Randika dan luknya. "Kakak begitu kuat!"
Ibu Ipah yang duduk di lantai sambil gangi lukanya hanya bisa berkata pada dirinya sendiri bahwa dia sudah tua.
[1] Sindiran terhadap orang yang banyak bicara tapi sedikit ilmunya.
Reviews
All reviews (0)