ndengar teriakan itu, semua orang yang ada di koridor njadi panik.
Apa yang sebenarnya telah terjadi?
Randika nghampiri dan lihat ada seorang lelaki tua yang tergeletak di lantai. Dia terlihat sudah tidak bernyawa.
"Pak Ardi, kenapa kau ninggalkan kami?" Salah satu kenalan pasien nangis dengan keras sambil gangi guru semasa SMAnya itu.
Semua orang termasuk para perawat terdiam. Pak Ardi ini mpunyai riwayat penyakit jantung, sewaktu-waktu dia bisa terkena serangan jantung. Sangat sulit mangnya untuk relakan orang yang telah mbesarkan kita.
Randika ngerutkan dahinya. Pak Ardi ini mang terlihat tidak bernyawa tetapi nurut dirinya, dia masih bisa dihidupkan kembali.
Saat ini, detak jantung Pak Ardi sudah berhenti. Satu-satunya cara adalah mbuatnya berdetak kembali dan dia akan berjalan kembali seperti sedia kala.
Pada saat ini, perawat cantik yang digoda Randika tadi tiba. Pertama dia langsung ngecek denyut nadi Pak Ardi, kemudian dia berkata dengan nada nyesal. "Maafkan kami, beliau sudah tiada."
Kemudian, dia ngambil handphonenya dan mberi pesan kepada temannya untuk mbawa brankar agar bisa mindahkan jenazah korban.
"Dia masih hidup." Tiba-tiba, suara itu terdengar dari arah kerumunan. Semua orang langsung lirik Randika.
"Kau mangnya dokter?" Para penonton langsung rasa Randika ini sedang bercanda.
"Hei, aku tahu kalau kau juga tidak dapat nerima kenyataan ini. Tetapi kalau kau ingin bercanda tolong lihat waktu yang tepat. Semuanya sedang berduka." Kata orang di sampingnya. "Sudahlah biarkan dia pergi dengan tenang."
mbiarkannya dia pergi? Padahal jelas-jelas orang ini bisa diselamatkan?
Randika tertawa dalam hati. Dia segera nghampiri korban. "Aku yakin orang ini masih bisa diselamatkan."
Kali ini semua orang langsung marah-marah. Orang yang negur Randika tadi langsung nyaut. "Orang itu sudah mati, tidak ada denyut nadinya. Bisa-bisanya kau masih berkata seperti itu!"
"Benar, kau sudah gila ya?"
Perawat cantik itu nyadari bahwa pria yang lantur itu ternyata Randika, orang yang nggodanya tadi. Dia benar-benar tidak habis pikir, bahkan orang mati pun dia anggap sebagai lelucon?
"Orang ini telah ninggal dunia. Jangan nyimpulkan sendiri." Nada suara perawat itu berat dan wajahnya benar-benar serius.
Randika ngerutkan dahinya dan ngatakan. "Kalian benar-benar mbiarkannya mati begitu saja? Dia belum benar-benar mati, kalau kita mbiarkan kondisinya seperti ini maka dia akan mati sungguhan."
"Hanya seorang dokter yang bisa nentukan hidup dan mati pasien. Sesuai hukum negara yang berlaku, tidak ada orang lain yang miliki hak untuk mutuskannya." Kata perawat itu.
"Masalahnya, kau hanyalah seorang perawat. Bagaimana mungkin kau miliki hak untuk nentukan orang itu telah mati atau tidak?" Randika langsung ngacuhkan semua orang dan riksa denyut nadi Pak Ardi, yang denyutnya sangat lemah. Jika dia ragu-ragu seperti sebelumnya, orang ini akan benar-benar mati.
"Kalian tega lihat orang ini mati tanpa berjuang sama sekali?" Randika nyapu pandangannya. "Aku tidak rela dia mati begitu saja. Sekarang cepat carikan aku jarum perak, jarum yang digunakan untuk akupuntur. CEPAT!"
Setelah berkata seperti itu, Randika dengan cepat ngumpulkan tenaga dalamnya dan nyalurkannya ke Pak Ardi ini.
lihat seorang awam nangani pasiennya, perawat ini dengan marah ngatakan. "Apa yang kau lakukan!?"
"Jika kau di sini hanya untuk ngol pergi sana, jangan nggangguku nyelamatkan nyawa." Kata Randika dengan dingin. "Bukankah rumah sakit ada untuk nyelamatkan nyawa orang? Jelas orang ini masih bisa diselamatkan tetapi jika kau lelet seperti ini, dia akan mati sungguhan."
Saat ini banyak sekali orang yang berkumpul di koridor. Semua penasaran dengan drama yang telah terjadi.
"Pak Ardi mang sudah sakit-sakitan sebelum ini, mungkin ini mang waktunya dia." Beberapa orang mulai bergumam.
"Siapa pemuda itu? Dokter?" Beberapa orang mulai ncurigai Randika.
Perawat cantik itu masih terkejut oleh kata-kata Randika. Dia benar-benar marah olehnya. Oke kalau kau ngomong dia belum mati, mari kita lihat bagaimana caranya kau nyelamatkannya!
"Mana jarum akupunturku? Kok belum datang?" Randika mbentak ke perawat tersebut. Jarum miliknya patah saat dia mbawanya ke markas Kevin kapan hari dan belum sempat nggantinya.
skipun dia sudah mberikan pertolongan pertama dengan tenaga dalamnya, efek yang diberikannya dibandingkan dengan jarum akupuntur sudah bagai bumi dan langit. Dengan jarum tersebut, Randika bisa mastikan bahwa nyawa orang tua ini akan terselamatkan.
Perawat itu nggigit bibir bawahnya, dia lalu berdiri dan berjalan nuju ruangannya. Tak lama kemudian, jarum yang diminta Randika sudah siap.
"Ini." Perawat itu mberikannya dengan ogah-ogahan.
"Sudah steril?"
"Belum." Perawat itu hanya nggelengkan kepalanya.
"Ambilkan aku korek api." Waktunya sudah pet dan perawat ini masih bisa santai. Untungnya, perawat ini mbawa korek api.
"Nyalakan cepat! Atau aku juga perlu ngajarkannya?" Kata Randika dengan nada dingin.
Perawat itu marah ketika Randika mbentaknya terus-nerus, tetapi dia masih nyalakan korek apinya itu. Randika dengan cepat nsterilkan jarumnya dan nyalurkan tenaga dalamnya ke jarum. Setelah itu, dia langsung mbuka baju Pak Ardi dan nusukannya di jantungnya!
skipun orang-orang njadi histeris, Randika tidak mpedulikannya dan masih tetap fokus.
Dengan cepat Randika nusukkan beberapa jarum dan nyalurkan tenaga dalamnya kembali ke jarum tersebut. Saat ini, hanya ada tubuh Pak Ardi di matanya.
Berkat ajaran kakeknya, kemampuan Randika nggunakan teknik akupuntur setara dengan seorang dokter. Jadi dia yakin bisa nyelamatkan orang ini.
skipun begitu, dia tidak begitu nguasai teknik akupuntur ini jadi dia mbuang terlalu banyak tenaga dalamnya.
Ketika jarum terakhir dia tusukkan, semua jarum itu mbentuk sebuah jejak yang aneh di daerah jantungnya. Namun, masih tidak ada tanda-tanda pergerakan dari Pak Ardi.
"Seharusnya ini sudah cukup." Randika nyeka keringat di dahinya dan tertawa pahit dalam hatinya. mang teknik pengobatan ini bukan keahliannya, coba saja Safira ada di sini.
Di sisi lain, Pak Ardi masih tergeletak di lantai.
Semua orang yang nyaksikan ini mulai ngol masing-masing. "Tuh kan, orang itu benar-benar gila. Mana bisa mbangkitkan orang yang sudah mati?"
"Gitu awalnya dia yakin bisa nyelamatkannya, ngomong doang mah gampang! Sudahlah biarkan Pak Ardi pergi dengan tenang."
"Untung keluarga Pak Ardi belum lihat drama ini, bisa-bisa pemuda itu sudah dihajar habis-habisan."
Perawat cantik itu hanya natap tajam ke arah Randika. Dia lalu bertanya dengan nada dingin. "Sekarang, apa yang akan kau lakukan?"
Randika malah bertanya. "Jam berapa sekarang?"
"23.15"
Randika hanya ngangguk dan tidak njawab. Dia jamkan matanya.
"Hei, sudah puaskah kamu njadi dokter abal-abal? Aku masih perlu mproses tubuh orang ini untuk keluarga reka." Perawat itu mulai jengkel ketika Randika mulai ngacuhkan dirinya.
Para penonton mulai marah pada Randika. Dia sudah mberikan harapan palsu kepada reka, sekarang pemuda itu malah duduk sambil jamkan matanya tanpa njelaskan apa-apa?
Pada saat ini, beberapa dokter tiba di lokasi. Perawat cantik itu berdiri dan mbiarkan para dokter untuk ngambil ahli. Di saat dokter itu hendak nyentuh tubuh Pak Ardi, Randika langsung ncengkram erat tangan sang dokter.
"Tunggulah satu nit." Kata Randika.
Dokter itu ngerutkan dahinya. "Pak, ini adalah rumah sakit dan aku adalah dokter."
Di saat dia berusaha kembali nyentuh tubuh Pak Ardi, Randika kembali ncegahnya.
"Apa maksudmu?" Dokter itu njadi marah.
Para penonton pun njadi marah pada Randika. Dokter telah tiba, biarkan para profesional yang bekerja.
"Lepaskan tanganku!" Dokter itu mulai tidak terima.
Randika langsung lepasnya sambil ndorongnya, dokter itu langsung terjatuh.
Seketika itu juga, dari kejauhan muncul suara panik. "Ayah! Di mana kamu!"
Anak dari Pak Ardi segera nghampiri ayahnya. Dia ndorong-dorong para penonton sampai dirinya berada di depan. Seketika itu juga dia lihat bahwa ayahnya setengah telanjang dan area dadanya penuh dengan jarum.
"Apa yang kau lakukan pada ayahku!" Sang anak langsung ingin nghajar Randika.
"Diam! Ayahmu akan bangun dalam 20 detik." Randika hanya berdiri dan berkata dengan wajah datar. "Sekarang tinggal 15 detik."
"Orang ini masih saja berkhayal."
"Sudah tangkap saja orang itu dan jebloskan ke penjara."
"Sudah cukup sandiwaramu." Perawat cantik itu sudah tidak tahan dengan semua drama ini.
Namun, di saat ini terdengar suara batuk dari lantai.
Dalam sekejap seluruh koridor njadi hening dan semua mata fokus pada Pak Ardi yang terbaring di lantai.
reka lihat Pak Ardi yang mbuka matanya sambil terbatuk. Dia mperhatikan sekelilingnya dan bertanya pada anaknya. "Ada apa ini kok ramai-ramai?"
"Ayah? Ayah!" Sang anak langsung nangis di tempat.
"Bajingan, dia benar-benar hidup!" Semua orang tidak percaya akan keajaiban yang terjadi di depan mata reka.
Para dokter lebih terkejut lagi sedangkan perawat cantik itu hanya longo seperti orang bodoh. Pemuda itu benar-benar miliki kemampuan untuk mbangkitkan orang mati?
Setelah Randika lepaskan jarum-jarumnya, sang anak langsung luk erat ayahnya. "Syukurlah ayah baik-baik saja."
Randika dengan santai berjalan keluar sambil nyerahkan jarum itu ke perawat cantik itu. "Tolong bereskan ini."
lihat Randika yang ninggalkan tempat, para penonton itu rasa kagum dengan sentuhan ajaib Randika itu.
reka langsung mbukakan jalan pada sang penyelamat!
Sudah kodratnya kalau ajal njemput maka kita hanya bisa pasrah. Tetapi pemuda itu tidak nyerah dan berhasil nyelamatkan nyawa Pak Ardi!
Mata si perawat cantik dipenuhi dengan kebingungan. Ketika dia sadar dan ncari Randika, ternyata pemuda itu sudah nghilang.
"Benar-benar mukjizat, bocah itu hanya pakai jarum dan dia berhasil nyelamatkan Pak Ardi!" Semua orang mulai nyebarkan berita nghebohkan ini.
"Orang itu benar-benar luar biasa." Perawat cantik itu lalu ingat bahwa dia telah digoda olehnya sebelumnya, dengan cepat dia tersipu malu.
Dia nyesal tidak mberikan nomornya kepada Randika.
Aku berharap bisa bertemu denganmu lagi...
Reviews
All reviews (0)