Font Size
15px

Sambil nahan air liurnya, Randika perlahan naruh tangannya di tubuh Hannah secara perlahan dan alami.

"Hahaha nyenangkan bukan?" Saking senangnya, Hannah tidak sadar bahwa Randika sudah rabanya cukup banyak, reka sendiri nempel dengan alami.

Pada saat ini, bau dari Hannah sudah ngisi hidung Randika secara nyeluruh.

Benar-benar nggoda!

Randika ngerang di dalam hatinya, dia ingin nerjang dan nindih Hannah, tetapi reka berada di tempat umum.

Namun, Randika kepikiran sesuatu yang bagus. Dia langsung berbisik di telinga Hannah. "Han, apa kamu mau niru adegan dari film Titanic?"

"Kelihatannya seru!" ndengar tawaran ini, Hannah langsung setuju. Kemudian Randika gang kedua pinggang Hannah dengan erat.

Lalu Hannah lebarkan kedua tangannya dan tertawa terus nerus. Sekarang tubuhnya benar-benar ditopang oleh Randika.

Pikiran Randika berkecamuk, ketika dia lihat ke bawah, dia bisa lihat betapa putih dan mulus leher Hannah.

GLEK!

Setelah kembali nelan air liurnya, Randika ngalihkan pandangannya. Darahnya sudah ndidih dan kekuatannya hampir mberontak.

Randika bukanlah seorang biksu, dia adalah lelaki sehat seperti pada umumnya. Dihadapkan dengan wanita cantik seperti Hannah benar-benar mustahil untuk tidak bereaksi.

Terlebih lagi, pinggang ramping Hannah wakili apa yang kita sebut kehidupan yang masih mudah. Bahkan ketika dia sedikit regangkan jari-jarinya, dia dapat rasakan sesuatu yang kenyal di atas pinggang.

Sialan!

skipun masih dihalangi oleh pakaian, sensasi empuk ini mbuat hati Randika berkecamuk lagi. Dia juga dapat rasakan tenaga dalamnya makin mbara, sepertinya ia cemburu dan ingin rasakannya juga!

Jangan, ini tempat umum!

Randika perlahan berusaha nenangkan dirinya dan tenaga dalamnya. Namun pada saat yang sama, Hannah nampaknya mbuat jarak di antara reka.

Hal ini mbuat Randika nghembuskan napas lega, tetapi ini masih belum berakhir. Karena kuda reka mulai bergerak kembali, pantat Hannah mulai nyentuh suatu tempat.

Diserang secara tiba-tiba, Randika tidak bisa nghentikan adiknya yang sudah ngeras tersebut.

Tetapi di dalam celana, Randika rasa kesakitan. Dia berusaha setengah mati untuk nahannya agar tidak mbesar dengan cara njepitnya.

Hannah pada saat ini rasakan ada sesuatu yang keras di pantatnya.

"Kak, kakak sedang ngapain?" Hannah tidak noleh, dia masih fokus untuk bersenang-senang dan bercanda dengan temannya.

Salahmu sendiri yang nyerangku! Aku benar-benar kesusahan tahu, pikir Randika.

skipun ingin ngutuk Hannah, kuda reka kembali bergerak dan Hannah kembali nyerang adik Randika.

Randika tidak ngeluarkan suara sama sekali, dia hanya gang pinggang Hannah. Hannah rasa aneh pada saat ini, dia tiba-tiba nyadari benda keras apa yang ada di belakang pantatnya.

nyadari hal ini, wajah Hannah benar-benar rah seperti tomat.

Kak apa-apaan ini!

Semua orang masih terlihat bergembira dan tertawa, sedangkan Hannah dan Randika terjebak dengan rasa malu.

Hati Hannah mulai berdetak tidak karuan. Dia dapat rasakan setiap kudanya bergerak, benda keras dan panjang itu nyerang pantatnya tanpa ampun. Sejak dia ngerti benda apa itu, Hannah mulai bernapas terengah-engah dan badannya mulai panas.

Akhirnya, Randika cah keheningan.

"Han, tolong jangan bergerak. Jika kamu terus nggeseknya, aku akan" Randika terbatuk. Randika tidak tahu harus lanjutkan kata-kata yang malukan itu lagi atau tidak. Lagipula, ini tempat umum dan dia tidak bisa berdiri begitu saja ketika penisnya ngeras dan mbesar seperti ini.

Hannah tidak bisa berkata apa-apa, ini semua salah kuda reka.

Ketika kuda itu bergerak kembali, Randika rasa bahwa dia sudah berada di ujung tanduk. skipun dia ingin ngeluarkannya, dia tidak ingin kembali dengan celana dalam yang basah.

Sambil nghela napas, dia luk Hannah dengan erat dengan kedua tangannya.

Randika lalu berbisik. "Han, tolong jangan bergerak sampai kita berhenti."

Ketika reka berpelukkan, Hannah semakin dapat rasakan benda keras tersebut. skipun dia malu setengah mati, dia tidak berani bergerak sama sekali.

Kedua orang ini bisa ndengar detak jantung reka, keduanya benar-benar gugup.

Di telinganya, Hannah dapat rasakan hembusan napas hangat dan buru-buru Randika. Dia dapat rasakan tangan besar Randika luknya dengan kuat, perasaan seperti ini mbuat Hannah rasa nyaman sekaligus pasrah.

Sedangkan Randika sendiri, dia berusaha sekuat tenaga untuk nenangkan dirinya.

"Kak, apa kamu sudah baikan?" Akhirnya Hannah bertanya skipun malu.

Randika sudah hampir berhasil mbuang pikiran kotornya. Karena Hannah tidak berani bergerak, stimulus yang diberikannya benar-benar berkurang drastis.

"Sebentar lagi." Randika masih luk erat Hannah.

Hannah sepertinya nggumamkan sesuatu dengan suara yang kecil, tetapi semua itu bisa didengar oleh Randika berkat pendengaran supernya. Pada saat ini, Hannah yang tomboy njadi lunak di pelukannya Randika.

Pada saat ini, komidi putar akhirnya perlahan mulai berhenti. Satu per satu orang mulai turun, Randika nunggu sebentar agar tidak ada orang yang lihat kondisinya yang sekarang.

"Han, turunlah." Kata Randika dengan lembut.

Setelah turun, Randika segera njernihkan pikirannya dan kondisinya kembali normal dengan cepat. Akhirnya kedua orang ini turun dan nyusul yang lain.

Teman-temannya tidak ada yang nyadari keanehan ini, tetapi Roberto natap reka dengan tatapan tajam.

Setelah turun dari komidi putar, hebatnya Hannah tidak ngoli atau berkontar apa-apa.

Ketika Randika rasa dirinya aman, dia dapat ndengar Hannah berkata dengan wajah yang rah. "Kak, apa yang terjadi barusan, jangan pernah nggunakannya untuk berpikiran yang aneh-aneh."

Eh? Seharusnya mon ini adik iparnya berkata bahwa dia akan mbeberkan ini pada Inggrid bukan? Kenapa reaksinya berbeda hari ini?

lihat wajah malunya itu, Randika hanya tersenyum. "Han, kamu tenang saja. Aku tidak akan nggunakannya untuk yang aneh-aneh tetapi aku akan nyimpan kenangan ini di hatiku."

"." Hannah ngangkat kepalanya dengan marah. Tetapi, pada akhirnya dia tidak nyerang sama sekali.

Pada saat ini, Roberto berkata sambil tersenyum. "Berikutnya bagaimana kalau kita bermain itu?"

Roberto nunjuk ke bianglala mini. Sekali lagi, para lelaki berusaha nangkan hati pasangan reka.

Di ruangan privat seperti itu, banyak kejadian yang bisa terjadi.

Pada saat ini, tiba-tiba ada suara teriakan seseorang. "Ah! Lihat, anak itu akan jatuh!"

Semua orang langsung noleh ke atas, reka dapat lihat anak itu bergelantungan di pintu dan akhirnya jatuh!

"Ahhhhh!"

"Awas!"

Semua orang terkejut, tetapi reka tahu bahwa anak itu akan mati begitu ndarat di lantai.

Mata Randika berkedip, posisinya yang sekarang berada sangat dekat dengan anak kecil itu. Ketika Randika mau bergerak, dia lihat sebuah bayangan lintasi dirinya.

Kecepatannya tidak begitu cepat, tetapi reaksinya benar-benar cepat. Dalam sekejap dia sudah berada di posisi ndarat anak kecil itu.

Dia adalah Roberto!

Hannah dan teman-temannya sudah berteriak histeris ketika lihat anak kecil itu terjun bebas.

Roberto sudah ngulurkan kedua tangannya ke atas dan bersiap nangkap anak kecil itu. Di bawah tatapan mata orang-orang, Roberto berhasil nangkapnya dengan kedua tangannya!

Namun, suara benturan keras tidak dapat dihindari.

Roberto terjatuh karena kuatnya gaya gravitasi anak kecil itu ketika dia nangkapnya.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 379: Insiden Tidak Terduga on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.