Saat Randika kembali ke rumah, waktu sudah nunjukkan pukul 12 malam.
Randika naik ke lantai atas tanpa nyalakan lampu, dia langsung ngendap-endap masuk ke kamarnya Inggrid.
Setelah diperhatikan baik-baik, Inggrid terlihat tidur sendirian, tidak ada tanda-tanda Hannah di sana. Rupanya adik iparnya itu tidur di kamarnya sendiri.
Randika dengan perlahan ngganti bajunya dan masuk ke dalam kasur. Karena Inggrid sudah tidur, dia tidak ingin mbangunkannya hanya untuk berhubungan badan.
"Sudah pulang?"
Namun tiba-tiba, suara Inggrid dapat terdengar dan dia sudah natap Randika lekat-lekat.
Randika terkejut, tetapi senyumannya langsung njulang tinggi. "Sayang, kenapa kamu belum tidur?"
Pada saat ini, Inggrid hanya natapnya tajam tanpa berkata apa-apa.
"Jangan begitu, aku ada urusan." Randika rasakan rasa benci di tatapan mata istrinya itu.
"Jadi urusanmu lebih penting daripada aku?" Inggrid pura-pura terlihat marah dan cemburu.
Ekspresi dan suaranya mbuat hati Randika sakit.
"Sayang, bukan itu maksudku. Urusanku tadi benar-benar penting." Wajah Randika terlihat panik. "Tidak mungkin aku ninggalkan istriku yang cantik, aku berharap aku bisa berada di sisimu selamanya."
Tangan Randika mbelai rambut Inggrid, tetapi Inggrid langsung nghindar dan mbuat jarak di antara reka.
"Gombal."
Randika kembali luk Inggrid dari belakang. Ketika tangannya mulai raba, tangannya ditangkap oleh Inggrid.
"Harus bagaimana untuk yakinkanmu?" Randika berbisik di telinga Inggrid. Dia mulai mberi rangsangan kepada Inggrid. Perempuan ini mulai takluk oleh teknik foreplay Randika, tubuhnya mulai panas.
"Hannah tidak ada di sini?" Tanya Randika dengan suara pelan.
"Dia tidur di kamarnya." Jawab Inggrid.
"Kalau begitu, jangan terlalu keras berteriaknya." Kata Randika. Dia langsung berputar dan nindih Inggrid dari atas, dia nangkap kedua tangan Inggrid dengan erat. reka berdua berpelukkan dan berciuman dengan panas.
Seolah-olah tersihir oleh Randika, Inggrid rasa dirinya layang di awan.
Di tengah ciuman reka, tangan Randika tidak pernah berhenti raba dan nyiapkan Inggrid untuk babak utama.
Setelah beberapa nit pemanasan, Randika mulai ncopot baju dan celana Inggrid.
Sebelum mulainya, Randika natap Inggrid. "Sungguh cantik sekali"
...
Keesokan harinya, setelah burung berkicau, Randika dan Inggrid turun bersama-sama ke lantai bawah untuk sarapan.
Ketika Hannah lihat Randika dan Inggrid berjalan bersama-sama, dia tidak bisa ndengus dingin terutama setelah lihat ekspresi puas Randika. Kemarin malam reka berdua pasti lakukannya.
"Kak, kenapa tadi pagi kamu tidak ada di kamarmu?" Kata Hannah sambil tersenyum.
Randika duduk di seberangnya Hannah. "Tentu saja aku tidur di kamar kakakmu, kita kan suami istri pasti tidurnya sekamar."
Hannah hanya tersenyum dan mbalas. "Terus kalian ngapain saja tadi malam?"
Ketika Randika mau mbalasnya dengan cerita sum, Ibu Ipah datang dan mbawakan sarapan reka. "Nak Randika, nona, tolong jangan terlalu banyak bicara di ja makan. Cepat dimakan sarapannya mumpung masih hangat."
Hannah ndengus dingin dan natap tajam Randika. Kemudian dia ngambil piring dan ngambil nasi, Randika juga lakukan hal yang sama. Setelah ngambil nasi, reka berdua mau ngambil lauk pagi hari ini yaitu dadar jagung dan sayur bening. Ketika Randika mau ngambil dadar jagung tersebut, dia nyadari sendok Hannah juga berusaha ngambil dadar jagung yang sama dengannya.
"Kak, kenapa kamu selalu mau ncuri makananku?" Hannah ngangkat kepalanya.
Sialan, dia main nuduh saja!
"Ya sudah, ambil saja dadar jagung ini." Randika ngambil kembali sendok kosongnya sambil tersenyum, kali ini dia berusaha ngalah.
"Oh, tiba-tiba aku tidak mood lagi makan dadar jagungnya." Hannah juga ngambil kembali sendoknya.
reka berdua hanya saling natap. Inggrid ngabaikan reka dan ngambil lauknya.
Pada saat yang sama, Randika dan Hannah kembali raih dadar jagung yang sama lagi.
"Punyaku, dadar jagung ini punyaku!" Randika dan Hannah secara bersamaan berkata hal yang sama.
"Mana mungkin itu punyamu, bukannya kamu sudah makan 1 tadi di dapur?" Kali ini Randika tidak mau ngalah.
"Kak" Kali ini Hannah natap Inggrid dengan wajah las.
Inggrid hanya nggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit. Dia kemudian nampar tangan Randika. "Sesekali bertindaklah selayaknya orang dewasa, kasihan Hannah, dia masih lapar."
Karena istrinya yang berkata seperti itu, Randika hanya bisa nyerah. Moodnya berubah njadi kesal.
Wajah Hannah benar-benar terlihat bangga. Inggrid hanya bisa nghela napasnya dan mberikan lauk yang dia ambil tadi dan naruhnya di piring Randika. "Cepat makanlah, kita perlu masuk lebih pagi hari ini."
lihat perhatian istrinya, Randika bersemangat kembali. Hannah hanya malingkan wajahnya dengan cemberut.
Setelah sarapan, Randika dan Inggrid berangkat bersama nuju kantor. Karena Hannah baru saja selesai ujian, jadwal kuliahnya jauh lebih santai untuk sentara waktu.
Ketika Randika sampai di perusahaan, tiba-tiba dia teringat akan ngabari Deviana ketika dia ndapatkan info ngenai pembunuh abnormal itu.
"Dev, kemarin aku bertemu dengan pembunuhmu itu."
Deviana terkejut di balik telepon, dia lalu bertanya. "Apakah kamu nangkapnya?"
"Tidak, dia kabur." Jawab Randika.
"Apa kamu lihat mukanya?" Deviana mulai nanyai Randika, dia juga rekam percakapan reka ini.
"Dia makai topeng waktu itu, aku tidak bisa lihat wajahnya." Ketika berkata seperti ini, entah kenapa wajah Roberto muncul di benaknya.
Dia nduga bahwa pembunuh bertopeng itu adalah Roberto. skipun tidak ada bukti, instingnya ngatakan bahwa Roberto adalah tersangka nomor 1.
"Apa ada ciri-ciri yang lain?" Tanya Deviana.
"Tingginya kira-kira 180 cm, dia tidak gemuk juga tidak kurus. Terlebih lagi, aku berhasil lukai tangannya kemarin."
Setelah ndengar itu, Deviana ngerutkan dahinya. "Ciri-ciri yang kamu sebutkan itu terlalu umum, bahkan jika ada luka di tangannya, itu mudah disembunyikan dan mustahil nyebarkan informasi tidak spesifik seperti itu."
"Tidak apa-apa, nanti kalau aku tahu lebih banyak lagi, aku akan nghubungimu lagi." Balas Randika.
"Baiklah kalau begitu, aku akan nyampaikan informasimu ini ke rekan-rekanku."
Setelah Deviana nutup teleponnya, Randika berjalan kembali nuju laboratoriumnya. Masih ada cukup banyak pekerjaan yang nunggu dirinya.
Viona hari ini datang lebih pagi, begitu pula dengan Adrian dan Axel. Semua orang segera nyapa dirinya kemudian kembali bekerja.
Ketika reka sibuk bekerja, waktu berlalu dengan cepat. Tanpa reka sadari, hari sudah siang. Para staf departen parfum ini mulai bersiap makan siang dan berdiri sambil regangkan tubuh reka.
"Ayo cari makan."
"Sepertinya depot di ujung jalan itu lagi sepi, ayo makan di situ saja."
"Traktir ya, aku lupa bawa dompet!"
"Sialan, ngutang terus kerjaanmu!"
Beberapa orang mulai berkerumun pergi, hanya Viona yang berjalan nuju Randika.
"Ran, ayo makan siang bareng."
Randika natapnya dan tersenyum. Ketika dia mau njawab, beberapa perempuan nggoda Viona. "Wah Viona mau kencan sama pak Randika?"
Teman-temannya ini tertawa sedangkan Viona tersipu malu.
"Nanti malam saja kalian makan bareng, siang ini bagaimana kalau sama-sama kita? Kita janji tidak akan ngganggu nanti."
Setelah berkata seperti itu, Viona ditarik pergi oleh reka.
Randika hanya bisa tersenyum pahit, dia sama sekali tidak berdaya di bawah serangan seperti itu. Dia akhirnya berniat keluar dan berniat untuk makan siang sendirian.
Pada saat ini, tiba-tiba muncul sosok Hannah dari balik pintu.
Reviews
All reviews (0)