Font Size
15px

Ketika semua orang di kuil ini ketakutan sambil gang senjata reka dengan erat, sosok Randika masih nghilang bagaikan ditelan oleh bumi.

Saat salah satu dari reka noleh, reka lihat sosok Randika tiba-tiba muncul di depannya.

DRRRTTT!

Dalam sekejap dia nembakkan seluruh magasinnya. Setelah seluruh peluru ditembakkan, dia baru nyadari bahwa moncong senjatanya sudah bengkok dan ngarah pada dirinya.

Darah langsung ngalir dari dalam mulutnya, matanya seolah-olah tidak mpercayai apa yang terjadi. Saat kenangan-kenangan hidupnya lintas di matanya, dia sudah dilempar oleh Randika dan ngenai temannya yang lain.

Para pembunuh ini miliki senjata tetapi reka rasa bahwa peluru reka ini tidak berguna sama sekali. Apakah lawannya ini adalah hantu?

Salah satu dari reka berteriak kembali, artinya satu orang lagi telah mati di tangan Randika. Bagaikan dewa kematian, dia manen nyawa reka satu per satu.

Sampai sekarang ini, reka tidak tahu di mana Randika berada.

Keringat dingin mulai ngalir deras di dahi dan punggung reka. Selama misi reka sejauh ini, reka belum pernah nemui orang sengerikan ini.

Salah satu pembunuh ini miliki wajah seorang preman yang bengis, namun sekarang wajahnya bagaikan anak kecil yang nangis. Dia nelan air liurnya ketika lihat sebuah bayangan lintas di depannya. Senjata yang berada di tangannya segera ngikuti bayangan tersebut, namun ketika dia noleh dia lihat leher temannya telah patah dan nghadap ke arah yang salah.

Ketika dia ingin berteriak, sosok bayangan tersebut berada di depannya. Dia hanya rasakan hembusan angin yang kuat dan detik berikutnya lehernya sudah patah!

Sisa-sisa dari pembunuh bayaran yang lain langsung dibunuh oleh Randika dalam hitungan detik.

Randika sekarang natap pada sisa orang yang sedang berlari sambil nggendong Tom di kejauhan, matanya berubah njadi tajam. Pada saat ini, dia kembali rasakan rasa bahaya.

Para penembak jitu di hutan sudah kembali mbidik Randika.

Randika tidak bergerak, namun pada saat ini, dia rasa bahwa jantungnya itu berdebar dengan kencang, dia juga dapat rasakan bahwa tenaga di dalam tubuhnya mulai terhisap keluar dari tubuhnya.

Sepertinya dia mulai ncapai batasnya.

Namun, apakah dia rela lepaskan Tom?

Tentu saja tidak!

Mata Randika najam, dia maksa kekuatan misteriusnya itu bekerja sekali lagi. Bagaikan singa yang turun dari singgsananya, dia ngejar Tom dengan kekuatan penuh!

Para penembak jitu itu juga nekan pelatuk reka, peluru-peluru reka dengan akurat ngikuti Randika. Ketika Randika nghindar ke kiri dengan cara lompat, 5 penembak jitu itu langsung nembakan dan nutupi jalur ndarat Randika.

Namun, reka tidak nyadari bahwa Randika gang sebuah pistol. Randika berbalik dan nembakkan 2 peluru dan berhasil ndarat dengan selamat.

Rupanya 2 peluru yang dia tembak itu bertabrakan dengan 2 peluru penembak jitu!

Para penembak jitu itu nyadari gerakan ini, hati reka rasa ngeri. reka tidak pernah lawan orang sekuat ini sebelumnya, bahkan reka tidak tahu bahwa orang bisa nembak tepat pada peluru yang sudah ada di tengah udara.

Apa yang reka lakukan berikutnya adalah nembak terus nerus. Peluru demi peluru keluar dari senapan reka dan nuju Randika.

Pistol yang dibawa Randika itu tidak miliki akurasi yang baik jika ditembakkan untuk jarak jauh jadi dia hanya bisa bertahan dan tidak bisa nyerang reka.

DOR! DOR! DOR!

Hujan peluru itu masih ngikuti Randika. Ketika Randika semakin ndekati Tom, rasa bahaya di hatinya masih belum hilang, bahkan jauh lebih kuat lagi!

Randika mau tidak mau berbalik dan natap ke arah hutan, dia berusaha ncari sumber dari kegelisahannya ini. Namun pada saat ini, tiba-tiba sosok Tom telah nghilang!

Pada saat Randika nyadari ini, rasa bahaya yang nggenang di hatinya juga ikut nghilang.

Randika tidak miliki ekspresi apa-apa di wajahnya, tetapi matanya terus natap para penembak jitu di atas. Tentu saja, ada orang lain yang mbantu Tom. Kalau saja tidak ada pihak ketiga ini, Tom sudah pasti mati!

Dalam sekejap, Randika berlari nuju lokasi para penembak jitu itu. Kecepatannya benar-benar cepat, tetapi ketika dia sampai, sebuah helikopter sudah terbang tinggi di atasnya.

Wajah Randika tenggelam. Ketika dia berusaha ncari petunjuk di lokasi para penembak jitu itu, dia nyadari ada sebuah nama yang ditulis di sebuah batang pohon dengan darah.

ANNA!

Lagi-lagi perempuan satu itu!

Ketika Randika lihat nama itu, darahnya ndidih dan kemarahannya muncak.

Randika kemungkinan besar dapat lihat apa yang telah terjadi. Sepertinya Anna nghubungi Tom dan njelaskan semuanya ketika dia kabur dari Indonesia. Dengan kata lain, kedua saudara ini saling bekerja sama untuk nghabisi dirinya.

Apa pun yang terjadi, Tom dan Anna harus mati!

rasa tidak ada apa-apa lagi, Randika berjalan kembali nuju kuil. Terlebih lagi, mode Berserknya sudah hampir habis, sebentar lagi tidak akan ada yang lindungi dirinya dan pisau yang nancap di dadanya.

Tenaga dalam Randika juga layang keluar dari tubuhnya, pisau itu terus mbuat dirinya semakin lemah.

Di depan kuil, banyak mayat yang bergeletakan. Ketika lihat Hannah yang tak sadarkan diri, Randika tidak makai ekspresi sama sekali.

Namun pada saat ini, tidak jauh dari tempatnya berdiri, dia bisa ndengar suara teriakan. "Tuan, tuan!"

Suara pasukannya!

Hati Randika terasa lega, seluruh tubuhnya njadi rileks. Namun karena saking rileksnya, rasa sakit dan capek langsung nguasai dirinya.

DUAK!

Randika dalam sekejap telah pingsan dan pisau itu masih nancap di dadanya.

Namun di tengah kesadarannya itu, dia dapat ndengar suara Dion. "Tuan, bertahanlah! Cepat siapkan mobil, kita harus mbawa tuan ke rumah sakit!"

.....

Ketika dia mbuka matanya, Randika rasa bahwa dia sedang tidur di atas ranjang dan suara roda dapat terdengar dengan jelas. Di sekitarnya banyak orang berjubah putih ngelilingi dirinya.

"Siapkan ruang operasi sekarang! Hubungi keluarga dari pasien!"

Tidak lama setelah itu, cahaya lampu yang terang nghalangi pemandangannya.

"Sarung tangan!"

"Gunting!"

"Siapkan obat bius!"

Satu per satu perintah dilayangkan oleh dokter yang nangani operasi ini, para perawat dan dokter pembantu mberikannya semua alat yang dibutuhkan.

Lampu ruang operasi telah nyala, selama periode ini, Hannah sudah sadar dan racun di dalam tubuhnya sudah nghilang. Ketika dia bangun, dia ndengar seluruh cerita dari temannya dan terkejut bukan main.

reka ngatakan bahwa dia nusuk kakak iparnya?

Ketika diceritakan, Hannah tertawa keras karena rasa dirinya ditipu. Tapi teman-temannya yang lihat kejadian itu tidak tertawa, wajah reka benar-benar serius.

lihat wajah teman-temannya itu, Hannah langsung ncengkeram erat perawat yang ada di sampingnya dan bertanya dengan nada yang buru-buru. "Di mana kak Randika? Apa kak Randika baik-baik saja?"

"Siapa kak Randika itu?" Setelah ndengar penjelasannya, perawat ini nyadari siapa yang dimaksud Hannah. "Kakak iparmu ada di ruang operasi."

Ruang operasi?

Dengan wajah datar, Hannah langsung keluar dari tempat tidurnya dan berlari sekuat tenaga ke ruang operasi.

Pada saat yang sama, Inggrid ndapatkan kabar ngenai Randika dan langsung nuju rumah sakit.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 395: Musuh yang Berhasil Kabur on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Became The Academy Necromancer cover
Similar genre

I Became The Academy Necromancer

172 ·Harem

Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’ll...Readmore Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’llsaveyou.Col...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.