Font Size
15px

Selama perjalanan, mobil Randika sama sekali tidak peduli dengan lalu lintas. Orang-orang hanya dapat lihat bahwa sebuah mobil laju sangat kencang seperti sedang kesurupan, benar-benar nakutkan.

Randika sama sekali tidak nginjam rem. Bahkan jika dia dikenal sebagai drift king, dia masih tidak bisa nghindari kecelakaan jika laju kencang seperti ini. Tetapi mau tidak mau dia harus ngambil resiko ini karena terbatasnya waktu.

Di sisi lain, Dion sudah ngutus pasukannya untuk nyusul Randika nuju kaki Gunung Batu Jaya. Batch pertama telah berangkat, kemudian para pentolan lainnya seperti Singa, Serigala, Jin segera nyusul.

Kecepatan mobil Randika benar-benar cepat, dia sekarang sudah berada di pintu keluar kota. Dalam sekejap, dia sudah mangkas banyak waktu dengan nerobos lampu rah dan nyalip mobil-mobil.

.......

Kaki Gunung Batu Jaya.

Sebuah mobil yang laju dengan cepat segera berhenti di tempat ini. Mobil itu ngerem sekuat tenaga sampai ngeluarkan suara berdecit yang keras.

Randika dengan cepat keluar dari dalam mobil, dia nyadari bahwa bis yang dinaiki oleh Hannah dkk terparkir di dekatnya. Tetapi, semua orang tidak ada di dalamnya.

Sepertinya Tom mbawa reka ke sebuah jebakan di dalam hutan, benar-benar rencana yang sempurna! Randika berharap bahwa dia dapat datang tepat waktu.

Dengan baju ala kadarnya, Randika mulai njelajahi hutan dan nuju ke tempat Hannah berada.

Tidak lama kemudian, Randika nemukan tempat wisata di tengah-tengah hutan. Kuil berdiri dengan gagah skipun telah ditelan oleh waktu, pemandangan di sekitarnya juga terlihat indah dan nyaman. Ini rupakan lokasi wisata yang biasanya dituju oleh orang-orang, tetapi Randika tidak dapat nemukan siapa-siapa di sini.

Setelah nyisir tempat ini sekilas, Randika terkejut bahwa dia nemukan banyak tas yang ditinggal. Tas-tas tersebut berisikan makanan, minuman dan HP.

lihat hal ini, hati Randika makin nggelap. Sepertinya Tom sudah ngawali kisah balas dendamnya dan nyandera semua orang.

Tanpa ragu-ragu, Randika masuk ke dalam kuil.

Pada saat ini, Tom duduk sendirian di tengah-tengah kuil.

Dia duduk dengan mata tertutup, sepertinya dia sedang berditasi. Di depannya, sebuah dupa nyala dan nyebarkan bau dupa yang khas.

Tetapi, asap yang dikeluarkannya bukanlah warna putih, anehnya warnanya adalah coklat kehitam-hitaman.

Tom terlihat sendirian, tidak ada jejak Hannah dan teman-temannya sama sekali di ruangan ini.

"Karena kita sudah ada di sini, kenapa kamu masih malu-malu dan bersembunyi seperti itu?"

Tiba-tiba, Tom berkata dengan nada suara yang datar. Dia lihat ke arah pintu yang terbuka sedikit itu sambil tersenyum hangat.

Randika berjalan perlahan keluar dari persembunyiannya dan natap Tom. Wajahnya yang tersenyum itu miliki kedinginan yang tersembunyi.

"Jangan lihatku seperti itu." Kata Tom sambil tersenyum. "reka semua belum mati."

"Anak ketiga dari keluarga Alfred, Tom." Randika berkata secara perlahan, tatapan matanya setajam bilah pedang.

"Oh?" Tom ngangkat alisnya, dia lalu berkata sambil tersenyum. "Tidak heran kamu bisa nemukan identitasku yang asli. Jika kamu tidak bisa nemukannya, bukankah itu ncoreng nama Ares?"

reka tidak berbicara lagi. Suara angin di hutan nyisir seluruh kuil ini dan berhembus ke arah reka.

Selain baju reka yang tertiup, asap dupa juga tertiup dan terbakar lebih hebat daripada sebelumnya.

"Apa kamu nungguku?" Tanya Randika.

"Tentu saja." Tom masih tersenyum, senyumannya sehangat matahari. "Aku akan mbuatmu lihat kematian reka."

"Apakah kamu yang bertarung denganku tadi malam?"

"Nyaris saja kamu berhasil nangkapku." Tom sedikit tertawa.

"Aku berhasil lukaimu, tetapi" Tatapan mata Randika semakin tajam.

"Tentu saja kamu lakukannya, coba lihatlah." Tom perlahan ngangkat tangan kanannya dan perlahan lepas sarung tangan sintesisnya. Hati Randika langsung ngepal, itu luka yang dia berikan kemarin pada si pembunuh abnormal.

Ini benar-benar kelalaian dari Randika. Sebagai orang yang atletis, tidak mungkin seorang pria bisa miliki tangan yang selembut itu.

Tom masih mpertahankan senyumannya, tetapi senyumannya yang sekarang ngandung kedinginan sedingin salju.

"Aku pernah ngatakan bahwa aku akan nginjakmu seperti semut." Kata Tom dengan santai.

"Itulah yang dikatakan ayahmu sebelum dia ninggal." Randika ndengus.

Perlahan senyuman Tom itu nghilang, samar-samar wajahnya mancarkan aura kebencian dan kemarahan.

"Sebelum ayahmu, adikmu bernama Hans sama belagunya dengan kamu. Pertama kali aku bertemu dengannya, aku nghancurkan testisnya. Pertemuan kedua aku ncabut nyawanya karena masih berani lawanku."

Randika nceritakan semua ini seakan-akan hendak mprovokasi. Dan provokasinya berhasil karena senyuman Tom nghilang sepenuhnya. Dari arahnya, aura mbunuh mulai nyelimuti dirinya dan kesuraman seperti di dalam foto mulai tampak dengan jelas.

"Tetapi ayahmu adalah yang paling bodoh di antara kalian. Berkali-kali dia berhadapan denganku, dia masih saja tidak ngerti tempatnya. Aku terpaksa mbunuhnya dan mbunuh 70 anggota keluargamu yang lain. Kuakui, aku sedikit bersemangat ketika matahkan leher reka." Wajah Randika benar-benar datar, seolah-olah pembunuhan ini adalah hal yang wajar.

Ekspresi Tom kembali nghitam, dia hampir di ambang batasnya!

Namun, tiba-tiba dia tertawa dengan liar, dia ngeluarkan sebuah topeng dari balik punggungnya. Topeng tersebut adalah topeng setan yang dia pakai kemarin malam.

"skipun itu adalah rumah yang sudah lama kutinggalkan, pada akhirnya itulah rumahku yang sebenarnya." Kata Tom sambil lihat topengnya. "Karena kamu nghancurkan keluargaku, aku akan nghancurkanmu."

"Aku akan mbunuhmu dan ncincang semua organum!" Tom makai topengnya itu lagi. Dalam sekejap, napas dingin keluar dari balik topeng, lebih dingin daripada salju.

Randika ndengus dingin, dia sudah nyebarkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya dan berlari nuju Tom. Kemarin malam dia berusaha nyembunyikan identitasnya, sekarang kenapa dia masih bersikeras makai topengnya?

Tidak masalah, aku akan tetap mbunuhmu!

Tom berlari dan Randika ngikutinya, sekarang reka berdua berada di luar kuil, di halaman kuil yang sunyi dan tenang.

Namun pada saat ini, Randika dapat rasakan bahwa tenaga dalam di dalam tubuhnya itu negang. Seolah-olah reka nahan aliran darahnya dan ncegah ototnya untuk berkontraksi. Tubuhnya perlahan njadi lemas.

Apa yang terjadi?

Hati Randika ngepal, kenapa di saat-saat penting seperti ini justru tubuhnya bermasalah?

Namun dia tidak bisa mikirkan hal ini lama-lama, Tom saat ini sudah nerjang maju.

Sebelumnya, serangan Tom sangat mudah untuk dihindari oleh Randika. Tetapi karena sekarang tenaga dalamnya terkuras dan tubuhnya njadi kaku, nghindar bukanlah sebuah pilihan.

Pukulan demi pukulan datang bertubi-tubi pada Randika.

Tangan kiri Randika bahkan nyaris tidak bisa berdiri, di bawah serangan Tom, tubuhnya makin lama makin lemas.

Ekspresi Tom di bawah topeng makin nyengir. "Kenapa? Cuma segini kekuatanmu?"

Randika ngulurkan tangan kanannya dengan sekuat tenaga, telapak tangannya dan tinju Tom bertemu di udara. Ketika dia berusaha nangkap dan ncengkeram erat tinju Tom tersebut, Randika benar-benar tidak punya kekuatan dan kecepatannya benar-benar lambat.

"Jadi ini Ares sang Dewa Perang?" Tom tertawa keras. Dia larikan diri dari cengkeraman Randika dan mberi Randika sebuah tendangan tepat di dadanya.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 390: Pertarungan di Kuil on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.