Perkataan Randika sangatlah blak-blakan dan lugas. Sudah jelas bahwa kau, Naoki Moretti, hanyalah seorang bocah ingusan yang masih nikmati momongan orang tua itu mana mungkin bisa nghancurkan markasku sendirian? Tentu kau pasti ndapat bantuan orang lain.
ngerti arti dari perkataan Randika, Naoki tidak terpancing dan berkata sambil tertawa, "Haha, Ares kau pikir aku miliki pemikiran sedangkal itu? Tentu saja aku tahu bahwa diriku bukan lawanmu baik dalam kondisimu yang seperti sekarang ini ataupun saat kau sedang prima. Oleh karena itu, aku nunggu saat-saat terlemahmu seperti ini dan mbawa kekuatan besar lain yang bisa nghabisimu!"
Setelah berkata demikian, dua orang muncul di balik Naoki.
Sosok kedua orang ini tidak asing bagi Randika. Bisa dikatakan bahwa beberapa tahun terakhir ini, reka sudah dianggap saudara oleh Randika.
Yang mbuat bingung Randika adalah kenapa reka bisa datang secepat ini ke kota Cendrawasih? Bukankah barusan reka nghancurkan markasnya yang ada di luar negeri?
"Adik Harimau dan Bulan Kegelapan, berani-beraninya kalian nantangku?"
Randika terlihat nggelengkan kepalanya. skipun dia kecewa karena ditikam dari belakang oleh kedua orang yang dianggapnya dekat ini, dia masih rasa bersalah terhadap Yuna.
Awalnya, Randika lah yang njodohkan Yuna dengan Harimau. Sekarang Harimau malah berkhianat terhadap dirinya dan ninggalkan Yuna seorang diri. Randika khawatir bahwa Yuna akan rasa bersalah terhadap semua ini karena tidak bisa lihat niatan asli suaminya.
"Jangan terlalu tegang seperti itu, sebentar lagi kau akan bisa beristirahat dengan tenang di alam sana." Kata Bulan Kegelapan.
Harimau tampak terdiam. Dia hanya lirik tajam ke arah bosnya terdahulu dan 'kakak'nya itu. Mungkin karena reka telah njalani situasi hidup dan mati bersama-sama setelah bertahun-tahun, Harimau masih belum bisa lupakan semua itu dan berusaha mbulatkan tekadnya.
"HAHA! Cecunguk seperti kalian tidak akan pernah bisa mbunuhku." Sambil berkata seperti itu, Randika ngacungkan jempolnya ke bawah kepada reka bertiga.
Tidak tahu diri! Ketiga orang ini benar-benar tidak sadar akan posisi reka.
ndengar ejekan Randika, Bulan Kegelapan terpancing emosinya. Badannya bergetar dan aura tubuhnya mulai mancarkan niat mbunuh yang besar.
"Oke, mari kita lihat seberapa hebat dirimu"
Setelah ngatakan hal tersebut, Bulan Kegelapan segera lesat njadi bayangan. Dia ndapatkan nama tersebut karena dia bisa nyatu dengan kegelapan malam berkat kecepatannya yang tidak bisa diikuti oleh mata telanjang. Orang biasa mungkin hanya bisa lihat kilau pisaunya yang sudah nebas leher reka.
Kekuatan dari ranking 15 dari daftar Dewa manglah bukan main-main. Tentu reputasi seperti itu disertai dengan kemampuan yang madai.
Namun, lawannya kali ini adalah sang Dewa Perang Ares.
"Hmmm boleh juga." Randika yang lihat Bulan Kegelapan bergerak cepat itu segera nganalisa pergerakan musuhnya. skipun musuhnya cepat, apakah itu akan mbuat dirinya bergetar ketakutan?
Randika ngulurkan lengannya dan sebilah pisau keluar dari tangannya.
...
Jleb!
Terdengar suara pisau yang tertanam di tubuh orang.
Di tengah-tengah udara, muncul sesosok tubuh pria yang hendak terjatuh ke tanah. Apabila diperhatikan dengan baik, terdapat pisau yang nancap di dada orang tersebut.
Satu serangan Satu serangan dan salah satu anggota Dewa telah mati begitu saja. Dia telah mati ngenaskan hanya karena satu serangan Randika.
Naoki dan Harimau yang lihatnya benar-benar tercengang. Informasi yang reka terima harusnya ngatakan bahwa Randika sedang dalam kondisi terlemahnya. Bagaimana mungkin rekan reka akan mati hanya dalam 1 serangan?
Sedangkan Randika, wajahnya benar-benar terlihat garang dan tatapan matanya mancarkan aura mbunuh yang hebat. Sejujurnya, dia sedang nahan dirinya untuk tidak muntah darah.
Sebelum serangan ini, dia tahu bahwa kekuatannya sudah hampir ncapai ambang batasnya jadi dia perlu nyelesaikan masalah ini dalam satu serangan. Dia juga berharap bahwa dengan tidak berdayanya Bulan Kegelapan, kedua musuhnya itu akan kehilangan niatnya untuk bertarung.
skipun serangan Bulan Kegelapan sangatlah cepat, kekuatan yang terkandung di dalamnya tidaklah terlalu kuat jadi dia ngandalkan akselerasinya untuk mbuat montum. Tapi semuanya itu tidak akan berdaya apabila dihadapkan dengan serangan yang lebih cepat darinya. Dan hanya dengan begitu saja, serangan Randika yang lebih cepat telah nusuknya tepat di dada.
Namun skipun dirinya berhasil mbunuh Bulan Kegelapan, Randika masih belum bisa santai. Rasa waspada ini bukan berasal dari Naoki maupun Harimau tetapi sesosok yang bersembunyi di balik bayangan.
Oleh karena itu, dia tidak boleh terlihat lemah dan terus masang muka garangnya, "Lho segitu saja? Ayo sini maju, kuhabisi kalian berdua."
Randika harus manfaatkan ketakutan reka berdua untuk nghindari pertarungan tidak perlu. Dan betul saja, kedua tubuh Naoki dan Harimau bergetar ketika Randika nantangnya.
Ketakutan Naoki itu mbuat kakinya lemas dan tidak bisa bergerak. Namun, dia lebih takut lagi apabila dia lari dan mbelakangi Randika, sebilah pisau akan layang ke arahnya dan nancap di punggungnya.
Harimau malah terlihat seperti orang bodoh. Dia rasa bahwa dirinya benar-benar bodoh karena bagaimana bisa dia tidak bisa nyadari kekuatan Randika skipun telah bersamanya bertahun-tahun.
Satu serangan dan Bulan Kegelapan mati!
Apabila dibandingkan, Harimau mang sedikit lebih kuat dari Bulan Kegelapan. Namun dalam hal kecepatan, dia masih kalah.
Randika sedang terluka dan tidak berada dalam kondisi puncaknya, namun dia masih bisa mbunuh Bulan Kegelapan dengan mudah. Apakah informasi yang dimilikinya ini salah?
Baru sekarang Harimau ngerti bahwa julukan Ares bukanlah hanya sekedar isapan jempol.
"Kalian semua jangan bergerak!" Pada saat ini, terdengar teriakan dari suara yang dingin.
Akhirnya pihak ketiga bergerak?
ndengar hal tersebut mbuat Naoki Moretti sadar dari ketakutannya. ndengar bahwa ada puluhan derapan kaki, dia segera mundur bersama Harimau.
Anjing yang kabur sangatlah cepat apalagi orang yang berdiri di puncak dunia ilmu bela diri. Apabila reka mutuskan untuk kabur, keberhasilan nangkap orang-orang ini sangatlah rendah.
Randika tidak repot-repot berusaha ngejar reka. Dia masih dalam keadaan waspada ketika noleh ke arah suara tersebut.
Seorang wanita dengan baju serba hitam segera muncul di jarak pandangnya. skipun diselimuti oleh kegelapan malam, kemolekkan tubuh wanita ini tidak bisa disembunyikan. Sayang, mukanya tidak dapat terlihat dengan jelas.
Randika masih masang kuda-kuda bertarungnya. Dia miliki firasat bahwa perempuan ini lebih repotkan dari musuhnya sebelumnya.
"Tuan Ares, ngapa Anda mancing keributan? Apakah kau datang ke Indonesia untuk mbuat kekacauan atau untuk netap di sini?"
"Haha.. Aku tidak bermaksud seperti begitu. Aku hanya ingin ncari istri di Indonesia karena kudengar di sini banyak perempuan cantiknya."
Randika rasa bahwa niat lawannya ini tidaklah buruk jadi dia segera ngendurkan kekuatannya. Dia pun njawab pertanyaan itu dengan santai. Randika sudah ngalami pertempuran hidup dan mati, jadi dia tahu mana situasi berbahaya dan yang tidak. Kali ini, pihak lain hanya ingin ngorek informasi.
"Oh? Benarkah begitu? Aku khawatir bahwa perempuan Indonesia suka dengan pria lembut dan baik. Jadi aku rasa reka akan kurang begitu suka denganmu." Nada perempuan ini masih dingin, yang di mana mbuat Randika sedikit tidak senang ndengarnya.
"Oya? Kenapa yang aku temui tidak seperti itu ya? Bukankah reka suka dengan lelaki tampan dan energik sepertiku? Ketika aku pertama kali sampai di negara ini, aku nyamar njadi penjual mie ayam dan apakah kau tahu apa yang terjadi? Perempuan cantik nghampiriku dan mintaku untuk nikahinya. Gila tidak? Dia benar-benar wanita tercantik yang pernah kutemui. Namanya Inggrid Elina, apakah kau pernah ndengar namanya? Kita bahkan sudah miliki sertifikat pernikahan kita. Sedangkan untuk omonganmu tentang perempuan Indonesia suka dengan pria lembut, kurasa itu kurang tepat. Setidaknya istriku tidak seperti itu. Dia suka pria yang kuat yang bisa lindungi reka dan bisa bermain semalaman tanpa henti. Tentu saja sebelum ini dia sudah kubuat dia ngerti arti kata pria dan sedang istirahat karena kelelahan."
Tampan dan energik? Bajingan seperti dirimu dikatakan tampan?
"Aku tidak butuh bualanmu tentang bulan madumu. Aku hanya ingin mperingatkan bahwa ini adalah Indonesia. Selama kau berada di sini, kau akan matuhi hukum yang ada. Apabila kau berani langgar, aku sendiri yang akan numpasmu!"
Perempuan ini terdengar seperti orang marah, mungkinkah perbuatan Randika telah ngusiknya?
Sejujurnya, perempuan ini tidak berdaya. Dia tahu bahwa lawannya ini adalah dewa perang yang terkenal di dunia bawah tanah. Lelaki ini bahkan bisa lumpuhkan begitu banyak orang sendirian dan mbuat kedua lawannya lari ketakutan.
Perempuan ini berpendapat bahwa dengan adanya Ares di Indonesia, hal ini akan ngundang pentolan-pentolan lainnya di dunia bawah tanah untuk berulah di negaranya. Apabila diteruskan, hal ini bisa ngguncang negara ini.
"Jadi maksudmu aku tidak tahu hukum negaraku sendiri? Tentu saja aku tahu, aku lahir di sini tahu!"
"....."
ndengar hal ini, mbuat perempuan ini kehabisan kata-kata. Dewa Perang Ares ternyata adalah orang asli Indonesia? Informasi ini benar-benar krusial dan apabila nyebar akan nimbulkan suatu gelombang tersendiri.
"Omong-omong, kau berasal dari Arwah Garuda bukan? Di salah satu jajaranmu ada yang bernama Safira. Aku ingin bertemu dengannya. Tolong aturkan untukku."
Randika tidak peduli dengan keterkejutan yang dimiliki perempuan itu. Dia hanya ingin bertemu dengan Safira segera mungkin. Tanpa adanya ramuan X, dia harus ncari solusi lain untuk ngatasi kekuatan misterius dalam tubuhnya. Baginya hanya Safira yang bisa nolongnya untuk sekarang.
Setelah beberapa saat terdiam, wanita itu njawab, "Oke, aku akan sampaikan pesanmu. Aku tidak bisa njamin bahwa dia akan bersedia nemuimu atau tidak."
skipun identitas rahasianya sebagai anggota Arwah Garuda terbongkar begitu mudah, suara perempuan ini masih terdengar tenang.
"Bagiku itu sudah cukup. Sebutkan namaku dan dia akan bersedia nemuiku. Elva, bagaimana bisa kau miliki tubuh indah seperti itu dengan dada yang kecil? Lebih perhatikan tubuhmu dan jagalah dirimu."
Randika pun segera nghilang dengan senyuman lebar di wajahnya.
Elva benar-benar linglung. Bagaimana bisa dia ngetahui namanya dan nama organisasinya hanya dalam beberapa nit? Apakah dia juga tahu bahwa dirinya berada di dalam daftar para Dewa?
Namun ndengar kalimat terakhir Randika, mbuat Elva mbenci dirinya. "Sialan, berani-beraninya dia ngatakan dadaku kecil!"
Reviews
All reviews (0)