Ketika Randika sampai di rumah, Hannah dkk mulai ninggalkan daerah kota Cendrawasih. Sekarang reka nuju kaki Gunung Batu Hata.
Pada jaman dahulu, pusat agama Buddha di daerah kota Cendrawasih berpusat di kaki gunung tersebut. Tetapi seiring berkembangnya kota Cendrawasih, kuil tersebut mulai ditinggalkan karena terlalu jauh sehingga kurang nyaman untuk ditempati.
Selain para turis yang ndatangi tempat tersebut pada hari sabtu dan minggu, pada dasarnya tidak ada orang sama sekali ketika hari senin-jumat.
"Kita sampai!"
Roberto keluar dari bis pertama kali, teman-temannya ngikutinya dari belakang.
"Wah, udaranya segar sekali!" Seseorang nghirup udara dalam-dalam.
"Hahaha tentu saja, kita kan dekat dengan gunung!" Temannya tertawa.
"Tempat kita istirahat dekat dengan kuilnya, ayo kita jalan." Kata Roberto.
"Baiklah!"
Semua orang mulai bersemangat, Roberto mimpin reka semua dengan berjalan di paling depan. Namun, orang-orang tidak bisa lihat senyuman tajam yang sedang dia buat ketika mbawa reka ke kedalaman hutan.
........
"Sayangku!" Karena hari ini adalah hari sabtu, Inggrid sedang santai-santai duduk di sofa. Randika dengan cepat nghampirinya dan luknya dari belakang.
Ketika Inggrid ngangkat kepalanya, dia cukup terkejut ketika lihat sosok Randika. "Bukannya kamu hari ini pergi sama Hannah?"
Randika dengan cepat duduk di samping Inggrid, dia langsung rangkul pinggang ramping milik istrinya itu. Keempukan dari dadanya mulai manggil-manggil Randika secara tersembunyi.
"Aku tidak jadi ikut, aku hari ini cuma ingin mastikan keselamatan Hannah saja." Randika bisa rasakan empuknya dada Inggrid yang ngenai tangannya. "Karena aku sudah mastikan dia baik-baik saja, aku tidak perlu nemaninya lagi."
Inggrid tidak peduli dengan tangan nakal Randika ini. Justru dia terlihat bingung dan langsung bertanya. "mangnya ada apa dengan Hannah?"
"Sudah tidak apa-apa." Randika tersenyum lebar. "Aku hanya terlalu paranoid saja, semuanya sudah terkendali. Omong-omong, di mana Ibu Ipah?"
"Ibu Ipah lagi pergi belanja." Inggrid ngerutkan dahinya. "Kenapa kamu tiba-tiba ncarinya?"
"Masa kamu tidak tahu?" Randika tersenyum nakal. Dengan sedikit kekuatan, dia nindih Inggrid di atas sofa.
"Kamu ini ya." skipun terlihat enggan, desahan erotis tetap keluar dari mulut Inggrid ketika Randika mulai bermain dengan tubuhnya. Perlahan namun pasti, keduanya mulai lepas baju reka.
Kebetulan tidak ada orang di sini, Randika ingin bermain di ruang tamu!
Randika dengan cepat mbuka baju Inggrid. Sekarang, hanya pakaian dalam Inggrid yang nghalangi pemandangan cantik dan indah. Samar-samar, dia bisa lihat warna pink yang hampir nyembul keluar dari dalam beha.
Randika nelan air liurnya, ketika dia hendak mbuka 2 keajaiban dunia itu, HPnya tiba-tiba bunyi.
Sialan!
Randika terbeku dalam sekejap, siapa yang tiba-tiba neleponnya di saat-saat nggairahkan seperti ini?
Awalnya Randika ingin cuek dan tidak ngangkatnya, tetapi Inggrid marahinya.
Tidak ada pilihan, Randika akhirnya mutuskan untuk nerima teleponnya. Tiba-tiba, suara dari bawahannya terdengar cukup lantang. "Tuan, kami nemukan beberapa informasi."
Ketika ndengar suara ini, wajah Randika berubah njadi serius dan berdiri tegak. "Apa yang kamu temukan?"
"Ada dua informasi yang penting. Pertama, Roberto datang ke Indonesia untuk program pertukaran pelajar. Sebelum pendaftaran itu dibuka, dia sudah berada di Indonesia sebulan sebelumnya dan dia sendiri yang ngisi formulir pendaftaran pertukaran mahasiswa itu tanpa seijin kampusnya."
Pada saat ini, kerutan dahi Randika mulai ngeras. Lalu bawahannya itu kembali berkata. "Yang kedua, kami ndapatkan informasi ngenai identitas asli Roberto. Rupanya dia bukanlah anak kandung dari Carlos, sepertinya dia adalah anak angkat. Tetapi anehnya, kami sama sekali tidak dapat nemukan informasi ngenai Roberto di atas 5 tahun yang lalu. Seakan-akan nama Roberto itu lahir 5 tahun yang lalu.
ngikuti petunjuk ini, kami nyelidiki lebih dalam lagi ngenai identitasnya. Sepertinya sebelum berganti nama njadi Roberto, dia adalah Tom yang lahir di Indonesia. Dia lahir di Jakarta di sebuah keluarga bernama Alfred."
Keluarga Alfred dari Jakarta?
"Apa kamu yakin dengan informasi ini?!" pupil mata Randika ngecil dalam sekejap.
"Tuan, informasi ini benar-benar dapat dipercaya, kami juga mastikannya 3x. Kami juga ndapatkan foto dari Tom sebelum berganti nama njadi Roberto. Saya akan kirim via email."
Randika benar-benar terkejut dengan informasi ini, dia tidak nyangka bahwa Roberto adalah anak dari keluarga Alfred!
Dalam sekejap otak Randika berputar dengan cepat. Jika Roberto adalah Tom dari keluarga Alfred, maka tamasya kali ini adalah jebakan dan Hannah benar-benar dalam bahaya!
Sialan!
Tidak ada waktu lagi untuk njelaskan, Randika segera makai bajunya dan lari keluar dari rumah. Tempat tamasya reka cukup jauh, seharusnya dia bisa datang tepat waktu.
Pada saat yang sama, Randika rika emailnya. Ketika dia lihat informasi tersebut, wajahnya berubah njadi buruk.
Isi email ini sangat jelas. Di sana dia bisa mbaca profil Tom, nghilangnya dia dari Indonesia, dan tidak ada kabar lagi ngenai dirinya sejak itu.
"Tom, penyamaranmu benar-benar luar biasa!" Randika rasakan hatinya bertambah dingin. Dia rasa kesal karena dia lengah di detik-detik terakhir.
Pada akhirnya, Roberto hanyalah sebuah samaran yang dia buat.
Randika kembali natap emailnya, sekarang dia sedang lihat foto Tom yang dulu. Foto tersebut mperlihatkan sosok Tom yang sangat dingin. Tatapan matanya yang mati nunjukkan bahwa dia mirip seperti seorang psikopat.
Ketika Randika lihat foto ini, hatinya makin tenggelam!
Dia sekarang tahu kenapa dia rasa familier dengan wajah Roberto.
Karena mang wajahnya ini dia pernah lihatnya. Wajahnya itu benar-benar mirip dengan Hans yang telah dia bunuh sebelumnya.
skipun tidak sama, tatapan mata reka masih mbuktikkan bahwa reka bersaudara.
Dengan kata lain, pembunuh abnormal yang ditemui kemarin sudah jelas adalah dia. Tidak heran kenapa pembunuh kemarin itu bisa ngenal dirinya dan mancarkan aura kebencian yang begitu ndalam.
Tetapi yang njadi pertanyaannya adalah kenapa tangannya itu tidak apa-apa? Bukankah dia berhasil lukainya kemarin? Setelah dipikir-pikir, ketika dia gang tangan Tom, tangannya itu benar-benar lembut. Apakah dia makai sebuah sarung tangan sintetis untuk nyembunyikan lukanya? Penjelasan ini cukup masuk akal.
Setelah nyusun semua puzzle ini, Randika akhirnya nyadari kenapa Tom bisa muncul di Cendrawasih sebulan lebih cepat.
Karena bulan lalu, tragedi keluarga Alfred telah terjadi di Jakarta dan Randika nghabisi para tetua dan anggota keluarga Alfred tanpa ampun!
Ketika berita ini ncapai telinga Tom, dia segera kembali ke Indonesia dan mulai nyusun rencana untuk balas dendam!
Dan tentu saja, mbuat Randika nderita adalah tujuan utamanya. Hannah njadi target terbaik baginya untuk ngawali kisah balas dendamnya.
mikirkan hal ini, Randika benar-benar rasa ngeri. Dibandingkan dengan Hans, sepertinya orang ini jauh lebih berbahaya dan lebih gila.
Sialan, seharusnya dia tidak ninggalkan Hannah!
Randika benar-benar marah pada dirinya sendiri, hatinya sudah ngepal dengan kuat.
nekan perasaan frustasi ini, Randika dengan cepat nghubungi pasukannya yang ada di Cendrawasih. Dia nyuruh reka untuk datang ke lokasi segera mungkin.
Setelah itu, Randika natap sebuah mobil yang terparkir diam. Dengan cepat dia cahkan jendelanya dan duduk di dalam.
Mobil itu dengan cepat nyala, dan tanpa berkata apa-apa, Randika dengan cepat laju nuju tempat Hannah berada.
Reviews
All reviews (0)