Kota Cendrawasih adalah kota yang masih dalam tahap perkembangan. Gedung-gedung pencakar langit sedang mulai dibangun dan perumahan-perumahan elit juga mulai bermunculan. Harga rumah di kota ini tiap tahunnya naik terus-nerus.
Apalagi perumahan elit yang baru selesai dibangun seperti Villa Gunung Perak. reka baru resmi dihuni 2 bulan yang lalu. Fasilitas di gedung serbaguna perumahan ini sangat wah seperti kolam renang, gym, lapangan golf hingga aula yang dapat nampung 3000 orang.
Rumah di perumahan ini hanya mampu dibeli oleh orang-orang kaya.
Di suatu rumah, di basen
Selain cahaya matahari yang lewati celah-celah pintu, pencahayaan di basen ini sangatlah minim. Hampir tidak terdapat lampu di tempat ini. Mungkin pencahayaan yang buruk ini ingin nutupi apa yang ada di balik pintu. Kalau orang lihat dalamnya, mungkin reka akan tidak akan percaya akan pemandangan tidak manusiawi ini.
Dalam basen ini terdapat sel kurungan yang cuma ada satu ranjang saja dan sebuah ember.
Di setiap sel tersebut ada seorang wanita di dalamnya!
Beberapa ada yang tidak makai baju sedangkan yang lainnya makai baju compang-camping. Wajah reka terlihat sakau. Tiap hari reka dipaksa muaskan nafsu para pria.
Wanita-wanita ini sesungguhnya cantik-cantik. skipun tidak secantik Viona ataupun Inggrid, para wanita ini sudah cukup mbuat para lelaki ngejar reka. Tetapi sekarang kondisi reka nyedihkan, reka telah njadi budak seks!
Terlebih lagi, terdapat alat-alat penyiksaan dan alat-alat seks.
Suasana di basen hening. Ada yang masih di bawah pengaruh obat, ada yang nundukkan kepalanya dan ada yang nangis. Ketika ndengar suara pintu berderit, reka semua langsung getar ketakutan.
Ada yang datang!
Ketika ndengar suara langkah kaki yang sudah reka kenal itu, reka ingin ncabik-cabik orang itu hidup-hidup. Dialah yang mbuat hidup reka sengsara.
Ketika tiba di bawah, Kevin sedang bingung milih perempuan mana yang akan njadi mainannya hari ini. Dia tersenyum puas ketika lihat koleksinya yang banyak ini.
Semua wanita ini diculik oleh Kevin dengan berbagai cara tetapi cara yang sering dipakainya adalah mbius reka ketika reka pergi berkencan. Kalau para wanita ini nolak dirinya, dia akan nculik reka!
Benar-benar lelaki biadab.
Kevin mandangi satu per satu koleksinya dan para wanita itu segera ringkuk ketakutan.
"Nomor satu angkat kepalamu!" Teriak Kevin sambil nendang sel nomor satu berada. Wajah Kevin sudah terlihat bengis dan penuh nafsu.
Wanita itu ketakutan ketika sel miliknya ditendang keras oleh Kevin, dia tidak punya pilihan untuk ngangkat kepalanya. Wajah cantiknya itu penuh dengan air mata. Ternyata setelah diperhatikan, mulutnya telah diikat oleh kain dan tangannya diborgol.
Benar-benar tidak manusiawi!
"Kau sudah lupa harus ngapain kalau aku turun ke tempat ini?" Muka Kevin terlihat marah.
Wanita yang dipanggil nomor 1 ini panik dan nggeleng-gelengkan kepalanya. Jika didengar dengan seksama, wanita ini ngeluarkan suara seperti anjing. "Guk! Guk!"
Ketika lihat budaknya itu patuh, Kevin ngangguk puas. Lalu dia nuju sel lain di mana wanita-wanita cantik lainnya nunggu dirinya.
"Hmmm. Aku cuma punya lima orang saja." Kevin sudah berada di ujung sel yang masih kosong. "Tidak masalah, sebentar lagi tempat ini akan diisi oleh Viona. Ahhhh Aku sudah tidak sabar bermain denganmu!"
Senyuman Kevin diisi oleh kelicikan dan kebejatan. Dia telah nyiapkan banyak mainan untuknya, Viona akan njadi budak seks miliknya yang terbaik! Aku tidak akan nomorimu, aku akan mberimu nama.
jamkan matanya, dia mbayangkan tubuh seksi Viona yang telanjang itu akan dia mainkan sesuka hatinya. Kevin benar-benar tidak sabar, karena baginya Viona adalah cewek tercantik yang pernah dia lihat.
Di saat Kevin sibuk dengan fantasinya, salah satu wanita di dalam sel mberanikan diri untuk maki Kevin. "Manusia biadab sepertimu tidak pantas untuk hidup!"
Kevin mbuka matanya dan tertawa keras. "Nomor 4, kau sepertinya tidak punya sopan santun. Apakah itu caramu nyapa tuanmu?"
Namun nomor 5 juga ikut nyaut. "Aku harap kau mbusuk di neraka! Lihat sekelilingmu, dosamu itu sudah tidak termaafkan dan neraka saja sudah jijik sama jiwamu!"
Nomor 3 benar-benar ketakutan. Dia tidak miliki nyali seperti teman-temannya itu, dia hanya ringkuk ketakutan di pojokan.
Semua wanita ini diculik berurutan oleh Kevin. Nomor 1 adalah yang pertama dan nomor 5 adalah yang terakhir. Jadi kondisi psikologis wanita yang datang terakhir itu masih belum tunduk.
"Hmmm Bagaimana caranya tuanmu ini mbuatmu paham?" Kevin mulai nelanjangi nomor 5 dengan matanya. "Setiap dari kalian adalah karya seni milikku, aku akan mbuat kalian budak seks terindah di seluruh dunia!"
"Biadab!" Nomor 5 kehilangan kesabarannya. "Sampah sepertimu cuma bisa nodai tubuhku tapi tidak tekadku! Setiap hari aku akan lawanmu!"
"Tidak, tidak, tidak. Kevin nggelengkan kepalanya dan ngatakan. "Aku tidak akan matahkan tekadmu ataupun ncuri hatimu, pada akhirnya kau akan nerima cintaku ini."
Setelah itu, Kevin mbuka sel nomor 5 dan berjalan masuk. Kaki dan tangan nomor 5 terborgol jadi dia tidak bisa lawan.
Kevin lalu njambak dan ngangkat kepalanya nomor 5. "Hari ini aku akan mbuatmu milikku." Lidah Kevin langsung njilati wajah nomor 5. Kau milikku! Selamanya kau adalah milikku!
"Selamanya aku tidak akan pernah njadi milikmu!" Perempuan ini masih mperjuangkan hidupnya.
Nomor 1 dan 2 tidak mau lihat, nomor 3 ngintip dari celah pahanya dan nomor 4 natap Kevin dengan tatapan marah. lihat temannya itu hendak diberi obat, dia berteriak marah. "Kau pada akhirnya akan ndapatkan ganjaran yang setimpal!"
"Hahaha, bahkan Tuhan pun tidak bisa nghukumku." Kevin tertawa. "Aku hanya percaya pada diriku sendiri."
Ketika ndengar hal tersebut, semua perempuan itu masang ekspresi tidak berdaya. Mungkin apa yang dikatakan Kevin benar, kesempatan reka untuk bebas sangatlah kecil. Mungkin Tuhan sebenarnya sudah ninggalkan reka.
"Wah kebetulan sekali, aku juga percaya pada kemampuanku sendiri!" Suara itu terdengar dari arah pintu.
Kevin yang masih tertawa itu segera terdiam ketika ndengar suara itu. Dia segera noleh ke arah pintu dan bertanya, "Siapa di sana?"
Kevin rasakan firasat buruk, tempat ini adalah tempat tersembunyi miliknya. Bahkan dia miliki pengawal yang banyak di rumahnya ini. Bagaimana bisa ada orang yang bisa masuk ke basennya ini?
Terlebih lagi, kenapa dia rasa pernah ndengar suara orang itu?
Ketika berusaha ngingat-ingatnya, dia rinding karena akhirnya dia ngerti milik siapa suara itu.
Semua perempuan di basen ini segera ndapatkan semangat hidupnya kembali. reka juga ndengar suara orang lain dari arah pintu.
Apakah pertolongan akhirnya telah tiba?
Kevin nutup matanya dan berdoa bahwa orang tersebut bukanlah yang dia kira. Kemudian orang itu berjalan turun dengan tangan di saku celananya. Ketika Kevin mbuka matanya, mimpi buruknya njadi kenyataan. "Randika!"
"Halo bro ketemu lagi." Randika lalu mperhatikan perempuan-perempuan yang ada di sel itu. "Pintar juga aktingmu selama ini."
"Mustahil, bagaimana caranya kau bisa sampai ke sini?" Kevin berjalan mundur selangkah demi selangkah, beriringan dengan langkah maju Randika.
"Aku sudah bilang kan sebelumnya? Jangan pernah ngganggu Viona lagi!" Randika lihat ekspresi perempuan-perempuan ini dan aura mbunuhnya mancar dengan kuat.
Seorang wanita tidak pantas diperlakukan seperti budak!
Jika sebelumnya dirinya gagal nyelamatkan Viona, apakah dia akan njadi seperti reka? Apakah wanita miliknya itu akan miliki wajah tanpa ada harapan hidup seperti reka?
Terlebih lagi, Kevin berkerja sama dengan Jeratan Neraka. Benar-benar tidak termaafkan!
lihat ekspresi ngerikan Randika, Kevin ketakutan. Dia tahu bahwa nyawanya terancam dan dia segera berlari ke sel nomor 5, hendak nyanderanya.
Namun, Randika ngeluarkan sebuah pisau dan lemparkannya ke kaki Kevin.
"Ah!"
Pisaunya itu ngenai paha Kevin dan mbuatnya terjatuh!
Kemudian Kevin ndongak dan nyadari bahwa Randika sudah ada di atasnya.
"Ampun! Ampun!" Posisi Kevin sudah diangkat oleh Randika.
"Setelah berbuat seperti itu pada para perempuan ini, kau masih berharap ampun?"
Nomor 5 mulai tertawa lepas. "Rasakan! Mampus hidupmu!"
"Karma selalu datang! Mati kau!" Nomor 4 juga ikut nyaut dan tertawa. Sesaat kemudian, air mata kebahagian mulai netes.
Perempuan lainnya awalnya tidak mpercayai apa yang terjadi, tetapi setelah teriakan nomor 4 dan 5 reka berteriak. "Bunuh!"
"Bunuh!"
"Bunuh!"
Sorakan itu mbuat Kevin ngompol sedikit.
"Jangan hiraukan reka." Kata Randika dengan tersenyum. "Sekarang aku akan bertanya dan kalau kau berbohong maka kutusuk kau sekali."
"Aku tidak berani berbohong!" Seluruh tubuh Kevin sudah basah oleh keringat.
"Apa hubunganmu dengan Jeratan Neraka?"
"Jeratan Neraka? Apa itu?" Kevin terkejut dengan pertanyaan aneh itu. Tetapi Randika ngambil pisaunya kembali dan nusuk bahu Kevin!
"Arghh!" Kevin berteriak kesakitan. "Aku tidak tahu apa-apa, aku tidak pernah ndengar nama reka!"
Randika ngerutkan dahinya. Bukankah dia salah satu anggota dari Jeratan Neraka?
Setelah mikirkannya, Randika ngerti bahwa Jeratan Neraka hanya nggunakan Kevin.
"Pertanyaan berikutnya, tadi pagi kau nyuruh orang untuk nyulik Viona?"
Wajah Kevin segera mbeku. Randika tidak ragu-ragu ncabut pisaunya lagi dan nusuk kembali bahu Kevin. Darah langsung mbasahi wajah Randika.
"Argh. Iya Aku nyuruh orang tadi pagi."
Kevin tidak dapat nahan rasa sakitnya dan njawab dengan terbata-bata.
"Baiklah." Randika lalu lempar Kevin. "Tapi aku tidak puas dengan jawabanmu."
Ketika ndengarnya, Kevin langsung mohon ampun. "Tolong ampuni aku. Aku tidak akan berbuat jahat lagi!"
"Bacod!" Seketika itu juga, Randika nginjak alat kelamin Kevin dengan keras.
KRAK!
Seperti suara telur yang pecah, telur Kevin nampaknya sudah tinggal kenangan. Wajah Kevin segera njadi putih. Dia gangi alat kelaminnya dan berguling-guling di lantai tanpa henti. Randika sudah nghancurkan keturunannya!
"Semoga dengan ini kau tidak bisa berbuat aneh-aneh lagi." Randika ludahi Kevin. "Kalau kau masih belum kapok, kubunuh kau ketika kita bertemu lagi."
"Hahaha kapok! Cari laki saja sana mulai dari sekarang, punyamu sudah tidak bisa berdiri!" Nomor 5 benar-benar kasar kalau bicara. Tapi lihat kehidupan reka yang ngenaskan ini, lihat Kevin ndapatkan penghakiman ini adalah mon yang reka tunggu-tunggu.
"Tolong keluarkan kami!" Salah satu perempuan berteriak pada Randika.
Randika secara tidak sadar ngamati ekspresi reka semua. Ekspresi reka penuh dengan sukacita dan reka lihat dirinya sebagai sang penyelamat.
Reviews
All reviews (0)