Font Size
15px

Sosok misterius yang muncul di belakangnya mbuat pembunuh ini lepas genggamannya pada Christina dan nerjang ke arah orang tersebut.

Dia langsung layangkan sebuah pukulan keras, tetapi serangan Randika langsung ngenainya tanpa kesusahan. Kedua tinju reka bertemu dan tenaga dalam Randika langsung ngalir dan ngamuk di tubuh si pembunuh tersebut.

Ketika berpisah dan lihat wjah Randika, nada suaranya berubah njadi tinggi bagaikan dia lihat seorang hantu. "Kamu jangan-jangan"

Randika hanya ngerutkan dahinya. Tangannya kembali ngepal dan kembali nyerang. Ketika reka bertukar pukulan, otak Randika juga berputar.

Kata-kata dari pembunuh ini sudah jelas bahwa dia ngenal dirinya!

Berarti dengan kata lain, dia seharusnya ngenal pembunuh ini.

Siapa orang ini?

Hati Randika masih dipenuhi dengan pertanyaan. Karena pikirannya penuh ini, serangannya njadi tidak seberapa fatal dan pembunuh tersebut berhasil nghindari setiap pukulan Randika. Namun, tatapan mata Randika berubah njadi serius dan lancarkan serangan terkuatnya.

Tangan pembunuh itu naik dan lindungi dadanya, tetapi serangan Randika berubah di detik terakhirnya. Dalam sekejap, Randika sudah loncat tinggi dan berada di atasnya. Ketika pembunuh itu noleh, Randika sudah nerjangnya dari atas dengan kecepatan penuh.

Namun, reaksi pembunuh ini juga tidak kalah cepat. Ketika Randika hendak raih tangannya, dia sudah nghindar dan mundur beberapa langkah. Namun rupanya, serangan Randika ini mang dari awal tidak ditujukan olehnya.

Randika yang sekarang berhasil bertukar posisi dengan si pembunuh dan Christina berada di belakang punggungnya.

Berlindung di balik punggung Randika, Christina sudah ringkuk ketakutan di punggungnya. Dia sangat bersyukur bisa lihat sosok pria idamannya ini sekali lagi.

"Bedebah, bisa-bisanya kamu ngganggu waktu senangku!"

skipun wajahnya tertutup oleh topeng, Randika dapat lihat bahwa ekspresi wajahnya pasti muram dan penuh dendam.

"Apakah kamu yang lakukan pembunuhan akhir-akhir ini?" Tanya Randika dengan nada dingin.

Pembunuh itu ncibir. "Aku tidak nyangka pacarmu adalah orang ini. Tahu gitu aku seharusnya mbunuhmu lebih cepat."

Ketika dia berbicara, sepertinya dia ngubah nada suaranya dengan paksa agar tidak dapat dikenali. Hal ini rupanya berhasil karena Randika sama sekali tidak dapat ngenali suara tersebut.

Randika lalu berkata dengan nada dingin. "Jadi sepertinya kamu dan aku mpunyai masa lalu."

"Diam! Jangan sok akrab denganku!" Bentak si pembunuh. "Kau itu sama dengan semut, aku bisa nginjak-injakmu dengan mudah kapan pun aku mau!"

"Tidak perlu nggertak seperti itu." Mata Randika bersinar tajam. "Kamu lah yang akan berbaring di kamar mayat malam hari nanti."

"Aku tahu kekuatanmu itu ngerikan, tetapi kamu tidak ada apa-apanya di mataku!" Setelah berkata seperti itu, dia kembali nerjang ke arah Randika.

Pada saat ini, seluruh kebencian dan kekuatannya tertuju pada Randika. Siapapun yang berani ngganggunya akan mati di tangannya!

Tinjunya dengan cepat ngincar wajah Randika, dengan kecepatan yang dia miliki, tinjunya ini akan sekeras besi ketika nghantam wajah lawannya

nghadapi serangan ini, Randika responnya dengan cara yang simpel. Dia bergerak ke samping sedikit untuk nghindar dan nangkap tinjunya itu. Setelah itu, dia nariknya dengan seluruh kekuatannya. Suara tulang keluar dari sendinya dapat terdengar renyah dan nyaring.

Pembunuh itu benar-benar terkejut, dia hanya bisa pasrah ketika lengannya itu ngalami dislokasi.

Rasa sakitnya mulai nyerang tubuhnya, tetapi tenaga dalamnya rembes keluar dan ngarah pada Randika. Ketika dia hendak nyerang dengan kakinya, sebuah tinju sudah ndarat di wajahnya.

DUAK!

Tinju Randika ndarat tepat di topengnya, hal ini mbuatnya terpental.

"Kamu terlalu lemah." Kata Randika dengan nada yang dingin. Ketika pembunuh itu berdiri kembali, dia natapnya dengan tajam tanpa berkata apa-apa.

Kekuatannya itu tidak lemah, setidaknya dia berpikiran seperti itu. Beberapa tahun ini, dia berguru di beberapa ahli bela diri. Kemajuannya dalam ilmu bela diri sangat cepat, dia yang sekarang berada di jajaran atas peringkat Dewa!

Tetapi dia tidak nyangka bahwa dia akan bertemu dengan salah satu dari 12 Dewa Olimpus. Dia benar-benar tidak berdaya sama sekali di hadapan Ares.

Bahkan sepertinya, lawannya ini belum ngerahkan 50% dari kekuatan aslinya.

Dia rasa bahwa asalkan lawannya ini mau, dia bisa nghabisi dirinya kapan saja!

"Sekarang, aku ingin lihat seperti apa wajah di balik topengmu itu." Kata Randika dengan santai.

"Bahkan jika kamu kuat, kamu tidak akan bisa nangkapku." Si pembunuh itu nyeringai dan di detik berikutnya dia sudah berlari sekuat tenaga.

Mau kabur?

Apakah nurutmu itu keputusan yang bijak?

Randika ndengus dingin, dia dapat dengan mudah nyusul pembunuh itu. Tetapi, tiba-tiba arah lari si pembunuh tersebut berubah dan nuju Christina.

Dia lengah!

Randika benar-benar marah, dia langsung berputar balik dan nerjang maju. Tangannya yang sudah nyerupai cakar itu nggenggam erat si pembunuh.

Pada saat ini, percikan darah dari sobekan daging dapat terlihat madati udara.

Pembunuh itu ngerang kesakitan di balik topengnya. Dia langsung gangi tangannya yang terkoyak karena serangan Randika yang brutal tersebut.

Ada satu peraturan yang sangat dijunjung tinggi bagi Randika yaitu jika seseorang berani nyentuh wanitanya, maka dia pasti mbunuhnya!

Di bawah keagungan Ares sang Dewa Perang, pembunuh ini sama sekali tidak berdaya. Sekarang, Randika berdiri di atasnya dan ncengkeram erat topengnya. Dia ingin lihat, siapa yang berada di balik topeng ini.

Tetapi tiba-tiba, ketika topeng itu hendak terlepas, ada sebuah kilatan tajam yang muncul dari balik tangan si pembunuh.

Randika awalnya berpikir bahwa dia akan nyerang dirinya, dia segera mberi jarak di antara reka. Namun tanpa diduga, kilatan tajam itu terlempar dan ngarah pada Christina. Terkejut, Randika langsung nerjang dan berusaha ngejar pisau tersebut.

Ketika dia berhasil nangkapnya, rupanya masih ada beberapa pisau lagi yang dilempar oleh si pembunuh.

Tenaga dalam dirinya langsung nyelimuti dirinya dalam sekejap. Kecepatannya ningkat dan pada akhirnya Randika berhasil mblokir semua serangan.

Namun pada saat ini, si pembunuh manfaatkan mon ini untuk kabur dengan cepat.

Kilatan dingin muncul di tatapan mata Randika. Awalnya dia ingin ngejar dan mburunya, tetapi lihat sosok Christina yang ketakutan, dia ngurungkan niatnya tersebut.

"Apakah kamu baik-baik saja?" Randika nghampiri Christina, dia nyadari bahwa perempuan cantik ini ketakutan setengah mati dan kondisinya benar-benar buruk. Tatapan matanya terlihat masih panik dan tubuhnya tidak bisa berhenti getar.

Kakinya juga lecet-lecet dan tangannya penuh dengan tanah ketika dia terjatuh tadi. Bahkan stokingnya sudah robek dan rambutnya sudah berantakan.

Benar-benar penampilan yang nyedihkan.

Tiba-tiba, Christina lompat dan luk erat Randika.

"Aku takut kamu tidak datang."

Randika dengan lembut luk Christina dan mbelai punggungnya. Setelah beberapa saat, Randika berkata dengan nada suara yang lembut. "Aku akan mbawamu pulang."

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 383: Satu Peraturan on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Am the Fated Villain cover
Similar genre

I Am the Fated Villain

Fated Villain ·Harem

ImmediatelyafterGuChanggerealizedhehadtransgressedintoafantasyworld,theworld’sprotagonist,andfortune’schosen,vowedtotakerevengeonhim.Enviedbyall,he...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.