Hannah gang mulutnya dengan kedua tangannya, dia berusaha nahan diri untuk tidak muntah!
Reaksi Hannah benar-benar lugas.
Kakak iparnya pria sempurna? Hannah ingin ngatakan bahwa hanya orang buta yang nganggap Randika seperti itu, tetapi dia nahan diri karena ada Inggrid di sampingnya.
Randika terlihat biasa-biasa saja, sebaliknya dia ngusap kepala Hannah. "Sudah tidak apa-apa, aku tahu isi hatimu. Kamu tidak perlu ngatakannya, aku paham kok."
Inggrid lihat keakraban keduanya ini dan tersenyum, dia lalu berkata pada Randika. "Sudah ayo makan, nanti keburu dingin."
Randika hanya nghela napasnya. "Sayang, aku hanya ingin makanmu malam hari ini."
"Kak!" Hannah langsung nginjak kaki Randika. DIa masih ada di sini, bisa-bisanya dia berkata sum seperti itu dengan kakak kandungnya!
Randika ngerutkan dahinya, Inggrid hanya bisa tertawa dan Ibu Ipah dengan wajah senang naruh sisa makanan ke atas ja.
"Nona, nak Randika, ayo dimakan mumpung masih panas."
ndengar ini, Hannah segera nghampiri ja makan dan ncueki Randika.
"Wah Ibu Ipah, makanannya kelihatan enak semua!" kata Hannah dengan tersenyum.
Randika juga nghampiri ja makan dan mulai ngiler. Dia belum makan sejak siang tadi, dia benar-benar lapar.
Setelah makan malam bersama dengan Hannah dan Inggrid, Randika ncuri waktu untuk masuk ke dalam kamarnya.
Ketika di dalam kamar, wajah Randika yang setenang air itu ngambil HPnya dan nelepon ke sebuah nomor.
"Ini Ares sang Dewa Perang!" Wajah Randika berubah njadi serius. "Bagaimana penyelidikanmu? Apakah ada perkembangan?"
"Saya sudah riksa latar belakang dari Roberto sesuai perintah Anda. Saya nemukan bahwa Roberto adalah anak dari Carlos, pengusaha sukses di Indonesia. Tetapi reka berbasis di Eropa, jadi saya tidak ndapatkan informasi apa pun ngenai ayahnya."
Randika lalu berpikir untuk sejenak, suara dari balik telepon tidak berhenti berbicara. "Roberto datang ke Indonesia sekitar sebulan yang lalu, dia datang untuk ngikuti program pertukaran siswa asing di Universitas Cendrawasih."
Sebulan yang lalu?
"Apakah kamu yakin dengan waktu kedatangannya?" Tanya Randika.
"Iya saya yakin." Bawahan Randika ini berkata dengan nada serius dan dalam. "Saya juga nemukan bahwa Roberto sendiri yang ngisi formulir pendaftaran program pertukaran siswa asing itu."
ndaftar sendiri?
Di dalam kepala Randika sekarang, senyuman licik Roberto tiba-tiba muncul. Dia tidak tahu kenapa, tetapi ketika dia mikirkan senyumannya itu, Randika rasa tidak nyaman. Hatinya tahu bahwa ada yang salah darinya.
Ini murni kata instingnya, Randika tidak pernah ragu dengan insting tajamnya.
"Tuan, apakah saya harus ngawasinya lebih lama lagi?" Kata bawahannya itu. "Jika Anda ingin saya ngawasinya, saya juga akan makai koneksi di Eropa dan nyelidikinya lebih lanjut."
"Lanjutkan." Kata Randika dengan samar. Apa pun yang terjadi, dia harus ngetahui latar belakang Roberto. Jika dia tidak dapat ngetahui niat asli pihak lain, Randika tidak akan bisa tidur dengan tenang! Dia rasa bahwa Roberto bukanlah orang biasa.
"Hari ini, Roberto nyelamatkan Hannah di kantin kampusnya. Kecelakaan ini berawal dari pegangan tangga yang rusak. Cepat pergi dan periksa pegangan tangga itu." Kata Randika.
"Baik."
Setelah nutup telepon, Randika masih mikirkan masalah ini. Tetapi, dari luar dia dapat ndengar Hannah yang berteriak manggil namanya.
Randika lalu berjalan keluar dari kamar dan naruh kembali HPnya di saku celananya.
...
Pagi-pagi sekali, Randika sudah terbangun. Kali ini, dia terbangun sendirian di kamar. Kemarin malam, Hannah nyelamatkan kakaknya itu dari terkaman Randika dan tidur bersama. Jadi Randika terpaksa tidur sendirian tanpa bisa berbuat apa-apa.
Padahal dia sudah lama ingin ncoba hal-hal baru dengan Inggrid. Beberapa hari yang lalu, Randika mbeli beberapa barang seperti baju dan alat-alat seperti borgol, vibrator dll. Ketika Inggrid lihat barang-barang ini, wajahnya njadi rah.
Sayang sekali Randika masih belum sempat ncobanya.
Setelah ncuci mukanya, Randika ngambil HPnya dan berjalan turun ke bawah. Di HPnya, ada sebuah pesan singkat.
Ketika dia mbukanya, rupanya itu dari bawahannya dari divisi intelijen.
Isi pesan itu singkat, padat, dan jelas. Randika minta reka untuk ngecek pegangan tangga yang nyebabkan Hannah terjatuh itu. Dia ngatakan bahwa tidak ada kejanggalan apa pun.
Pegangan tangganya mang sudah tua, ditambah dengan kekuatan pegangan dari Hannah, hal ini langsung matahkan pegangan tangga tersebut.
Setelah mbaca ini, Randika ngerutkan dahinya.
Tidak ada yang janggal?
Apakah ini murni kecelakaan?
Semakin dia mikirkannya, semakin ragu Randika.
Namun, dia sama sekali tidak ragukan informasi yang didapatnya ini. Para bawahannya dari divisi intelijen itu adalah orang-orang yang teliti dan cerdas, tidak mungkin reka salah nganalisa kejadian ini.
Setelah turun ke bawah, Hannah dan Inggrid sudah duduk di ja makan. reka sedang ngobrol dan tertawa bersama-sama, hubungan kakak adik reka ini benar-benar erat. Ketika Hannah lihat sosok Randika berjalan ke bawah, dia ndengus dingin.
Randika sendiri natap tajam ke arah Hannah sambil nggertakkan giginya. Maling yang telah ncuri tempat tidurnya serta barang berharganya ini tidak akan bisa berbuat hal yang sama malam hari ini!
Diselimuti oleh rasa benci ini, Randika duduk diam tanpa nyapa Hannah. Dia lalu ngambil sepiring nasi dan telur dadar yang ada di atas ja.
"Kak, hari ini aku nganggur, apakah kakak bisa nemaniku bermain?" Kata Hannah pada Inggrid.
"Maaf, kakak harus pergi kerja hari ini. Perusahaan kakak sedang sibuk." Kata Inggrid.
Hannah lalu lirik ke Randika, yang pura-pura tidak lihat dirinya dan berkomitn untuk nghabisi nasi dan telur dadarnya itu.
"Bagaimana dengan kak Randika, apa kakak mau nemaniku bermain? Tanya Hannah sambil tersenyum manis.
Randika ngambil suapan besar dan ndengus dingin. Dia malingkan wajahnya dari Hannah.
Sifat kekanak-kanakannya ini mbuat Inggrid geleng-geleng. "Kalau keselek bagaimana? Kamu mau mati hanya karena keselek nasi?"
Randika hanya tersenyum, dia masih tetap tidak mau mbalas kata-kata Hannah.
Setelah sarapan, Hannah langsung keluar dari rumah dan Randika ngikuti Inggrid pergi ke kantor.
Hari ini banyak kegiatan di kantor, khususnya ngingat sebentar lagi rupakan deadline dari produksi reka. Departen parfum bekerja pagi hingga malam hanya untuk nuhi kuota reka. Dengan adanya Randika, beban departen parfum akan sangat berkurang.
nurut Kelvin, Randika setara dengan 20 orang sekaligus. Bukan, bukan, bahkan seluruh orang di departen parfum! Jika Randika benar-benar mau, dia bisa ngambil alih departen parfum dan cat reka semua.
Bukan hanya saja mbuat parfum jenis baru, Randika tidak perlu nggunakan sebuah formula untuk mbuat ulang parfum yang dibutuhkan. Dia hanya mbutuhkan hidungnya dan instingnya untuk mbuat hal yang sama.
Peran Randika mang luar biasa di departen parfum.
Oleh karena itu, Kelvin sudah mohon pada Randika untuk setidaknya berada di laboratorium selama setengah hari untuk mbantu reka.
Randika sendiri juga ngiyakan permohonan Kelvin ini.
Sesampainya di perusahaan, Randika tidak langsung masuk ke dalam laboratorium. Dia lihat sosok yang sangat dikenalnya di koridor perusahaan, dia adalah Viona!
Reviews
All reviews (0)