Font Size
15px

Tidak lama kemudian, Adrian datang mbawakan hasilnya.

"Pak, airnya baik-baik saja." Kata Adrian. "Seperti yang sebelumnya, air ini juga layak minum."

Masih tidak ada masalah?

Randika rasa bahwa Roberto pasti miliki trik lain, dia pun bertanya. "Apakah ada kandungan yang tidak bisa dideteksi dengan alatmu?"

"Tidak mungkin." Adrian nggelengkan kepalanya dan duduk di depan Randika. "Pak, sin kita itu adalah keluaran terbaru dan yang paling canggih. Tidak ada kandungan aneh di dalam air, tetapi proporsi beberapa elen sedikit lebih tinggi daripada biasanya."

"Dan apa yang akan terjadi kalau kita ngkonsumsinya?" Randika negang.

"Tidak apa-apa, namanya air tetap air pak, tidak mungkin itu mbunuh kita."

ndengar kata-kata Adrian ini, hati Randika semakin ragu.

Setelah itu, orang-orang mulai berdatangan kembali dan ruangan ini pun kembali sibuk.

Setelah beberapa saat, akhirnya waktu jam pulang kantor telah tiba.

Randika kembali ke rumah bersama Inggrid.

Hannah awalnya berada di kantornya Inggrid, tetapi anak itu pergi beberapa waktu yang lalu. Karena dia tidak ada kelas sama sekali, dia keluyuran tanpa henti.

"Apakah kamu capek hari ini?" Randika yang duduk di samping kursi pengemudi itu lirik Inggrid.

"Tidak terlalu." Inggrid tersenyum. "Akhir-akhir ini aku tidak perlu lakukan kunjungan bisnis, para klien yang sering datang ke tempat kita."

"Baguslah kalau begitu, kalau kamu capek nanti aku pijat."

"mangnya kamu bisa mijat?" Inggrid terlihat kaget.

"Kenapa? Apa kamu mau ncobanya?"

"Boleh saja." Inggrid ngangguk.

Sesampainya reka di rumah, Randika mbuka pintu dan lihat sosok Hannah yang duduk di sofa dengan santai. Lagi-lagi perempuan satu ini makai pakaian yang minum dan pendek.

"Kak Randika, kak Inggrid, akhirnya kalian kembali!" Hannah tersenyum, suaranya tidak begitu jelas karena dia sedang sibuk makan es krim.

Randika nghela napasnya, adik iparnya ini hidupnya santai sekali.

Inggrid lalu berkata. "Han, dudukmu itu kayak laki-laki lho, coba kamu lebih hati-hati lagi."

"Tapi ini postur duduk kak Randika selama ini." Balasnya.

Randika mbeku di tempat, dia hampir muntah seteguk darah segar. Kenapa ujung-ujungnya dia yang salah?

Inggrid lirik Randika dan marahinya. "Kamu juga, yang sopan kalau duduk."

"Iya" Randika dengan cepat nganggukkan kepalanya.

Setelah itu, Inggrid naik ke atas dan bersiap untuk mandi.

Karena akhir-akhir ini cuacanya panas, Inggrid sering berkeringat dan tubuhnya lengket oleh keringat. Jadi biasanya setelah pulang dari kerja, dia selalu mandi.

Randika duduk di samping Hannah dan ngambil es krim yang masih terbungkus di atas ja.

"Kak, mau apa kamu?"

"Aku juga kepengin es krim, mangnya kenapa?" Randika terlihat bingung.

"Jangan makan punyaku, ambil sendiri di kulkas." Balas Hannah sambil tersenyum.

"Jangan pelit-pelit begitu." Randika mbuka bungkusnya dan nggigitnya sekali, sensasi dingin ini mang nyegarkan.

"Tapi itu satu-satunya yang rasa strawberry." Kata Hannah dengan wajah yang depresi.

Randika nggaruk-garuk kepalanya. "Ya sudah ini, ambilah."

"Tidak mau, kan sudah kak Randika gigit." Hannah dengan cepat nolak.

"Ya sudah, aku makan kalau begitu." Randika kembali nggigit es krim batangnya.

"Kak Randika mang jahat." Hannah mulai kehilangan kesabarannya.

Randika nelas es krimnya itu, nada suaranya sedikit bangga. "Terkadang hidup itu penuh dengan cobaan dan tidak berjalan seperti yang kita mau."

"Alasan saja!" Hannah malingkan wajahnya dan kembali nonton TV.

Keduanya lalu lihat TV, terkadang reka bercerita tentang keseharian reka.

"Omong-omong kak, kami besok mau tamasya, apakah kakak mau ikut?" Tanya Hannah sambil tersenyum.

Undangan Hannah seperti ini selalu ada udang di balik batu, sepertinya dia diajak untuk njadi tukang angkut lagi. Awalnya dia ingin nolak tetapi Randika tiba-tiba kepikiran sesuatu.

"Han, sepertinya pemilihan waktu untuk tamasya ini kurang tepat. Kenapa tidak nunggu beberapa hari lagi dan nunggu cuacanya njadi bagus?" Tanya Randika.

"Teman-temanku yang ngusulkan. Toh kita kan punya banyak waktu luang, jadi reka semua ingin bermain." Jawab Hannah.

"Apakah Roberto ikut?" Tanya Randika.

"Tentu saja, sepertinya dia yang ngusulkan ide tamasya ini. Dia juga ngundang murid lainnya dari jurusan yang lain. Jadi sebagai pemimpin, dia pasti ikut!" Hannah njadi sedikit bersemangat. "Dan rencananya kali ini, kita akan ngunjungi kuil bersejarah! Aku belum pernah lihat tempat bersejarah sebelumnya."

Roberto yang ngatur tamasya ini?

"Jadi bagaimana kak, apakah kak Randika tertarik? Lagipula besok kan sabtu, kakak pasti nganggur di kantor bukan? Jadi lebih baik ikut aku saja." Kata Hannah dengan semangat.

"Tentu saja, aku besok ikut." Randika tersenyum.

ndengar persetujuan Randika, Hannah terkejut untuk sesaat tetapi dia langsung njadi bersemangat. "Serius kak? Kak Randika tidak bohong kan?"

"mangnya kapan aku pernah bohong?" Randika kembali makan es krimnya. Kali ini dia berusaha ngikuti Hannah untuk lindunginya dari bahaya yang tidak perlu. Terlebih lagi, dia rasa bahwa Roberto miliki suatu rencana di kegiatan kali ini. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk ngungkapkan segalanya.

...

Keesokan harinya, Randika dan Hannah berangkat bersama-sama.

Untuk perjalanan kali ini, para peserta akan berkumpul terlebih dahulu di depan sekolah reka. Baru setelah itu, reka naik bis dan berangkat ke daerah Gunung Batu Jaya karena kuil yang reka kunjungi dekat dengan gunung tersebut.

Ketika reka berdua sampai di depan sekolah, rupanya hampir semua orang sudah berkumpul.

"Han!" Stella lambai ketika lihat sosok Hannah yang datang. Keduanya lalu bergandengan tangan seolah-olah reka adalah sahabat terbaik di dunia.

Pada saat ini, Roberto datang nghampiri dan tersenyum pada Randika. "Apa kakak juga ikut?"

Randika ngangguk sambil tersenyum. "Aku dipaksa adikku itu, aku tidak punya pilihan."

"Tidak apa-apa, semakin ramai semakin riah." Roberto lalu berpamitan dan pergi. Randika ngerutkan dahinya ketika dia mperhatikan gerak gerik Roberto. Setelah beberapa saat, Randika nyimpulkan bahwa dia bukanlah pembunuh yang bertarung dengannya.

Tujuannya hari ini ikut adalah nentukan apakah Roberto adalah pria bertopeng yang telah lakukan berbagai pembunuhan di kota ini atau tidak.

Setelah beberapa saat, akhirnya semua orang telah berkumpul. Orang terakhir yang datang telah berlarian sekuat tenaganya, untungnya saja dia tepat waktu dan semua orang tidak marahinya.

"Karena semua orang sudah ada di sini, sebaiknya kita cepat berangkat." Kata Roberto sambil tersenyum, dia lalu nuntun semua orang ke bis yang sudah nunggu reka.

"Saatnya berangkat!" Semuanya antusias dengan perjalanan reka, semuanya berjalan ke bis dengan wajah yang gembira.

Pada saat reka berjalan, terlihat sebuah truk bermuatan yang laju ke arah reka.

Truk tersebut mbawa pipa-pipa besi dan laju dengan kecepatan biasa. Randika lihat ke atas dan nyadari bahwa pipa-pipa itu terikat dengan erat.

Dia sama sekali tidak peduli dan terus berjalan. Tetapi tiba-tiba, ada suara seperti tali yang terputus datang dari arah truk. Pipa-pipa tersebut mulai berjatuhan ke samping!

Dan sialnya, Randika dkk berada di jalur pipa-pipa jatuh tersebut!

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 387: Tamasya on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Devour Deities cover
Similar genre

I Devour Deities

Love Pea ·Harem

Thirtyyearsago,ameteorfellandthedivineruinsappeared!Somedeitiesemergedfromit,feedingonhumans.Sincethatday,humanshavebecomefoodforthedeities,exceptf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.