Font Size
15px

Sambil duduk bersila, Randika dengan cepat masuki alam sadarnya.

Tenaga dalamnya yang bersirkulasi ngalir dengan tenang di seluruh tubuhnya. Dengan arahan Randika, seluruh tenaga dalam itu segera ngalir ke luka-lukanya. Dia rasakan ketenangan luar biasa. Dia benar-benar rasa nyaman dan ingin ndesah nikmat.

Seketika itu juga, Randika lupakan segala sesuatu. Namun, dia segera duduk tegak setelah nyadari sesuatu.

nerobos batasan?

Ide ini benar-benar muncul secara tidak sengaja. Selama ini dia berlatih untuk ngontrol kekuatan misterius di tubuhnya ini. skipun dia ngalami kemajuan di beberapa percobaan pertamanya, dia tidak bisa njinakkannya sama sekali. Hingga hari ini, dia nyadari bahwa sebelumnya efek dari obat kakeknya ini bisa nenangkan kekuatan misterius ini.

Saat ini Randika berkonsentrasi untuk nyalurkan tenaga dalamnya ini ke kekuatan misterius tersebut. Tenaga dalamnya bagaikan air sungai yang ngalir dengan tenang.

Mata Randika semakin tertutup rapat, dia sekarang sedang berusaha ncampurkan tenaga dalamnya dengan kekuatan misterius itu. Ini adalah mon penentuan. Dengan bantuan obat kakeknya itu, dia mungkin bisa lampaui batasan yang dimilikinya dan bertambah kuat.

Dia sama sekali tidak boleh lengah dan harus fokus 100%.

Tetapi, mimpi buruknya njadi kenyataan. Dia lupa ngunci kamar tidurnya dan terdengar suara dari pintu!

Hati Randika ngepal, skipun matanya tertutup rapat namun inderanya yang lain masih berfungsi dengan baik. Seseorang berjalan masuk ke kamarnya tetapi dia tidak bisa mbuyarkan konsentrasinya ini. Kalau tidak, tenaga dalamnya yang sudah tercampur itu malah kesedot oleh kekuatan misteriusnya itu dan seluruh tubuhnya akan ngalami luka internal dan bisa-bisa dia mati.

"Kak, kau sedang ngapain?" Suara Hannah yang lembut terdengar.

Hannah datang untuk njahili kakak iparnya itu, tetapi saat dia mbuka pintu kamarnya dia malah lihat Randika yang sedang bersila di atas tempat tidurnya. Wajah kakaknya itu terlihat pucat dan terlebih seluruh tubuhnya ngeluarkan asap putih.

Apakah kakaknya ini berlatih sulap? Bisa-bisanya dia mancarkan asap putih seperti itu?

Hannah semakin penasaran dan nghampiri Randika.

"Hei kak! Oiiii!" Kata Hannah sambil tersenyum.

Sialan!

Randika benar-benar tidak habis pikir, ngapain coba Hannah tiba-tiba datang ke sini?

Keringat dingin mulai mbanjiri dahi Randika, situasi ini benar-benar berbahaya. Di saat ini, Hannah berada tepat di depan wajahnya tetapi dia tidak bisa njawab maupun nggerakan tubuhnya sama sekali. Dia juga dapat rasakan lambaian tangan Hannah yang riksa dirinya ini.

"Hmmm" Hannah rasa mungkin kakaknya ini ketiduran.

Setelah beberapa saat, tidak ada suara dan pergerakan sama sekali.

Apakah adik iparnya itu telah pergi?

Randika segera nghela napas lega, jika tadi Hannah nyentuhnya dan nggeser posisinya maka hidupnya mungkin akan berakhir.

Namun, Hannah tidak benar-benar pergi. DIa malah mutari Randika dan sekarang berada di belakangnya dan sedang mperhatikan asap putih yang keluar dari punggungnya itu.

"Bagaimana bisa asap ini keluar dari tubuhmu?" Hannah mulai bingung. "Kak apakah kau sedang belajar sulap?"

"Hei jawab aku! Jangan cuekin aku terus." Hannah njadi kegirangan karena dia nemukan sesuatu yang narik.

Randika masih terdiam mbeku, tidak bergerak tidak bersuara.

'Ya Tuhan, semoga dia tidak apa-apain aku.' Pikir Randika.

Randika kembali berdoa sama seperti dia berdoa saat adiknya ipar itu mbawa dirinya dan ngebut dengan mobilnya. Dia rasa bahwa adik iparnya ini benar-benar muncul di saat yang tidak tepat.

"Hei kenapa kok cuekin aku terus? Kau masih marah gara-gara aku ngelaporin kamu ke kakak?" Hannah mulai jengkel dirinya dicuekin terus.

Tolong hamba ya Tuhan, biarkan dia pergi!

Hati Randika ngepal, dia benar-benar berharap bahwa adiknya itu tidak nggoyang-goyangkan tubuhnya seperti biasanya yang dia lakukan.

skipun dalam hati Randika terlihat panik, ekspresi mukanya masih datar.

Hannah sudah mperhatikan kakak iparnya sejak beberapa hari yang lalu. Dia hampir ngetahui segala ekspresi yang dimiliki pria ini. Setelah ngamati beberapa saat, Hannah berdiri dan nyentil punggung Randika.

Dalam sekejap, Randika rasa seluruh tubuhnya terikat erat dan tenaga dalamnya hampir buyar. Untungnya Randika masih sempat nyelamatkan dirinya dan lanjutkan prosesnya.

Aku mohon nyerahlah dan keluar dari kamarku!

Randika benar-benar ingin nangis, kenapa kok adik iparnya ini begitu usil.

Hannah rasa kesetrum ketika nyentil Randika. Dia narik tangannya dengan cepat. Namun, masih belum ada reaksi dari Randika dan itu mbuatnya semakin jengkel.

Hannah kemudian bergeser dan lihat Randika yang masih jamkan matanya dan ncueki dirinya.

Ini mbuat dirinya marah. Bisa-bisanya kakak iparnya ini keras kepala seperti ini? mangnya salah apa dirinya hingga dicuekin seperti ini?

Dengan senyuman nakal, Hannah mutuskan sesuatu.

"Hei lihatlah diriku ini!" Kata Hannah sambil nggoyang-goyangkan bahu Randika dengan cepat!

Randika yang masih ngalirkan tenaga dalamnya itu langsung rasakan aliran tenaga dalamnya njadi tidak terkendali dan berbalik nyerang dirinya.

"Kau!" Seketika itu juga Randika mbuka matanya sambil muntahkan seteguk darah.

"Ah!" Hannah ketakutan lihatnya. Kenapa dia muntah darah? Aku hanya ingin diperhatikan!

Randika lalu terjatuh di kasurnya dan mulai kejang-kejang. Seluruh tubuhnya mulai lompat-lompat tanpa henti.

"Kak! Kenapa kamu!" Hannah benar-benar ketakutan. Setelah muntahkan darah sekarang kakak iparnya itu kejang-kejang tanpa henti.

Ketika dia berbaring di kasurnya ini, dia sudah muntahkan darah 4x dan seprainya njadi rah. Dia lalu mbuka matanya dan lihat Hannah yang sedang panik. Dia lalu berpikir dalam hatinya, Lihat pembalasanku nanti!

"Kak jangan mati kak! Nanti aku dimarahi kak Inggrid kak, aku takut." Hannah benar-benar panik. Bagaimanapun juga, ini semua salahnya.

Sambil muntahkan darah, Randika berusaha ngatur kembali tenaga dalamnya itu. Namun, tenaga dalamnya yang bercampur dengan kekuatan misteriusnya itu bagaikan kuda liar, susah untuk dijinakkan. makai seluruh tenaganya, dia berkata pada Hannah. "Aku belum mati!"

"Oh!"

Namun setelah itu Randika muntahkan darah lagi untuk ke-6 kalinya. Hannah yang panik tidak tahu harus berbuat apa.

"Kak maafkan aku! Aku tidak bermaksud apa-apa!" Hannah mulai nangis histeris. Randika, sambil terbatuk-batuk, berkata padanya dengan suara pelan. "Panggil. Ibu Ipah"

"Ha? Apa barusan yang kau katakan?" Hannah tidak jelas ndengarnya karena suara Randika yang begitu pelan dan tidak jelas.

Ketika ndengar kata-kata adik iparnya ini, Randika benar-benar jengkel. Dia sedang bertarung dan berusaha bertahan hidup tapi adiknya ini malah tidak bisa diandalkan. Dia lalu mutuskan untuk fokus ngendalikan tenaga dalamnya.

Hannah dengan cepat berkata pada Randika. "Bertahanlah, aku akan manggil kak Inggrid."

Kemudian dengan secepat kilat Hannah keluar dari ruangan.

Muka Randika benar-benar pucat. Dia tidak nyangka bahwa keusilan adik iparnya ini malah yang akan mbunuhnya.

Tak lama kemudian, Inggrid segera masuk sambil berwajah khawatir. lihat kondisi Randika yang bersimbah darah, dia dengan cepat nghampirinya. "Hei Randika kau baik-baik saja?"

"Ini salahku kak!" Hannah masih nangis. "Aku nggoyangkan tubuhnya sedikit lalu dia tiba-tiba kejang-kejang dan muntah darah."

Inggrid benar-benar cemas, dia tidak punya waktu marahi adiknya itu. Dia lalu berteriak. "Ibu Ipah! Cepat ke sini!"

Hannah langsung berinisiatif turun dan manggil Ibu Ipah.

"Bertahanlah, aku akan mbawamu ke rumah sakit secepat mungkin." Inggrid nggenggam erat tangan Randika. Sebelumnya dia sudah terluka sekarang dia benar-benar njadi lemah seperti ini, kenapa kau terus mbuatku khawatir?

Inggrid cuma bisa berdoa dan berharap yang terbaik. Tak lama kemudian, Ibu Ipah datang dan terkejut ketika lihat banyaknya darah yang ada di tempat tidur.

"Ada apa ini?"

"Ibu! Cepat kita bawa Randika ke rumah sakit!"

Dengan kerja sama ketiga orang ini, reka berhasil mindahkan Randika ke dalam mobil. Randika berbaring di belakang di bawah bantal paha Hannah.

Inggrid langsung macu mobilnya itu dengan cepat, setiap detik sangat berharga untuk Randika.

Ketika mobil itu pergi dari rumah, sepasang mata di kegelapan bersinar terang.

"Apa kau bilang? Dia sekarang sedang sakit?" Ada keterkejutan di tatapan mata Bulan Kegelapan saat dirinya lihat Shadow.

Shadow ngangguk. "Informasiku tidak mungkin salah, Ares sedang terluka parah dan sedang nuju rumah sakit."

"Aneh sekali. Kenapa dia tiba-tiba terluka?" Bulan Kegelapan ngerutkan dahinya. Bukannya tadi dia baik-baik saja? Bagaimana bisa dia tiba-tiba terluka parah?

"nurutku ini luka internal." Shadow mulai nyusun teka-teki ini. "Kekuatan Ares terlalu misterius, mungkin ini karena dia berlatih tenaga dalamnya terlalu ekstrim."

"Kita sampingkan dulu bagaimana dia bisa terluka, ini adalah kesempatan terbaik kita untuk mbunuhnya!" Tatapan mata Bulan Kegelapan terlihat bersemangat.

Tidak butuh waktu lama buat Inggrid tiba di rumah sakit. Dokter segera mbawanya ke UGD, dia juga terkejut ketika lihat Randika. Bukankah dia yang tadi nyelamatkan Pak Ardi?

Dari sang penyelamat njadi pasien, roda kehidupan mang berputar secepat itu.

Randika hanya bisa tertawa pahit ketika dirinya lihat sosok Inggrid dan Hannah.

"Bagaimana keadaanmu? Apakah kau sudah rasa baik?" lihat Randika yang masih berwajah pucat mbuat Inggrid tidak bisa berhenti cemas.

"Maafkan aku kak, aku tidak nyangka kau selemah itu Nanti kalau sudah sembuh kau boleh rabaku sebagai gantinya." Kata Hannah sambil nggenggam erat tangan Randika.

Randika benar-benar tidak habis pikir, hadiahnya begitu nggiurkan!

Keadaan Randika mulai mbaik, berkat penanganan dokter dan infus yang dia dapat mbuat tubuhnya njadi stabil. Sekarang dia perlu nenangkan aliran tenaga dalamnya itu.

lihat bahwa Randika ngangguk, Inggrid neteskan air mata. "Syukurlah"

Tapi tidak ada yang tahu apakah Randika ngangguk untuk ngatakan dia baik-baik saja atau setuju terhadap penawaran Hannah.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 60: Lihatlah Diriku Ini! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Became The Academy Necromancer cover
Similar genre

I Became The Academy Necromancer

172 ·Harem

Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’ll...Readmore Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’llsaveyou.Col...

I Devour Deities cover
Similar genre

I Devour Deities

Love Pea ·Harem

Thirtyyearsago,ameteorfellandthedivineruinsappeared!Somedeitiesemergedfromit,feedingonhumans.Sincethatday,humanshavebecomefoodforthedeities,exceptf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.