Font Size
15px

Randika mperhatikan dengan baik Roberto, seharusnya kedua tangan bocah itu patah karena kuatnya tekanan yang dia terima.

Kejadian ini benar-benar terlalu cepat, tahu-tahu semuanya dapat lihat bahwa anak kecil yang terjatuh itu selamat dan dipeluk erat oleh Roberto.

"Gila, Roberto benar-benar seorang pahlawan."

Para pengunjung yang lain segera nghampiri Roberto. skipun anak kecil itu selamat, rasa takut dan panik masih mbekas di wajahnya.

Anak ini masih berumur 3 atau 4 tahun, masih terlihat imut. Di lantai, Roberto terlihat kesakitan.

"Kalian berdua baik-baik saja?" Tanya seseorang dengan wajah yang khawatir.

Semua teman-teman Roberto juga berusaha mbantunya untuk berdiri. Pada saat ini, bianglala sudah berhenti berjalan dan semua orang ngerumuni Roberto.

Dengan bantuan temannya, Roberto sudah berdiri dengan wajah yang pucat. Semua orang dapat lihat bahwa tangan Roberto terkulai lemas.

"Aku tidak apa-apa." Roberto terlihat nahan sakitnya dan tersenyum. Hati para perempuan ini langsung ngepal dengan kuat. "Bagaimana mungkin kamu baik-baik saja? Ayo cepat kita ke rumah sakit!"

"Benar, ayo cepat ke rumah sakit." Bahkan beberapa orang terlihat ingin ngantarkan Roberto karena kagum dengan tindakan heroiknya.

"Aku bisa nyembuhkannya." Pada saat ini, Randika bersuara dan mbuat semua orang noleh.

Roberto sendiri noleh dan lihat Randika berkata padanya. "Aku pernah mbenarkan tulang yang dislokasi, tulangmu hanya copot dari sendinya jadi cukup dikembalikan seperti biasa."

"Ngomong apa kamu? Lebih baik kita ke rumah sakit untuk jaga-jaga." Pengunjung di sebelah Roberto tetap nyarankannya untuk tetap ke rumah sakit.

Hannah terlihat tidak terima dengan kata-katanya. "Kakakku ini benar-benar ahli dalam ilmu pengobatan. Kalau cuma ngembalikan tulang ke tempatnya, itu cuma perkara mudah bagi dirinya."

Roberto hanya tersenyum. "Kalau tidak keberatan, tolong sembuhkan aku."

Randika ngangguk, kemudian dia raih tangan kanan Roberto dan berkata. "Ini mungkin sakit sedikit, jadi tahanlah sebentar."

Roberto tersenyum. "Tidak masalah."

Setelah itu, Randika narik tangannya dengan keras. Kekuatan besar ini seolah-olah ingin ncabik lengan Robert, wajahnya langsung berubah njadi putih. Rasa sakit yang luar biasa langsung rembes ke otaknya, giginya dia gertakkan dengan keras.

Tidak ada reaksi apa-apa?

Randika cukup terkejut. nurutnya Roberto ini seharusnya miliki kemampuan bela diri, orang-orang yang miliki kemampuan bela diri biasanya secara tidak sadar akan bereaksi dengan narik tangannya ataupun masang kuda-kuda.

Sepertinya dugaannya salah?

"Apakah dia baik-baik saja?" Beberapa orang bertanya pada Randika, wajah reka terlihat khawatir.

"Ah, aku barusan salah nariknya. Aku perlu lakukannya sekali lagi, apa kamu siap?" Kata Randika dengan nada sedikit malu.

Dengan wajah pucatnya, Roberto maksakan dirinya untuk tersenyum dan ngangguk.

Pada saat yang sama, Randika kembali narik dengan keras dan kasar.

Masih tidak ada reaksinya?

Setelah ncoba 2x, Randika mulai ragu-ragu dengan identitas Roberto. Orang-orang di sekitarnya mulai terlihat marah ketika lihat Randika.

"Hei, kamu beneran bisa nyembuhkannya atau tidak? Jika kamu terus begini, dia bisa mati!"

"Sudah, cepat bawa dia ke rumah sakit!"

Randika berkata dengan wajah malunya. "Sebentar, sekali lagi pasti berhasil."

Setelah berkata seperti itu, Randika narik tangannya sekali lagi dan terdengar suara klik. Rasa sakit Roberto secara bertahap nghilang dan tangan kanannya mulai pulih kembali.

Randika juga narik tangan kirinya dan mbetulkannya.

"Seharusnya kamu sudah baik-baik saja." Randika berdiri dan tersenyum, Hannah sendiri juga terlihat bangga. "Mana mungkin hal seperti ini nyusahkan kakak iparku."

"Hahaha terima kasih, terima kasih. Kalau begitu, bagaimana kalau kita kembali jalan-jalan?" Kata Roberto sambil tersenyum. skipun begitu, wajahnya masih terlihat pucat karena 2 serangan Randika tersebut.

"Kak, terima kasih sudah nyembuhkanku. Aku sendiri juga malas kalau harus nginap di rumah sakit." Kata Roberto pada Randika.

"Hahaha sama-sama." Randika mbalas senyumannya. "Ini pekerjaan yang mudah."

Apakah dia benar-benar baik-baik saja?

Hati Randika masih dalam keadaan ragu.

"Ayo kita main lagi, masih banyak mainan yang nunggu." Kata Roberto.

"Apa tanganmu baik-baik saja?" Tanya teman perempuannya dengan wajah khawatir.

"Tidak masalah, bukankah aku terlihat baik-baik saja?" Kata Roberto.

Kemudian sekumpulan mahasiswa ini kembali bermain lagi. Tidak lama kemudian, waktu untuk berpisah telah datang.

"Kita pergi dulu ya, nanti kalau sempat kita jalan-jalan bersama lagi." Kata Roberto sambil tersenyum.

"Hati-hati." Semuanya mulai pulang masing-masing.

Hannah juga berpamitan dengan teman-temannya, dia berniat untuk pulang bersama dengan Randika.

"Kak, Roberto mang orang yang nawan ya. Hatinya benar-benar hangat." Ketika tidak ada orang, Hannah langsung muji Roberto.

"Iya, iya." Randika hanya nguap.

"Ketika kita haus, dia tidak ragu-ragu mbelikan kita semua air." Hannah tersenyum.

Air?

Tatapan mata Randika langsung berubah njadi tajam. "Han, cepat berikan botol airnya."

Hannah terlihat bingung, apakah kakak iparnya ini haus?

Kemudian dia ngeluarkan botol airnya dari dalam tas dan mberikannya pada Randika.

"Tadi Roberto mbelikan kita sekresek air putih dan semuanya dapat satu per satu." Kata Hannah.

Randika natap botol air tersebut. Jika dugaannya benar, seharusnya air di dalam ini ada sesuatunya.

"Kak, apakah ada yang salah dengan airnya?" Tanya Hannah.

Randika nggelengkan kepalanya. "Kita tidak akan tahu sebelum kita riksanya."

"Kak, apa kak Randika ncurigai Roberto?" Pada saat ini, Hannah bisa rasakannya. Akhirnya dia nyadari bahwa tingkah laku Randika mang aneh apabila ngenai Roberto.

Randika nggenggam erat botol airnya. "Han, ketika kita bertemu dengan Roberto pertama kali, aku dapat rasakan bahwa lelaki itu berbahaya."

"rasakan?" Hannah lalu njadi marah. "Kak, tidak baik berprasangka buruk sama orang lain."

"Jadi kamu tidak berprasangka buruk saat kita naik komidi putar?" Randika langsung ngalihkan topik.

Wajah Hannah berubah njadi rah, dia lalu ndengus dingin. "Aku tidak mau berbicara denganmu lagi."

Tidak lama kemudian, reka telah sampai di perusahaan Cendrawasih. Sesampainya di sana, Hannah segera berlari ke kantor Inggrid dan Randika kembali ke laboratoriumnya.

"Oh pak Randika sudah kembali? Ada yang ketinggalan?" Sindiran Adrian bisa langsung terdengar.

"Sepertinya pak Randika kepanasan jadinya dia ngungsi ke sini." Tambah orang di sampingnya.

"Tidak mungkin, pasti dia habis ditolak sama cewek." Kata Axel sambil tertawa.

Randika ngabaikannya dan naruh botol air yang dipegangnya di ja. "Cepat, periksa kandungan air di botol ini."

Adrian ngambil botol tersebut dan bertanya. "Apakah pak Randika mau jualan air putih versi baru?"

"Sudah cepat kerjakan, kalau hasilnya keluar cepat beritahu aku." Randika kembali duduk di kursinya.

"Baiklah." Adrian dengan cepat riksanya.

Tidak lama kemudian, Adrian mbawa hasil penelitiannya pada Randika.

"Pak, air di dalam botol ini normal."

"Maksudmu normal?" Tanya Randika.

Wajah Adrian terlihat bingung. "Ini cuma air putih biasa pak, tidak ada yang aneh sama sekali."

Air putih biasa?

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 380: Air Putih Biasa? on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.