"Oke, mari kita berkumpul dalam kelompok dulu." Inggrid miliki banyak pengalaman dalam rintah. Saat berkemah, pasti lebih baik mbagi tenaga dan bekerja sama, dan karena reka belum makan setelah turun dari pesawat, jadi untuk mpersingkat waktu lebih baik tugas dibagi-bagi.
"Aku akan nangkap ikan." Hannah terlihat bersemangat sambil ngangkat tangannya, gadis-gadis di sebelahnya juga tertawa bersama.
"Sekelompok orang ndirikan tenda, sekelompok orang ngumpulkan kayu bakar, sekelompok orang ngumpulkan sayuran dan tumbuhan liar, biarlah pemandu wisata ngikuti kalian, dan dia akan mberitahu apa yang bisa kita makan." Inggrid rintahkan.
Hasilnya, semua orang mulai bergerak dan antusias reka semua semakin ningkat.
Udara di hutan purba itu masih sangat segar, banyak pohon-pohon yang luar biasa indah di kejauhan sana, dan sungai yang luas di dekat reka. Air ngalir ke bawah dari kejauhan dan aliran airnya sangat deras.
Wow, ada banyak ikan di sini!" Hannah berkata dengan terkejut. Randika noleh, dia nyadari bahwa Hannah dan sekelompok gadis lainnya ngenakan celana panjang reka dan sedang berusaha nangkap ikan di sungai.
Namun, ski ada banyak ikan di dalam air, tak satu pun dari reka yang bisa nangkapnya. reka terlihat seperti sekelompok gadis yang ngulurkan tangan dan bermain air.
Randika tersenyum, nangkap ikan dengan tangan kosong itu terlalu sulit apalagi bagi sekelompok gadis ini.
Selain itu, ada beberapa orang yang ingin nangkap beberapa binatang liar untuk makan siang reka. lihat kelinci yang sedang berlari, seorang pegawai laki-laki segera ngejarnya sambil berlarian. "Dasar bajingan, jangan lari!"
Adegan ini nyebabkan orang-orang yang sedang ndirikan tenda tertawa.
Semuanya terasa sangat nyenangkan, Randika juga rasa senang dan santai. Nyatanya, kehidupan di pedesaan seperti ini benar-benar sangat bagus. Seorang penyair terkenal juga nuliskan kalimat ini: Aku punya rumah yang nghadap ke laut dan ke arah bunga yang kar di musim semi.
Suasana hati seperti ini benar-benar sangat indah, tetapi nurut Randika, tidak ada yang lebih indah daripada beberapa perempuan cantik yang nunggu di rumah, itulah keindahan yang sebenarnya.
Pemandangan yang indah dan para wanita yang cantik, benar-benar rumah idaman.
"Sialan, aku tidak bisa nangkapnya!" Hannah rasa tertekan di sana untuk beberapa saat. Dia ndongak dan lihat Randika yang sedang bersantai, dan dia berteriak. "Kak Randika, sini dan bantu aku nangkap ikannya."
Randika berbicara perlahan. "Han, apakah kau masih belum bisa nangkap ikannya?"
Hannah tersenyum dan nunjuk ikan di dalam air sungai. "Bukannya aku yang terlalu bodoh, tapi ikan-ikan ini yang terlalu licik."
Licik?
Gadis-gadis di sebelah Randika terkejut dan kemudian tertawa. Penggambaran kata sifat ini digunakan dengan baik, tetapi itu tidak seharusnya digunakan pada ikan.
Randika tertawa, dan pada saat ini, seorang gadis di sungai lihat sebuah benda persegi panjang yang berenang di air sungai tidak jauh dari reka.
ngapa benda ini terasa begitu familiar?
Gadis itu terdiam sejenak, mikirkan apa yang ada di pikirannya. Setelah sekian lama, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Saat lihatnya lagi, matanya mbelalak.
Itu adalah buaya yang luar biasa besar!
"Ada buaya!"
Gadis itu berteriak dengan panik. Gadis-gadis di dalam air terkejut dan buru-buru pergi ke daratan. Tetapi tiba-tiba, buaya itu muncul dari dalam air dan mbuka mulutnya lebar-lebar ke arah seorang perempuan dan berusaha mbawanya ke dalam air.
Para karyawan yang sedang ndirikan tenda pun ikut nyaksikan. reka lihat buaya itu keluar dari air dan reka semua hanya bisa terkejut.
"Awas!" Teriak beberapa karyawan ketika buaya hendak nggigit gadis itu.
Namun tiba-tiba muncul sesosok tubuh di sebelahnya, sosok itu ninju langsung ke rahang buaya dengan sekuat tenaga. Pukulan ini langsung nutup mulut besar buaya yang terbuka itu.
Buaya yang besar itu jatuh lagi ke air dan rcikkan air yang sangat besar.
Semua orang tercengang, orang ini begitu kuat, apakah dia benar-benar bisa ngalahkan buaya?
Siapa itu buaya? Itu adalah predator penguasa air. Jika seorang manusia nghadapinya, bukankah itu sama saja dengan ncari mati?
Saat ini, pemandu wisata baru saja kembali dengan staf yang ngumpulkan sayuran liar dan lihat pemandangan ini.
Pemandu wisata sangat terkejut, dan berteriak. "Jangan ndekatinya! Itu adalah buaya muara sungai, Ia sangat ganas. Cepat keluar dari sungai!"
Tapi Randika tersenyum sedikit. Sepertinya ini adalah makanan untuk malam ini. Lumayan, dia sudah lama dia tidak makan buaya. Dia bahkan tidak ingat apakah rasanya itu enak atau tidak.
"Han, hari ini kita akan makan daging buaya."
Randika tertawa, lalu lompat langsung ke sungai di bawah perhatian semua orang.
"Hei, apa yang dia lakukan?" Pemandu wisata itu terkejut, dan buru-buru berlari ke Randika dan berteriak. "Apakah kamu sudah gila? Cepat pergi, lawanmu itu adalah buaya!"
Yang lain juga rasa sedikit linglung. Kenapa Randika justru lompat ke dalam sungai?
Apa yang akan dia lakukan?
Pemandu wisata tersebut mandang Randika dan berdiri di pinggir sungai dengan panik, setengah tubuhnya sudah terendam air. Dan di dalam air, buaya tadi sudah berenang ke arah Randika lagi!
"Sudah berakhir!" Pemandu wisata itu sangat panik. Jika sampai berita kematian ini keluar, kredibilitasnya akan hancur. Dia tidak dapat lakukan pekerjaannya lagi di masa depan, ini semua gara-gara orang ini yang ncelakai dirinya sendiri.
Semua orang terlihat sedikit panik, beberapa ingin berteriak pada Randika untuk segera pergi, tetapi reka takut akan mbuat Randika panik.
Semua orang dapat lihat bahwa kecepatan buaya itu semakin cepat, tepat ketika jaraknya sudah dekat dengan Randika, buaya itu tiba-tiba muncul ke permukaan dan genangan penuh darah nyembul dari dalam air!
Pemandu wisata itu jelas tidak tahan untuk lihatnya lagi, dia berbalik dan nutup matanya. Orang ini pasti sedang dicabik-cabik oleh buaya itu. Dia hanya bisa nyalahkan dirinya karena tidak njelaskan situasi sungai ini sebelumnya.
Yang lain juga njerit, tapi kemudian reka lihat Randika ngulurkan tangannya untuk raih rahang atas dan bawah buaya di percikan air.
Ya, dia baru saja nangkapnya!
Semua orang tercengang. Bukankah ini sedikit tidak masuk akal?
Buaya itu juga terpana, ia lihat manusia di depannya dengan kedua matanya yang penuh dengan keraguan. Buaya ini sudah berada di sungai ini selama beberapa decade dan dia bahkan belum pernah bertemu orang gila seperti ini.
Manusia ini bisa mblokir gigitan pertamanya, lumayan hebat! Coba lihat apakah dia bisa mblokir gigitan kedua.
Buaya itu mulai nggigit!
Buaya itu ngerahkan seluruh tenaganya pada rahang atas dan bawahnya, dan gigi raksasa itu seakan-akan berusaha nggigit Randika hingga berkeping-keping. Namun, detik berikutnya, buaya tersebut nyeadari bahwa rahangnya sepertinya tidak bisa bergerak.
Ini, ini, mungkin saja dia tidak ngerahkan seluruh kekuatannya, ia berusaha nggigit lagi!
Buaya itu ngerahkan tenaganya lagi, tapi dia tetap tidak bergerak.
Buaya itu tidak nyangka akan lihat makhluk yang begitu kuat dalam hidupnya, tapi manusia ini tidak bisa bertahan dari serangan gigitannya yang berikutnya!
Kali ini, buaya itu mulai mutar tubuhnya dengan panik, dan ekornya berkibar tanpa arah, ncipratkan air ke segala arah, dan air itu langsung nuju ke darat, ngenai beberapa orang.
Namun, Randika masih gangi rahang buaya itu dengan kuat. Tidak peduli seberapa keras buaya itu berjuang, Randika tidak pernah bergerak.
Sial!
Semua orang yang nonton sangat tercengang. Ini adalah kekuatan yang tidak masuk akal.
Pemandu wisata rasa ada yang tidak beres, kenapa si korban tidak berteriak setelah sekian lama? Saat lihat ke sungai, dia juga kaget.
Apa? Kenapa situasinya sangat berbeda dari yang dia harapkan?
Air sungai terus nerus bermuncratan dan Randika dengan kuat lempar tubuh buaya itu. Tubuh besar itu tiba-tiba ditarik keluar dari air dan layang ke udara, kemudian terjatuh di atas air.
"Boom!"
Percikan yang lebih besar terciprat, tapi orang-orang masih rasa kebingungan.
Sepertinya, barusan, Randika ngangkat buaya itu.
Randika ncengkeram kedua rahang buaya itu, kemudian ngguncangnya dengan kencang, dan akhirnya mbantingnya langsung ke tepi sungai, namun daya juang buaya itu luar biasa, dia mutar tubuhnya dan berenang ke dalam air lagi dan nuju ke arah Randika.
Apakah buaya itu akan kehilangan dominasinya hari ini? Tak terbayangkan, benar-benar tak bisa dibayangkan.
Kemudian, orang-orang di darat dan pemandu wisata lihat satu orang dan satu buaya berkelahi dengan penuh semangat di sungai, rcikkan air, dan percikannya luar biasa.
Rasanya seperti sebuah pertempuran yang sangat sengit.
Randika bertarung dengan buaya?
Yah, ski itu terasa aneh, tapi itu penggambaran yang sangat cocok atas situasinya.
Namun, rasanya Randika terlihat sedang nyiksa si buaya. Tidak peduli bagaimana buaya itu lompat, Randika selalu bisa nangkapnya dengan mudah dan kemudian dengan keras mbanting buaya itu.
Pemandu wisata njadi mati rasa, orang ini bahkan lebih ganas dari buaya! Sial, dia sangat nakutkan.
Setelah beberapa saat, Randika rasa seperti sedang bermain dengan anak kecil. Dia lalu nangkap buaya tersebut dan lemparkannya ke tanah, nghantamkannya dengan keras, dan berusaha mbanting buaya tersebut hingga mati.
Tragis sekali. Kehidupan buaya itu akan segera berakhir di sini. Mungkin Randika akan njadikan kulit buaya itu sebagai sepatu atau sabuk. ngapa hidup buaya itu bisa begitu pahit?
"Brakk"
Buaya itu jatuh ke tanah dan Randika ngikutinya. Dia langsung ngangkat tinjunya dan mbantingkannya ke arah buaya.
Terdengar suara keras "Plakk Plakk", dan buaya itu tidak bisa nahannya lagi.
Buaya itu akhirnya mati, Randika benar-benar sangat kuat.
Randika nepukkan kedua tangannya dan berdiri, ketika dia lihat ke atas, dia nyadari bahwa semua orang natapnya dengan tatapan kosong.
"Apa yang kalian lihat?" Randika bingung.
"Ah, bukan apa-apa, hei, cepat pasang tendanya!" Semua orang cepat-cepat mbuang muka.
"Sepertinya kayu bakarnya masih kurang, ayo kita cari kayu bakar lagi."
Pada saat ini, kekuatan yang ngerikan Randika nembus ke dalam hati semua orang, dan bahkan pemandu wisata itu tidak bisa nahannya ketika dia lihat buaya yang besar itu mati.
Namun Randika dengan senang hati nyeret buaya tersebut ke sungai, lalu mulai ngulitinya. Dia rasa bahwa daging buaya ini pasti enak, dia tidak sabar untuk makannya. Ini adalah hidangan yang langka, jadi tidak boleh disia-siakan.
Hannah dan semua gadis lainnya sudah pergi ninggalkan sungai, bagaimanapun juga, adegan pengulitan ini sedikit berdarah.
Reviews
All reviews (0)