Benar-benar kebetulan yang ngerikan!
Bulan Kegelapan tidak masuk ke dalam labirin lalui lubang yang dimasuki oleh Randika, dia masuki labirin ini dari pintu masuk yang lain. Bulan Kegelapan sudah ngitari labirin ini cukup lama, dia tidak nyangka bahwa rutenya akan mbawa dirinya kepada Randika!
Randika tidak mbalasnya sama sekali, ekspresi wajahnya pun terlihat tidak berubah sama sekali. Sekarang situasinya benar-benar gawat. Belum lagi kondisi tubuhnya yang parah ini dan tenaga dalamnya yang sudah nipis.
Randika dihadapi oleh dua pilihan. Pertama adalah mbunuh Bulan Kegelapan dengan waktu yang singkat dengan manfaatkan sisa tenaga dalamnya; yang kedua adalah lari!
lihat kondisinya ini, lari adalah pilihan terbaik, tetapi pada saat ini, Bulan Kegelapan dan anak buahnya sudah ngepung Randika dkk. Di jalan yang sempit ini, keempat orang ini sudah dikepung dari segala arah.
Bulan Kegelapan tersenyum, dia tidak nyangka akan bertemu dengan Randika di labirin ini.
Awalnya, tujuan pertamanya adalah nemukan benda yang konon katanya bisa mberikannya kehidupan abadi, setelah itu baru dia akan mbunuh Randika. Apabila kedua tujuannya itu bisa tercapai alangkah indahnya. Tetapi apabila dia disuruh milih, mbunuh Randika adalah prioritas utamanya.
Dan pada saat ini, dia rasa bahwa pertemuan reka ini pastilah sebuah takdir. Tidak ada orang yang bisa mbantu Randika dan, apabila dilihat baik-baik, Ares yang perkasa ini terlihat cukup terluka.
Bulan Kegelapan natap tubuh Randika. Darah dan napasnya yang terengah-engah mbuat Bulan Kegelapan makin bersemangat. Kamu tidak akan bisa kabur kali ini!
"Lama tidak bertemu Ares." Bulan Kegelapan nyeringai, senyumannya benar-benar cerah. Jika orang lain lihat reka, mungkin reka ngira reka berdua adalah teman lama yang sudah lama tidak berjumpa.
"Kulihat kamu tidak berubah sama sekali, masih sama hinanya dengan anjing." Kata Randika dengan wajah serius. "Selama ada kesempatan, akan kuajarkan betapa nyakitkannya tinjuku ini."
Bulan Kegelapan nyipitkan matanya sedikit, tetapi senyumannya tidak mudar sama sekali. "Hahaha kamu masih bisa bersikap sok tangguh seperti ini? Apa kamu tidak nyadari situasimu yang sekarang?"
Untuk perjalanannya kali ini, Bulan Kegelapan mbawa beberapa ahli bela diri bersamanya. Bahkan Bulan Kegelapan berjanji akan mberikan harta dari labirin ini untuk reka selama reka bisa mbantunya mbunuh Randika.
Randika mperhatikan orang-orang yang ngepungnya ini. lihat orang-orang ini, dia berkata pada Bulan Kegelapan. "Apa kamu pikir kamu bisa mbunuhku hanya dengan orang-orang ini?"
"Ares, apa kamu pikir aku tidak mahamimu? Apa kamu pikir aku buta? Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mbunuhmu."
"Tidak akan kubiarkan." Indra tiba-tiba ngepalkan tinjunya. "Aku tidak akan mbiarkan kakak seperguruanku mati."
Hati Randika tersentuh, tetapi pada saat ini Bulan Kegelapan ndengus dingin. "Baiklah kalau begitu, sepertinya kamu adalah teman yang cocok untuk nemaninya di alam kubur."
Di sampingnya, orang bertampang bengis maju dan mperhatikan wajah Randika. Ekspresi wajahnya seperti predator yang lihat mangsanya. "Orang itu adalah bagianku."
"Chris, jangan bertindak gegabah. Seranglah dia bersama dengan yang lainnya." Bulan Kegelapan dengan cepat nolak ide Chris yang ingin maju sendirian. Bulan Kegelapan tahu dalam hatinya bahwa seorang Ares tetaplah seorang Ares. Semakin terpojoknya seekor hewan buas, semakin buas tingkah lakunya.
Inggrid dan Maria ketakutan ketika reka dikepung oleh orang-orang berbaju serba hitam ini. Inggrid rasakan firasat buruk di dalam hatinya, dia nyadari bahwa orang-orang ini datang untuk mbunuh suaminya. Terlebih lagi, kondisi luka Randika sedang cukup parah.
Chris natap Randika yang berlumuran darah tersebut, jelas bahwa dia rehkan sang Dewa Perang ini. Wajah Randika mutih sesaat, sepertinya kekuatan misterius di dalam tubuhnya makin mberontak.
Namun, pertarungannya dengan Bulan Kegelapan sudah tidak terelakan lagi.
Chris maju bersama dengan beberapa orang. Orang-orang ini berbeda-beda, ada yang kurus, tinggi, berbadan besar dll. Terlebih lagi, wajah reka terlihat berbeda-beda, sepertinya reka berasal dari negara yang berbeda.
Tetapi reka semua miliki satu kesamaan yaitu nafsu mbunuh yang kuat.
"Jika kita berhasil mbunuh Ares hari ini, bukankah nama kita akan terkenal?" Salah satu dari reka tersenyum.
"Aku sudah lama penasaran bagaimana rasa dari darah para Dewa dari Olimpus ini." Kata orang di sampingnya. "Seharusnya darahnya lebih enak daripada yang lain, jika tidak mana mungkin dia nyandang nama Dewa."
Inggrid dan Maria ketakutan ketika ndengar hal ini, orang itu berbicara seakan-akan dia pernah makan manusia!
Pada saat ini, Inggrid nyadari tangan Randika yang ada di belakang. Tangan itu mbentuk sebuah isyarat yaitu LARI!
Wajah Randika masih terlihat sama, nada suaranya terdengar arogan. "Coba saja kalau kalian berani."
Pada saat ini, Randika hanya bisa bergantung pada kekuatan misteriusnya. Dengan bantuan tenaga dalamnya yang tersisa, dia bisa manfaatkan kekuatan misteriusnya ini walau cuma sebentar.
Dalam sekejap, kelima orang yang ngepung Randika itu maju dan nyerang Randika secara bersamaan.
Kelima orang ini, skipun Randika tidak pernah bertemu dengan reka, Randika dapat rasakan bahwa reka adalah ahli bela diri papan atas!
BOOM!
Dalam sekejap, kekuatan limpah ngalir di dalam tubuh Randika. Dia segera mukul dan nghajar seorang pria paruh baya yang nyerangnya dari kanan.
Kondisi Randika yang sekarang cukup ngerikan, dia harus segera mbunuh reka dan keluar dari situasi ini sebelum tubuhnya mburuk.
Jangan pernah rehkan seekor singa yang terpojok!
Keempat orang lainnya ini tidak nyangka bahwa Randika masih miliki kekuatan yang begitu besar, apalagi pria yang sudah terpental dan mati tersebut. Dia hanya rasakan sebuah palu besar nghantam mukanya dan mati.
Apakah ini kekuatan dari salah satu dari 12 Dewa Olimpus?
Benar-benar ngerikan!
lihat Randika yang penuh dengan celah itu, keempat orang ini segera tersadar dari kelinglungan reka dan nyerang Randika.
"Jangan lupakan aku!"
Tiba-tiba, sebuah raungan perang terdengar dan Indra masuki pertarungan. Indra berdiri di depan Randika bagaikan tembok kokoh yang tidak dapat dihancurkan, tinjunya layang skipun pelan.
Kedua tinjunya bertemu dengan serangan dari dua orang. Kali ini, kedua orang itu benar-benar terkejut dengan kekuatan yang dimiliki Indra, reka terpental beberapa langkah.
Namun, sebelum terpental, kedua orang tersebut berhasil layangkan sebuah serangan. Nampaknya serangan reka itu sia-sia, Indra benar-benar kokoh bagaikan tembok.
Orang-orang ini adalah ahli bela diri dunia, skipun Indra adalah jenius bela diri, dia sama sekali tidak mpunyai pengalaman lawan orang. Terlebih lagi, kecepatan Indra sangatlah lambat karena tubuh besarnya itu.
Di sisi lain, Randika bertarung dengan dua orang sisanya. Dengan kekuatan besar yang ngalir di dalam tubuhnya, Randika layangkan sebuah pukulan tepat di wajah musuhnya. Dalam sekejap, kepala musuhnya tersebut copot dari lehernya!
Darah segera nyembur dan tubuhnya segera jatuh ke tanah.
Bulan Kegelapan benar-benar terkejut, namun ketika dia lihat wajah pucat Randika, dia tersenyum. Tidak peduli seberapa kuat Randika, ketika dia tidak miliki tenaga lagi, dia tidak lebih dari seorang manusia biasa.
skipun anak buahnya mati, Chris tetap tenang. Namun, dia makin hati-hati dalam bertahan sekaligus nyerang.
Dengan bantuan Indra, pertarungan ini tidak seberat yang Randika bayangkan.
Bulan Kegelapan yang berada di kejauhan mberi sinyal dengan tangannya. Dalam sekejap, orang-orang yang tidak nyerang itu nerjang ke arah Inggrid dan Maria.
"Bedebah!" ketika lihat hal ini, Randika marah dan nerjang maju. Namun, ketika dia berusaha lindungi Inggrid, tiba-tiba dia disambut oleh sebuah serangan dari Chris.
UHUK!
Kali ini, Randika muntahkan seteguk darah segar. Sepertinya emosinya telah mbuatnya tidak sadar akan serangan lawan yang sangat jelas itu. Indra di sampingnya terlihat kewalahan karena dia nghabiskan energinya untuk ngejar musuhnya.
"Ares, kamu terlalu banyak miliki kelemahan." Bulan Kegelapan berteriak, dia sendiri juga nerjang maju ke arah Inggrid.
"Indra, bertahanlah!" Randika dengan cepat raung dan berusaha ncari jalan untuk nyelamatkan Inggrid.
"Kak, pergilah dan lakukan apa yang harus kamu lakukan! Guru mintaku untuk njagamu dengan nyawaku." Pada saat ini, Indra gagal nghalau serangan dan nerima sebuah tendangan di perutnya.
"Indra" Randika benar-benar tersentuh.
Indra tidak mperhatikan hati kakak seperguruannya yang lembut itu, dia hanya raung. "Kak cepat pergi dari sini! Aku tidak akan bertahan lama!"
"ARGH!!"
Indra raung keras. Para ahli bela diri itu segera ngepung dan nyerang Indra bersamaan. Namun bersamaan dengan raungannya itu, Indra ngumpulkan seluruh tenaga dalamnya dan rasakan kekuatan yang amat besar telah nyebar di tubuhnya.
"ARGH!!!!"
Indra raung sekali lagi dan nangkap satu orang. Orang ini sangat bodoh karena dia ngira bahwa Indra yang sekarang adalah Indra yang sama dengan yang tadi. Ketika pergelangan tangannya tertangkap, dia rasakan rasa sakit yang luar biasa. Rupanya pergelangan tangannya itu telah patah!
DUAK!
Indra ngangkat orang itu dengan satu tangan dan mbantingnya ke tanah.
Di bawah kekuatan yang amat besar, orang itu tidak bisa larikan diri dan nghantam tanah dengan keras. Disusul oleh sebuah tinju, orang itu makin nyatu dengan tanah dan tak sadarkan diri.
Para ahli bela diri yang lain segera manfaatkan hal ini untuk nyerang. skipun tenaga dalamnya limpah, Indra yang ngalami luka di seluruh tubuhnya itu rasa bahwa dia tidak akan bertahan lama.
"Kak, lari!"
Indra raung sekali lagi, dia nyerang siapapun yang berani nghalangi jalan kakak seperguruannya.
"Jika kakak tidak pergi, kita semua akan mati di tempat ini!" Indra kembali berteriak.
Para ahli bela diri itu berhasil nyerang Indra dengan ngandalkan kecepatan reka dan mulai ndesaknya. Namun, Indra sama sekali tidak bergerak skipun nerima serangan reka. Di sudut mulutnya, darah terus ngalir tanpa henti.
Di bawah kecepatan yang absolut, kekuatan sebesar apa pun tidak akan berguna apabila tidak berhasil ngenai.
Sekarang, Indra hanya bisa bertahan.
Randika tidak rasa emosional lagi, dia nggigit bibirnya dan berlari ke arah Inggrid dan Maria.
Indra bertahanlah!
Randika tidak berani ragu-ragu lagi, dia tidak bisa mbahayakan nyawa Inggrid dan Maria di tempat seperti ini.
"Hadang dia!" Bulan Kegelapan dengan cepat nyuruh anak buahnya nangkap Randika.
"Tidak akan kubiarkan!" Indra yang berdiri seperti tembok itu kembali raung dan nghalau siapapun yang hendak ngejar Randika.
Siapapun yang berani lawan kakak seperguruannya, dia harus langkahi mayatku!
Jika dia mati hari ini, Indra rasa bahwa dia sudah nuhi janjinya pada gurunya yaitu lindungi kakak seperguruannya dengan nyawanya.
skipun gurunya itu berkata sambil bercanda, Indra rasa bahwa kata-katanya itu adalah sebuah misi yang sangat penting.
Dia rasa bahwa Randika itu adalah kakaknya yang asli bukan cuma seorang kakak seperguruan. Dia akan mpertaruhkan nyawanya untuk kakaknya kapan saja!
Alasan itu sudah cukup baginya untuk lindungi Randika dengan nyawanya.
Randika yang berlari itu sudah tutup mata. ndengar tekad Indra dari kata-katanya itu, Randika sudah tahu nasib adik seperguruannya itu akan seperti apa. Air mata Randika tidak bisa berhenti ngalir.
Terima kasih Indra, aku tidak akan nyia-nyiakan kesempatan yang kamu buat ini!
Reviews
All reviews (0)