Monster itu natap makan malamnya dengan air liur yang netes!
Randika rasakan firasat buruk di dalam hatinya, tetapi dia tidak takut. skipun tubuhnya tidak maksimal, dia sendiri cukup untuk lawan monster ini.
Dalam sekejap, monster itu rayap dengan cepat dan tangannya sudah bagaikan sabetan dewa maut yang siap mbunuh mangsanya.
Kecepatannya benar-benar cepat, hanya butuh beberapa detik baginya untuk sampai di hadapan Randika dkk. Dengan mulut yang terbuka lebar, dia bersiap untuk nerkam.
Randika terkejut oleh kecepatan monster ini, tetapi reaksinya sendiri juga tidak kalah cepat. Ketika monster itu nerjang, Randika ngangkat tangan kanannya dengan tegas dan layangkan sebuah pukulan!
Monster yang terkena pukulan telak Randika itu layang jauh ke belakang dan mbentur tembok. Setelah terjatuh di tanah, bagaikan ketapel, ia nerjang maju lagi ke arah Randika.
Terlebih lagi, pukulan tersebut telah mbangkitkan sifat ganasnya dan ia benar-benar marah sekarang. Ia tidak sabar ncabik-cabik tubuh Randika hingga tidak tersisa.
Randika di dalam hatinya rasa terkejut. Pukulannya barusan ngandung tenaga dalamnya yang besar, seharusnya itu dapat mbunuh seekor gajah. Tetapi kenapa monster ini terlihat baik-baik saja?
skipun ia adalah monster hasil perkawinan silang, apakah mang reka sekuat itu?
Randika natap monster itu dan kembali nghajarnya. Ketika pukulannya itu ngenai monster itu, Randika nyadari bahwa tangan si monster itu bergerak dengan cepat.
Dalam seperkian detik, Randika nghindar dari serangan cakarnya itu skipun bajunya terbelah sedikit.
Serangan ini benar-benar ngejutkan karena kecepatan yang dimiliki oleh monster tersebut.
Setelah monster itu nerima serangan Randika yang kedua, mustahil untuknya untuk bisa berdiri. Randika nyadari bahwa monster itu berusaha untuk berdiri, tetapi dengan cepat Randika nghampiri dan nginjaknya hingga mati.
DUAK!
Kakinya ngandung tenaga dalamnya yang besar, Randika dengan mudah nghancurkan tulang kepala monster itu. Berbeda dengan makhluk lainnya, monster ini tidak ngeluarkan darah sama sekali. Sepertinya monster ini terbuat dari tulang, tidak ada darah ataupun dagingnya.
Setelah mbunuh monster itu, Randika berjalan nghampiri Indra dkk.
"Sudah tidak apa-apa, ayo kita jalan lagi." Kata Randika dengan nada nenangkan.
Ketiga orang ini ngangguk dan nghembuskan napas lega ketika lihat Randika baik-baik saja. Namun, ketiga orang ini lihat sebuah bayangan dari belakang Randika. Dengan cepat wajah reka mburuk.
"Ran!" Inggrid berteriak dengan cepat, wajahnya benar-benar panik dan pucat.
"Di belakang!" Maria juga ikut nunjuk ke arah belakang Randika.
"Kak, masih ada lagi monsternya!" Indra akhirnya nyampaikan apa yang reka bertiga lihat.
Masih ada lagi?
Jangan bercanda!
Randika noleh ke belakang dan lihat beberapa monster yang serupa itu muncul dari sudut tembok. Mau tidak mau Randika njadi pucat!
nghadapi satu saja sudah cukup nyusahkan, sekarang dia harus nghadapi beberapa sekaligus?
Monster-monster itu rayap di tembok, di jalan, di atap, reka benar-benar nutup jalan keluar Randika.
Sambil mbalikkan badan, Randika berteriak. "Cepat lari!"
Lari adalah satu-satunya pilihan reka, jika reka tertangkap oleh monster itu, jelas nasib reka akan njadi makanan reka.
Setelah lawan monster yang tadi, Randika ngetahui bahwa kecepatan monster itu tidak biasa dan kekuatannya benar-benar kuat. Monster itu benar-benar agresif dan tidak akan berhenti sebelum ia mati.
Jika monster ini sendirian mungkin tidak terlalu berbahaya tetapi ketika sudah berkelompok, lebih baik nghindari reka daripada lawannya.
Keempat orang ini mulai berlari dengan sekuat tenaga. Indra yang gemuk itu ndengus dingin dan sedikit tertinggal. Ketika dia noleh ke belakang, dia berteriak pada Randika. "Kak, reka ndekat!"
Randika noleh dan nyadari bahwa monster-monster itu benar-benar cepat, jarak reka sudah saling berdekatan.
nggertakan giginya, Randika berkata pada ketiga orang lainnya. "Larilah duluan, aku akan nghentikan reka!"
Randika berhenti dan natap sepuluh ekor lebih monster itu. Dia mbulatkan tekadnya dan nstimulus kekuatan misterius di dalam tubuhnya!
"Keluarlah!"
Bersamaan dengan raungan perang, kekuatan misterius itu mancarkan energinya dan nguasai tubuh Randika. Randika masuki mode Berserk!
"Kakak!" Indra berteriak dan berdiri di samping Randika. "Aku akan mbantumu."
Boneka ginseng itu lompat dan manjat pundak Inggrid, kemudian kedua perempuan itu dan boneka ginseng berlari ninggalkan Randika dan Indra.
lihat Indra dan Randika, kumpulan monster ini nerjang maju. Namun, tiba-tiba udara njadi berat dan tatapan mata Randika njadi dingin. Kekuatan misterius di dalam tubuhnya sudah nggila.
"Cepat pergi dari sini!"
Randika nembakkan tenaga dalamnya dengan kekuatan yang luap-luap!
Tekanan yang berat ini mbuat para monster sedikit tertekan dan berhenti bergerak. Serangan tenaga dalam Randika ini mbuat reka berpegangan erat dengan cakar yang nancap dalam. Tidak peduli seberapa kuat tenaga dalam Randika, reka tidak akan nyerah sebelum mati.
Ketika tenaga dalam Randika perlahan mudar, para monster ini kembali nerjang ke arah Randika satu per satu.
Sialan, monster-monster ini benar-benar repotkan!
Randika benar-benar heran dengan monster ini, sebenarnya makhluk apa reka?
Barusan Randika terlalu banyak makai energinya, kali ini dia benar-benar terluka. Bahkan dengan bantuan tetesan darah boneka ginseng dan pil obat dari kakek pertamanya, luka di tubuhnya itu masih belum sembuh sempurna. Dan sekarang, setelah makai kekuatan misteriusnya dengan ceroboh, dia justru nambah jumlah luka di dalam tubuhnya.
Dengan tangan kanannya, Randika nangkap ekor monster itu dan lemparnya kembali. Selama monster-monster itu ndatanginya, dia bisa nghadapinya satu per satu.
Tetapi Randika rasakan rasa sakit di lengannya. Salah satu monster barusan berhasil nancapkan cakarnya pada lengannya dan ninggalkan luka yang cukup dalam.
Sialan!
Randika kembali nangkap salah satu monster dan lemparnya dengan bantuan tenaga dalamnya. Suara tinju dari Indra yang ngenai monster juga dapat terdengar. Tetapi karena gerakan Indra yang lambat, para monster itu dapat mprediksi dan nghindar dari serangannya.
"Indra, kita mundur secara perlahan!"
Randika rasa bahwa monster ini pasti bagian dari kelompok yang lebih besar. Jika dia tidak mbunuhnya, reka akan terus ngejar dirinya dan Indra. Satu-satunya pilihan adalah mundur teratur sambil ngurangi jumlahnya.
Satu per satu monster berhasil Randika bunuh, tetapi setiap monster yang dia kalahkan ninggalkan sebuah luka di tubuhnya.
Indra yang lambat justru lebih parah lagi, dia yang sekarang sedang digigit oleh monster tersebut karena saking lambatnya dia berlari.
Pada saat ini, tiba-tiba seekor monster itu berhasil lewati reka dan berusaha ngejar Inggrid dan Maria.
"Tidak akan kubiarkan!"
Randika segera ngumpulkan tenaga dalamnya di kakinya, dia dengan cepat lompat dan nangkap monster tersebut yang sedang rayap di atas. Dalam satu hentakan, dia mbanting monster itu ke tanah dengan kekuatan yang luar biasa!
Di bawah, Indra berhasil lepaskan diri dan mbunuh monster yang nggigitnya. Bajunya sudah robek dan darah ngalir cukup deras.
Randika tidak bisa nghembuskan napas lega terlebih dahulu, serangan para monster ini masih berlanjut! Dia kembali nangkap salah satu monster yang ada di samping dan nghantamkannya ke tanah. Setelah itu, dia mberikan pukulan pamungkas yang mbunuh monster tersebut.
Setelah mundur secara teratur dan terus njaga jarak, Randika akhirnya berhasil mbunuh monster yang terakhir. Setelah mastikan tidak ada lagi yang bergerak, Randika nghembuskan napas lega.
Pada saat ini tubuhnya benar-benar banyak luka, Indra juga sama buruknya dengannya. Tetapi bagi Randika, luka internalnya lebih buruk daripada luka yang dialami oleh tubuhnya ini. Terlebih lagi dia makai mode Berserk sepanjang pertarungan tadi.
Ketika dia nenangkan diri, Randika samar-samar ndengar suara perut keroncongan itu lagi. Dia dengan cepat narik Indra dan lari. "Cepat kita sembunyi."
reka berlari ke arah Inggrid dan Maria, setelah beberapa nit berlari, akhirnya reka berempat kembali bersatu.
"Apa lukamu baik-baik saja?" Inggrid terlihat sangat cemas lihat tubuh Randika yang terluka itu.
"Tidak apa-apa, cuma luka kecil."
"Cepat, kita harus lari dari sini." Randika tiba-tiba nyadari bahwa suara perut keroncongan itu makin ndekat.
Keempat orang ini kembali berlari dan nemui sebuah persimpangan.
"Belok ke mana kita?" Inggrid bertanya dengan nada yang bingung.
Randika sendiri tidak tahu jalan mana yang aman, akhirnya dia milih jalur kanan. Namun, Randika mikirkan sebuah ide untuk ngelabui para monster ini. Setelah berlari ke arah kanan beberapa saat, Randika dengan cepat nyuruh reka bertiga berbalik dan ngambil jalur kiri yang tadi.
Ketika reka berlari, Randika berusaha sekuat tenaga untuk nutupi bau dari darahnya dan Indra dengan bantuan tenaga dalamnya. Dia khawatir bahwa sejauh apa pun dia lari, para monster itu bisa lacak reka dari bau darahnya.
Ketika para monster itu ncapai persimpangan, reka tidak tahu harus pergi ke arah mana karena reka tidak bisa ncium sama sekali. lihat darah ngarah ke kanan, reka dengan cepat berlari dan ngejar mangsa reka.
ndengar para monster itu njauhi reka, Randika nghembuskan napas lega. Pada saat ini, dia terlalu banyak makai tenaga dalamnya, kekuatan misteriusnya itu mulai mberontak.
Kali ini Randika benar-benar cemas dengan tubuhnya. Luka di tubuhnya itu masih belum sembuh dan sekarang ketambahan luka yang baru. skipun dia dan Indra ngalami luka akibat serangan monster tadi, ini semua tidak sepadan dengan luka internal yang dialaminya.
Bibir Randika sedikit pucat, boneka ginseng itu dengan cepat nghampirinya dan ngulurkan tangannya. Mulutnya terlihat sedikit nahan sakit dan dia ngeluarkan setetes darahnya.
Randika dengan cepat ngambil darah itu dan nelannya, dengan cepat energi lembut itu nyebar di dalam tubuhnya.
"Terima kasih."
skipun begitu, Randika rasa bahwa darah boneka ginseng ini masih tidak cukup. Efeknya tidak sebanyak sebelumnya, sepertinya lukanya kali ini benar-benar serius.
"Sebaiknya kita istirahat dulu." Kata Inggrid dengan wajah yang cemas.
Randika tidak mbalasnya, tetapi tiba-tiba, ada suara tertawa yang keras yang nggema.
"Sepertinya perjalananku ke Indonesia sangat tepat."
Ketika Randika lihat sosok orang tersebut, pupil matanya ngerut.
Bulan Kegelapan!
Reviews
All reviews (0)