Teman-temannya Hannah ini tidak nyadari perubahan yang telah terjadi pada truk tersebut. reka ngobrol dengan santai ketika sebuah pipa mulai jatuh. Namun, seseorang nyadari hal tersebut dan nunjuk ke arah pipa yang tidak jauh dari reka itu, tetapi tidak ada suara yang keluar karena saking takutnya.
Pipa-pipa besar ini bisa mbunuh reka dengan mudah apabila ngenai reka.
Ketika para pejalan kaki di seberang lihat hal ini, reka jelas terkejut. Apa yang telah terjadi?
"Awas!"
Roberto adalah orang yang pertama berteriak dan bereaksi. Semuanya segera ngangkat kepala reka dan nyadari bahwa pipa-pipa tersebut mulai bergelinding ke arah reka.
"Lari!"
"Han, cepat lari!" Stella narik Hannah dan berusaha bersembunyi di balik pohon, sentara beberapa temannya hanya berdiri karena saking takutnya.
Orang-orang yang lihat reka juga ketakutan, masalah ini nyangkut hidup dan mati seseorang.
Dengan banyaknya pipa yang bergelinding, mana mungkin reka bisa bersembunyi?
Roberto tidak berdaya sama sekali, teriakannya itu terlalu terlambat. Jarak reka dengan pipa-pipa tersebut hanyalah 50 ter, mustahil reka bisa bereaksi tepat waktu.
"Habis sudah reka!" Orang-orang sudah nutup mata reka, sebentar lagi para pemuda itu pasti mati semua!
nghadapi puluhan pipa besar ini, sesosok orang berdiri di paling depan.
Semua orang bertanya-tanya, ngapa Randika bukannya bersembunyi tetapi malah maju ke depan? Dia justru terlihat nantang pipa-pipa itu!
Para pejalan kaki ini kebingungan, apa pria itu sudah gila?
Tetapi detik berikutnya, mata reka terbelalak hingga hampir copot.
reka lihat tragedi yang seharusnya terjadi justru berubah njadi keajaiban dunia. Seperti di film-film, pipa-pipa besar itu dihentikan oleh satu kaki Randika sehingga kehilangan montum kecepatannya.
Pipa-pipa tersebut dipaksa berhenti oleh tenaga dalam Randika yang seluas lautan tersebut.
Adegan ini mbuat semua orang terkejut!
Apa orang ini masih manusia?
Di saat orang-orang ini terpukau, pipa-pipa tersebut mulai berhenti satu demi satu. Randika sendiri tidak tampak kesusahan, wajahnya benar-benar terlihat santai.
lihat pertunjukan Randika, Roberto dkk hanya bisa longo. reka tidak pernah tahu manusia bisa lakukan hal nakjubkan seperti itu.
Sekarang dari terpukau, orang-orang mulai ketakutan.
Kekuatannya ini jelas nandakan dia bukan manusia bukan?
Orang-orang mulai lihat pipa yang beristirahat dengan tenang, padahal sebelumnya reka berguling cukup cepat.
Teman-teman Hannah juga mulai bertanya-tanya, apakah kakak iparnya temannya ini masih manusia?
Atau jangan-jangan dia superhero?
Tatapan mata Stella berbinar-binar, dia ngingat-ingat kejadian di mall kapan hari. Bukankah Randika juga sama bersinarnya dengan sekarang?
Wajah tersenyum Hannah sudah diisi dengan kebanggaan yang tak terhingga, hal seperti ini cukup mudah bagi kakak iparnya. Apa itu pipa? Bukankah itu semacam sedotan raksasa?
Akhirnya Randika berhasil nghentikan semua pipa yang terjatuh tersebut. Setelah mastikan semua aman, Randika dengan santai berjalan kembali ke kelompoknya sambil mbersihkan bajunya.
reka semua masih terheran-heran, tidak ada satupun yang bereaksi. Namun, salah satu dari reka mulai bertepuk tangan dan sorakan demi sorakan mulai terdengar.
Yang bersorak adalah orang-orang di jalan, teman-teman Hannah dan para mahasiswa yang baru saja keluar dari gedung sekolah.
Jika bukan karena Randika, kejadian ini pasti makan korban jiwa. Dapat dikatakan bahwa Randika adalah penyelamat reka.
Pada saat yang sama, supir truk itu berlari ke arah reka dengan wajah super panik. Dia benar-benar rasa lega karena tidak ada orang yang terluka karena kecelakaan ini.
Seseorang mulai ngamankan supir ini, tetapi pada akhirnya ini bukanlah sebuah bentuk dari kecerobohan lainkan kecelakaan.
Dan tentu saja, hal ini tidak berkaitan dengan Randika dan dia pun cuek terhadap supir itu.
Randika yang baru saja kembali ditatap dengan tatapan berbinar.
"Wow, kakak benar-benar hebat! Jika bukan karenamu, kita semua sudah pasti mati!" Roberto yang pertama kali ngucapkan terima kasih. Herannya, Randika rasakan tidak ada jejak-jejak ketakutan di wajahnya.
"Sudahlah, ini cuma masalah kecil." Kata Randika dengan santai.
"Jangan begitu kak, tanpamu kita sudah pasti mati." Balas Roberto.
Roberto mberikannya sebuah botol air. "Kakak pasti lelah karena kejadian barusan, ini ambilah airnya dan minumlah."
Randika mperhatikan botol air tersebut. Tanpa berkata apa-apa, Randika ngambilnya. Tetapi tiba-tiba, Randika ncengkeram erat tangan Roberto. Kemudian Randika ngangkatnya tinggi-tinggi.
Roberto jelas terkejut, kenapa orang ini tiba-tiba narik tangannya ke atas?
Ternyata tidak ada bekas luka di tangannya. Tidak ada luka yang seharusnya dimiliki oleh pembunuh abnormal itu!
Kemarin malam, Randika berhasil ncabik sebagian daging di tangan pembunuh abnormal itu. Jika Roberto adalah pembunuhnya, seharusnya tangannya ini miliki bekas yang tidak bisa disembunyikan dan ini bisa mbuktikan bahwa Roberto adalah si pembunuh tersebut. Tetapi tidak disangka-sangka, rupanya tangannya baik-baik saja!
Hal ini langsung nghilangkan kecurigaan Randika, jelas Roberto bukanlah pembunuh yang dia lawan kemarin malam.
"Ada apa?" Roberto natap bingung pada Randika.
"Tidak apa-apa." Randika tersenyum kecil. "Aku rasa tanganmu lembut sekali."
"Hahaha sungguhan? Aku mang njaga tubuhku dengan baik." Roberto tersenyum ramah.
Randika mbuka botol airnya dan minumnya. Roberto sendiri kembali ke teman-temannya dan berdiskusi. Setelah kejadian seperti ini, dia takut bahwa teman-temannya ini jadi malas untuk lanjutkannya. Setelah nanyai semua orang satu per satu, reka semua setuju untuk neruskan tamasya reka ini. Lagipula, reka sudah nyewa bis dengan cukup mahal.
Hannah berjalan nghampiri dan nggandeng lengan Randika, tetapi kakak iparnya ini berkata padanya. "Han, aku tidak jadi ikut."
Hannah terkejut. "Lho, bukannya kemarin katanya mau ikut?"
Randika natap Roberto lalu tersenyum. "Aku hari ini ikut hanya untuk mastikan sesuatu. Karena aku sudah ndapatkan jawabanku, sekarang aku bisa tidur dengan tenang."
Hannah terlihat cemberut dan Randika ngusap kepalanya. "Han, pergilah dan bersenang-senanglah. Nanti kirimin fotonya ya, aku ingin kamu nceritakanku bagaimana indahnya tempatnya."
lihat Randika bersikeras tidak ikut, ditambah dengan Stella dan teman-temannya manggil dirinya, Hannah hanya bisa nyerah. "Kalau begitu, ketemu nanti malam ya."
"Baiklah, aku akan nunggu di rumah." Randika tersenyum.
lihat bus Hannah dkk pergi, Randika sendiri berjalan kembali ke rumah.
Sebelum ini, Randika selalu ncurigai Roberto. Instingnya yang terlatih bertahun-tahun ini ngatakan bahwa Roberto bukanlah orang awam. Terlebih lagi, sejak kemarin malam dia bertemu dengan pembunuh abnormal tersebut, satu-satunya wajah yang terpikirkan oleh Randika adalah wajah Roberto!
Pembunuh itu ngenali dirinya, dia mancarkan aura kebencian dan kemarahan padanya. Setelah dia rasakannya sekilas, Randika rasa bahwa hal ini sama dengan aura yang dipancarkan oleh Roberto padanya.
Namun, setelah lihat kondisi tangan Roberto hari ini, teori dan instingnya ini langsung runtuh dalam sekejap. Kondisinya yang sehat itu adalah bukti yang kuat bahwa dia bukanlah pembunuh itu.
"Sepertinya aku akhir-akhir ini terlalu paranoid." Randika bergumam pada dirinya sendiri.
Setidaknya setelah hari ini, Randika tidak perlu khawatir lagi tentang keselamatan Hannah.
Terlebih lagi, karena Hannah sedang pergi, sekarang dia miliki waktu untuk berduaan dengan istrinya!
mikirkan hal ini, Randika njadi bersemangat.
Istriku, tunggulah aku!
Reviews
All reviews (0)