Font Size
15px

Setelah ngalami hari yang luar biasa ini, Randika mutuskan untuk kembali ke rumah. Namun, tiba-tiba dia ndapat telepon.

"Tuan, aku sudah sampai di kota Cendrawasih."

"Baiklah, tunggulah aku. Aku akan ngirimkan alamatnya."

"Baik tuan."

Apakah kau benar-benar baru sampai?

Randika tersenyum kecil. Akhirnya waktu ini telah tiba, apakah tirai misterius ini akan terungkap hari ini?

Randika milih gedung terbengkalai tempat di mana Safira dan Elva disekap sebelumnya, daerah itu mang terkenal sepi. Jika mang terjadi sesuatu, tidak akan ada orang yang ngetahuinya.

Pertanyaan ini selalu terngiang-ngiang di benak Randika sejak lama.

Apakah kau masih Shadow yang kukenal?

Aku harap kau tidak ngecewakanku. Tatapan mata Randika terlihat dingin.

Kemudian Randika segera nuju gedung itu kembali.

Tak lama kemudian, Randika telah sampai dan berjalan masuk dengan santai. Karena hari sudah malam, angin sepoi-sepoi berhembus lewati dinding-dinding yang bolong yang mbuat suasana njadi dingin.

Karena tidak lihat sosok Shadow di mana pun, Randika berteriak. "Keluarlah dan tunjukan dirimu Shadow."

"Selamat malam tuan." Tiba-tiba suara perempuan yang lemah lembut terdengar dari arah belakangnya.

"Shadow, karena kau sudah tiba di kota ini, aku harap kau sudah nyelidiki masalah ini secara nyeluruh." Lalu Randika nekankan kata-katanya. "Aku harap kau tidak ngecewakanku."

"Tentu saja aku tidak akan ngecewakan tuan. Hasil penyelidikanku ngatakan bahwa Bulan Kegelapan berada di kota Cendrawasih."

Ketika Shadow selesai berbicara, sebuah kilatan cahaya terlihat dan Randika segera langkah ke samping dengan cepat. Sebuah peluru segera nembus lantai di tempatnya berdiri tadi.

"Aku tidak nyangka kalau tuan begitu hebat."

Wajah Randika benar-benar terlihat dingin. "Pada akhirnya kau tetap ngecewakanku."

Nada suara Shadow sudah tidak sopan sama sekali, "Aku sudah tidak peduli denganmu, lagi pula kau juga sudah tidak miliki kekuatan untuk lakukan apa pun."

"Kau sudah lama bekerja untukku Shadow, kau seharusnya tahu apa yang nantimu." Kata Randika.

ndengar itu, tubuh Shadow getar sedikit tetapi langsung njadi normal kembali. "Tentu saja aku tahu, oleh karena itu aku sudah miliki persiapan untuk hari ini. Sayangnya kau tidak akan keluar hidup-hidup hari ini."

"Oh? mangnya kau bekerja dengan salah seorang dari 12 Dewa Olimpus?" Randika nggelengkan kepalanya.

"Cuma aku saja cukup untuk nghadapimu." Suara orang lain terdengar. Seorang pria muncul dari belakang Shadow dan dialah Bulan Kegelapan.

Randika ngerutkan dahinya. Dia lihat Bulan Kegelapan nghampiri Shadow dan luknya.

"Kaget? Hahaha." Bulan Kegelapan tertawa keras sambil natap Randika.

"Jadi itu hubungan kalian." Randika nghela napas. "Ternyata selama ini aku dibuat buta arah sama kalian berdua, harus kuakui boleh juga kerja sama kalian."

"Dan untukmu Shadow, sebentar lagi akan kuajari betapa kejamnya nasib si pengkhianat." Randika langsung ngeluarkan aura mbunuhnya yang pekat.

"Kau masih bisa berkata besar walaupun nyawamu sudah di ujung tanduk. Kau bahkan tidak bisa lihat pengkhianatan Shadow, masih pantaskah kau nyandang nama Ares?" Bulan Kegelapan kemudian remas dada Shadow sambil ngatakan, "Segala milikmu adalah milikku, mau itu perempuan ataupun harta."

"Jika aku tidak bisa nebaknya, nurutmu ngapa aku datang?" Dari awal dia sudah tahu bahwa Shadow telah ngkhianatinya. Tujuannya datang adalah nghukum siapapun yang berani nentangnya.

Dan hanya ada satu hukuman yang pantas, kematian!

Bulan Kegelapan dan Shadow terbeku di tempat, sejejak panik muncul di mata reka. reka sudah bekerja di bawah Randika selama beberapa tahun, jadi reka tahu kengerian seperti apa yang nanti reka.

"Tidak usah banyak bicara, hari ini kau akan mati!" Kata Bulan Kegelapan sambil mancarkan aura mbunuhnya.

"Kalau begitu tunjukkan kemampuan kalian!" Randika lalu berubah njadi bayangan dan nerjang Bulan Kegelapan. Aura mbunuh Randika yang pekat mbuat Bulan Kegelapan dan Shadow terintimidasi.

Tetapi, reka berdua segera tersadar dan nggabungkan kekuatan. Shadow bertugas untuk nangis serangan Randika dan Bulan Kegelapan bersiap lancarkan serangan balik. lihat hal ini, aura mbunuh Randika semakin tidak terkendali.

Namun, skipun reka berdua telah nggabungkan kekuatannya, reka tetap terpental karena serangan Randika.

"Orang lemah tetaplah lemah!" Randika ndengus dingin dan kembali nerjang.

Hari ini kedua orang ini akan mati!

Bulan Kegelapan terkejut lihat Randika yang bertenaga ini. Bukankah dia seharusnya sedang cedera?

Seluruh tubuh Bulan Kegelapan mulai rinding. Dia tidak bisa lengah karena Randika sudah nerjangnya dan bisa mbunuhnya kapan saja. Dia tidak punya pilihan lain, daripada diam dan nunggu kematiannya lebih baik dia bertaruh dengan nantang duel Randika.

Dalam sekejap, serangkaian serangan pisau tepat ngarah ke wajah Randika!

Randika tetap berwajah datar. Dalam sekejap dia lompat zig-zag dan nghindari seluruh serangan dan ncengkram pergelangan tangan Bulan Kegelapan dengan erat. Kemudian dia narik Bulan Kegelapan dan nendangnya tepat di dada dengan keras. Bulan Kegelapan dengan cepat terpental dan ngerang kesakitan.

"Sejak kapan seekor semut berusaha manjat puncak dunia?" Tatapan mata Randika terlihat dingin. Di saat Bulan Kegelapan terpental, dia sudah nerjang maju kembali.

Di saat Bulan Kegelapan berusaha berdiri kembali, Randika sudah berada di hadapannya dan layangkan pukulannya ke dagunya. Sekarang Bulan Kegelapan layang di udara sambil muntahkan seteguk darah.

Randika di lain sisi kembali mukul bagian rusuk Bulan Kegelapan dan dia pun tersungkur di lantai sambil gangi tulang rusuknya yang patah.

"Berani-beraninya kau ngkhianatiku?" Randika natap Bulan Kegelapan dengan tatapan jijik.

"Dewa perang dari dunia bawah tanah mang hebat, tetapi apakah kau percaya kalau aku punya kekuatan untuk ngakhiri hidupmu hari ini?" Bulan Kegelapan sama sekali tidak gentar skipun dia cedera berat.

Randika ngerutkan dahinya. Bulan Kegelapan sudah babak belur tapi masih bisa banyak omong, mang anjing Cuma bisa nggonggong.

"Aku harus ngakui kalau kemampuanmu sangat luar biasa." Bulan Kegelapan terengah-engah. "mang aku rehkan kemampuanmu itu tapi itu juga berlaku untukmu."

"Aku tidak perlu serius ketika nginjak seekor semut sepertimu." Ejek Randika.

"Shadow, skipun aku tidak tahu kenapa kau ngkhianatiku, karena kau telah milih untuk lawanku maka bersiaplah nerima hukuman yang sama dengannya." Randika noleh ke Shadow.

Randika lalu ngeluarkan pisau yang dipungutnya tadi dan lemparkannya ke arah Bulan Kegelapan yang terkapar di lantai. Dengan akurat, pisau tersebut nembus tenggorokan Bulan Kegelapan!

Bulan Kegelapan tewas di hadapan sang Ares!

Randika noleh dan nghadap ke arah Shadow. "Sekarang terimalah hukumanmu."

Wajah Shadow dipenuhi oleh kengerian. Bagaimana mungkin Bulan Kegelapan sama sekali tidak berkutik lawan Randika yang seharusnya cedera ini? Kenapa situasi berjalan seperti ini?

lihat serangan Randika tadi pada Bulan Kegelapan, Shadow tahu bahwa Randika masih belum serius. Nama Ares yang disandangnya bukanlah lelucon. Tanpa diragukan lagi, nyawanya sudah berada di genggaman Randika!

Randika natap dingin ke Shadow, wajahnya tanpa ekspresi ketika dia nghampirinya.

"Kau benar-benar ngecewakanku." Randika benar-benar kecewa kartu Asnya itu ternyata malah njadi senjata makan tuan.

Shadow sama sekali tidak berbicara. Detik berikutnya, sosoknya nghilang njadi gumpalan asap.

Di saat itu juga, Shadow telah lempar bom asap di tempatnya berdiri dan semacam granat ke arah kaki Randika. Randika bereaksi dengan cepat dan ngambil langkah mundur. Ledakannya cukup kuat, hal ini mbuat Randika cukup jauh ngambil langkah mundurnya.

Untungnya gedung ini tidak ikut runtuh, namun api mulai njalar.

Randika tidak repot-repot mpedulikannya dan ngejar langsung Shadow yang lari tersebut.

Si pengkhianat tidak akan bisa bernapas lega selama dia masih hidup!

Randika berlari dengan sangat cepat, tidak butuh waktu yang lama untuknya ngejar Shadow. Namun tiba-tiba sebuah pisau layang ke arah wajahnya.

Randika yang berkecepatan tinggi itu hampir saja tidak bisa nghindarinya. Dia lalu noleh ke arah pisau itu berasal dan terkejut.

Dia lihat sesosok orang yang seharusnya sudah dia bunuh, dia adalah Bulan Kegelapan!

Apa yang sebenarnya yang terjadi? Bisa-bisanya orang itu masih hidup?

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 56: Pengkhianatan Shadow on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Nightwatcher cover
Similar genre

Nightwatcher

Paperboy ·Harem

Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,andMagicians.XuQi’an,a...Readmore Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,a...

On the Path to the Great Dao cover
Trending now

On the Path to the Great Dao

Pig Nerd ·Action

【Fromtheauthorof''!】Mygrandfatherisverypeculiar.Everyday,helightsincenseforhimselfandeatscandlesinfrontofhisownancestraltablet.Thevillagersareallte...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.