Semua mobil-mobil yang ikut bertanding akhirnya telah lewati garis akhir dengan selamat. reka masih nunggu keputusan resmi dari panitia.
Tetapi ketika Randika keluar dari mobilnya, seseorang bersorak padanya.
"Hormat pada Raja Drift!"
Lalu semua orang yang ada di garis akhir itu bersorak bersamaan.
"Hormat pada Raja Drift!"
"Hormat pada Raja Drift!"
"Hormat pada Raja Drift!"
.....
"RD, apakah kamu nganggur habis ini? Aku ingin bersenang-senang denganmu di mobil." Puluhan perempuan cantik segera nghampiri Randika sambil nggodanya.
Isi hati Randika hampir kecoplosan, Hannah ada di sisinya jadi dia nolak reka semua.
"Hei RD, kamu baru pertama kali balapan di sini ya? Sering-seringlah ke sini, semua orang nyukai penampilanmu."
"RD kau belum bergabung dengan tim manapun kan? Bergabunglah denganku dan kita akan nguasai dunia!"
.....
Semua orang muji Randika dan dia pun sendiri mulai malu ndengarnya.
Tapi di tengah-tengah kegembiraan ini, terdengar suara sirine ndekat.
reka semua noleh dan lihat ada 5 mobil polisi yang datang ke arah reka.
"Bajingan, polisi!" Orang-orang langsung panik.
"Sialan reka sudah nghalangi jalan keluar kita." Orang-orang cerdas di sana sudah tahu bahwa reka sudah tidak bisa kabur.
Randika juga lihat puluhan polisi yang segera ngamankan area perlombaan ini. Tetapi, dia tidak nyangka bahwa dia akan bertemu dengan angsa putihnya yang cantik itu, Deviana.
Kenapa perempuan ini terus-terus ngejar dirinya?
Apakah pesonanya itu mang tidak tertahankan?
Salah satu polisi berteriak dengan keras. "Kami datang dengan adanya laporan bahwa ada balapan liar yang diadakan di jalanan gunung ini. Sekarang kami akan mbawa kalian semua ke kantor polisi untuk mberikan keterangan lebih lanjut."
"Oh? mangnya siapa yang balapan? Apakah ada buktinya?" Seorang panitia maju tanpa takut. "Kalau kau ingin mbawa kami, coba kejar saja kami kalau bisa."
"Baiklah, siapa lagi yang mau ngaku kalau dirinya adalah pembalap juga?" Polisi itu nangani hal ini dengan kepala dingin.
"Kami semua hanya suka berkendara lebih cepat daripada yang lain, apakah itu salah? Lagipula apa bedanya balapan sama berkendara biasa?" Para pembalap ini tidak takut, reka tahu bahwa polisi ini tidak miliki bukti.
Para pembalap, termasuk Nico dan bawahannya, mandangi para polisi dengan mata dingin.
Deviana yang berada di barisan ngerutkan dahinya. Pihak lain punya orang cukup banyak, kalau keadaan njadi buruk maka situasi bisa jadi kacau. Saat dia masih kebingungan, matanya nyapu ke arah Randika.
Kenapa pria itu bisa ada di sini?
Deviana akhirnya natapnya dengan tajam.
Randika mulai bosan, tetapi dia tidak mau ikut campur dan mutuskan hanya untuk lihat.
Randika tetapi khawatir keadaan akan njadi kacau jadi dia minta Hannah untuk tetap berada di mobil sambil dirinya terus ngamati situasi.
"Sudah kita bahas semua ini di kantor." Kata polisi itu dengan nada dingin. "Kita lihat apakah kalian bisa berkata searogan ini ketika kita misahkan kalian."
Setelah itu, polisi itu noleh dan mberikan perintah untuk nangkap reka semua. Nico lihat hal tersebut dan mberikan perintah juga kepada para bawahannya dan semua yang ada di sana. Para pembalap ini tidak akan pergi tanpa perlawanan. Beberapa sudah siap baku hantam, beberapa nelepon kawan-kawan reka yang masih ada di garis awal.
Ketika situasi ini berkembang ke arah yang buruk, Randika langsung lirik Deviana. Dia tidak habis pikir kenapa perempuan itu selalu ngurus perkara yang berbahaya.
Deviana tidak ikut bersiap-siap nangkap, instingnya berkata bahwa ada sesuatu yang aneh.
"Makan ini!" Sindu tiba-tiba berteriak keras dan nembakkan pistolnya ke salah satu polisi.
Polisi tersebut langsung terkapar.
"Berlindung!" Kepala polisi tersebut langsung nyuruh anak buahnya berlindung dan nggunakan mobil reka sebagai tang. Pada saat yang sama, semua orang panik, berteriak dan bingung lakukan apa. Yang tidak mau terlibat segera masuk ke mobil ataupun lari sejauh mungkin.
Randika langsung nyuruh Hannah naiki gunung kembali agar jauh dari baku tembak yang akan datang ini.
Randika terus bersembunyi di antara kekacauan ini dan ngamati situasi. Di antara pembalap ini masih ada senjata api. Selain itu, reka juga mbawa tongkat bisbol.
"Berani-beraninya bajingan seperti reka nembaki kita?" Kepala polisi itu langsung marah ketika lihat salah satu anggotanya tertembak. "Tembak bajingan-bajingan itu! Aku akan bertanggung jawab."
"Pak, kita tidak mbawa senjata untuk penangkapan kali ini." Salah satu polisi ngatakannya dengan nada getar, reka semua tidak nyangka akan terjadi baku tembak.
Dor!
Suara tembakan kembali terdengar dan suara ringkikan perang terdengar. "Bunuh reka semua!"
Nico lalu mbidik dan nembak ke arah Deviana!
Namun di saat yang sama, sebuah bayangan telah lewati Deviana dan njegalnya hingga terjatuh. Peluru tersebut langsung bersarang di mobil.
"Dasar bodoh! Nyari mati kamu ya?" Randika langsung marahi Deviana, bisa-bisanya dia longo ketika ada baku tembak.
Pada saat ini, para pembalap ini sudah mulai bergerak sambil bersenjatakan tongkat bisbol. Dan di belakang reka ada beberapa orang yang bersenjatakan pistol yang berfungsi sebagai pengontrol massa.
"Lepaskan aku!" Deviana ronta sambil berwajah rah.
Randika terdiam sambil berpikir, Dasar tidak tahu terima kasih!
Lalu saat dia mau berdiri, tangannya rasakan keempukan yang luar biasa. Apakah ini hidangan yang dia nanti-nantikan?
Randika lalu noleh dan benar saja, tangannya berada di dada Deviana! Pantas saja dia mberontak.
Bundar dan empuk, inilah hadiah yang ditunggu-tunggu oleh Randika.
Deviana sudah siap nampar Randika, tetapi pria itu tiba-tiba berkata di telinganya. "Ingat janji kita pagi hari tadi."
Setelah berkata seperti itu, dia ngambil pistol yang dibawa oleh Deviana. Itulah satu-satunya senjata api milik para polisi ini.
Randika langsung lompat ke atas mobil dan dia langsung nembakkannya dengan akurasi tinggi. Pergelangan tangan Nico njadi korban pertama.
Randika lalu nembak beberapa kali lagi dan semua peluru itu berhasil bersarang di pergelangan tangan para pembalap yang mbawa pistol. Lalu tiba-tiba, seseorang nerjang dirinya yang masih berusaha mbidik. Randika langsung ncengkram pergelangan tangannya dan ngambil tongkat bisbolnya sambil nghajarnya sampai pingsan.
Kepala polisi itu lihat bahwa salah satu dari reka nerjang maju ke arah para pembalap itu dan segera berteriak. "Bantu orang itu dan amankan para tersangka."
skipun masih ada tembakan yang berasal dari musuh, para polisi ini tidak gentar dan nerjang maju. Pada saat ini Randika sudah nghajar beberapa orang.
Dengan bermodalkan tongkat bisbol, Randika sudah nghajar 10 orang dalam 30 detik. Setiap hantamannya mbuat reka pingsan seketika.
Para polisi itu rasa kebingungan, siapa pria itu yang dengan mudahnya nghajar para pembalap itu?
reka mau tidak mau mpercayai orang tersebut dan ngamankan orang-orang yang telah pingsan.
Keadaan benar-benar kacau dan Hannah, yang tidak nuruti perkataan Randika, ngintip dari balik jendela dan terpukau olehnya.
"Kakak iparku mang hebat!" Hannah tersenyum bangga. Hari ini dia dibuat terkejut berkali-kali oleh Randika.
Deviana juga tidak tinggal diam dan ikut ngamankan para tersangka. Namun, ada beberapa polisi yang masih longo lihat Randika.
"Hei kalian jangan longo seperti orang bodoh! Cepat tangkap orang-orang itu." Kepala polisi ini aslinya juga kaget dengan aksi Randika. Apakah orang itu adalah pasukan khusus negara?
Nico yang tangannya bersimbah darah itu lihat Randika dengan ketakutan. Dia bersyukur tidak nantang Randika.
Karena aksi heroik Randika ini, dia njadi pusat perhatian. Setelah beberapa saat, para polisi, para pembalap, para penonton, semuanya lihati Randika dengan mata terpukau. Berkat ini, situasi njadi reda.
"Aku tahu kalau aku dari awal mang tampan dan mpesona, jadi tidak heran perempuan-perempuan ngejarku. Para pria hanya bisa iri denganku. Ahhh setelah berolahraga begini enaknya mang makan siang sambil ditemani perempuan cantik. Eh, bukannya sekarang waktu yang tepat mberikan hadiah yang kau janjikan kepadaku?"
Deviana langsung nampar dahinya ketika Randika nghampirinya.
Reviews
All reviews (0)