Font Size
15px

Dalam sekejap semua perempuan ini setuju. Tetapi, reka semua nyadari bahwa tatapan Roberto jatuh pada sosok Hannah.

"Baiklah kalau begitu." Hannah juga nyetujui ajakan Roberto.

Akhirnya grup perempuan dan laki-laki ini berjalan bersama-sama dan ngobrol bareng.

"Aku minta maaf sebelumnya." Roberto tersenyum, wajahnya terlihat tampan. "Bola yang aku tendang waktu itu hampir ngenaimu."

"Sudah tidak apa-apa." Hannah tersenyum. "Jika bukan karena insiden itu, kita tidak mungkin berkenalan."

"Benar juga." Roberto tersenyum kembali. "Tetapi waktu itu benar-benar berbahaya."

Setelah beberapa saat, suasana grup ini njadi lebih rileks dan nyenangkan.

"Aku haus!" Pada saat ini, salah satu perempuan berseru. Setelah beberapa detik, Roberto berkata pada semua orang. "Sebentar, aku akan mbelikanmu air."

Roberto berlari nuju kios makanan, setelah itu dia kembali dan mbawa beberapa botol air.

"Wow, Roberto baik sekali mbelikan kita!"

"Benar-benar jenteln." Beberapa perempuan muji Roberto. Lelaki itu hanya tersenyum dan mberikan reka air satu per satu.

"Ini punyamu." Roberto mberikan sebotol air pada Hannah.

"Terima kasih." Hannah segera ngambilnya dan ngucapkan terima kasih. Dia segera mbukanya dan minumnya.

lihat Hannah minum airnya, Roberto berdiri di sisinya dan tersenyum hangat. Tetapi matanya mancarkan niat buruk yang pekat, khususnya ketika Hannah minum airnya.

Namun, tatapan matanya itu hanya terjadi dalam sekejap, tidak ada yang nyadarinya.

Setelah berhenti sejenak, reka semua mulai berjalan kembali nuju lantai atas.

"Hei, ayo kita main ke rumah hantu dulu." Kata salah satu perempuan dengan antusias, dia penggemar film horor dan tertarik dengan hantu.

Ajakan ini langsung disetujui oleh semua orang, hanya Hannah yang terlihat ragu-ragu. Dia telah berjanji pada Randika untuk nunggunya di depan pintu masuk mall. Kalau dia pergi sekarang, apakah kakak iparnya itu akan nyusulnya?

"Kalian pergi duluan saja, aku akan nyusul." Kata Hannah sambil minta maaf.

Kata-kata Hannah ini mbuat suasana njadi canggung, tetapi senyuman Roberto cah keheningan ini. "Aku akan nemaninya, kalian duluan saja."

lihat kebaikan Roberto ini, semuanya akhirnya setuju untuk nemani Hannah sampai urusannya selesai.

Namun pada saat ini, ada suara yang berseru.

"Han, bukankah itu kakak iparmu?" Kata Stella.

Ketika Hannah noleh, dia lihat sosok Randika yang baru saja datang.

Randika natap Hannah dan teman-temannya lalu nghela napas, dia kira dia akan berduaan dengan Hannah. Namun, helaan napasnya itu berubah njadi ekspresi terkejut ketika lihat Roberto.

Kamu juga di sini?

Hati Randika ngepal, tetapi dia tidak nunjukannya di wajahnya.

"Kak, kakak cepat sekali!" Hannah dengan cepat narik Randika dan ngenalkannya kepada semua orang. "Ini kakak iparku namanya Randika. Tidak apa-apa kan dia ikut?"

"Tenang saja, makin ramai makin asyik." Salah satu lelaki berkata demikian.

"Lama tidak jumpa." Roberto ngulurkan tangannya sambil tersenyum. "Perkenalkan sekali lagi, namaku Roberto. Maafkan kesalahanku beberapa waktu yang lalu."

Randika nanggapi salam Roberto dengan hangat. "Tidak apa-apa."

Setelah perkenalan singkat ini, reka semua pergi nuju rumah hantu yang berada di lantai atas.

Rumah hantu ini makai sistem kereta rel jadi para pengunjung akan duduk di kereta berjalan selama di dalam. Sistem ini tidak kalah nakutkan dengan rumah hantu yang makai sistem berjalan.

Teriakan ketakutan dan suara orang nangis mbuat sekumpulan mahasiswa ini makin bersemangat.

Randika dan Hannah duduk bersama di bagian belakang sedangkan Roberto duduk di bagian depan bersama dengan temannya.

Selama perjalanan, Randika mperhatikan Roberto dengan seksama. Namun, dia tidak nemukan keanehan pada bocah satu itu.

Namun, Randika selalu gelisah dan tidak bisa tenang ketika lihat wajah Roberto. Samar-samar dia dapat rasakan firasat bahaya dari lelaki itu. Dia selalu rasa bahwa Roberto nyembunyikan sesuatu dari semua orang.

Randika mpercayai instingnya, terlebih lagi dia sangat familiar dengan wajah Roberto. Tetapi dia lupa pernah lihatnya di mana.

Atau ada seseorang yang mirip dengannya?

Pikiran Randika terus bekerja tanpa henti.

Setelah keluar dari rumah hantu, Hannah ngajak semuanya untuk bermain ga bola basket dan semuanya setuju. Lagipula, di mall wah seperti ini, setiap lantainya selalu dipenuhi oleh wanita-wanita cantik jadi Randika tidak keberatan.

Semuanya sekarang berjalan nuju ga center sambil ngobrol dengan santai.

Sesampainya di sana, Roberto ngisi saldo kartu dan nawarkan untuk bermain komidi putar yang ada di dalam. Para lelaki nggunakan kesempatan ini untuk bersraan dengan para perempuan.

Terlebih lagi, kebetulan jumlah lelaki dan perempuan sama banyaknya. Jadi setiap orang akan ndapatkan pasangan reka masing-masing.

"Kak, ayo kita naik kuda yang itu." Hannah dengan cepat narik Randika.

Naik kuda bersama?

Randika ngedipkan matanya, dia lalu natap komidi putar tersebut. Rupanya teman-teman Hannah ini pada berpikiran terbuka semua, reka mulai duduk bersama dengan para lelaki dan naiki satu kuda tersebut bersama-sama.

Sepertinya para lelaki ini miliki kesempatan dengan pasangan reka masing-masing.

Main komidi putar di usia reka bukanlah untuk bersenang-senang, kuncinya adalah bermain bersama dengan lawan jenismu.

Semuanya terlihat gembira, bahkan Stella terlihat asyik ngobrol sambil duduk berdempetan dengan lelaki lain.

Randika terbatuk dan natap Hannah, dia berkata padanya. "Han, ini tidak bagus."

"Hah? Kenapa mangnya?" Hannah noleh dan natap Randika. "Kak, kenapa kakak selalu berpikiran sum? Kita cuma ingin bermain dan bersenang-senang saja."

"Kamu kok tahu pikiranku?" Sambil nghela napas, dia berkata padanya. "Ya sudah, cepat duduk sini."

Randika langsung duduk di salah satu kuda. Dia nunjukan sisi atletisnya dengan loncat secara indah dan duduk dengan gagah.

Hannah terlihat cemberut, karena dia ingin duduk di depan!

Tiba-tiba, komidi putar ini mulai bergerak dan Hannah mulai kehilangan keseimbangannya. Dalam sekejap, dia ditarik oleh tenaga yang kuat dan duduk di atas kuda bersama Randika.

Ketika dia duduk, wajahnya njadi rah. Dia hanya duduk bersama dengan kakak iparnya, kenapa hatinya berdegup kencang?

Sekarang, kuda-kuda tersebut mulai bergerak naik turun. Randika dan Hannah benar-benar duduk sangat dekat, hampir nempel.

"Kak, munduran sedikit!" Karena saking dekatnya, Hannah rasa malu jika dilihat oleh teman-temannya. Namun, sebenarnya hatinya tidak tahan berdekatan dengan Randika.

"Sudah tenang saja, tidak ada yang curiga sama sekali kok." Randika berkata sambil tersenyum. "Kan lebih enak duduk berdekatan."

"Tidak mau, kak Randika terlalu dekat." Hannah mulai ndengus dingin.

Randika rasa tidak berdaya, kenapa adik iparnya ini tidak terpesona oleh dirinya?

Namun, karena kegigihan Hannah, Randika akhirnya ngalah dan mberi jarak di antara reka.

Duduk seperti ini malah mbuat Randika lebih mperhatikan leher putih milik Hannah. Pada saat yang sama, hati Randika ngepal karena dia bisa lihat dada besar Hannah yang gondal-gandul karena gerakan kuda yang naik turun.

Akhirnya secara perlahan dan nggunakan montum dari kudanya, Randika berhasil lihat pakaian dalam yang dikenakan oleh Hannah.

lihat buah terlarang ini, Randika hampir kehilangan kendalinya dan ingin nerjang ke arah Hannah pada saat ini juga.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 378: Bermain Bersama on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Nightwatcher cover
Similar genre

Nightwatcher

Paperboy ·Harem

Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,andMagicians.XuQi’an,a...Readmore Inthisworld,thereis:Confucianism;Taoism;Buddhism,Demons,a...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.