Font Size
15px

Plak!

Suara tamparan terdengar dan jejak tangan muncul di muka pemuda itu.

Hannah dan teman-teman dari pemuda itu semua terkejut.

Randika dengan santainya nampar si pemuda itu! Bahkan bekas tangannya ngecap di wajahnya.

Pemuda itu benar-benar marah dan maki Randika. "Dasar tua Bangka!"

Setelah dia selesai berbicara, Randika namparnya sekali lagi.

Plak!

Suara tamparan itu terdengar sekali lagi dan Randika ngatakan. "Ini pertama kalinya ada orang yang berani masang badan lawanku. Aku cukup salut padamu tapi kalau kau hanya ingin bacot saja, pergi sana dan cari orang lain yang takut sama orang sepertimu."

"Bangs**! Hari ini kau tidak akan pulang hidup-hidup!" Pemuda itu benar-benar marah sambil nutupi wajahnya. Namun, dadanya tiba-tiba terdorong dan dirinya terpental! Ternyata Randika dengan santai nendangnya tepat di dada dan ngirimnya layang.

"Kalau kau kira aku adalah mangsa mudah, kau salah besar." Randika nggelengkan kepalanya. "Tindakan bodoh ngajakku berkelahi tanpa tahu siapa diriku sebenarnya."

Di dunia ini, tidak ada musuh yang selamat dari amarah sang Ares!

Para pemuda itu njadi murka pada Randika dan natapnya dengan tajam. Hannah yang berada di samping mulai ketakutan. Bisa-bisanya kakak iparnya itu nantang reka berkelahi? Kalau dia mbawanya pulang dengan kondisi babak belur, bagaimana bisa dia njelaskannya pada kakaknya?

lihat perawakan dan niat buruk reka, Randika tidak sungkan-sungkan skipun reka masih muda. Dia lalu nyandera salah satu dari reka dan ngayun-ayunkan orang itu bagaikan senjatanya.

"Ah!"

Orang yang ditangkap Randika ini tidak bisa nggambarkan perasaannya. Dia rasa tangannya mau copot dan kepalanya mulai pusing. Teman-temannya tidak bisa ndekat karena reka terus tertendang oleh kakinya itu.

Setelah beberapa orang terjatuh, Randika lempar orang itu ke ten-tennya dan nghilang jadi gumpalan asap. Beberapa detik kemudian, para pemuda itu sudah terkapar semua.

Semua kejadian ini terjadi begitu cepat bahkan reka yang mulai siuman sudah dibuat pingsan kembali oleh Randika. Hannah yang bersembunyi di mobil cuma bisa diam mbeku di dalam. Kakak iparnya ini ternyata kuat?

"Masih berani macam-macam denganku?" Kata Randika pada para pemuda itu.

"Jangan sombong kau!" Pemuda yang sedang terkapar itu ngambil handphonenya dan manggil orang. "Kak Nico!"

Setelah beberapa saat, orang berbadan besar dan berotot bersama teman-temannya datang.

lihat orang-orang yang terkapar di tanah ini, pria bernama Nico itu ngerutkan dahinya. "Ada apa ini?"

"Kita dihajar sama orang itu." Pemuda itu nunjuk Randika.

Nico segera noleh ke Randika dan bertanya dengan suara dingin. "Kau nyentuh bawahanku?"

"Bawahanmu itu lecehkan wanitaku, aku harap kau lebih pandai lagi ngurus reka."

Hannah yang terdiam itu njadi marah ketika ndengarnya. Sejak kapan dia jadi perempuannya Randika?

Hannah nggertakan giginya sambil terus nonton. Nico nghampiri bawahannya yang terkapar itu sambil berkata kepada Randika. "Hanya karena sepele itu reka semua babak belur?"

Randika tidak peduli, "Salah sendiri reka berurusan dengan orang yang salah, kalau kau tidak terima kau juga boleh ncicipi tinjuku ini."

Semua orang yang ada di belakang Nico njadi marah ketika ndengarnya, "Kak, kita hajar saja orang tidak tahu diri itu!"

Nico tidak njawab apa-apa. Dia hanya berjalan maju secara perlahan. Dia lalu berkata di depan wajah Randika. "Berurusan dengan cecunguk sepertimu cukup aku seorang."

"Oh? Coba saja."

Nico sudah tidak sabar nghabisi bocah ini. Pukulan mautnya layang ke arah Randika, tetapi di tengah-tengah jalan matanya terbelalak. Wajahnya njadi pucat pasi dan ayunan tangannya berhenti. Randika masih masang ekspresi datar dengan satu kaki ngarah tepat ke dagu Nico.

Dua detik kemudian, Nico yang berbadan besar itu jatuh tersungkur dan wajahnya kesakitan.

"Lho? Kok sudah jatuh?" Randika pura-pura bingung dan ngatakan. "Aku tidak punya urusan dengan bocah yang isinya otot saja tapi tidak punya otak."

Wajah Nico njadi ketakutan dan dipenuhi rasa bingung. Serangan lawannya ini benar-benar cepat.

Tetapi, para bawahan Nico njadi naik darah ketika lihat bosnya tersungkur. "Persetan dengan dia, ayo kita hajar!"

Randika malah nantang reka agar maju. "Sini akan kulayani kalian semua sekaligus."

Para bawahan ini ngepung Randika terlebih dahulu, motong jalur kaburnya. Hannah yang ada di mobil, narik lengan baju Randika dan mintanya untuk pergi saja. lihat jumlah orang yang banyak itu mbuat Hannah ketakutan.

Ares kabur? Bercanda apa? skipun dia kalah jumlah, apakah itu mbuatnya takut? Jelas tidak!

"Tenang saja, duduk dan lihatlah kakakmu ini." Randika ngelus tangan Hannah dan lepasnya. Lalu dia nerjang reka semua.

Pertarungan dimulai!

Hannah nutup matanya, takut apa yang akan terjadi berikutnya. Randika kemungkinan besar akan mati dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.

Sesaat kemudian, suara teriakan terdengar. Apakah kakaknya sudah tamat?

ndengar suara teriak yang semakin banyak itu, Hannah rasa penasaran dan mbuka matanya.

Randika bagaikan superhero yang lawan penjahat figuran. Dia hanya perlu mukul reka sekali dan reka semua terkapar. Semua musuhnya itu benar-benar terlihat lemah.

Seluruh pertarungan ini berlangsung sebentar. Semua bawahan Nico ringkuk kesakitan sedangkan Nico sendiri tidak tahu harus berbuat apa.

Saat itu juga, Randika noleh ke arah Nico. "Sekarang giliranmu."

skipun nada Randika datar, suaranya bagaikan guntur di siang hari.

Kuat!

Mata Hannah berbinar-binar lihat kakak iparnya yang kuat ini, dia rasa bahwa Randika jadi nawan. Kalau saja dia tidak raba-raba dirinya sebelumnya, mungkin dia sudah jatuh cinta sekarang.

Nico sekarang berada di situasi genting, sudah tidak ada orang yang bisa njadi tangnya. Dari preman berbadan besar sekarang dia njadi sapi yang siap dipotong. Namun sebuah ide terlintas di kepalanya. "Seorang pembalap nyelesaikan masalahnya di jalan bukan dengan baku hantam begini!"

Randika hanya tersenyum tidak ngatakan apa-apa.

Nico segera njadi panik, "Hahaha ternyata kau tidak percaya diri dengan kemampuan nyetirmu ya?"

"Bukan itu masalahnya." Randika tersenyum lebar. "Bahkan balapan pun kau bukan tandinganku."

"Kalau begitu buktikan!" Nico mulai manas-manasi Randika. "Jangan omong doang."

"Oke. Tunggulah di garis awal." Randika lalu berbalik nuju mobilnya.

Hannah terkejut ketika ndengar persetujuan Randika. "Ha? Gila apa kau? Mobil ini bukan mobil balap tahu!"

"Hahaha laki kalau sudah ditantang haram hukumnya kalau lari."

"mangnya kau bisa balapan?" Hannah khawatir. "Bahkan kalau kau percaya diri dengan kemampuanmu, jalanan yang akan kalian lalui itu sungguh berbahaya. Jangan harap kau bisa nang! Sudah lebih baik kita pulang saja."

Randika ngerutkan dahinya, kenapa adik iparnya ini tidak percaya pada dirinya?

"Kalau cuma orang macam reka, sambil nutup mata aku juga pasti nang." Kata Randika sambil tersenyum. "Sudahlah ngikut saja sama kakakmu ini. Oh iya, kau hari ini akan jadi pemanduku!"

"Mimpi!" Hannah langsung nolak.

Di lain sisi, Nico sudah siap dengan mobil balapnya dan berteriak ke arah Randika.

"Oi jangan lari kau!"

ndengar itu, Randika segera masuk dalam mobil.

"Percayalah padaku." Kata Randika.

Hannah cuma bisa nghela napas. "Aku tidak peduli jika kau nang atau kalah asalkan kau tidak rusak mobilku ini."

"Tenang saja." Kata Randika dengan santai. "Kau akan njadi saksi hidup atas lahirnya legenda Drift King asal Cendrawasih!"

Hannah tersenyum dan masang sabuk pengamannya.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 49: Pembalap Menyelesaikan Masalahnya di Jalan! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Top-tier Unruly Master cover
Trending now

Top-tier Unruly Master

Be Qin Sanchi ·Other

WhenDingFanopenedhiseyesagain,everythingbeforehimhadchanged.ACultivatorrebornonEarth,hefoundhimselfinthedespisedbodyofadisgracedheir.Fistsstrikinga...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.