Font Size
15px

"Hahaha." Ketiganya tertawa, dengan macam tawa yang hanya bisa bersumber dari orang yang sudah ngetahui bahwa ajal reka sudah dekat. "Kami juga ingin rasakan bagaimana kekuatan sebenarnya dari salah satu dewa dari 12 Dewa Olimpus."

"Apakah kalian dari Jeratan Neraka?" Randika masih ingin ngorek informasi sebelum mbunuh reka. "Tidak usah repot-repot berbohong, karena kalian tahu identitasku berarti kalian ngerti kemampuanku."

"Ngimpi kalau kau berharap ndapatkan sesuatu dari kita!" Salah satu dari reka tertawa keras. "Bahkan jika kau adalah penguasa dunia bawah tanah, kau tidak akan ndapatkan apa-apa dari kami!"

"Bahkan jika nyawa kalian taruhannya?" Randika ngerutkan dahinya. Ketika dia tidak ndapatkan jawaban, dia lanjut berkata, "ngapa kalian begitu setia kepada reka? Dan jangan kira obat di dalam gigi kalian itu berguna, aku bisa nghancurkannya dalam 1 detik."

Ketika ndengarnya, reka bertiga rinding dan tidak bisa tertawa lagi. Walau reka berusaha untuk tidak nunjukkan keraguan, sesungguhnya reka tahu bahwa kata-kata Randika itu benar.

"Aku tahu bahwa kau itu sangat kuat." Salah satu natapnya dengan tajam. "Tapi jangan harap kami akan takut padamu dan njual organisasi kami!"

"Oh? Apakah itu akan berlaku setelah aku nyiksamu?" Randika tersenyum.

"Jangan harap kau bisa nyiksa kami, kematian adalah kehormatan bagi kami. Kekuatan organisasi kami lebihi apa yang kau bayangkan. Bahkan jika kau adalah Ares, bahkan kau pada akhirnya akan berlutut di hadapan kami!"

"Sebuah kehormatan bisa mati demi organisasi." Salah satu reka tertawa keras. "Tunggu dan lihatlah pembalasan dari Jeratan Neraka!"

Seketika itu juga, reka bertiga nggigit obat di dalam gigi reka.

Randika tidak berusaha ncegah reka. reka adalah orang-orang terlatih dan setia pada organisasi reka, jadi ngorek informasi dari reka rupakan hal mustahil.

reka semua mati sambil tertawa sebelum akhirnya leleh dan ninggalkan genangan darah di jalan.

Pada saat reka leleh, Randika bergegas nuju Viona agar tidak lihat proses kematian yang ngenaskan ini.

Viona yang lihat Randika itu tiba-tiba nangis. Dirinya bersyukur sekali bisa selamat dari kejadian ini. Randika pun luknya dan berusaha nenangkannya. "Tenanglah, aku sudah ada di sini."

Setelah beberapa saat, Randika berkata dengan nada serius. "Aku akan riksa mobil reka sebentar untuk ncari petunjuk."

Viona ngangguk sambil masih sedikit nangis. skipun dia tidak paham sama sekali dengan percakapan para penculiknya dan Randika, dia paham bahwa Randika bukanlah orang biasa.

Randika lalu riksa kedua mobil tersebut.

Dia berharap bisa ndapatkan petunjuk ngenai Jeratan Neraka.

skipun peluangnya kecil, dia harus tetap ncoba. Kemunculan ndadak para anggota Jeratan Neraka ini mbuatnya was-was. Selama dia nemukan tempat persembunyian reka, reka akan berharap ibu reka tidak pernah lahirkan reka.

Seluruh mobil dipenuhi oleh senjata terlebih mobil pertama yang penuh lubang peluru.

Randika ncari-cari mulai dari kursi pengemudi hingga ke bagasi. Dia tidak bisa lewatkan satu jengkal pun yang terlewatkan.

Setelah ncari-cari beberapa nit, dia nemukan sebuah kertas kecil.

Di kertas tersebut hanya ada satu alamat.

"Villa Gunung Perak nomor 87?" lihat hal ini mata Randika langsung bersinar terang.

Setelah laporkan dan nunggu kedatangan polisi, Randika manggil taksi dan ngantar Viona kembali ke perusahaan.

Dia harus mastikan keselamatan Viona benar-benar aman terlebih dahulu. Di dalam taksi, Viona selalu bersandar di bahu Randika sambil terus luknya. Matanya tertutup sambil sesekali dia akan bergetar tanpa henti. Sepertinya kejadian sebelumnya telah ngguncang dirinya.

Hati Randika rasa sakit ketika lihatnya. Hal tragis semacam ini pasti sangat berat bagi gadis biasa seperti Viona.

Namun dalam pikirannya masih dipenuhi oleh Jeratan Neraka. Karena dia tidak miliki sumber daya untuk nyelidikinya, organisasi tersebut benar-benar misterius baginya. Dia rasa bahwa organisasi kejahatan ini muncul bersamaan dirinya, seakan-akan tujuan reka hanyalah dirinya.

Kemungkinan ini paling masuk akal baginya. Dengan dirinya datang ke alamat itu, dia akan tahu siapa dalang di baliknya dan barulah setelah itu dia bernapas dengan leluasa lagi.

Randika ngerutkan dahinya, kejadian sebelumnya telah berulang. Kejadian di mana teman-temannya yang njadi target, karena hal itulah Randika bersembunyi di Indonesia. Dia ingin naklukkan kekuatan misteriusnya dan bisa njaga semua orang yang dia sayangi!

Seharusnya Shadow sebentar lagi datang ke kotanya, waktunya untuk dirinya nyerang!

Randika lalu nutup matanya sejenak dan ingin lupakan masalah ini sejenak.

Tidak lama kemudian, taksi sudah sampai di gedung perusahaan Cendrawasih. Randika lalu mbawa Viona ke ruangan barunya di lantai 5.

"Viona kau baik-baik saja?" Saat berada di lift, Randika nyadari bahwa Viona berwajah pucat.

"Apakah kau ingin pulang saja?" Tanya Randika dengan nada khawatir.

"Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa." Viona maksakan dirinya untuk tersenyum. Dia juga tidak ingin mbahas apa yang telah terjadi dengannya.

"Aku rasa kau masih trauma dengan kejadian barusan." Randika nggelengkan kepalanya lalu luk Viona. "Maafkan aku Vi Aku tidak mampu untuk lindungimu."

Ketika dipeluk, Viona sedikit rinding.

"Jangan berkata seperti itu, jika bukan karenamu aku tidak tahu nasibku bagaimana." Kata Viona dengan suara pelan.

Salah satu alasan dirinya masih ketakutan adalah identitas asli Randika. mang kejadian hari ini sungguh nakutkan baginya tetapi hal itu mbuatnya lihat jati diri Randika. Keahlian bela diri Randika benar-benar lekat di benaknya. Apalagi setelah mbunuh para penculiknya dengan mudah, hal ini mbuat dirinya ragukan identitas Randika. Seakan-akan Randika yang di hadapannya ini hanyalah sebuah kamuflase dari suatu sosok yang ngerikan.

Orang macam apa itu Randika?

Viona penasaran.

"Aku tidak pantas ndapatkan penghiburanmu itu." Randika berkata dengan sedih. "Lebih kau istirahat saja di laboratorium nanti. Lagipula tidak ada pekerjaan ndesak juga."

Viona ngangguk.

lihat Viona yang masih terguncang itu mbuat hati Randika kembali sakit.

"Vi, cobalah lihat ke atas."

Setelah ngangkat kepalanya, Randika nciumnya sambil terdiam.

"Ah!" Mata Viona terbuka lebar ketika dicium paksa oleh Randika. Ini sudah keempat kalinya!

Entah kenapa Viona tidak mbencinya kali ini dan nikmati mon ini. Setetes air mata keluar dari matanya.

Namun suara nyaring decitan lift yang berhenti terdengar, dia tiba-tiba sadar bahwa pintu akan segera terbuka!

Viona langsung ndorong Randika dan pintu lift pun terbuka.

Ketika reka berjalan keluar, Randika tiba-tiba berhenti berjalan karena ngingat sesuatu dan bertanya sambil tersenyum. "Sudah baikan?"

Viona tersipu malu ketika ndengarnya. Dia ngangguk dan berlari nuju ruangan Randika.

Randika tersenyum ketika lihat kelakuan Viona yang seperti anak kecil itu. Dia tidak kembali ke ruangannya dan kembali naiki lift. Dia lalu ngeluarkan kertas yang ditemukannya di mobil.

"Tunggulah kedatanganku!" Gumam Randika.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 43: Alamat Misterius on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Nightwatcher cover
Similar genre

Nightwatcher

Paperboy ·Harem

Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,andMagicians.XuQi’an,a...Readmore Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,a...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.