Tak lama kemudian, sejumlah mobil polisi telah tiba. Samuel dan teman-temannya telah ditangkap.
lihat para penjahat itu tertangkap, Randika ngikuti Deviana dengan muka cemberut.
"Hei mana hadiahku!" Randika masih berharap bisa remas-remas dada itu.
"Aku tidak njanjikanmu hadiah semacam itu." Teriak Deviana dengan malu.
"Kalau begitu, traktir aku makan." Kata Randika. "Aku harus mbuat banyak kenangan bersamamu sebanyak mungkin karena tidak ada hati wanita yang tidak bisa kutembus. Suatu hari nanti, kau akan njadi milikku!"
Tentu saja, kata-kata terakhir Randika ini tidak dia ucapkan.
Kali ini Deviana tidak nolak permintaan Randika dan mbawanya ke depot masakan Cina.
"Cobalah nasi gorengnya ini." Randika nawarkan makanannya ke Deviana.
"Hmm! Enak juga ya." Deviana ngangguk setuju.
Randika hanya natap Deviana dalam-dalam. Deviana yang tersipu malu itu bertanya, "Kenapa kau tidak makan?"
"Aku hanya ingin makan dirimu." Randika terpukau dengan mulut kecilnya Deviana yang nggiurkan itu. Dia juga suka Deviana yang santai seperti ini.
"Dasar sum!" Deviana tidak habis pikir pria ini masih tidak nyerah untuk raba dirinya.
"Lho sungguhan, yang aku inginkan hanya dirimu." Mata Randika ngatakan segalanya, dia lalu tersenyum. "Sebenarnya dari dulu aku sudah tertarik padamu."
Deviana tidak bisa berkata apa-apa sentara waktu. Jika Randika tidak bertingkah seperti om-om genit seperti itu, sebenarnya dia adalah pria yang lumayan tampan.
"Aku tidak percaya kata-katamu." Kata Deviana.
"Benarkah? Perlu aku mbuktikannya?" Randika njulurkan tangannya.
"Jika kau nyentuhku, kupotong tanganmu itu." Deviana natap tajam Randika.
"Padahal kau tadi njanjikannya padaku." Kata Randika dengan nada sedih.
"Maksudku aku berjanji mbayarimu makan." Deviana nyodorkan piring nasi goring Randika. "Nih cepat makan hadiahmu ini. Nanti keburu dingin dan tidak enak."
nyedihkan! Situasi nyedihkan apa ini?
Randika rasa benar-benar bodoh ketika dia berhasil ditipu oleh Deviana.
Bagaimana mungkin perempuan polos sepertinya tiba-tiba bisa lawan dirinya?
.....
Randika, yang tidak bisa raba Deviana, pulang dengan keadaan sedih. Saat dia sampai, dia lihat Hannah.
Hari ini dia makai baju yang lebih berani lagi daripada kemarin. Dengan hotpantsnya, kakinya yang putih dan panjang itu njadi senjata berbahaya. Belum lagi dia makai atasan Cropped top yang nonjolkan perutnya yang rata dan pusarnya. Semua ini mbuat Hannah lebih cantik lagi daripada kemarin.
Benar-benar seksi!
Tatapan mata sum ini disadari oleh Hannah tetapi karena dia adalah kakak iparnya, dia tidak terlalu mpedulikannya. Dia lalu nghampiri Randika.
"Wah pagi-pagi dandan begini mau ke mana?" Tanya Randika sambil tersenyum.
Aslinya Hannah malas berurusan dengan Randika tetapi dia mau tidak mau harus akrab dengannya. "Aku mau ke tempat yang asyik, mau ikut?"
"Di mana?" Randika penasaran.
"Ikut saja aku, aku jamin tempatnya nyenangkan!" Hannah langsung nggandeng Randika.
Dengan pakaian seksi begini apakah dia ingin rayu om-om? Mungkinkah adik iparnya itu perempuan semacam itu?
"Hannah, kau tidak boleh pergi ke tempat yang aneh-aneh." Randika berusaha njadi orang dewasa.
"Tenang saja, kita tidak dalam masalah kalau tidak ada yang tahu kan? Lagipula kita hanya akan pergi belanja." Hannah sudah tidak ingin berdebat lagi dan nyeret Randika masuk ke mobilnya.
Mobil sport Hannah benar-benar bagus dan mulus.
Randika hanya terdiam di mobil, dia rasa malu dengan pikiran sumnya sebelumnya. Adik iparnya ini hanya ingin ditemani belanja tetapi dia beranggapan yang aneh-aneh.
Hannah lirik Randika yang duduk di sampingnya itu dan tertawa dalam hati. Hari ini akan kubuat kau jantungan!
Mobil lalu laju ke arah selatan, nuju perbatasan kota.
Randika rasa ada yang aneh, seharusnya tidak ada mall di arah reka tuju.
"Hei, sebenarnya kita mau ke mana?" Tanya Randika.
"Tentu saja jalan-jalan!" Setelah itu, Hannah macu mobilnya dengan cepat. Dari 30 km/jam langsung dia tancap njadi 120 km/jam dalam beberapa detik!
Randika tersentak ketika mobil itu tiba-tiba laju cepat. Dia langsung masang sabuk pengamannya erat-erat. Adik iparnya ini ternyata gila juga, bagaimana bisa perempuan secantik ini ternyata suka balapan?
Ya tuhan kenapa aku harus ngalami ini lagi? Randika teringat saat dia naik taksi sehabisnya dia kembali dari kampung halamannya. Randika lagi-lagi khawatir dengan nyawanya.
"Hahaha wajahmu lucu juga!" Hannah yang lihat wajah panik Randika tertawa puas, dia juga rasakan sensasi enaknya balas dendam. Siapa suruh rabaku!
"Biasanya aku dan kakakmu lebih cepat lagi." Randika tidak mau terlihat lemah di hadapan adiknya ini.
"Ahhh bohong kamu!" lihat Randika yang masih sok kuat, dia kembali macu mobilnya dan sekarang telah ncapai 140 km/jam. Lalu di saat yang sama, Hannah dengan sengaja mbuka jendela Randika dan angin kuat berhembus lewati Randika.
Tuhan tolong selamatkan hambamu ini!
Di saat yang sama, mobil ini nuju gunung yang ada di perbatasan kota.
Jalanan nuju gunung ini banyak tanjakan dan banyak belokan tajamnya. Belum lagi tidak ada pembatas jalan di sisi jalan. Kedua hal ini sudah banyak mbuat kecelakaan cukup sering terjadi. Tapi para pembalap liar namakan jalan ini jalan nuju kematian.
lihat bahwa reka sampai, Randika nghembuskan napas lega dan tidak lupa berterima kasih dengan Yang Maha Kuasa.
Lalu dia lihat sekelilingnya, banyak orang berkumpul dan banyak mobil balap parkir. Di manakah dia sebenarnya berada?
Randika tidak ngerti daerah ini jadi dia tidak tahu bahwa reka telah tiba di balapan liar yang diadakan di gunung tersebut.
Orang-orang di sini minum di siang bolong sambil nikmati alunan musik rock, perempuan-perempuannya terlihat nakal dan cantik-cantik.
"Tempat apa ini?
"Tentu saja ini tempat balapan mobil." Kata Hannah sambil tersenyum.
Randika noleh padanya dan berpikir dalam hati, dj vu?
Randika benar-benar dibuat pusing oleh adik iparnya ini. Jika adiknya ini benar-benar ingin balapan, ngingat dan balap yang akan dilaluinya dan keselamatan hidupnya, Randika lah yang harus nyetir.
"Kau ingin balapan?" Randika penasaran dan masih bingung apakah dia harus ncegahnya atau ikut saja dengan pengaturannya.
"Kamu takut?" Hannah tersenyum.
"Takut? Mana mungkin aku takut!"
"Hahaha sudah tidak usah akting terus, aku tahu kalau kamu takut." Hannah nepuk bahu Randika. "Tidak usah khawatir, aku di sini hanya ingin nikmati suasana."
Randika lega ketika ndengarnya, lebih baik nghindari masalah yang tidak perlu.
"Hei cantik!" seorang pemuda nghampiri reka sambil ngunyah pern karet. Dia tersenyum ke Hannah. "Kau ingin balapan denganku?"
Hannah ngerutkan dahinya dan mbalasnya dengan suara dingin. "Tidak perlu, hari ini aku hanya ingin lihat-lihat."
"Wah ternyata kamu penakut toh?" Ejek pemuda itu. "Jika kau pernah ke sini jadi kau tahu arti balapan terhadap kita para pembalap. Masuklah ke mobilmu sayang dan tunjukan kalau kau pantas berada di sini, kalau tidak pergi saja dari sini."
"Hei hei jangan nakut-nakuti perempuan seperti itu dong." Kata temannya pemuda itu.
Pemuda itu hanya tertawa dan lihat Randika yang ada di samping Hannah. "Sayang sekali wanita cantik sepertimu bersama orang jelek seperti itu. Apa bagusnya coba lakimu itu? Sini ikut aku saja dan kuajari apa arti laki itu sesungguhnya."
Bajingan, maksudmu aku tidak cukup ganteng?
Randika marah besar ketika ndengarnya dan matanya njadi rah. Kalau kalian ingin bertanding, mari kita bertanding!
"Lho ibumu mana?" Randika langsung pasang badan. "Bocah sepertimu lebih cocok di rumah dan nyusu."
"Oh? Kalau begitu orang tua sepertimu lebih cocok berbaring di kuburan?" Pemuda itu awalnya terkejut Randika berani lawannya, tapi dia tertawa ketika mperhatikan perawakan Randika dan ngejeknya balik.
"Bahkan dalam keadaan mati pun aku bisa ngalahkan bocah sepertimu!" Kata Randika dengan nada ngejek.
"Oya? Mari kita buktikan pak tua!" Pemuda itu lalu nghampiri Randika dan berkata tepat di wajahnya. "Jangan salahkan aku kalau tulang rapuhmu itu patah!"
Pemuda itu benar-benar tidak pandai milih lawan, tentu saja Randika dengan senang hati layaninya!
Reviews
All reviews (0)