Font Size
15px

Hari sudah gelap. Lampu-lampu setiap rumah sudah mulai nyala semua. Orang-orang mulai ngantuk dan beristirahat di kamar reka masing-masing. Inggrid pun tidak luput dari hal ini. Hari ini dia rasa lebih lelah daripada biasanya. Bisa dikatakan bahwa beberapa hari ini adalah hari-hari yang sangat lelahkan dalam hidupnya.

Namun dari balik semua kegelapan yang hening ini, sebuah sosok manusia dapat terlihat sedang berdiri diam di sebuah atap rumah. Dia bukanlah maling pakaian dalam yang tidak bisa turun, dia tidak lain adalah Randika. Randika terlihat seperti serigala kesepian yang sedang ngawasi teritorinya. Setelah beberapa saat, dia lesat dan njauh dari kediaman Inggrid.

Di belakangnya, dari balik bayangan pula, beberapa sosok mulai ndekatinya secara perlahan dan diam-diam.

Namun setelah beberapa saat, tiba-tiba Randika berhenti dan ngatakan, "Keluarlah, aku tahu kalian sudah ngikutiku."

Randika yang sudah bergerak bagai angin telah bergerak sejauh 1 km hanya dalam 1 nit. Dia telah berhasil mancing reka ke tempat yang sepi.

Setelah beberapa saat, beberapa sosok berbaju hitam keluar dari balik bayang-bayang.

lihat penampilan reka, Randika ngatakan, "Kalian Mafia Italia?"

Para orang berbaju hitam ini saling mandang satu sama lain. Mungkin reka tidak ngira bahwa dalam sekali tatapan mata, identitas reka akan terbuka begitu saja.

Dengan satu anggukan kepala dari pemimpin reka, para pembunuh dengan baju serba hitam ini segera ngeluarkan senjata reka dan nerjang Randika.

Bagi pembunuh profesional, yang paling penting hanyalah keberhasilan misi reka. reka tidak akan peduli mau identitas reka ketahuan ataupun kedatangan reka sudah diketahui. Kesalahan apa pun bisa diampuni apabila misi utama reka telah berhasil. Apalagi dalam misi reka terdapat faktor X yang bisa mbuat misi reka tidak berjalan mulus contohnya saja adanya keterlibatan pihak ketiga ataupun misi yang dilaksanakan di luar teritori reka.

Hanya karena Randika berhasil ngetahui identitasnya, hal ini tidak mbuat reka ragu untuk nuntaskan misi reka.

Randika yang lihat formasi dan kecepatan reka segera nganalisa daya tempur musuh. reka jelas bukan orang sembarangan. Lawannya kali ini adalah Mafia Italia yang dipimpin oleh 12 kepala keluarga. Konon, 1/2 Italia telah njadi milik reka baik itu di jajaran politik maupun hukum. Karena reka telah repot-repot ngirim pembunuh reka ke Indonesia, tentulah yang dikirim bukanlah orang sembarangan.

Persenjataan para pembunuh ini terbilang lengkap. Ada yang makai pedang, pisau dan tongkat logam. Semua senjata tersebut mancarkan kilau dingin dan aura mbunuh.

Dalam sekejap, sebuah bayangan sudah berada di depan Randika sambil nggenggam erat pedangnya. Pedang tersebut ngarah kepada perutnya. Apabila orang yang berdiri di posisi Randika adalah seorang prajurit terlatih pun, mungkin dia sudah berdoa dan minta maaf atas dosa-dosanya kepada Yang Maha Kuasa.

Serangan pertama lawan telah dilancarkan!

Randika yang sudah ngalami ratusan pertarungan nghadapi serangan ini dengan kepala dingin. Dia segera ngelak dari tusukan orang tersebut dan nendang orang tersebut hingga terpental jauh.

Orang tersebut berguling-guling di tanah namun segera bangkit kembali. Anehnya, dia seakan tidak rasakan tendangan keras Randika. Tidak mpedulikan debu dan darah yang ada di wajahnya, pria ini segera nerjang kembali pada Randika.

Randika rasa ada yang aneh. Seharusnya tendangannya itu sudah matahkan beberapa tulang musuhnya. Akhirnya dia tersadar sesuatu. "Hmm.. Obat penguat ya? Kalian minumnya sampai-sampai nghilangkan saraf sakit kalian? Sudah kuduga bahwa mafia Italia bukan orang sembarangan, kalian pasti sudah mpersiapkan semua ini sejak lama!"

Tidak ada penjelasan lain terhadap situasi musuhnya ini. reka bahkan tidak mancarkan rasa takut, rasa sakit, ataupun emosi-emosi lainnya ketika orang bertempur dengan nyawa sebagai taruhannya.

lihat hal ini, Randika segera masang kuda-kuda bertarungnya. Dia tahu bahwa pertarungan ini akan berlangsung sengit dan dengan banyaknya orang yang ada, dia tidak boleh ngendurkan kewaspadaannya.

Dugaannya betul. Musuh yang sarafnya sudah mati rasa ini segera nerjang Randika secara bersamaan dengan formasi nyerang reka yang terpadu. Randika hanya bisa bertindak defensif.

Tapi defensif belum tentu tidak bisa nyerang. Di sela-sela nangkis serangannya, Randika akan mberikan serangan balasan yang cukup fatal seperti ngincar dada ataupun perut lawannya. Dengan nghancurkan beberapa tulang, keefektifan serangan musuh akan berkurang setidaknya 20% sehingga Randika bisa ngikis perlahan kekuatan musuh.

Setelah beberapa nit bertukar serangan, Randika rasa ada yang aneh dengan serangan musuh-musuhnya ini. Seakan tujuan reka bukanlah mbunuh dirinya lainkan ngulur waktu dan nghabiskan stamina dirinya.

Apakah orang-orang ini nyadari bahwa ada kekuatan misterius di tubuhnya? Apakah reka ingin mbuat dirinya lepas kendali? mikirkan kelemahannya ini, Randika mau tidak mau harus nyelesaikan hal ini dengan cepat. Tidak ada cara lain selain mbunuh reka.

Tapi bagaimana bisa? reka bergerak dalam formasi dan kecepatan reka juga tidaklah biasa. Terlebih, Randika tidak mbawa senjata jadi mbunuh reka terbilang agak sulit.

'Oke, fokuslah terhadap satu orang dulu, rebut senjatanya dan perlahan kurangi jumlah musuh' pikir Randika

Trang!

Randika berhasil nangkap satu orang dan mbuat pisau yang digenggamnya jatuh. Setelah mbanting lawannya, Randika segera ngambil pisau tersebut dan nikam lehernya.

Satu orang terbunuh.

Namun Randika tidak bisa nikmati mon kenangannya ini. Ketika dia ncabut pisaunya, dia sudah nerima tendangan yang datang dari punggungnya.

Apabila ini hari-hari sebelumnya, mungkin Randika hanya akan tertawa dan ngejek lawannya untuk nendang dirinya lebih keras. Namun hari ini berbeda. Tenaga dalamnya sudah terkuras ketika nyelamatkan Inggrid sebelumnya. Tenaganya tinggal 60% dari biasanya. Belum lagi, dari tadi dia ndapatkan serangan gabungan dari formasi tempur lawannya.

Itulah ngapa Randika daritadi tidak lawan dan bersifat defensif. Dia tidak ingin mbuang-buang tenaga untuk ngejar musuhnya. Namun, sekarang dia rasa dirinya dalam bahaya dan dia tidak boleh terbawa oleh rit musuh.

Randika yang sudah berdiri kembali natap semua musuhnya dalam-dalam. Matanya mancarkan aura mbunuh yang kental. Hanya satu tendangan yang dia terima tetapi hal itu sudah nyulut hawa mbunuhnya hingga ke tingkat ekstrim. Rasa sakit? Tidak! Dia tidak akan ngijinkan musuhnya rasakan hal tersebut.

Secara cepat Randika lesat bagai cahaya hitam. Setiap tubuh yang dilewati cahaya hitam ini akan ninggalkan segenang darah dan anggota tubuh yang jatuh.

Cepat dan akurat!

Setiap tebasan Randika berhasil mbunuh musuhnya dan hanya butuh waktu 2 nit untuk mbunuh semua musuhnya.

Sosoknya yang terlihat ngerikan dan napas terengah-engahnya yang sangat berat mbuat musuhnya teringat akan legenda dewa pembunuh dari dunia bawah tanah. Setiap langkah yang diambil sang dewa, satu tubuh tanpa kepala akan tergeletak.

Randika, yang bersimbah darah mulai dari wajah hingga bajunya, natap kembali pada mayat musuh-musuhnya.

Saat ini mungkin dia terlihat kuat dan ngerikan, tetapi di balik topengnya ini dia sudah sangat kesakitan dan kekuatan misterius dalam tubuhnya mulai ronta-ronta.

Dalam acara pembantaiannya ini, dia hampir nggunakan seluruh tenaga dalamnya. Mungkin tanpa ramuan X yang diminumnya sehari yang lalu, kekuatan misterius dalam tubuhnya sudah ngambil alih tubuhnya.

Di saat dia berusaha nenangkan diri, sebuah suara tepuk tangan terdengar.

Plak! Plak! Plak!

Randika yang masih berdiri diam di tengah genangan darah mbelakangi sosok yang bertepuk tangan tersebut.

"Luar biasa! Nama dewa perang dari dunia bawah tanah sangatlah luar biasa! Bravo! Legenda tentang kau mbunuh tim pembunuh ayahku yang berjumlah 1000 orang ternyata bukanlah isapan jempol. Tidak ada yang berani lawanmu sejak saat itu. Tidak heran tim pembunuhku tidak bisa apa-apa. Sekali lagi kuucapkan Anda mang luar biasa!"

Suara orang ini terdengar sangat njengkelkan dengan aksen aneh seperti suara perempuan. Tapi Randika tahu bahwa dia adalah laki-laki karena suara ini sudah pernah dia dengar sebelumnya.

"Naoki Moretti. Sang bocah akhirnya lepas dari pelukan ibunya ya. Berani-beraninya kau datang nghadapiku!"

Randika sangat ngenal Naoki Moretti. Anak dari Sylvester Moretti, salah satu kepala keluarga dari 12 kepala keluarga mafia Italia, Naoki rupakan keturunan Jepang yang berasal dari ibunya. Selama hidupnya dia sudah berada di bawah naungan ayahnya dan posisi ayahnya akan diteruskan olehnya.

Dengan figurnya yang seperti perempuan, wajahnya sangat putih dan mungil seperti orang Asia. Dia terlihat cantik. Jika dia adalah perempuan maka dia akan njadi rebutan banyak lelaki di dunia. Tetapi ketika Randika lihat dirinya, dia langsung masang kuda-kuda karena dia tahu bahwa lawannya ini sangatlah berbahaya.

Bisa dikatakan bahwa Naoki Moretti berada di peringkat 20 dari ranking para Dewa.

Di dunia ini, terdapat manusia-manusia yang berada di puncak ilmu bela diri. Maka dari itu, munculah sebuah daftar yang ranking para talenta ini. Terdapat tiga daftar yang mbedakan daya tempur reka yaitu Dewa, Manusia Peranakan dan Manusia. Dalam ranking Dewa ada 100 daftar nama, Manusia Peranakan 1.000 nama dan Manusia ada 10.000 nama.

Namun, di atas reka masih ada sebuah daftar yang lampaui reka semua dan reka dikenal sebagai 12 Dewa Olimpus. Orang-orang yang benar-benar bisa dikatakan ndekati ranah Dewa sesungguhnya. Randika berada di daftar nama tersebut. Dia dikenal sebagai Ares, sang dewa perang.

Dalam daftar 12 Dewa Olimpus, perbedaan kekuatan di antara reka sudah sangat kecil. Jadi apabila reka diurutkan oleh sebuah nomor, mungkin hal ini akan nyebabkan perdebatan di antara reka ngenai siapakah yang paling terhebat dan bisa-bisa akan terjadi pertarungan yang ngguncang bumi hingga tersisa 1 orang. Randika bisa masuk dalam daftar ini disebabkan oleh pencapaian tidak masuk akalnya yang telah mbantai 1000 orang yang dikirim Sylvester Moretti dalam semalam. Karena hal ini Randika dikenal sebagai Ares sang Dewa Perang dari dunia bawah tanah karena sosoknya yang bersimbah darah setelah mbantai lawannya.

Dihadapkan beratus-ratus situasi hidup dan mati, Randika tentu tidak takut dengan sosok Naoki Moretti seorang. Tapi hari ini berbeda, hari ini dia berada di kondisi terlemahnya.

"Ares oh Ares, kenapa kau masang wajah garang seperti itu? Apakah kau berusaha mancarkan aura pembunuhmu ataukah kamu nahan rasa sakit?" Dengan kata lain, Naoki ngetahui bahwa kondisi Randika tidak dalam kondisi prima.

"Kamu kira aku keluar hari ini adalah suatu kebetulan? Kamu kira hancurnya markasmu juga kebetulan? Akulah yang lakukan semua itu! Akulah yang akan ngakhiri hidupmu dan neruskan nama Ares yang tidak pantas kau sandang!"

Naoki Moretti segera mancarkan aura mbunuhnya dan tatapan matanya njadi serius.

lihat hal ini, Randika cuma nyeringai dan berkata dengan nada ejekan, "Hahaha, yang datang cuma kamu? Naoki, bocah sepertimu mana mungkin bisa nghancurkan markasku kalau sendirian? Kalau cuma bocah bau kencur sepertimu, sudah lama aku ngirimkan ayahmu bunga untuk pemakamanmu!"

Setelah Randika ngatakan itu, tatapan mata Naoki semakin najam.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 5: Hanya Kamu Sendirian? on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Became The Academy Necromancer cover
Similar genre

I Became The Academy Necromancer

172 ·Harem

Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’ll...Readmore Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’llsaveyou.Col...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.