Peraturan balapan ini gampang. reka hanya perlu lalui jalanan gunung ini. Siapa yang paling cepat nuntaskan jalanan ini, dialah penangnya. Untuk nghindari kecurangan, ada beberapa orang yang diletakkan di titik-titik tertentu untuk mberi informasi berjalannya pertandingan. Para penonton akan berada di garis akhir.
Randika masuki garis awal dengan mobil sport milik Hannah. Total ada 9 orang yang ngikuti balapan kali ini, semuanya rupakan mobil rakitan. skipun begitu, performa dan kecepatan reka tidak lebih jelek daripada mobil sport.
Whoa! Whoa!
Penonton mulai bersorak, para gadis mulai nari-nari sambil nggoyangkan dada reka dan juga banyak yang masang taruhan. Pemandangan di garis awal ini sungguh liar.
"10 juta buat Nico!"
"Gila apa? Jelas-jelas yang nang itu si kuda hitam Sindu!"
"Sayang sekali Naomi tidak datang, kalau ada perempuan itu pertandingan ini pasti lebih seru."
.....
Orang-orang yang hadir semuanya nikmati dengan cara reka sendiri-sendiri. Ketika reka semua asyik bercanda, seorang perempuan mbawa bendera putih maju ke tengah jalan.
Pertandingan akan segera dimulai!
lihat penonton yang begitu banyak, Hannah njadi gugup. skipun dia suka acara seperti ini, dia lebih nikmatinya njadi penonton bukan seorang pembalap.
noleh ke samping, dia lihat wajah Randika penuh dengan keringat!
Bajingan ini gugup?
Saat pertandingan belum dimulai, Nico mbuka kaca jendelanya dan berteriak ke Randika. "Siap kalah bocah?"
"Semua peserta harap siap-siap!"
Perempuan itu ngangkat tinggi bendera yang dia bawa, semua mobil nyalakan sinnya. Di saat bendera itu jatuh, pertandingan resmi dimulai.
"Tiga!"
"Dua!"
"Satu!"
Seketika itu juga, ke-9 mobil langsung macu mobil reka dan disusul oleh sorakan para penonton. Namun, pemandangan di depan reka ini mbuat reka terheran-heran dan bertanya-tanya.
Kenapa mobil sport itu tidak laju?
Mogok?
Hannah juga tidak tahu ngapa Randika tidak bergerak. "Hei pertandingan sudah dimulai!"
"Santai saja." Ekspresi Randika terlihat tenang. "Tidak seru kalau aku nang terlalu mudah."
Ketika ndengarnya Hannah hanya tersenyum. Pria ini percaya diri atau sudah gila?!
"Hahaha kau sudah gila!" Hannah tersenyum dan mulai nutup matanya. Kepala kakak iparnya ini mungkin terbentur pas dia berkelahi tadi jadi dia rasa bahwa berkendara dengannya rupakan kesalahan terbesar. Dia masang sabuk pengamannya dengan erat.
Para penonton saling bertanya satu sama lain. "Mobil itu mogok atau apa?" Tanya seorang penonton yang agak gemuk.
Pria di sebelahnya pun nyahut "Aku rasa kuncinya jatuh." Semuanya mulai tertawa.
Perempuan yang ngibarkan bendera juga ikut bingung. Sudah lebih dari 30 detik dia ngibarkan bendera mulai tapi mobil ini masih diam di tempat.
Tiba-tiba, Randika macu mobilnya dan lesat bagaikan panah.
lihat bahwa akhirnya mobil terakhir berjalan, salah satu panitia berbicara lalui HT. "Semua mobil di garis awal telah laju dengan lancar, titik pertama harap bersiap-siap."
skipun reka laju dengan cepat, Hannah tidak lihat mobil balap lainnya. "Tuh kan, salahmu sendiri aneh-aneh kayak tadi. Kalah kan jadinya kita."
"Santai saja." Kata Randika dengan santai. "Pertandingan sesungguhnya belum dimulai."
Hannah hanya tertawa pahit di dalam hatinya. mang mobil sport miliknya itu tidak kalah cepat dengan mobil balap lawannya itu tapi itu hanya di jalan yang lurus. Jalanan gunung ini banyak belokkannya dan dia takut bahwa ban miliknya itu tidak akan bertahan hingga akhir.
Selama jalannya penuh dengan belokan, Randika tidak mungkin bisa nang.
"Di sini titik pertama, mobil Nico sudah terlihat dan di belakangnya ada Sindu."
Ketika ndengar hal ini, banyak penonton bersorak.
"Wohooo! Malam ini aku makan enak!"
"Kau pasti bisa Sindu!"
Lalu suara dari HT para panitia kembali terdengar, "Dengan ini 8 mobil sudah lewat dengan aman."
Lalu yang bertugas di garis awal mbalasnya. "Hei jumlah mobilnya 9 tahu."
Para penonton yang ndengarnya semua tertawa.
"Hahaha maaf, maaf. Aku belum lihat mobil itu daritadi. Oh? Itu dia!"
"Hahaha mobil itu terlihat buru-buru. Eh? Dia tidak ngerem? Dia mau belok dengan kecepatan penuh?"
Tiba-tiba para penonton nahan napas reka karena reka penasaran dengan apa yang terjadi. reka nunggu laporan lengkapnya.
"Ya tuhan! Dia lewati belokan tajam tanpa ngerem sedikitpun!"
APA?!
Semua penonton terkejut ketika ndengarnya. "mangnya bisa belok dengan kecepatan penuh?" Lelucon macam apa itu? Pasti panitia itu lagi ngigau.
Panitia yang berada di titik pertama itu juga tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia lihat mobil sport itu laju kencang sambil ngepot. Bahkan jarak antara mobilnya dan pembatas jalan hanya setipis kertas. Awalnya dia ngira bahwa mobil itu akan lepas kendali tapi nyatanya dia ngepot dengan sempurna tanpa kehilangan kecepatannya!
Hannah yang ada di dalam mobil juga terkejut, dia mandangi Randika dengan wajah kagum.
"Pegangan yang erat." Kata Randika sambil macu mobilnya lagi. Setelah dua belokan lagi, akhirnya reka berdua lihat mobil balap lainnya.
"Di sini titik kedua, kami lihat mobil sport itu berhasil nyalip satu mobil dan berusaha nyalip mobil lagi."
Penonton njadi antusias nunggu kabar mobil sport yang unik itu.
"reka masuki tikungan!"
Penonton nahan napas reka.
Pada saat ini, Randika sedang ncari kesempatan emas untuk nyalipnya. Setelah reka tiba di tikungan tajam, mobil tersebut langsung ngepot dan disusul oleh Randika.
"Kedua mobil itu ngepot dan mobil sport itu berhasil ndapatkan sisi dalam dan berhasil nyalipnya!"
Para penonton bersorak! reka semua takjub dengan mobil sport itu.
Sekarang reka penasaran, siapakah yang berada di balik kemudi itu? Bagaimana mungkin reka tidak pernah ndengar namanya selama ini?
Randika berhasil ngambil celah ketika mobil lawannya itu terlalu luas ngambil haluannya. Terlebih lagi, di saat dia ngepot Randika tidak ngerem sama sekali jadi dia miliki keunggulan kecepatan.
"Mobil sport itu berhasil njadi nomor 7!"
Hannah mperhatikan Randika dengan muka terkejut sedangkan Randika masih fokus dengan pertandingan ini. Hanya butuh beberapa belokan saja reka sudah nyusul sejauh ini.
"Sekarang Nico telah disalip oleh Sindu!"
Penonton tidak terlalu antusias ndengar hal tersebut. reka lebih senang ndengar kabar dari mobil sport yang misterius itu.
Saat ini, Randika dihadapi dengan belokan tajam yang mbentuk sudut 180 derajat. Mukanya masih tenang ketika lihat rintangan ini sedangkan wajah Hannah semakin pucat karena mobilnya malah bertambah cepat. Belum lagi, di depan reka ada mobil yang sudah mulai siap ngepot.
Ketika mobil itu ngambil jarak lalu ngepot, Randika nyalipnya dan ngepot dengan sempurna. Mobil lawannya itu hanya bisa longo lihat Randika yang begitu cepat.
"Luar biasa! Dia lagi-lagi ngepot dengan kecepatan penuh! Dia sekarang ada di posisi ke-6!"
Penonton kembali bersorak.
"Sialan harusnya aku bertaruh orang itu!"
"Siapa sebenarnya orang misterius ini?"
Semua penonton tidak bisa berhenti bertanya-tanya. Seorang dengan keahlian dewa seperti itu belum pernah reka dengar.
"Hei, kenapa kau hebat sekali?" Tanya Hannah sambil tersenyum. Dia terpukau dengan beragam keahlian Randika. Dia jago berkelahi, jago ngepot dan belum lagi lengannya yang kekar itu!
"Karena seorang pria sejati tidak pernah kabur dari tantangan." Canda Randika. Dia sama sekali tidak noleh karena dirinya masih harus fokus ke jalanan dan juga, kecepatan reka sudah ncapai 150 km/jam!
Dari semula yang cuma ada pemandangan gunung, sekarang sosok-sosok mobil balap lainnya telah terlihat. Randika akhirnya bisa lihat mobil yang ada di paling depan skipun masih ada jarak di antara reka.
"Yah nanti kalau ini sudah selesai, kau harus njelaskannya." Kata Hannah sambil tersenyum.
"Sindu dan Nico sudah lewati belokan maut dan mobil-mobil lainnya mbuntuti di belakang reka." Panitia yang bertugas di titik ini laporkannya lalui HT yang akan didengar oleh semua penonton.
Tak lama kemudian, mobil-mobil lainnya ini akan lewati belokan maut.
Di jalanan gunung ini terdapat beberapa belokan maut yang matikan. Yang pertama berbentuk huruf 'S', yang kedua jalurnya sangat sempit dan reka saling berhubungan. Sangat sulit laluinya dengan kecepatan tinggi. Terlebih lagi, pembatas jalannya rusak dan belum diperbaiki jadi sedikit kesalahan saja maka mobil itu bisa lompat dan jatuh di dasar gunung!
"reka semua lambat!"
Para pembalap mulai lambat agar bisa belok dengan aman. Tetapi, hanya ada satu mobil yang tidak lambat sama sekali. Bahkan dia berhasil nyalip 1 mobil dalam prosesnya.
"Orang ini gila!" Kata mobil yang disalip oleh Randika.
Hannah sudah getar ketakutan dan Randika masih masang ekspresi tenang.
"Pegangan!"
Mobil sport Randika masuki belokan maut tanpa lambat sama sekali.
"Gila sekali saudara-saudara! Mobil sport itu sama sekali tidak nginjak remnya!"
Saat lewati tikungan pertama, Randika malah nyalip mobil di depannya sambil ngepot.
"Mobil itu akhirnya kehilangan kendali! Dia akan jatuh!" Suara panitia itu terdengar panik sekali tetapi dia segera terdiam setelah lihat keajaiban di depan matanya. Di detik-detik terakhir, ban mobil Randika mang sudah layang di luar pembatas jalan tetapi ajaibnya dia berhasil kembali ke jalan dan lesat lebih cepat lagi.
"Dia. Dia berhasil kembali ke jalan!" Panitia itu benar-benar terkejut lihat pemandangan di depannya. Setelah mobil-mobil lainnya juga berhasil lalui belokan maut ini, dia kembali berkontar di HT. "Mobil sport itu sama sekali tidak lambat saat lewati belokan maut ini! Gila sekali orang itu!"
"Semua mobil sudah lalui belokan maut pertama. Mobil sport itu nyalip mobil di depannya saat dia ngepot di tikungan kedua dan sekarang berada di posisi ke-4!"
ndengar hal itu, penonton bersorak kembali dan suasana njadi heboh.
reka semua tahu kengerian yang dimiliki belokan berbentuk 'S' itu, terlebih lagi pembatas jalannya yang sudah rusak itu. reka bisa dengan mudah jatuh ke dasar gunung kalau tidak hati-hati. Besar sekali bola orang itu.
Skill drift orang itu sudah sangat tidak masuk akal.
Perempuan yang mbawa bendera mulai itu natap linglung ke arah gunung, dia rasa bahwa mobil aneh itu bisa-bisa juara 1.
Di dalam mobil, Hannah sudah berwajah pucat. Dia tadi sudah rasa riwayatnya akan tamat ketika mobil reka layang di udara, dia sampai sudah minta ampun kepada Tuhan. Kemudian, secara ajaibnya Randika berhasil mbawa mobilnya kembali ke jalan dan reka berhasil ngepot dengan sempurna.
"Jantungku sudah tidak kuat, bisa turunkan aku?" Hannah sudah rasa umurnya berkurang.
Randika noleh dan tertawa. "Bukankah tadi itu seru?"
Hannah langsung mukul pelan Randika. Awalnya dialah yang harusnya nakut-nakuti Randika malah sekarang dia yang jantungan.
Dia sama sekali tidak tahu kalau Randika jago balapan.
Mobil Randika sudah terlihat di kaca samping mobil yang berada di posisi ke-3.
"Ha? Dari mana bocah itu datang." Kata orang tersebut.
"Mobil sport itu mulai ndekati mobil didepannya, jarak di antara reka benar-benar dekat." Panitia terus mberikan kontar. Semua orang mulai nahan napas reka.
"Nico dan Sindu ngalami persaingan yang sengit dan reka saling nyalip satu sama lain."
"Wow! Posisi ke-3 mulai ngepot disusul oleh posisi ke-4." Panitia itu langsung berdiri karena dia tahu bahwa posisi ke-4 adalah mobil sport yang misterius itu.
Belokan maut kedua ini tidak terlalu tajam seperti sebelumnya tapi jalan yang dimilikinya sangat sempit jadi sangat susah untuk nyalip dari sini. Randika berusaha nyalipnya ketika ngepot, tetapi dia dihalangi dengan sempurna oleh lawannya itu. Lawannya kali ini bukan amatiran.
Randika terpaksa nginjak rem dan ngekorinya.
"Ohhhh mobil sport itu tidak bisa nyalip karena jalurnya tertutup sempurna oleh mobil di depannya!"
Sebenarnya lawannya itu lakukan tindakan kotor, di saat dia ngepot dia ngambil ruang 2 mobil yang mperlambat mobilnya. Jadi selain nutup jalur, dia juga maksa Randika untuk ngerem. Tetapi karena ini balapan liar, semua cara bisa dipakai asalkan tidak mbahayakan nyawa.
"Berengsek sekali orang itu!" Hannah ngerti niatan mobil di depannya itu.
"Pegangan!" Kata Randika dengan nada dingin.
"Belokan maut ketiga sudah terlihat dan Nico serta Sindu mulai lambat."
Tak lama kemudian, Randika dan mobil satunya juga sampai di belokan maut ini.
Belokan maut ini mirip huruf 'M', jalur lurusnya sangat pendek dan tiga tikungannya sangat tajam. skipun ada pembatas jalan di tiap sisi jalan, jika mobil nabraknya terlalu cepat maka dia bisa berguling tanpa henti.
Mobil di depan Randika mulai lambat karena tikungan pertama sudah terlihat.
Sekarang!
Mata Randika bersinar dan dia nginjak pedal gas kuat-kuat. Mobilnya berbelok dengan kecepatan penuh dan nabrak mobil depannya itu!
Mobil itu langsung kehilangan kendali dan berputar-putar. Pengemudinya mutuskan untuk ngerem kuat-kuat namun hal itu justru mbuat kendali mobilnya tidak terkendali dan akhirnya nabrak pembatas jalan. Dia cukup beruntung bisa selamat.
Randika di lain sisi berhasil ngepot dengan sempurna. Dia manfaatkan tubrukan itu untuk mperbaiki posisi mobilnya dan lesat kembali.
"Buset mobil sport itu nabrak mobil di depannya saat reka ngepot dan berhasil nyalipnya!"
Hannah natap Randika dengan kengerian di matanya. Kalau saja mobil depan reka itu tidak ngerem setelah tabrakan, mobil reka berdua mungkin sudah berada di dasar gunung.
"Eh bukankah sudah kubilang jangan nabrakan mobilku!" Kata Hannah sambil tersenyum.
"Pilihannya itu atau kita berdua jatuh ke dasar gunung." Kata Randika dengan santai. "Mobilmu tidak begitu lecet kok jadi tenang saja.
Huh!
Ekspresi Hannah njadi cemberut dan dia malingkan wajahnya. Enak sekali dia bilang, ini kan bukan mobilmu!
"Mobil sport itu dengan cepat nyusul Sindu dan Nico!"
"Ya ampun mobil sport itu ngepot dengan kecepatan penuh lagi!"
"Wow dia berhasil tepat di belakang Sindu dan Nico!"
Nico lalu lihat kaca di sampingnya itu dan nyadari bahwa Randika tepat di belakangnya. Dia cukup terkejut karena dia tahu bahwa mobil Randika itu mulai terlambat sekitar 30 detik setelah reka semua laju.
"Bajingan dia sudah di sini?" Nico ngerutkan dahinya.
Ketika reka bertiga sudah berada di jalur lurus, ketiga mobil ini mbentuk garis lurus dengan jarak yang sangat dekat.
Sindu, yang berada di tengah, terkejut lihat mobil sport yang tidak pernah dia lihat sebelumnya selama pertandingan ini.
Jarak antara reka bertiga sangat dekat, dan Randika masih belum nemukan kesempatan nyalip yang dia tunggu. Ketika reka sampai di belokan, reka bertiga ngepot bersama. Saat Randika ingin nyalip Sindu, dia tidak diberi kesempatan sama sekali.
"Belokan maut keempat sudah ada di depan mata! Lima belokan tajam!"
"Oh? reka bertiga tidak lambat sama sekali! reka akan lewatinya dengan kecepatan tinggi?!"
Nico terus mantau kedua mobil di belakangnya, dia benar-benar khawatir akan kalah. Oleh karena itu, dia harus ncobanya.
Sindu, yang lihat Nico sama sekali tidak lambat, juga tidak lambat sama sekali. Dia sudah latihan berpuluh-puluh kali lewati belokan ini dengan kecepatan tinggi.
Belokan maut keempat ini benar-benar nguji keahlian pengemudi ke tingkat ekstrimnya, bahkan pembalap profesional pun akan kewalahan. Terlebih lagi, jika reka tidak ngurangi kecepatan maka kecelakaan pasti tidak terhindarkan.
Ini dia!
Randika tidak lambat sama sekali dan tikungan pertama sudah terlihat di depan mata.
nginjak pedal gasnya, dia ngepot dengan ngambil jalur luar. Dia dengan sempurna ngepot dengan ban mobilnya yang layang.
"layang, mobilnya layang!" Panitia itu tidak dapat percaya dengan apa yang dilihatnya. "Ketiga mobil itu berhasil lewati tikungan pertama dan mobil sport itu bahkan ngepot di luar jalur!"
Para penonton ndengarkannya dengan seksama, takut kelewatan.
Randika sukses nyalip Sindu di tikungan pertama, dia berhasil manfaatkan montum ngepot Sindu itu dan nyalipnya.
"Mobil sport itu berhasil ngambil posisi ke-2 dan sekarang tepat berada di belakang Nico. Tapi reka segera berhadapan dengan tikungan kedua."
Keahlian ngepot Nico sungguh bagus, tetapi kali ini dia ngepot tidak sempurna karena terlalu jauh ngambil haluan. Yang ngejutkannya adalah mobil Randika yang ngepot di bagian dalam! reka sekarang ngepot berdampingan!
Sebelumnya Randika manfaatkan jalur luar untuk nyalip Sindu sekarang dia ngambil sisi dalam untuk nyalip Nico. Randika berhasil ngapit Nico tetapi tikungan ketiga langsung nunggu reka.
"OHHH!! Mobil sport hampir berhasil nyalip Nico dan sekarang reka laju berdampingan! Tikungan ketiga sudah di depan mata!"
Kali ini, Randika sudah berada di jalur dalam jadi dia miliki keunggulan. Dia tersenyum ketika ngepot untuk yang ketiga kalinya.
Sama seperti sebelumnya, dia ngepot dengan kecepatan tinggi namun tetap berhasil mpertahankan posisinya dengan sempurna. Sedikit demi sedikit mulai tercipta jarak di antara dia dan Nico, Randika akhirnya berada di posisi pertama!
"WOW mobil sport itu berhasil nyalip dan sekarang berada di posisi pertama!"
Semua penonton bersorak, reka tidak percaya dengan apa yang reka dengar. Mobil yang awalnya dikira reka mogok itu sekarang telah njadi posisi pertama. Benar-benar suatu keajaiban! Tapi pertandingan belum selesai.
Setelah lalui belokan maut keempat ini, belokan maut terakhir nanti reka di mana itu sudah dekat dengan garis akhir.
Wajah Nico mulai njadi pucat. Dia natap takjub pada mobil yang ada di depannya itu. Dia berusaha nyalipnya lagi tapi itu rupakan hal yang percuma, mobil depannya itu tidak mberikan kesempatan sama sekali. Dan akhirnya Randika ninggalkan jauh Nico dan nyelesaikan lomba ini dengan status juara pertama.
"Keren bukan?" Randika noleh ke Hannah yang masang muka terpukau.
Awalnya dia pesimis Randika bisa nangkan pertandingan ini tetapi lihat di mana reka sekarang!
Bukankah tadi kita mulai lebih lambat daripada reka semua? Dan sekarang reka ada di posisi pertama!
Hannah terkejut, para pembalap terkejut, semua orang terkejut!
Orang yang ngibarkan bendera di garis akhir terkejut ketika dia lihat tir yang dia pegang. Dia lalu ngumumkan hasilnya lalui HT. "25 nit dan 14 detik."
APA!
Semua yang ndengarnya benar-benar terkejut, Randika hanya perlu waktu 25 nit 14 detik untuk nyelesaikan jalur gunung ini? Dia masih manusia atau bukan?
Waktu terbaik yang pernah tercatat adalah 29 nit dan 49 detik, itupun dilakukan oleh legenda balap gunung ini yang bernama Bintang. Bahkan tadi Randika tidak macu mobilnya ketika bendera mulai berkibar, kalau dia tidak lakukan itu mungkin waktunya bisa 20 nit!
Setelah beberapa saat, salah satu panitia ngambil handphonenya dan nelepon seseorang.
"Kak Bintang, rekormu terpecahkan."
"Oh? Berapa catatan waktunya?" Tanya Bintang penasaran.
"25 nit dan 14 detik."
"Ha? Mustahil!" Bintang yang sudah dianggap raja drift oleh orang-orang tidak percaya dengan perkataan orang itu.
"Dia sebelumnya tidak bergerak selama 30 detik di awal." Orang ini benar-benar tidak habis pikir dengan keajaiban yang dilihatnya. Benar-benar absurd!
Reviews
All reviews (0)