Font Size
15px

Kembali ke kamarnya Randika dengan cepat nyalakan komputernya dan ngontak Yuna.

Dia harus mberitahu informasi ngenai Shadow dan Bulan Kegelapan secepatnya. Dia juga harus mastikan bahwa tidak ada anak buah Shadow yang berada di markas barunya yang tersembunyi itu.

Himbauan kakeknya benar. Kakek keempatnya ngatakan bahwa dia harus waspada dengan orang-orang di sekitarnya. Tanpa diduganya, ternyata Shadow ngkhianatinya. Untungnya dia nyadari hal tersebut sejak lama dan obat buatan kakeknya telah nyelamatkan dirinya.

Sejak pertama kali Shadow laporkan bahwa dia hendak datang ke kota Cendrawasih, hal itu sudah mbuat curiga Randika. Dari nada bicara, bahkan penggunaan kata Shadow berbeda dengan biasanya. Dia langsung rasa ada yang aneh dengan Shadow dan sejak saat itu dia naruh kecurigaannya pada Shadow.

Tak lama kemudian, Yuna muncul di layar komputernya.

"Lho Randika? Tumben sekali nelpon?" Dada Yuna masih sama besar dan pakaiannya mbuat kedua putingnya itu sedikit lagi terlihat. "Apakah kau ingin bertanya tentang markas baru kita? Seharusnya tidak lama lagi pembangunannya selesai kok."

"Bukan itu yang kuingin bicarakan." Wajah Randika terlihat serius.

Yuna yang awalnya bermuka santai langsung njadi serius. "Ada apa?"

"Kau tahu kan kalau aku nyimpan kartu As." Kata Randika dengan tatapan kebencian. "Dia ngkhianatiku dan bergabung dengan Bulan Kegelapan. Hari ini reka berdua berusaha mbunuhku."

"APA?" Yuna benar-benar kaget. "Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?"

Apa itu kartu As? Itu adalah faktor pembalik keadaan yang tersembunyi yang dimiliki seseorang. Dan Randika bukanlah seseorang lainkan salah satu 12 Dewa Olimpus. Sekarang, kartu As tersebut malah berani berkhianat!

Yuna sangat tahu betul betapa marah dan kecewa Randika sekarang.

Kepercayaan bukanlah sesuatu yang mudah didapat, hal tersebut tumbuh seiring waktu dan tidak mudah terbentuk.

skipun Randika sudah dari awal tahu bahwa Shadow mberontak, hal ini masih mbuatnya kecewa.

Bulan Kegelapan dan Shadow, kalian berdua harus mati!

Kubunuh kalian dengan kedua tanganku!

Yuna lalu bertanya dengan nada serius. "Ada yang bisa kubantu?"

"Tolong periksa apakah ada orang ncurigakan di markas kita, kita tidak boleh kecolongan lagi. Dan tolong cari keberadaan Bulan Kegelapan, ketika kau nemukannya segera beritahu aku." Kata Randika.

"Baiklah."

"Ah kartu Asku bernama Shadow, dia itu hebat dalam ngumpulkan informasi. Dia ahli dalam nghapus jejaknya jadi lebih baik kau fokuskan perhatianmu ke Arika dan Indonesia."

"Baik!" Yuna ngangguk.

"Satu lagi, Bulan Kegelapan berhasil nciptakan teknologi kloning manusia sempurna. Dia bisa ngkloning dirinya sendiri dan nghasilkan kekuatan serta kecepatan yang sama persis dengan dirinya."

"APA?" Yuna terkejut kembali. Kloning?

mang benar kalau kloning sudah mulai berkembang di zaman ini dan mulai diterapkan pada hewan. Yang njadi permasalahannya adalah kloning manusia tidak pernah ngalami kemajuan sama sekali, karena rumitnya nurunkan kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki individu tersebut. Kloning manusia yang dikatakan Randika ini mungkin sudah bisa dikatakan kemajuan teknologi yang luar biasa.

lihat ekspresi terkejut Yuna, Randika nghela napas. "Kloning yang dilakukannya benar-benar rumit. Dia pasti miliki markas untuk percobaannya, jadi coba kau juga cari di mana markas itu berada."

"Baiklah."

"Aku percayakan semua ini padamu."

Setelah selesai nelepon, Randika ngerutkan dahinya. Ekspresi Yuna seharusnya tidak dibuat-buat. Sebelumnya Bulan Kegelapan ngatakan bahwa dia manfaatkan sumber daya yang dimilikinya untuk nghasilkan kloningnya. Mungkin yang dikatakannya itu bermaksud untuk cah belah dirinya dengan Yuna.

Randika nggaruk-garuk kepalanya. skipun dia sangat mpercayai kesetiaan Yuna, dia masih was-was. Karena pengkhianatan Shadow ini, dia mulai ragu dengan kesetiaan bawahannya. Seharusnya Shadow adalah kartu Asnya yang tersembunyi namun dengan mudahnya dia beralih pihak. Ini mbuat Randika makin was-was.

Hal ini juga berlaku kepada seluruh bawahannya, apakah ada pion tersembunyi di markas barunya itu? Sebelum ngklarifikasikan hal ini, Randika masih harus waspada skipun itu Yuna sekalipun.

"Aku tahu kalian berdua masih di kota ini!" Randika ngepalkan tangannya. "Aku nantikan rencanamu berikutnya karena lain kita bertemu, kalian berdua akan mati!"

-Di suatu rumah di daerah pinggir kota-

Di ruangan yang hampir sama sekali tidak ada lampu, sesosok pria terlihat sedang minum sesuatu.

Prang!

Pria itu mbanting gelasnya. "Bukannya kau bilang dia sedang terluka?"

Pria itu benar-benar marah dan lampiaskannya ke gelasnya itu. Bulan Kegelapan masih belum bisa mpercayai rencananya mbunuh Randika masih saja gagal.

Shadow yang berdiri di hadapannya terlihat tenang. "Dia mang sedang terluka, informasiku tidak mungkin salah."

Bulan Kegelapan ndengus dingin. "Terus kenapa hari ini kita masih gagal mbunuhnya? Kloningku seharusnya tidak kalah hebatnya dengan diriku ini. Dan benar saja, 20 kloningku itu dengan nyedihkannya mati semua tanpa satu pun hidup!"

Shadow terdiam beberapa saat, "Aku sudah mbuntuti Randika selama beberapa waktu. Dia benar-benar sedang terluka. Waktu dia bertarung, dia sempat minum sebuah obat, kurasa obat itulah yang mbuatnya berhasil bertahan hidup."

"Cukup, aku tidak butuh analisismu itu. Aku hanya ingin Ares mati!" Bulan Kegelapan ini sudah naik pitam.

Shadow hanya terdiam. Ketika dia ngingat kembali kemampuan Randika tadi, tubuhnya tanpa sadar rinding. Dialah yang paling mahami kemampuan mantan tuannya itu jadi dia benar-benar tahu apa yang mampu dilakukan Randika.

Dan sekarang karena kedoknya telah terbongkar, satu-satunya nasib yang nantinya adalah kematian!

Tapi Shadow tidak akan mati tanpa perlawanan, kau yang mati atau aku yang mati!

Tidak ada jalan lain.

"Dia pasti sudah ngetahui bahwa selama ini aku berada di kota Cendrawasih ini." Bulan Kegelapan tiba-tiba berkata dengan nada dingin. "Dia bahkan tahu kalau kau akan berkhianat."

Shadow nggelengkan kepalanya. "Aku rasa tidak begitu."

Shadow percaya bahwa sebelumnya Randika hanya ncurigainya dan dia datang ke jebakannya untuk ngkonfirmasi kecurigaannya itu.

"Sekarang karena semua kartu tersembunyi kita telah terekspos, kita tidak perlu repot-repot nyusun rencana." Bulan Kegelapan ndengus. "Kita akan nyelesaikan ini secara langsung!"

"Bahkan jika kau adalah salah satu dari 12 Dewa Olimpus, aku percaya aku bisa mbunuhmu!" Bulan Kegelapan nggebrak janya dan ja tersebut langsung terbelah dua.

Di rumahnya, Randika sedang bersedi dan mfokuskan pikirannya.

Hingga detik ini, tenaga dalamnya masih berlimpah. Efek dari obat kakeknya itu belum hilang, mbuat Randika penasaran dengan kekuatannya yang baru ini. Apakah dia bisa milikinya atau tidak?

Ketika Randika masih kecil, kakeknya selalu berpesan untuk berlatih setiap saat dan bersedi untuk ningkatkan tenaga dalamnya. Sejak saat itu, dia terus berlatih siang harinya dan malamnya dia akan bersedi latih tenaga dalamnya. Berkat itu dia ndapatkan julukannya sebagai Ares sang Dewa Perang.

Tanpa nunggu lama, pikiran Randika sudah masuki alam sadarnya.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 59: Kegelapan yang Mengintai! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Became The Academy Necromancer cover
Similar genre

I Became The Academy Necromancer

172 ·Harem

Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’ll...Readmore Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’llsaveyou.Col...

I Devour Deities cover
Similar genre

I Devour Deities

Love Pea ·Harem

Thirtyyearsago,ameteorfellandthedivineruinsappeared!Somedeitiesemergedfromit,feedingonhumans.Sincethatday,humanshavebecomefoodforthedeities,exceptf...

Death Notice cover
Trending now

Death Notice

Gluttonous Monk ·Horror

Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoysthebloodshed.He...Readmore Heisagiftedandintelligentyoungman.Heisamurdererthatenjoystheblo...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.