Font Size
15px

"Hahaha sudah kubilang hari ini adalah hari kematianmu!" Bulan Kegelapan tertawa keras ketika lihat keterkejutan di wajah Randika.

Randika ngerutkan dahinya, dia masih tidak paham kenapa bisa Bulan Kegelapan berada di sini.

Tenggorokannya jelas-jelas tertembus oleh pisaunya tadi.

Ataukah tadi Bulan Kegelapan yang palsu?

Namun, kejutan yang dihadapi Randika tidak sampai situ saja. Ternyata dia telah dikepung oleh 20an orang. Yang mbuat matanya terbelalak adalah semua orang itu adalah Bulan Kegelapan!

Dia ngira matanya telah nipunya tetapi kedua puluh orang tersebut benar-benar adalah Bulan Kegelapan. Mulai dari wajah, perawakan dan tenaga dalam yang reka pancarkan sama persis.

Di saat genting seperti ini, Randika juga rasakan kekuatan misteriusnya mulai mberontak sekali lagi. mang kakeknya itu telah nahannya dan mberikan dia waktu satu bulan, tapi dengan catatan bahwa dia tidak makai tenaga dalamnya terlalu banyak. Dan hari ini dia sudah makai tenaga dalamnya terlalu banyak, mulai dari Brian, di rumah sakit dan sekarang.

Dan sekarang dia dihadapi oleh 20 Bulan Kegelapan yang miliki kecepatan dan kekuatan yang sama.

Dia sekarang ngerti bahwa kengerian di muka Shadow, pertarungannya tadi, semua itu adalah perangkap yang akhirnya mbawa dirinya ke jebakan ini!

Semua misteri ini akhirnya mulai masuk akal, Bulan Kegelapan yang dia bunuh pada hari pertama dia nikah dan Bulan Kegelapan yang nghancurkan markasnya, semuanya dilakukan oleh orang yang sama.

Randika lalu noleh ke sekelilingnya dan berkata dengan nada dingin. "Jadi senjata rahasiamu adalah kloning?"

"Benar! Bahkan jika kau Ares, kau hanya seorang diri. Dan kami semua ini sudah lebih dari cukup untuk mbunuhmu!"

Randika tidak mbalas sama sekali.

"Sejujurnya, kalau bukan karena sumber daya milikmu itu maka aku tidak akan nemukan rahasia di balik kloning manusia." Kata Bulan Kegelapan yang rasa dia telah nangkan pertarungan ini. "Kenapa kau diam saja sekarang? Mana kelakuan sok hebatmu itu? Ayolah Ares jangan buat aku kecewa, aku ingin lihat wajah sengsaramu itu!"

Semua Bulan Kegelapan mancarkan aura mbunuh reka yang kuat. Lalu reka semua tertawa serentak.

"Mau berapapun yang berkumpul, semut tetaplah semut." Kata Randika dengan santai.

Dia sudah tidak rasa ragu lagi dan nerjang ke arah salah satu Bulan Kegelapan.

lihat bahwa Randika sudah bergerak, seluruh Bulan Kegelapan segera ngepung. Dari segala arah Bulan Kegelapan mulai lompat dan nyerang.

Randika yang bagai Dewa Perang itu, matahkan tulang leher Bulan Kegelapan di depannya dengan satu pukulan sambil nghindari serangan dari sisi kirinya.

Tiba-tiba, tiga orang langsung berusaha nyerang bersamaan. Randika langsung bersalto di udara, nghindari serangan gabungan tersebut. Tapi di saat dia di tengah udara, sebuah pisau lesat dan ngenai bahu Randika.

reka tidak perlu mbunuh Randika secepat mungkin, kikis staminanya dan pada akhirnya dia akan mati karena kelelahan.

Hati Randika mulai ngepal. Serangan Bulan Kegelapan datang dari segala arah dan terasa tidak pernah ada habisnya. Tidak peduli dia hajar sekalipun, reka akan segera berdiri kembali.

"Hmmm Obat penguat?" Jelas bahwa reka sudah miliki persiapan yang madai untuk mbunuh dirinya hari ini. Tujuan reka adalah mbuatnya lelah dan ngakhirinya pada saat itu.

Satu-satunya cara adalah mbunuh reka!

Pada saat ini, Randika sudah mbunuh 5 orang. Tetapi, serangan Bulan Kegelapan masih berasal dari segala arah dan tidak ada habisnya. Ini mbuat Randika kecapekan karena tenaga dalamnya sudah mulai nipis. Apalagi, dia juga harus nahan kekuatan misteriusnya itu.

Tiba-tiba, dia ndapatkan serangan di punggungnya. Bulan Kegelapan lihat keraguan di wajah Randika dan berhasil ngenainya. Serangan itu sangat cepat jadi lengah 1 detik saja Randika bisa celaka. Randika sudah berusaha sekuat tenaga mbunuh siapapun yang ndekat, tetapi Bulan Kegelapan yang lain akan segera nyerang titik butanya tanpa lelah. reka rela kehilangan satu kloning kalau itu bisa nyederai Randika!

Whush!

Sebuah pisau nyayat baju Randika tapi sayang serangannya kurang dalam. Ketika Randika nghindarinya dengan lompat mundur, dari belakangnya sudah ada pukulan layang yang ngarah ke belakang kepalanya. Randika bereaksi dengan cepat dan nangkap tangan itu dan mbanting orang tersebut.

Randika mulai kehabisan napas. Kekuatan misterius dalam tubuhnya seakan-akan terus nggedor-gedor pintu kesadarannya, hendak nelan dirinya secara utuh.

Keringat dingin mulai keluar dari dahinya dan Bulan Kegelapan di sekelilingnya mulai tertawa.

"Hahaha kau akan tamat sebentar lagi!"

Para Bulan Kegelapan ini sudah rasa berhasil mbuat Randika kelelahan, jadi reka nikmati mon berharga ini.

"Matilah!" Saat itu juga, salah satu Bulan Kegelapan nerjang dan nendang ke arah Randika. Di saat orang itu layangkan kakinya, Randika hanya berdiri diam dan njulurkan kepalan tangannya ke arah selangkangannya. Dalam sekejap Bulan Kegelapan itu tersungkur sambil gangi alat kelaminnya.

Ternyata reka masih senaif itu rasa bisa ngalahkannya dengan mudah.

"Seperti kata pepatah 'Harimau mati karena belangnya' [1], hari ini neraka akan nyambutmu!"

Beberapa Bulan Kegelapan langsung nerjang kembali dan Randika bertahan dengan susah payah sambil nahan kekuatan misteriusnya. Dia lalu rasa kelima inderanya kehilangan fungsinya dan serangan Bulan Kegelapan telah ngenainya dari seluruh arah.

Dia rasa bahwa dadanya telah dipukul dan ketika dia terpental karena montumnya, dia ditendang dari belakang. Di saat yang sama dari sebelah kiri dan kanan, Bulan Kegelapan nyerang rusuknya dan semua itu ditutup dengan tendangan yang ngarah kepada wajahnya.

Namun, serangan itu tidak berhenti. Serangan siku yang ngenai dagunya mbuat Randika tersungkur di tanah.

Rasa sakit dari luar dan dalam tubuhnya mbuat dirinya berada di ujung tanduk.

Dia bahkan rasakan hawa kehadiran Dewa Kematian di dekatnya!

Apakah ini akhir dari hidupnya? Apakah tidak ada jalan lain?

"Hahaha bahkan seekor gajah akan kalah sama kawanan semut! Kau benar-benar nyedihkan!"

Suara tawa nyebalkan itu bergema di telinga Randika dan di dalam benaknya dia telah mutuskan sesuatu. Dia tidak boleh mati, dia tidak boleh mati di tangan sang pengkhianat!

Namun, rasa sakit yang dirasakannya benar-benar lelahkan jiwanya. Dia berusaha berdiri dengan susah payah.

"Wah wah wah, belum nyerah juga bajingan tengik satu ini? Sini kalau kau masih kuat, bukankah kau ingin mbunuh kami semua?" Ketika Bulan Kegelapan lihat Randika yang berdiri saja sudah susah payah, dia benar-benar rasa di atas angin. Beberapa Bulan Kegelapan juga kembali nyerang.

"Aku tidak boleh mati!" Randika yang kembali tersungkur di tanah itu terus nanamkan tekadnya.

Dia terus nerus ngatakan hal itu untuk mbuatnya tersadar, namun rasa sakitnya mulai ngalahkan dirinya.

Apakah ini akhir dari perjalanannya?

Di saat dia mulai nerima kenyataan ini, sebuah ide muncul di benaknya.

Bukannya kakeknya mberikan sebuah obat padanya? Yang hanya boleh diminumnya di saat-saat genting.

Tanpa ragu-ragu Randika berusaha ngambil obat tersebut sambil terus bertahan dari serangan Bulan Kegelapan.

Namun, serangan gabungan itu mpersulit Randika ngambil obat yang ada di saku celananya itu. Belum lagi kekuatan misteriusnya itu nggerogoti dari dalam.

Aku tidak akan mati oleh para pengkhianat ini!

Randika nggigit bibirnya, berusaha mikirkan cara untuk ncari celah bagi dirinya ngambil obatnya itu. Satu-satunya cara adalah pura-pura terkena pukulan dan tersungkur kembali, karena pada waktu itu Bulan Kegelapan sibuk nertawai dirinya.

DUAK!

Randika kembali nerima pukulan di dadanya dan tersungkur kembali. Bulan Kegelapan yang lihatnya semakin tersenyum lebar.

Di saat inilah Randika ngambil obatnya dan nelannya dengan susah payah.

lihat bahwa Randika ngambil sesuatu dari celananya dan nelannya, Bulan Kegelapan tidak mpedulikannya dan tertawa. "Kenapa? Apakah Ares lupa minum obat diarenya? Ah aku lupa kalau kau sebenarnya sedang sakit. Tapi sebentar lagi kau tidak perlu nderita lagi."

Setelah berkata demikian, para Bulan Kegelapan ngeluarkan pisau reka. "Sudah saatnya kau mati!"

Kemudian beberapa Bulan Kegelapan nerjang maju. Pada saat ini, Randika rasa ada tenaga luar biasa dahsyat yang masuki tubuhnya. Tenaga itu bertemu dengan kekuatan misterius dan bertarung dengan intens.

Berkat obat itu, kekuatan misterius Randika kembali tenang dan tubuhnya sudah tidak rasakan sakit sama sekali. Namun, bukan itu saja yang dirasakan Randika. Dia rasakan bahwa tenaga dalamnya njadi limpah!

Dalam sekejap, Randika pulih seperti sedia kala. Cedera tubuhnya mulai nghilang dan tubuhnya berlimpahkan tenaga dalam.

Di tengah keterkejutannya ini, beberapa pisau sudah layang nuju Randika.

Randika dengan cepat nampar tanah dan berdiri kembali. Tubuhnya dengan cepat njadi gumpalan asap dan nerjang maju. Seluruh pisau yang layang itu dia tangkis dengan sigap.

Kebangkitan Randika ini mbuat Bulan Kegelapan terkejut. Saat ini, Randika sudah berada kembali di tengah-tengah reka.

"Saatnya kalian mati!" Randika ngatakannya dengan nada dingin dan aura mbunuh yang luar biasa.

Bulan Kegelapan langsung rinding, dia rasa bahwa Ares yang ada di hadapannya ini berbeda dengan yang tadi.

Randika kembali njadi asap, dia dengan cepat nerjang ke arah beberapa Bulan Kegelapan dengan pisau di tangannya. Yang terakhir dilihat oleh kelima Bulan Kegelapan hanyalah kilau pisau Randika, karena setelah itu yang reka lihat adalah kepala reka yang nggelinding.

Cepat dan bersih!

Randika lalu lempar pisau tersebut dan satu Bulan Kegelapan lagi yang tewas dengan pisau nancap di dada. Di saat pisau itu nancap, Randika sudah matahkan leher salah satu Bulan Kegelapan.

Para Bulan Kegelapan ini berusaha nghindar tapi semua itu percuma. Kecepatan dan kekuatan Randika yang sekarang sudah berbeda dengan yang tadi dan benar-benar ngerikan. Hanya dengan satu langkah saja Randika sudah ncabut nyawa.

Randika yang sekarang njadi jelmaan Dewa Perang sesungguhnya, satu ayunan saja sudah cukup layangkan sebuah kepala!

Bulan Kegelapan yang sekarang benar-benar terdiam.

Mana keberanianmu yang tadi?

Dalam sekejap, semua kloning Bulan Kegelapan mati di tangan Randika.

Sekarang hanya Randika yang berdiri sendirian, wajah dan bajunya bersimbah darah.

Ketika Ares sang Dewa Perang marah, seribu kematian tidak cukup muaskan nafsunya!

[1] ndapatkan nasib buruk (kematian) karena markan kehebatannya.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 57: Kloning on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.