Font Size
15px

Christina terus nerus beristirahat di pelukan Randika, baginya ini sangat hangat dan nyaman. Ketakutannya perlahan nghilang.

Dia rasa bahwa pelukannya ini mbuat dirinya dapat lupakan segala keburukan di dunia ini.

lihat wanita cantik di pelukannya ini, Randika tersenyum dan bertanya dengan suara yang lembut. "Sudah baikan?"

Christina hanya ngangguk pelan, kemudian tiba-tiba Randika luk pinggangnya dengan kuat dan nggendongnya.

"Ah!"

Christina ndesah pelan ketika Randika tiba-tiba nggendongnya, wajahnya berubah njadi rah ketika lihat sosok pria ini dari dekat.

"Aku masih bisa jalan!" Kata Christina sambil tersipu malu.

"Kamu tidak usah sok kuat begitu, sekali-kali andalkan aku sepenuhnya." Kata Randika sambil tersenyum.

Wajah Christina benar-benar malu, dia tidak njawab sama sekali. Randika lalu berjalan sambil nggendong nuju rumah Christina.

"Aku besok ada kelas, lebih baik kamu nurunkanku di sekolah saja." Kata Christina.

"Baiklah." Randika ngangguk. Dia lalu mbawa Christina ke jalan yang ramai dan manggil taksi.

Ketika supir taksi itu lihat Randika, dia terdiam seribu bahasa. Dia belum pernah lihat pelanggan yang par seperti ini. Dasar anak muda, mau jadi apa dunia ini!

Christina miliki kamar di asrama sekolah. Kamar ini rupakan fasilitas gratis yang diberikan oleh tempat kerjanya itu. Jika dia tidak miliki kelas di pagi hari, dia akan pulang ke rumahnya. Jika ada kelas pagi, dia akan nginap di kamarnya tersebut. Hal ini sangat mudahkan dirinya.

Di dalam taksi, Christina tidak pernah berhenti luk lengan Randika. Hanya dengan cara inilah dia rasa aman.

Ini adalah ketiga kalinya dia diselamatkan oleh Randika.

Pertama adalah ketika reka pertama kali bertemu, Randika telah nyelamatkannya dari penyakit dadanya. Kedua adalah ketika dia diculik oleh pelaku penyelundupan manusia. Pada saat itu, Christina rasa bahwa hidupnya telah berakhir. Namun tanpa diduganya, Randika datang nyelamatkan dirinya.

Dan yang ketiga kalinya adalah hari ini. Jika saja Randika telat 1 nit saja, mungkin pembunuh itu sudah ncabut jantungnya dari tubuhnya.

mikirkan hal ini, Christina kembali ketakutan dan tidak berani ngingat-ingatnya lagi.

Setelah keluar dari dalam taksi, Randika kembali nuntun Christina.

Secara perlahan, Randika mbawa Christina ke asrama. Ketika Randika mbukakan pintu kamarnya, hati Christina benar-benar rasa lega.

"Apa kamu mau ganti baju dulu?" Tanya Randika.

Christina ngangguk pelan. Ketika dia lihat pakaian yang dikenakannya, stoking yang dia pakai telah robek-robek dan bajunya penuh dengan tanah. Tetapi dia rasa sangat beruntung karena bsia lepas dari genggaman si pembunuh berantai tersebut.

Ketika Christina selesai ganti baju, penampilannya jauh lebih baik tetapi sayangnya masih ada rasa panik di matanya.

"Kalau begitu, aku pergi dulu ya." Kata Randika sambil tersenyum. "Beristirahatlah dengan baik."

"Tidak Tiba-tiba Christina raih bajunya. "Jangan pergi"

Jangan pergi?

Randika mikirkan kata-kata tersebut dengan sangat baik. Apakah Christina sudah benar-benar jatuh cinta dengan dirinya sampai-sampai tidak mau berpisah dengannya?

Pada saat ini, Randika teringat ketika Inggrid diculik oleh Shadow. Kejadian reka berdua ini mungkin sedikit mirip, kedua kejadian itu pasti ninggalkan trauma yang hebat bagi reka berdua. Jadi kesimpulannya adalah Christina pasti masih rasa takut. Bagaimanapun juga, hati seorang perempuan mudah ketakutan jadi tidak heran dia butuh seseorang untuk nenangkan hatinya.

Randika ngedipkan matanya, hatinya njadi panas. Terlebih lagi, Christina sudah ngganti bajunya dengan baju santai yang nonjolkan kedua dadanya itu. Kedua lengan putihnya yang nggantung di udara, dua kaki panjang yang mulus mbuat Christina terlihat sexy.

"Baiklah aku tidak akan pergi." Kata Randika. "Bagaimana kalau kamu mandi dulu?"

Ini semacam pertanyaan jebakan, jika dia setuju maka Randika pasti akan nginap malam hari ini.

"Aku tidak mau mandi, aku hanya ingin bersamamu." Wajah Christina masih nunjukkan tanda-tanda panik, sosok pembunuh itu masih terpampang jelas di benaknya.

Oh, tidak perlu mandi? Kamu ingin langsung?

Randika ngedipkan matanya. Yah, nanti kita juga akan berkeringat jadi tidak apa-apalah, pikirnya.

"Baiklah." Randika dengan cepat ngangguk dan mbuka jaket yang dia pakai.

Dia lalu perlahan mbuka bajunya dan mperlihatkan otot-ototnya yang kekar itu.

Sepertinya, Randika salah ngerti arti dari kata-kata Christina.

"Ran, kamu" Christina benar-benar kehabisan kata-kata. Namun pada saat ini, Randika mulai ncopot celananya.

"Mau apa kamu lepas celanamu?" Wajah Christina benar-benar terlihat bingung.

"Lha kalau tidak telanjang gimana caranya lakukannya coba?" Kecepatan Randika benar-benar luar biasa, hanya perlu 3 detik untuk dirinya bercelana dalam saja.

Hah? lakukan apa?

Christina masih bingung. Namun, Randika yang hanya bercelana dalam itu mulai berjalan nghampiri Christina, dia nggendongnya dengan paksa dan mbawanya ke kasur.

"Hei, mau apa kamu!" Christina benar-benar bingung.

"Tentu saja lakukannya di kasur, kamu mangnya mau di lantai?" Randika tertawa dan nindih Christina dari atas. Tempat tidur itu mulai ngempes karena berat kedua orang ini.

Randika mulainya dari bagian dada, Christina langsung ingin marahinya. Tetapi, dia rasa bahwa ini mang salahnya karena berkata yang sangat ambigu bagi Randika.

"Ran, maksudku bukan ini." Christina nangkap kedua tangan Randika yang baru saja mulai mainkan dadanya.

Apanya yang bukan?

Kedua tangannya itu baru 2 detik rasakan kedua gunung itu ketika dia ndengar kata-kata Christina barusan.

"Aku masih ketakutan, aku ingin kamu nemaniku sampai aku tidur." Kata Christina.

"Jadi kamu tidak ingin tidur denganku?" Randika benar-benar depresi. Jadi dia salah mahami undangan Christina ini?

Randika yang telanjang dada itu ingin berdiri, tetapi lehernya dipeluk oleh Christina dengan erat.

Randika jelas kebingungan, tetapi detik berikutnya Christina berbisik di telinganya. "Peluk aku dengan erat.

Tentu saja, Randika yang penuh nafsu ini lakukannya bagai anjing yang baik. Dia luk tubuh sexy dan empuk ini, kedua dadanya yang besar penyet di dadanya.

Namun setelah reka berdua berpelukkan, tidak ada kelanjutannya sama sekali. Randika masih nunggu langkah berikutnya tetapi itu tidak kunjung datang. Dia berusaha lirik Christina tetapi perempuan itu rupanya nutup kedua matanya.

Hmm? Kenapa tidak lanjut?

Randika terus berpikir di dalam benaknya, dia mulai nggerakkan kedua tangannya. Ketika tangannya itu mulai berusaha lepaskan baju Christina, tiba-tiba Christina luknya lebih erat.

"Jangan." Suara Christina terdengar sedih. "Aku hanya ingin berpelukkan denganmu."

Randika berhenti dan lupakan segala hal nakal di benaknya. Sepertinya kejadian hari ini benar-benar mbuat Christina ketakutan. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk lakukannya.

Randika mulai tenang, untuk sesaat kamar asrama ini penuh dengan keheningan. Keduanya tidak bergerak sama sekali, reka hanya berpelukkan dalam keadaan diam di atas kasur. Sinar rembulan nerangi kedua pasangan ini dengan hangat.

Setelah 10 nit, Randika dengan lembut manggil namanya. Tetapi, tidak ada respon.

Randika lirik dan nyadari bahwa Christina sepertinya sudah tertidur.

Dengan sangat perlahan, Randika lepas pelukannya dan nyelimuti Christina. Setelah ncium keningnya, Randika pergi dan nutup pintu kamarnya dengan rapat.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 384: Salah Mengartikan Undangan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Data-Driven Daoist cover
Trending now

Data-Driven Daoist

CatVI ·Action

Theycalledhimtrash—untilhestartedtreatingtheDaolikeaDataset.Whendemonsslaughterhisnewfamily,computerscientistJohan—nowrebornasYuHan—survivesbypurew...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.