Font Size
15px

Dalam sekejap, para staf departen parfum ini bekerja dengan giat. Suasana santai dan muka bercanda reka sudah lenyap tanpa jejak.

Ketika Randika natap pintu masuk, dia benar-benar terkejut. Sialan, posisinya sebagai atasan benar-benar direhkan.

Namun, Adrian mbeku di tempat karena saking takutnya. Dia natap Kelvin yang ada di depan pintu lalu natap semua orang. Dia nyadari bahwa teman-temannya itu sudah masuk mode kerja reka, keseriusan reka mbuat Adrian nangis di dalam hati.

Sialan, kalian akan ninggalkanku begitu saja? Bajingan, wajah kalian bisa cepat berubah seperti itu! Bukankah tadi kalian main solitaire?

Adrian hanya bisa pasrah dan berdiri di tempatnya.

Teman-temannya yang berwajah serius itu hanya bisa ngucapkan kata belasungkawa di dalam hati reka masing-masing.

Kelvin berjalan masuk dan natap semua orang. "Kalian semua tetap bekerja, Adrian, kau ikut aku."

ndengar hal ini, wajah Adrian berubah njadi pucat. Teman-temannya semuanya berusaha nahan tawa ketika ndengar kata-kata Kelvin ini, bahkan ada yang ncubit pahanya hingga rah.

"Kapok!" Kata temannya dengan suara kecil.

Randika sendiri hanya tertawa ketika lihat hal ini, mang karyawannya ini benar-benar bodoh.

Namun, dia rasa tidak masalah karena suasana seperti ini lebih bagus daripada tegang ataupun diam seperti zombie.

Tidak lama setelah itu, semuanya bekerja dengan giat.

Randika akhirnya nyelesaikan bagiannya, dia sekarang tinggal ndelegasikan sisa-sisanya.

Ketika dia lihat jam, rupanya waktu sudah berlalu satu jam.

Setelah berjalan-jalan sebentar di ruangan, Randika benar-benar tidak ada kerjaan. Pada saat ini, dia rasa haus. Jadi dia mutuskan untuk turun dan mbeli minuman di mini market.

Ketika di luar gedung, dia akhirnya mutuskan untuk mbeli juice. Ketika dia mau san juice jeruk lychee, dia lihat sosok Deviana duduk di kursi. Namun, Deviana sedang tidak makai seragam kerjanya, dia makai pakaian biasa. Sepertinya dia sedang libur hari ini.

Hari ini dia datang bersama dengan temannya, reka berdua terlihat ngobrol dengan asyik.

"Selamat siang Dev." Randika nghampiri dan tersenyum. Deviana dan kedua temannya noleh dan lihat sosok Randika.

Randika, tidak nunggu reka njawab, langsung duduk di kursi yang kosong.

"Siapa yang suruh kamu duduk di sini?" Kata Deviana.

"Oh? Kamu tidak mau hubungan kita dilihat temanmu?" Jawab Randika.

ndengar ini, temannya itu langsung mbuka mulutnya lebar-lebar. Dia natap Randika dan Deviana dengan wajah terkejut.

Deviana hanya natap tajam ke arah Randika. Hingga sekarang, dia sendiri masih bingung dengan hubungan reka berdua.

"Jangan omong aneh-aneh, aku bisa nahanmu di sini." Kata Deviana sambil ndengus dingin.

Randika natap polisi satu ini. Hari ini Deviana ngikat rambutnya dengan kunciran kuda, bajunya terlihat biasa dan celananya juga biasa. Namun, dia mbawa sensasi segar dan kuat. Karena dia rupakan polisi, sepertinya dia mbawa kesan sebagai perempuan atletis jika tidak makai seragamnya.

lihat Randika dan Deviana ngobrol dengan diam-diam, temannya ini tidak dapat nahan diri untuk berkata. "Dev, dia pacarmu? Apakah kamu tidak mau ngenalkannya padaku?"

Pacar?

Deviana mbeku, temannya yang bernama Vivi ini langsung njadi bersemangat. "Pantas saja kamu selalu ncibir dan bertingkah dingin sama laki-laki lain. Ternyata kamu sedang njaga hatimu untuk seseorang toh! Wah ini benar-benar berita ngejutkan! Kenapa kamu nyembunyikan fakta ini? Sudah cepat kenalkan aku dulu."

Randika benar-benar senang, Vivi mang orang yang hebat.

Deviana terlihat kelabakan. "Dia Dia itu Maksudku, dia itu"

Sebelum dia dapat berkata dengan benar, Vivi nyela sekali lagi.

"Dev, kamu masih berusaha untuk nyembunyikannya? Sudah tidak apa-apa, sekarang cepat kenalkan aku dengan pacar pertamamu ini! Aku tidak mau ncurinya kok, aku hanya penasaran dengan laki yang bisa ncuri perempuan terdingin dan tercantik yang pernah aku kenal!"

Deviana langsung terpicu. "Vivi, sudah hentikan omonganmu itu. Dia bukan pacarku."

Vivi hanya ngedipkan matanya berulang kali. "Dev, apa kamu masih berpura-pura lagi? Aku benar-benar tidak percaya, aku jelas lihat percikan cinta di antara kalian!"

Deviana hanya bisa kehabisan kata-kata. "."

Randika lalu natap Vivi sambil tersenyum. "Sayangnya, aku dan dia masih berteman."

ndengar ini, Vivi njadi lesu. Tetapi, harapannya kembali naik ketika dia ndengar Randika ngatakan. "Tetapi dia adalah calon pacarku."

Kedua bola mata Deviana hampir copot dari kantongnya, Randika hanya natapnya sambil tersenyum. "Ada apa? Apakah kamu ingin njadi pacarku sekarang?"

"HAH?! Siapa mangnya yang mau jadi pacarmu?" Deviana benar-benar kehabisan kata-kata. Vivi dengan semangat berkata lagi. "Hahaha aku hanya minta tolong agar kamu bisa njaga teman baikku ini di masa depan."

Di hadapan tingkah laku Randika yang bar-bar, Deviana hanya bisa pasrah. Tetapi Randika adalah orang dengan pikiran terbuka, dia dengan santai ngambil minuman yang diminum oleh Deviana dan minumnya.

"Kenapa tidak ada esnya?" Randika terkejut.

"mang tidak ada es." Vivi segera njelaskan. "Orangnya kehabisan es jadi orang-orang hanya bisa nunggu hingga esnya tiba. Karena kita tadi haus, jadi juice kita diblender tanpa nggunakan es."

Randika lalu berpikir sejenak, dia kemudian bertanya. "Apakah kalian ingin minum yang dingin?"

Deviana sama sekali tidak nggubrisnya, tetapi pada akhirnya dia njawab. "mangnya kamu mau beli di mana?"

Beli?

Randika hanya tersenyum. "Buat apa beli? Aku bisa mberikanmu satu."

Deviana dan VIvi terkejut, bagaimana caranya dia punya es batu?

Randika berdiri dan berjalan nuju si penjual juice. Setelah beberapa saat, dia kembali mbawa juice jeruk lychee tanpa es.

"Sudah jangan berlagak sok keren di depan temanku." Kata Deviana.

"Apa yang akan kamu lakukan jika aku bisa mbuatnya dingin?" Tanya Randika.

Ketika Deviana hendak njawab, dia terlihat ragu-ragu. Pengalamannya bertaruh dengan Randika mbawa kenangan buruk untuknya.

"Aku akan bertepuk tangan." Jawab Deviana dengan cuek, dia tidak akan tertipu kali ini.

Vivi di sisi lain langsung njawab. "Jika kamu berhasil mbuatnya dingin, temanku ini akan nciummu."

"Hei! Aku tidak pernah berkata seperti itu!" Deviana langsung nyela.

"Sudah tenang saja, mana mungkin dia bisa lakukannya." Jawab Vivi.

Randika jelas mbeku di tempat, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali!

Namun, Deviana natap tajam pada Randika dan Vivi. "Pokoknya aku tidak mau!"

"Atau kamu takut berciuman di depan wajahku ya?" Vivi tertawa. "Bagaimana calon pacar? Apakah kalian sudah lakukannya?"

Randika hanya terbeku, ketika dia lihat Deviana, perempuan satu itu sudah tersipu malu. Wajahnya benar-benar rah dan nunjukan ekspresi malu.

"Lihat apa kamu?!" Deviana mbentak ke arah Randika. Lalu Randika hanya njawabnya sambil bercanda. "Aku hanya sedang lihat perempuan tercantik di dunia ini, mataku benar-benar terpesona."

Randika lalu ngambil gelasnya tersebut dan ngocoknya. "Perhatikan, tidak ada es batu di dalam gelas."

Kemudian di bawah tatapan Deviana dan Vivi, gelas itu ditaruh di belakang punggung Randika.

Tatapan mata Deviana benar-benar tajam, dia sendiri penasaran bagaimana Randika akan lakukannya.

Setelah gelas itu ditaruh di belakang, baru berselang 10 detik, terlihat asap putih muncul dari belakang. Ketika Randika letakkan gelasnya itu di atas ja, kedua perempuan ini benar-benar terkejut ketika lihat gelas itu mbeku!

Gelas itu bagaikan baru saja keluar dari freezer, benar-benar berasap dan dingin. Seakan-akan, dia sudah masuk ke dalam freezer berjam-jam!

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 376: Bukan Sulap Bukan Sihir! on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.