Font Size
15px

Mata Randika tidak pernah lepas dari mobil para penculik itu. Saat ini, mobil tersebut sudah laju kencang dan jarak di antara reka cukup jauh.

Randika ngumpulkan kembali tenaga dalamnya ke kakinya, bahkan samar-samar terdengar suara berdesis dari sepatunya. Dalam sesaat, Randika sudah ngejar dengan kecepatan luar biasa.

Ketika dia pulang ke gunung kapan hari, kakeknya telah mberikan pengobatan padanya jadi selama satu bulan dia bisa makai tenaga dalamnya tanpa perlu khawatir terhadap kekuatan misterius dalam tubuhnya. Dengan begitu, dia tidak perlu nahan diri lagi.

Para pejalan kaki yang lihat Randika lompat itu terkejut kembali. Sudah lompat dan selamat saja sudah mukjizat, sekarang malah lari secepat itu?

Dan hanya butuh beberapa detik saja sosok Randika sudah nghilang dari jarak pandang reka.

Semuanya rasa bahwa apa yang reka lihat hari ini kemungkinan besar adalah mimpi, mana mungkin orang itu masih manusia?

"Ma dia pasti Superman!" Teriak salah satu anak yang digendong ibunya. Matanya penuh dengan kekaguman sedangkan ibunya masih bingung dengan apa yang terjadi.

Randika tidak peduli dengan pendapat orang yang lihat dirinya lompat dari lantai 5 sebelumnya, yang dia pedulikan hanyalah keselamatan Viona.

Dia adalah penguasa dunia bawah tanah, berani-beraninya reka rampas apa yang njadi miliknya? Bahkan sesama 12 Dewa Olimpus tidak berani lakukannya.

Kecepatan mobil para penculik termasuk cepat tapi Randika lebih cepat lagi. Jarak di antara reka dengan cepat berkurang.

Orang-orang yang sedang nongkrong di pinggir jalan tiba-tiba rasakan hembusan angin kuat lewati reka. reka lalu nyadari bahwa angin tersebut berasal dari seorang yang berlari lebih cepat dari para mobil.

Tidak cuma orang-orang itu saja yang kaget, para pengendara mobil juga kaget ketika Randika nyalip reka.

"Sayang, sungguh aku kemarin pulang itu ada urusan pekerjaan. Percayalah padaku, semua itu salah paham. Aku tidak mungkin aneh-aneh sama orang lain, hanya kamu satu-satunya di hidupku." Salah satu pengendara mobil yang sedang nelepon tiba-tiba rasakan hembusan angin kuat lewatinya dan lihat Randika nyalipnya!

Setelah itu, dia lihat kecepatan mobilnya dan tanya ke istrinya dengan bingung. "Hei aku baru saja disalip orang yang lari dengan kakinya padahal aku nyetir 100 km/jam. Jangan-jangan aku masih tertidur di hotel ya?"

Orang-orang juga nanyakan hal yang sama, apakah orang itu superhero?

Randika nyalip mobil-mobil dengan cepat dan luwes. Mobil para penculik itu sudah ada di depan matanya! Namun, salah satu penculik sepertinya nyadari keberadaan Randika yang sudah sangat dekat itu dan mpercepat lajunya.

Sayangnya semua itu percuma. Randika tetap ngekori reka bahkan jarak di antara reka semakin dekat. Tidak ada yang bisa lari dari Ares!

Tak lama kemudian reka ncapai perempatan. Pengendara dari arah sebelah kanan dan kiri sedang laju. Namun, para penculik ini tidak peduli dan nancap gas reka untuk nerobos paksa. Semua mobil ngebel tanpa henti dan tabrakan tidak terhindari. skipun mobil paling depan berhasil berhenti ndadak, mobil belakang reka tidak bisa berhenti tepat waktu.

Tabrakan beruntun!

Para pengendara ini pada bingung, kenapa mobil depan reka tiba-tiba berhenti? reka semua turun dan saling nyalahkan satu sama lain dan semuanya minta ganti rugi.

Selagi keadaan kacau, mobil para penculik itu berhasil nerobos dan laju kencang kembali di jalan yang sepi.

"Kak, kau masih lihat orang itu?" Di dalam mobil, salah satu penculik terlihat ngucurkan keringat dingin setelah ngetahui bahwa Randika berhasil ngejar mobil reka. mangnya ada manusia yang bisa seperti itu? Mana ada yang bisa ngalahkan kecepatan mobil?

Orang yang duduk di belakang itu noleh dan tidak lihat sosok Randika.

"Kita berhasil ngecohnya."

Semuanya nghembuskan napas lega. Si supir, yang jantungnya berdegup kencang dari tadi, ingin rokok untuk nenangkan diri. Dia mbuka jendela mobilnya dan terkejut bukan main.

Randika ada di sebelah kanan reka!

"Bajingan! Dia di kanan kita!" Si supir langsung banting ke kiri. "Orang ini pasti bukan manusia! Keluarkan senjata kalian dan bunuh dia secepatnya!"

Viona yang wajahnya ditutupi kain terkejut ketika mobil banting ke kiri. Setelah itu orang-orang di sekitarnya sepertinya panik dan bergerak tanpa henti. Apakah Randika datang untuk nyelamatkannya?

Dia percaya bahwa yang bisa nyelamatkan dirinya hanyalah Randika. Dia berdoa bahwa orang yang dikaguminya itu datang nyelamatkannya.

Laju mobil masih cepat, namun si supir nyetirnya dengan satu tangan dan tangan satunya gang sebuah pistol dan ngarah pada Randika.

Dor!

Tanpa ragu-ragu dia nembakkan pistolnya tetapi sosok Randika sudah nghilang. Dia terkejut sampai hampir kehilangan kendali mobil. Bukannya orang itu ada di sana sebelumnya? Apakah pelurunya sudah ngenainya dan pria itu terjatuh?

Tetapi sosok orang itu nghilang sesaat setelah pistolnya nembak, harusnya bidikannya leset.

"Hei dia sekarang di belakang!" Teriak yang duduk di belakang.

"Lho dia mau apa.. Eh dia lompat!"

Duak! Suara keras terdengar di atap mobil reka.

"Dia ada di atas kita! BUNUH!"

Orang yang duduk di belakang ngeluarkan AK 47 dan nembakkannya ke atap mobil. Suara tembakan yang kakan telinga terdengar sangat keras.

"Ah!" Viona segera nunduk dan nutup telinganya sambil berteriak keras.

Seluruh atap terlihat bolong dan masih tidak ada jejak Randika.

reka semua rinding dalam hati. Seketika itu juga, jendela mobil belakang tiba-tiba tertendang keras dan kacanya langsung pecah. Orang-orang yang masih kebingungan itu tidak dapat bereaksi selain nunduk saking kagetnya.

Si supir langsung ngarahkan pistolnya ke kanan belakang tetapi sosok Randika tidak ada. Lalu ada suara langkah kaki di atap dan reka kembali nembak atap mobil. Pada saat itu, Randika layangkan sebuah pukulan ke jendela supir yang terbuka.

Si supir yang juga ikut nembaki atap mobil itu tiba-tiba sudah tidak sadarkan diri.

Namun, yang ngerikannya lagi ternyata lehernya telah patah dan kepalanya nghadap ke belakang.

Satu pukulan dan Randika mbunuh orang itu!

Mobil lepas kendali dalam kecepatan tinggi lalu tanpa perlu perintah, orang yang duduk di depan segera ngambil kendali setirnya. Sedangkan sosok Randika sudah nghilang lagi.

Lalu orang tersebut mbuka pintu si supir dan nendang mayat temannya itu.

"Sialan orang itu nghilang lagi." Orang-orang ini tampak acuh tak acuh terhadap kematian temannya itu.

Mobil kembali laju dengan cepat.

Pada saat ini, jendela belakang bagian kiri tiba-tiba pecah. Orang-orang langsung mbidik dan lagi-lagi tidak ada orang di sana. Lalu sepasang kaki muncul dari jendela kanan belakang dan ngenai salah satu penculik.

Ketika temannya lihat Randika sudah masuk di mobil, dia hendak nembaknya tetapi tubuh temannya nghalanginya. Di saat dia ragu-ragu itu, Randika sudah lempar beberapa jarum dan nancap di pergelangan tangan orang tersebut. Tangannya tiba-tiba lemas dan tidak bisa bergerak.

"Randika!" Viona yang kainnya dilepas oleh Randika itu rasa bersyukur bisa lihat wajah atasannya itu.

Si supir baru itu benar-benar terkejut karena temannya tidak berdaya lawan Randika. Randika masih tidak mpedulikannya dan mbuka pintu di kanannya dan lempar kedua penculik yang duduk di belakang itu!

"Ahhhh!"

Mobil yang di belakang reka terkejut ketika lihat orang yang lompat dari mobil. Dia langsung nginjak remnya kuat-kuat tapi sudah terlambat. Orang yang jatuh itu dilindas berkali-kali oleh beberapa mobil. Darahnya muncrat ke mana-mana.

Di dalam mobil cuma ada Randika, Viona dan si supir. Ketika si supir hendak mbidik Randika, pisau sudah ndarat di lehernya.

"Kalau kau ingin selamat, hentikan mobil itu di gang depan." Randika sepertinya ingin nangkap orang ini hidup-hidup. Karena sebelumnya pembunuh Jeratan Neraka tidak ngatakan apa-apa, kali ini dia harus ndapatkan informasi.

Herannya, orang ini tidak lawan dan nuruti kata-kata Randika. reka lalu berhenti di suatu gang yang sepi. Randika lalu nyuruh Viona untuk tetap di mobil sebentar selagi dia ngurus orang tersebut.

Saat reka turun, sebuah mobil berhenti di belakangnya. Ternyata reka diikuti oleh mobil!

Mobil itu sepertinya bala bantuan musuh. Lima orang turun dari mobil tersebut.

"Kau kira kami datang sendirian?" Si supir ini masih disandera Randika dengan pisau di lehernya.

Lalu yang ngejutkannya adalah Randika lepaskannya!

Kemudian bersama dengan teman-temannya itu, reka ngepung Randika.

Para penculik ini tidak berkata apa-apa lainkan hanya mandang satu sama lain. Tatapan mata reka dipenuhi kebulatan tekad.

Tiba-tiba salah satu dari reka nerjang Randika sentara lainnya ngeluarkan pisau militer reka dan nyusulnya.

Randika sang Dewa Perang ini hanya tersenyum ketika lihat reka berusaha mbunuhnya.

Sejak kapan cecunguk-cunguk seperti kalian berani nantangku?

Randika langsung berubah njadi bayangan, dia nghajar terlebih dahulu orang paling depan. Mungkin karena sudah jarang nggunakan kekuatan penuhnya, Randika tidak bisa ngira-ngira kekuatannya. Karena ketika dia mukul keras dagu orang tersebut, seluruh tubuhnya sampai layang dan ndarat di mobil reka.

Satu orang sudah tewas.

Kedua orang lainnya segera nggabungkan serangan reka tetapi semua itu percuma. Kedua pisau reka hanya nancap di dada reka masing-masing. Kecepatan dari Randika yang berkekuatan penuh ini sudah tidak bisa reka ikuti dengan mata reka. Yang hanya reka tahu bahwa hidup reka sudah berakhir.

Ketiga penculik lainnya berhenti nerjang dan natap satu sama lain.

reka tahu bahwa reka akan mati hari ini.

"Masih berani lawanku?" Tanya Randika dengan santai.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 42: Masih Berani Melawanku? on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Top-tier Unruly Master cover
Trending now

Top-tier Unruly Master

Be Qin Sanchi ·Other

WhenDingFanopenedhiseyesagain,everythingbeforehimhadchanged.ACultivatorrebornonEarth,hefoundhimselfinthedespisedbodyofadisgracedheir.Fistsstrikinga...

Tycoon War God cover
Trending now

Tycoon War God

Once Young ·Other

Inhispreviouslife,LinMuwasthetopassassinonEarth.HeaccidentallytraversedtotheEternalImmortalRealm,where,overthespanofeighthundredyears,hecultivatedf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.