Font Size
15px

Sejak makan malam di restoran itu, hati Viona masih dipenuhi dengan kebingungan.

Karena wanita adalah individu yang rapuh dan mudah terbawa perasaan, perasaan yang dirasakan Viona sekarang ini benar-benar mbunuh dirinya. Bahkan Viona kemarin tidak masuk dan berusaha nghindari dirinya, jelas ini rupakan suatu masalah besar.

Sosok Viona terlihat pendiam, lembut, dan pemalu tetapi sebenarnya dia adalah perempuan yang antusias dan unik. Randika ngetahui hal ini karena hatinya sudah terkoneksi dengan Viona sejak lama, dia rasa bahwa Viona rupakan pasangan yang ideal untuk dimasukkan ke dalam anggota haremnya.

Yang dibutuhkan dirinya hanyalah berhubungan seks dengan Viona, setelah itu perasaannya pada dirinya pasti berubah.

mikirkan hal ini, Randika tersenyum dan berjalan nghampiri Viona.

Viona sendiri sangat gugup hari ini, kejadian di restoran kapan hari masih mbekas di dalam dirinya. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika bertemu dengan Randika nanti. Setelah kabur dan tidak masuk kerja kemarin, dia rasa bahwa kabur seperti ini bukanlah jawabannya. Dia rasa bahwa dia harus ngundurkan diri dan keluar dari perusahaan ini.

Tetapi apakah langkah ini benar-benar rupakan isi hatinya yang sebenarnya?

Kemarin malam ketika dia mau tidur, Viona berusaha nutup matanya untuk lupakan semua ini. Tetapi yang muncul di benaknya adalah senyuman hangat Randika.

"Viona"

TIba-tiba, di belakangnya ada suara yang manggil dirinya. Ketika dia nyadari bahwa suara itu adalah milik Randika, tubuh Viona negang.

"Ran" Wajah Viona sudah tersipu malu.

"Vi, kamu kenapa?" Randika tertawa ketika lihat wajah Viona yang rah itu. Ketika dia ingin raih dagu Viona, Randika nyadari bahwa hal tersebut tidak terlalu pantas ngingat banyaknya orang yang bekerja di tempat ini.

Randika sendiri tidak masalah dilihat oleh orang lain, tetapi Viona rupakan individu yang pemalu jadi Randika nghormati ini.

"Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa! Jawab Viona.

"Terus kenapa kamu kemarin tidak masuk kantor?" Randika berdiri di depan Viona. Viona yang sekarang sama seperti anak kecil yang sedang diinterogasi oleh gurunya. Ketika Randika remas lengannya, Viona tidak rasakan sakit lainkan kelembutan yang hangat.

"Aku tidak enak badan jadi aku minta ijin sakit kemarin." Kata Viona. Wajahnya masih terlihat sangat rah.

"Benarkah?" Randika hanya nyeringai.

"Sungguhan." Viona nganggukan kepalanya.

Dalam sekejap, Randika nyadari bahwa tidak ada orang di koridor ini sekarang. Tangan kanannya bergerak secara perlahan ke belakang dan nampar pantat Viona dengan keras. Tiba-tiba, tangan Randika mantul kembali, seolah-olah dia tangannya itu nampar sebuah bola elastis.

Tindakan Randika yang tiba-tiba ini mbuat Viona ketakutan setengah mati, dia dengan cepat lirik ke Randika dan bertemu dengan senyuman nakalnya.

Randika sepertinya telah lihat keresahannya.

Ketika berpikir demikian, Viona tersipu malu.

"VI, kenapa kamu terus nghindariku? Apa kamu mbenciku?"

Ketika ndengar hal ini, Viona langsung njadi kelabakan. "Tidak! Aku tidak mbencimu!"

Randika natap lekat-lekat Viona, sudut mulutnya mulai naik dan mbentuk sebuah senyuman yang nakal. Sekali lagi, dia nampar pantat kenyal milik Viona itu.

Viona makai celana dalam yang minim kain, jadi tamparan Randika ini benar-benar ngenai kulitnya. Yang hanya nghalanginya adalah rok tipisnya yang mbalut pantatnya dengan sempurna. Namun, entah kenapa dia nikmati sensasi ini.

"Ini hukuman karena kamu berani untuk nghindariku. Apakah kamu berani lakukannya lagi?" Sifat sadis Randika mulai terpacu, dia mandang Viona dengan tatapan tajamnya.

Viona tersihir oleh bau lelaki yang dipancarkan oleh tubuh Randika, pantatnya sendiri mbara karena tamparan keras Randika. Dia rasakan rasa malu di dalam hatinya, tetapi bukan hanya rasa malu saja yang ada di dalam hatinya lainkan kehangatan dan kenikmatan. Dengan perlahan, dia nganggukan kepalanya.

"Ran kejadian di restoran itu.." Viona terlihat ragu-ragu. Dia lalu ngangkat kepalanya tinggi-tinggi, dia berharap Randika dapat njelaskan apa yang terjadi di malam hari itu.

"Hmm? Kenapa mangnya." Randika masang wajah bingung. "Vi, aku tidak ingat apa yang terjadi malam hari itu, aku terlalu mabuk hari itu."

"Ah!" Kedua mata Viona terbuka lebar, dia tidak nyangka akan ndengar jawaban ini dari Randika.

"Vi, apa kamu mau ngasih tahu apa yang sebenarnya terjadi malam hari itu? Aku sudah nanyakannya pada yang lain tetapi tidak ada yang mau mberitahuku." Kata Randika.

Bagaimana mungkin Viona ngatakannya? Dibandingkan dengan Hannah dan Inggrid, wajahnya benar-benar tipis. Di bawah serangan Randika, dia telah terjebak oleh sifat licik Randika ini.

"Aku aku juga tidak ngingatnya." Viona nggelengkan kepalanya berulang kali, dia lalu tertawa. Senyumannya itu benar-benar kar dan mbawakan sensasi segar.

"Ran, kadang aku mikir kamu itu terlalu" Viona berhenti berbicara, dia sepertinya tidak dapat nemukan kata yang tepat.

"Terlalu tampan?" Randika mbelai pipinya. "Aku sudah tahu itu dari awal."

lihat Randika ngalihkan topiknya lagi, Viona benar-benar rasa tidak berdaya. Namun, dia tidak semalu dan setegang tadi. Jawaban Randika atas kejadian di restoran kapan hari telah mbuat hatinya terasa lega.

"Ayo cepat kita masuk, semuanya sudah nunggu." Kata Randika sambil tersenyum.

reka berdua lalu berjalan berdampingan nuju laboratorium. Sebelum reka masuk, para staf sedang ngobrol satu sama lain.

Jika tidak ada Kelvin, semua orang suka ngobrol dan ninggalkan pekerjaan reka. Bagaimanapun juga, reka sudah bekerja seharian dan rasa suntuk. Ketika Randika datang, reka malah ngajak Randika untuk bergosip bersama-sama.

"Hei, hei, apa kalian dengar apa yang terjadi di kota kita beberapa hari ini?" Seorang laki-laki mulai mbuat suaranya seperti sedang nceritakan cerita horor. "Beberapa orang telah ninggal secara misterius, ketika ditemukan jantung reka sudah tidak ada!"

Para staf perempuan langsung negang ketika ndengar cerita ini.

"Tidak mungkin." Jelas reka semua tidak percaya. "Pembunuh macam apa yang tega lakukan hal itu?"

"Iya, tidak mungkin pembunuhnya lakukan hal itu. Ngapain juga dia lakukannya!" Balas reka.

"Ini sungguhan, aku tidak berbohong." Rupanya yang berbicara adalah Adrian. "Aku baru saja mbacanya di koran tadi pagi. Rupanya sebulan ini, banyak orang di kota kita ini telah nghilang secara misterius. Ketika akhirnya reka ditemukan, reka sudah mati dan jantung reka sudah tidak ada!"

"Berita itu juga nyampaikan bahwa kebanyakan korban adalah wanita cantik." Lanjut Axel yang ada di sampingnya.

"Ya ampun, bagaimana ini?" Beberapa staf perempuan mulai ketakutan, reka rasa pembunuh seperti itu benar-benar nakutkan.

"Nanti kalau kalian pulang, bacalah berita itu di koran kalian. nurut investigasi para polisi, pembunuhnya selalu lakukan hal yang sama. Dalam satu bulan ini sudah ada 8 mayat yang ditemukan oleh reka, tetapi sejauh ini para polisi masih belum bisa nemukan tersangkanya."

"Aduh bagaimana ini, aku jadi takut keluar sendirian. Bagaimana kalau tiba-tiba aku bertemu dengan pembunuh itu?" Wajah perempuan ini mulai mucat.

"Sudah jangan terlalu khawatir sama hal begitu, dia hanya ngincar wanita super cantik kok." Axel mulai nggoda perempuan itu supaya ringankan suasana tegang ini.

"Maksudmu apa?" Perempuan itu mulai marah. "Maksudmu aku tidak cantik?" Semuanya langsung tertawa ketika lihat Axel ketakutan.

"Ampun, ampun, aku cuma bercanda." Axel lambaikan tangannya. Perempuan yang mau mukulnya ini terkenal sebagai perempuan tomboy, dia sering nghajar laki-laki yang berani nantangnya.

"Tapi aku sarankan kalian jangan keluar terlalu malam beberapa hari ini. Sepertinya pembunuh itu beraksi di malam hari jadi jangan pernah keluar sendirian, sebaiknya kita waspada dan nghindari kejadian ini." Adrian nambahkan.

Semua orang ngangguk. Lebih baik ncegah daripada ngundang masalah untuk datang, terlebih lagi ini nyangkut nyawa reka.

Ketika Randika lihat kumpulan karyawan ini tidak selesai-selesai bergosip, dia nirukan suara Kelvin dan berteriak. "Siapa suruh kalian santai-santai seperti ini, cepat kerja!"

Randika makai sedikit tenaga dalamnya ketika nirukan suara Kelvin, suaranya benar-benar mirip dengan Kelvin.

Tentu saja, semua orang langsung kelabakan ketika ndengar itu dan segera kembali ke tempat duduk reka. Kecepatan reka benar-benar mbuat Randika terkejut.

reka baru saja berleha-leha di depannya, detik berikutnya reka semua sudah kembali duduk di tempat reka masing-masing. Wajah reka yang santai dan bahagia itu berubah njadi serius dalam sekejap.

Dengan ini Randika bisa ngetahui betapa nakutkan sosok Kelvin di mata para karyawannya.

Viona hanya bisa tertawa lepas, adegan ini benar-benar lucu.

Para staf ini akhirnya nyadari bahwa yang berteriak tadi rupanya adalah Randika, hati reka segera njadi rileks.

"Pak Randika jahil sekali, kenapa bapak suka mbuat kami jantungan seperti ini?" Axel ngelus dadanya.

"Pak, tolong jangan diulangi lagi. Kami benar-benar takut barusan!" Beberapa perempuan juga mulai ngeluhkan hal yang sama.

Randika hanya bisa tertawa. "Kalian saja yang penakut, masa cuma satu bentakan saja kalian langsung kelabakan."

"Siapa yang takut?!" Semuanya mulai bersemangat. "Kami tidak takut!"

"Benar, siapa yang takut?" Adrian langsung mbesarkan otot dadanya. "Aku tidak takut sama pak Kelvin!"

Namun tiba-tiba, suara pintu terbuka dapat terdengar. Semua orang langsung mbeku dan Adrian langsung berkeringat dingin. Sosok Kelvin dapat terlihat muncul dari balik pintu.

Kali ini, semua orang langsung duduk dengan tenang di tempat duduk reka. Satu per satu dari reka mulai fokus kembali bekerja.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 375: Pembunuh di Kota Cendrawasih on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

I Became The Academy Necromancer cover
Similar genre

I Became The Academy Necromancer

172 ·Harem

Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’ll...Readmore Scream,Shriek.Wakeupandpourtherestofyourgrudgesontome.ThenI’llsaveyou.Col...

I Devour Deities cover
Similar genre

I Devour Deities

Love Pea ·Harem

Thirtyyearsago,ameteorfellandthedivineruinsappeared!Somedeitiesemergedfromit,feedingonhumans.Sincethatday,humanshavebecomefoodforthedeities,exceptf...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.