Font Size
15px

Setelah mbunuh buaya itu, Randika juga berperan njadi juru masak, dan mulai masak bersama beberapa orang lain.

Untuk piknik ini, semua orang sudah mbawa peralatan yang lengkap, bahkan panci yang digunakan untuk masak, spatula, wajan, dan lainnya, bahkan beberapa bumbu.

Randika juga sempat tertegun sejenak. Sepertinya ini sudah dibeli saat reka istirahat di hotel. Hal ini mbuat dirinya rasa adalah sekumpulan pecinta kuliner yang sedang bertamasya.

Selain itu, banyak bahan yang dibawa oleh setiap orang. Ikan-ikan yang ditangkap di sungai sangat beragam, serta beberapa hewan buruan dan sayuran liar di hutan purba itu.

Tentu saja, ikan dan hewan buruan itu ditangkap dengan bantuan Randika. Jika tidak, bahkan jika reka ncoba nangkapnya selama sehari penuh, mungkin reka tidak akan bisa nangkapnya.

Langit berangsur-angsur redup, tetapi semua orang njadi semakin bersemangat. Tenda telah didirikan, semua orang telah milih tenda reka masing-masing. Sekarang semua orang duduk bersama di luar tenda, nonton daging yang sedang dipanggang, bau makanan yang harum di wajan, dan sup sayuran liar sedang direbus di atas arang api.

Selain itu, Randika juga nangkap burung rpati. Seseorang nyarankan agar dia ngulitinya sesuai dengan tode nguliti burung rpati.

Semua orang juga njadi tertarik dengan usul ini, yaitu nguliti burung tersebut terlebih dahulu lalu burung itu dikupas dari bulunya, kemudian dibungkus dengan lumpur. Setelah itu, burung yang terbungkus di dalam lumpur itu dimasak dalam bara api.

"Ayo buat pesta api unggun."

Seorang gadis tiba-tiba nyarankan.

"Ide bagus!" Yang lain juga tertawa.

Berkat hal itu, semua orang nyalakan kayu bakar lagi, lalu nyiramkan minyak tanah, dan mbakar kayu itu dengan sangat dahsyat. Lagipula, ini adalah hutan purba, ada sangat banyak kayu bakar, sehingga api unggun bisa nyala dengan sangat kuat.

Di saat yang sama, aroma masakan itu semakin kuat. Mungkin karena suasananya, rasanya jauh lebih enak daripada makanan yang ada di kota.

Bagaimanapun juga, ini adalah makanan yang dimakan di alam liar.

"Aku tidak bisa nahannya lagi." Seorang rekan laki-laki mandang kelinci panggang berwarna coklat keemasan itu dan ingin ngulurkan tangan untuk narik sepotong daging.

"Hei, itu belum matang! Kalau kamu sakit perut bagaimana?" Seorang gadis di sebelahnya nampar tangan pria tersebut. Perempuan itu ngambil lada dan rempah-rempah lain yang telah dia siapkan, dan naburkannya langsung di atas daging bakar tersebut.

Setelah bumbu itu ditaburkan, daging kelinci segera ngeluarkan harum yang luar biasa.

Bersamaan dengan itu, daging buaya bakar dan daging buaya gorengnya juga ngeluarkan wangi.

Semua orang rasa lapar. reka belum makan sejak reka turun dari pesawat, dan sekarang reka hanya bisa lihat betapa nggiurkannya makanan ini.

Randika tersenyum sedikit: "Jangan khawatir, tunggu sebentar."

Randika duduk di samping dan mbalik daging buaya itu, nambahkan bumbu di atasnya dari waktu ke waktu.

"Kak, bisakah daging ini dimakan?" Randika cukup terkejut, dia tidak tahu kapan Hannah muncul di belakangnya. Ketika Hannah lihat daging buaya itu, wajahnya bercampur dengan rasa ingin tahu dan jijik.

Ini adalah daging buaya, apakah ini benar-benar bisa dimakan?

"Jangan khawatir, kamu akan tahu saat aku mberimu sedikit daging ini." Randika tertawa.

Tidak butuh waktu lama, akhirnya orang-orang yang bertugas untuk masak akhirnya ngatakan dagingnya sudah matang. Tiba-tiba para karyawan lainnya langsung bergegas seperti serigala. reka semua sudah sangat lapar.

Randika baru saja selesai manggang daging buayanya, tiba-tiba, dia nemukan bahwa banyak tangan yang telah diulurkan ke arah daging buayanya, dan ketika dia berkedip lagi, dia nemukan bahwa daging itu telah hilang.

Randika tercengang, ini benar-benar luar biasa! Apakah kecepatan tangan reka ini lebih cepat darinya?

Dengan senyum yang masam, Randika nggelengkan kepalanya. Dia benar-benar rehkan potensi orang yang sedang ngalami krisis.

Tidak ada jalan lain, Randika hanya bisa manggang lagi. Sedangkan orang-orang yang lainnya tangannya masih berminyak dan berkilau.

"Ya Tuhan, ini sangat enak."

"Keahlian masak pak Randika benar-benar luar biasa. Aku rasa bahwa aku bisa nghabiskan daging itu semua sendirian. Siapa pun yang nikahi pak Randika di masa depan, dia pasti akan njadi sangat beruntung." Wajah gadis muda itu rah.

"Hei, kamu baru saja ngambil jatah dagingku! Apakah kamu ngatakan bahwa kamu miliki hati nurani dan rasa bersalah sehingga kamu akan mberikan sup itu?"

"Sialan, kamu juga sudah makan banyak! Sekarang kamu ingin rebut supku?" Perempuan iu mutar matanya, reka berdua biasanya adalah teman baik, tetapi di hadapan makanan enak, sifat tidak mau ngalah reka keluar bersamaan.

"Oh iya, masih ada ayam!" Entah siapa yang berteriak.

"Ya, ayo cepat dimasak!"

Jadi, sekelompok pecinta kuliner yang berubah njadi serigala lapar itu ngeluarkan sebuah kantong plastik, naruhnya di tanah, dan segera ngeluarkan daging ayam di dalamnya, dan ayam di dalamnya tiba-tiba terlihat.

"Beri aku pahanya." Sebuah tangan terulur.

"Beri aku pahanya." Tangan satunya terulur.

"Uh, berikan aku sayap ayam itu."

"Cepat beri aku ayamnya."

Tangan yang tak terhitung jumlahnya terulur, beberapa gadis hanya bisa terdiam. Pada saat ini, sebuah tangan yang lain terulur, dan kemudian dengan suara lemah. "Beri aku pantat ayam."

Gadis itu tertawa "Haha! Oke, sebentar, aku akan mberimu pantat ayam."

Randika masih asyik manggang daging buayanya. Lagipula, daging buayanya masih sangat banyak. Saking banyaknya, sepertinya reka tidak akan bisa nghabiskannya malam ini. ski ini terasa sedikit aneh, tetapi pemandu wisata itu sangat nyukai daging buaya dan ingin mbeli sisanya.

Randika dengan senang hati mberikan dagingnya ini pada si pemandu wisata.

Pemandu wisata itu kemudian pulang dengan gembira. Rumahnya sangat dekat dengan tempat reka berkemah. Dia masih harus pulang dan dia akan kembali besok pagi.

Tidak butuh waktu lama bagi daging buaya batch kedua Randika untuk selesai dipanggang, dan para pecinta kuliner itu hampir siap nyantapnya kembali. Beberapa orang sangat nyayangkan bahwa reka sudah kenyang, reka sebenarnya ingin makan lebih banyak lagi.

"Ayo, Hannah, coba rasakan." Randika mberikan sepotong daging buaya dan nyerahkannya pada Hannah.

Hannah ncicipinya, dan matanya berbinar. Daging buaya itu kenyal, lezat, dan beraroma sangat harum.

"Kak, tambah!" Hannah berjongkok di samping Randika.

"Enak?" Randika tertawa dan mberikan daging buayanya lagi ke Hannah.

Pada saat yang sama, Indra juga berada di samping, dia gang daging buayanya sambil terus nggigit. Karena enak, dia makan beberapa potong.

Orang-orang ini makan dengan perlahan di sekitar api unggun dan ngobrol bersama dengan gembira. reka juga ngambil beberapa foto dari waktu ke waktu, dan ketika reka kembali nanti, reka akan miliki sebuah kenangan.

Semua orang ngobrol, dan pada akhirnya reka nari di sekitar api unggun, dan reka juga nyuruh Randika nyanyikan beberapa lagu. Penampilan Randika saat di bus pagi ini luar biasa.

Randika juga ngeluarkan suaranya beberapa kali, semua jenis lagu dimainkan, dan ada alunan musik di antara reka.

Di malam yang tenang ini, suara Randika bergema.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 413: Makan dan Bergembira on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.