Randika berdiri sendirian di tengah tumpukan mayat Bulan Kegelapan.
mperhatikan sekelilingnya, Randika bisa nebak bahwa yang bertarung dengannya semua adalah kloning. Bulan Kegelapan yang asli tidak mungkin mbahayakan nyawanya, lagipula Shadow juga tidak ada di sini.
Dirinya sudah lama ngira bahwa Shadow telah ngkhianatinya. Dia juga tahu bahwa pertemuan reka hari ini adalah jebakan tetapi dia tetap datang. Dia rasa bahwa gabungan kekuatan reka berdua tetap bukan sebuah masalah bagi dirinya. Tanpa diduganya, cloning rupakan senjata rahasia Bulan Kegelapan.
Randika ngerutkan dahinya. Shadow dan Bulan Kegelapan berhasil kabur, jadi ada kemungkinan reka akan nyusun kembali rencana jahat lainnya.
reka berdua harus mati, pikir Randika.
Dengan tangan kosong, Randika segera ninggalkan tempat ini.
Pertarungan pertama reka ini benar-benar berbahaya bagi Randika, dia benar-benar tidak nyangka akan ditawur seperti itu. Jika bukan karena obat yang diberikan kakeknya itu, mungkin sekarang dia sudah mati.
Saat di perjalanannya, dia riksa kondisi tubuhnya. Tidak ada keanehan di dalam maupun di luar tubuhnya, seluruh cederanya sembuh dengan sempurna. Obat kakeknya benar-benar luar biasa.
Pertanyaannya adalah berapa lama efek ini akan berlangsung? Dia berharap bahwa efeknya tahan beberapa hari.
Ketika sampai di rumah, suara langkah kaki Randika terdengar oleh Inggrid. Dia sudah nyiapkan diri secara ntal nghadapi tingkah laku Randika yang akan datang. Anehnya, Randika hanya berjalan lewatinya.
Hmmmm?
Inggrid penasaran dan bertanya pada Randika, "Kau sakit?"
Randika, yang berniat langsung masuk kamarnya, rasa malu. Bisa-bisanya dia tidak nyadari bahwa Inggrid ada di bawah?
"Gak!" Randika langsung masang topengnya. "Suamimu ini tahan banting tahu hahaha."
Namun, Inggrid tahu ada yang aneh dan nghampirinya. "Kau jelas-jelas lagi tidak sehat, sini kasih lihat mananya yang sakit."
mang darah di baju dan wajahnya sudah dia bersihkan tadi, tapi raut wajah Randika benar-benar pucat dan celananya terlihat compang-camping. Bahkan bibir sampingnya tampak berdarah.
Randika lalu renung. Keadaannya ini benar-benar malukan bagi dirinya. Dia mikirkan bagaimana bisa cecunguk seperti Bulan Kegelapan dan Shadow bisa lukainya segini parah. Dia sekarang juga ngerti kenapa dirinya tidak ingin mati hari ini, salah satu alasannya adalah wanita di hadapannya ini.
Sayang sekali dia tidak bisa luk erat istrinya ini dengan leluasa.
"Ikut aku." Tiba-tiba, Inggrid nggandeng Randika dan mbawanya ke kamarnya.
"Aduh pelan sedikit dong, suamimu ini sedang kesakitan. Aku tahu kau ingin cepat-cepat lihat apa yang di balik bajuku ini, aku cuma minta tolong yang lembut aja ya nanti."
Inggrid langsung cemberut. Mau sakit mau sehat, kenapa pria ini tidak bisa berhenti mbuatnya jengkel?
skipun terlihat pucat, luka Randika hanyalah luka goresan. Cedera internalnya sama sekali tidak serius, berbeda dengan Elva sebelumnya.
Ketika sampai di kamar Inggrid, dia minta Randika ngangkat bajunya sedikit dan mulai rawat luka-lukanya.
"Sakit kah?" Inggrid ngelus punggung Randika yang tersayat oleh pisau. Entah kenapa hatinya terasa sakit.
"Ah! Tolong pelan sedikit." Randika langsung rintih kesakitan.
"Maaf, aku baru pertama kali lakukannya." Inggrid langsung narik tangannya.
Pertama kali lakukannya? Entah kenapa itu terdengar ambigu di telinga Randika.
Randika natap Inggrid dalam-dalam. Inggrid yang masih sibuk itu akhirnya nyadari tatapan Randika, dia lalu bertanya. "Ada apa?"
"Oh tidak apa-apa, aku hanya rasa kau semakin cantik saja." Randika langsung malingkan wajahnya yang rah.
"Luka-lukamu cukup banyak dan cukup susah jika kau duduk, bisa kau lepaskan bajumu dan tiduran?" Kata Inggrid.
"Oh? Baiklah." Randika langsung lepas bajunya dan tubuh kekarnya langsung nuhi mata Inggrid. Inggrid ngalami gejolak batin, di sisi lain dia malu dan terpukau lihat tubuh kekar itu dan di sisi lain hatinya rasa sakit ketika lihat tubuh Randika yang penuh luka itu. Luka-luka lama Randika terlihat ngerikan, ada bekas peluru dan sayatan panjang.
Inggrid akhirnya hanya terdiam dan berpikir dalam hatinya, bagaimana bisa Randika miliki begitu banyak luka?
Tanpa sadar dia ngelus luka lama Randika. Inggrid berpikir bagaimana bisa suaminya ini nderita begitu hebatnya dan masih terlihat sehat-sehat saja.
"Hmmm? Kenapa kau bengong?" Kata Randika. Dia lalu noleh dan lihat Inggrid yang neteskan air mata. Seketika itu juga dia tahu apa yang dipikirkan istrinya itu dan luknya. "Hahaha tidak perlu khawatir, mau itu peluru atau pedang selama aku bisa lindungimu semuanya sepadan."
Inggrid langsung tersipu malu dan ndorong Randika. "Hah? Kenapa kau tiba-tiba lantur seperti itu? Sudah cepat tiduran dan biarkan aku mbersihkan lukamu."
Setelah itu Inggrid mbersihkan luka-luka Randika yang ada di punggung.
Jika sakit kasih tahu." Kata Inggrid.
skipun sederhana, kebaikan Inggrid ini nghangatkan hati Randika yang terbiasa sendirian ini. skipun istrinya ini tidak ngatakannya, dia tahu bahwa Inggrid peduli dengannya dan begitu pula sebaliknya.
Mungkin penyangkalan itu adalah bentuk pertahanan Inggrid yang terakhir.
Randika tidak berbicara sama sekali dan nikmati kasih sayang Inggrid ini dengan mata tertutup.
Tidak lama kemudian, Inggrid telah selesai ngobati lukanya dan nutupi dengan perban.
Lalu Inggrid bertanya, "Masih sakitkah?"
"Sudah enggak." Randika berkata dengan nada santai, dirinya benar-benar telah pulih.
"Aku tidak tahu apa yang kau lakukan di luar sana, tapi coba sayangi tubuhmu sendiri." Ada sedikit kebingungan di nada Inggrid. Apa mangnya yang dilakukan Randika sampai-sampai terluka seperti ini?
Setelah itu, Inggrid ngambilkan minum dan baju baru buat Randika. "Lain kali hati-hati ya."
Saat dia nyerahkannya, dia nyadari bahwa Randika hanya terdiam dan natap dirinya dalam-dalam.
"Hmmm? Kenapa kau lototiku seperti itu?" Inggrid benar-benar tidak paham dengan Randika hari ini. Kenapa dia begitu diam dan nurut? Biasanya dia sudah lontarkan lelucon sum.
"Kau benar-benar nawan." Sebelum Randika ngatakan itu, dia sudah luk erat Inggrid dan mbanting dirinya ke tempat tidur. Setelah itu dia nciumnya dan tangannya segera bermain-main dengan tubuh seksi istrinya itu.
Inggrid benar-benar lengah, karena Randika hari ini pendiam bukan berarti dia Randika yang berbeda!
Namun, otaknya berhenti bekerja setelah sensasi nikmat yang diberikan Randika mulai naik ke otaknya. Lidah reka terus bersilat tanpa henti, putingnya tidak ada habisnya dimainkan.
Dengan napas yang terengah-engah, Inggrid berkata pada Randika. "Jangan lakukan ini."
Namun, lihat istrinya itu setengah hati nolaknya mbuat Randika makin sayang. Hari ini istrinya itu benar-benar nawan dan dia sudah kehilangan kendali diri untuk tidak nyentuh istrinya itu!
Tangan kanan Randika masih bermain-main di dada Inggrid sambil sesekali nyentil bahkan njepit puting Inggrid yang ngeras. Ketika reka berdua tidak berciuman, Randika bahkan njilati leher putih istrinya itu ataupun nggigit telinganya.
"Ahhnn! Tidak! Tolong hentikan!"
Desahan Inggrid itu justru mbuat birahi Randika njadi-jadi. Saat ini, Randika sedang berusaha lepaskan baju istrinya itu. Namun, entah dari mana, Inggrid miliki kekuatan kembali dan kedua tangannya berusaha ndorong Randika kuat-kuat.
Randika terkejut ketika Inggrid ndorong dirinya. Dia lalu mandangi wajah Inggrid yang masih rah tersebut. Jelas bahwa Randika masih dikuasai nafsu jadi napasnya masih nggebu-gebu.
"Stop Randika! Kita tidak bisa lakukannya." Butuh tenaga yang banyak untuk mbuat Inggrid ngatakan sepatah kata tersebut.
Randika langsung kecewa dalam hati, dia lalu berkata sambil tersenyum. "Aku hanya bisa nyalahkan dirimu yang begitu nawan hari ini."
Walaupun muka marah Inggrid masih belum hilang, dia tersipu malu dan terdiam. Dia hanya berdiri dan keluar dari kamar.
Randika masang wajah kecewa, kenapa kau masih nolakku?
Tetapi, tiba-tiba Inggrid kembali masuk.
Dia mandang Randika dengan wajah rah.
"Aku lupa kalau ini kamarku."
Randika langsung tertawa keras. "Baiklah, aku yang akan keluar."
Ketika Randika sudah keluar, Inggrid hanya berjongkok di depan pintu. "Kenapa aku mbiarkan dirinya mpermainkan diriku terus-nerus?"
Reviews
All reviews (0)