Font Size
15px

Mata Deviana tidak bisa berhenti berkedip, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Vivi sendiri juga bereaksi sama. Ketika dia mberanikan diri untuk nyentuhnya, dia langsung tersentak. "Wow dingin sekali!"

Ketika dia lihat tangannya, gelas itu benar-benar mbeku!

"Sudah silahkan nikmati." Randika lalu mberikan gelas itu kepada Vivi. Dengan senang hati dia nerima tawaran Randika. Pada saat yang bersamaan, Randika ngambil gelas Deviana sebelumnya dan nyulapnya njadi minuman dingin.

"Kalau ini buatmu sayang, panas-panas begini enak minum yang dingin." Kata Randika sambil ngedipkan matanya.

Deviana hampir muntah darah. Sayang? Sejak kapan dia manggilnya seperti itu?

Tetapi, ketika dia lihat minumannya yang dingin itu, tenggorokannya tergoda. Tanpa ragu-ragu, dia ngambil gelasnya dan minumnya.

Untuk trik ini, Randika nggunakan tenaga dalamnya untuk nyerap suhu minumannya. Kemudian dia ngubah suhunya njadi dingin.

"Omong-omong, apakah kalian tahu tentang kasus pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini?" Tanya Randika.

Deviana ngangguk. "Seluruh kepolisian sudah dikerahkan, tetapi sampai saat ini kami masih belum nemukan petunjuk. Perkembangan kasus ini benar-benar lambat."

Vivi juga njawab. "Pembunuhnya ini sangat abnormal, kita sudah ngecek jenazah korban dan semuanya ngalami kekerasan seksual."

Kekerasan seksual? Randika natap reka dengan serius.

Deviana berkata dengan wajah jijik. "Bagiku itu bukan kekerasan, bagiku dia benar-benar njijikkan dan tidak layak untuk hidup. Bisa-bisanya dia berhubungan badan dengan korban setelah dia mbunuhnya."

Berhubungan seks dengan jenazah?

Randika benar-benar kehabisan kata-kata, kerutan di dahinya tidak bisa lebih keras lagi. Benar-benar abnormal dan njijikkan. mperkosa perempuan masih terbilang normal, tetapi mperkosanya setelah mbunuhnya? Sepertinya pembunuhnya ini benar-benar miliki kelainan yang serius.

Wajah Vivi njadi khawatir. "Awal dari kasus ini sekitar sebulan yang lalu. Kita ndapatkan laporan bahwa ada seorang gadis SMA yang tidak pulang-pulang. Beberapa hari kemudian kita nemukan jenasahnya di tempat sampah."

"Pas ditemukan jantungnya sudah tidak ada." Deviana terdiam beberapa saat. "nurut ahli forensik kita, pemotongannya benar-benar rapi."

ndengar ini, Randika tidak bisa berhenti ngerutkan dahinya. Pembunuh ini tidak saja abnormal, tetapi miliki kemampuan dis juga? Atau jangan-jangan dia sudah ahli dalam motong organ?

"Teknik pembunuhan yang dilakukannya ini benar-benar mbingungkan. Kita sudah nelitinya sejak lama tetapi kami tidak dapat nemukan apa-apa. Terlebih lagi, dia sepertinya narget perempuan yang masih muda." Tambah Vivi.

Randika ngangguk, dia tidak nyangka pembunuh ini adalah pembunuh berantai yang abnormal dan pintar.

"Jika aku tahu sesuatu, aku akan mberitahumu." Kata Randika.

Deviana hanya ngangguk pelan.

Pada saat ini, HP Randika tiba-tiba bunyi.

Ketika dia lihatnya, ternyata Hannah yang nelepon.

Kenapa adik iparnya ini tiba-tiba nelepon?

Randika aslinya malas untuk ngangkatnya, mungkin adik iparnya ini ingin ngundangnya main. Tetapi pura-pura tidak ngangkatnya benar-benar kejam jadi dia ngangkat teleponnya.

"Kak, kakak di mana? Kalau nganggur bagaimana kalau kakak nyusul aku di mall? Aku benar-benar kesepian nih." Di balik telepon, Hannah benar-benar bersemangat. Suara berisik mall dapat terdengar di balik telepon.

"Sudah main saja sendiri, aku sedang sibuk." Jawab Randika.

"Jangan gitu dong kak, aku benar-benar kesepian tidak ada kak Randika. Aneh saja sendirian di tempat ramai seperti ini."

Randika kehabisan kata-kata. Dia aslinya sibuk, dia sebentar lagi berusaha ncari kakak-kakak cantik dan nggoda reka.

"Sudah cepat ke sini kak! Jika kakak datang, nanti aku kenalin teman-temanku yang cantik. Jangan khawatir, kak Inggrid tidak akan tahu." Kata Hannah.

Kenalin teman-temannya yang cantik?

Randika jelas tersenyum di dalam hatinya. Adik iparnya ini benar-benar mahami dirinya. Tetapi ngingat sifat dan sikap Hannah selama ini, pasti ada konspirasi di balik semua janji manisnya ini.

Tetapi jika dia nolak, adik iparnya ini akan tidur bersama dengan Inggrid lagi sebagai bentuk balas dendamnya.

"Han, aku benar-benar tidak bisa pergi." Jawab Randika dengan nada las. "Aku benar-benar sibuk dengan pekerjaanku, aku tidak bisa ninggalkan kantor seenak itu."

"Lho kak. Jadi gitu kak Randika ya." Hannah terdengar sedih sekali. Tetapi, tiba-tiba dia berteriak. "Oh!"

"Kenapa?" Randika terkejut, jangan-jangan ada yang terjadi dengannya.

"Aku sepertinya demam, aku sepertinya perlu tidur dengan kak Inggrid lagi biar sembuh." Suara Hannah terdengar ngancam.

"Kamu ini ya, ya sudah tunggu aku." Akhirnya Randika ngalah.

"Yeii, kak Randika mang yang terbaik. Aku nunggu di depan pintu masuk ya." Nada Hannah kembali njadi ceria, dia langsung nutup teleponnya.

ndengarkan nada teleponnya, Randika tahu bahwa dia sudah termakan oleh jebakan Hannah. Sepertinya dia mang tidak bisa lepas dari genggaman adik iparnya itu.

Namun, Randika hanya bisa pasrah.

"Adikku." Randika noleh ke arah Vivi dan Deviana. "Dia mbutuhkan bantuanku, aku harus pergi sekarang."

Kedua perempuan itu ngangguk. Ketika Randika pergi, Vivi berbisik kepada Deviana. "Dev, kamu harus njaganya dengan baik, jangan biarkan dia direbut oleh orang lain."

"Maksudmu apa?" Deviana natapnya dengan tajam.

"Percayalah padaku, kamu akan nyesal kalau lepaskan dia." Vivi lalu tersenyum. "Aku tahu bahwa kamu nyukainya dan jangan coba-coba untuk berkata tidak padaku, aku bisa lihat dari cara kamu mandangnya."

Kedua perempuan ini mbahas permasalahan cinta dan Randika berjalan nuju mall tempat Hannah berada.

Di sisi lain, Hannah nutup teleponnya dan tersenyum pada teman-temannya. "Sudah selesai."

"Han, kamu mbohongi kakak iparmu lagi?" Tanya Stella.

Hannah hanya tersenyum, mukanya terlihat bangga. "Karena dia sedang nganggur, bukankah kewajibannya nyenangkan hati adik iparnya yang imut?"

Beberapa temannya lalu tertawa, reka mulai jalan-jalan dan ngobrol. Stella juga nceritakan bagaimana kerennya Randika dalam bermain bola basket dan nyelamatkan dirinya dan Hannah ketika didatangi oleh beberapa anak nakal. Karena cerita Stella inilah, teman-temannya ingin lihat bagaimana rupanya Randika.

Ketika reka ngobrol, salah satu dari reka lihat sosok familiar. "Itu Roberto!"

Nama Roberto telah ngakar dalam di hati para mahasiswi di Universitas Cendrawasih. Dia adalah pria idaman semua perempuan. Ketika videonya dia bermain drama itu tersebar, semua perempuan tergila-gila dan hampir nyatakan perasaan reka pada mahasiswa asing tersebut.

Oleh karena itu, sosok Roberto sudah sangat spesial di hati semua perempuan.

Sekarang, Roberto dan teman-temannya nampak sedang jalan-jalan santai.

"Wow, itu benar-benar dia!" Teriak reka.

Hannah terlihat lebih dewasa dari reka, skipun begitu hatinya sudah berteriak tanpa henti.

Lelaki sempurna pasti nginginkan perempuan sempurna yang dewasa, maka dari itu Hannah berusaha bersikap selayaknya wanita dewasa.

Sebagai perempuan, kita harus mbuat laki-laki ngejar kita, bukan sebaliknya!

Ketika Roberto berjalan nghampiri reka, dia hanya tersenyum sekaligus berkata. "Wah kebetulan sekali bisa bertemu dengan kalian."

Hannah pura-pura bersikap dingin. "Iya, kebetulan sekali."

"Aku dan anak-anak mau main ke atas." Roberto nunjuk teman-temannya yang ada di belakangnya. "Apakah kalian ingin bergabung?"

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 377: Pembunuh Abnormal on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Became The Academy Necromancer cover
Similar genre

I Became The Academy Necromancer

172 ·Harem

Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’ll...Readmore Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’llsaveyou.Col...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.