Setelah sampai di perusahaan, Randika langsung masuk ke laboratorium.
lihat kehadiran Randika, semua karyawan segera nyambutnya.
"Pak Randika selamat pagi."
"Tumben masuk pagi pak?"
Semua orang nyapa sambil tersenyum, Randika juga mbalas sapaan reka satu per satu. Namun setelah riksa seluruh ruangan, Randika tidak dapat nemukan sosok Viona.
Setelah bekerja untuk beberapa saat, Viona tetap tidak terlihat sama sekali.
"Semuanya hentikan pekerjaan kalian dan tolong perhatikan saya." Kata Kelvin dengan suara keras.
"Kita ndapatkan sampel baru dari bu Inggrid untuk kita kembangkan. Kesuksesan kita kali ini tergantung apakah kita bisa nuhi kuota dengan waktu yang sudah ditentukan oleh bu Inggrid." Kelvin natap semua bawahannya. "Seperti biasa, setelah kuota ini tercapai, akan ada bonus dan liburan. Jadi apakah kalian semua bisa nghadapi rintangan ini?"
"Bisa!" Semua orang langsung satu suara. ndengar kata bonus, semuanya njadi bersemangat karena bonus yang dimaksud bernilai 3-4x dari gaji reka.
"Baiklah kalau begitu, mari kita mulai. Aku akan mbagi kalian dalam beberapa tim dan ngirimkan formula via email." Kata Kelvin. Dia lalu noleh ke arah Randika sambil tersenyum. "Syukurlah pak Randika hari ini datang, kami sangat terbantu."
"Di mana Viona?" Tanya Randika dengan santai.
"Viona ijin sakit untuk beberapa hari. Kalau pak Randika khawatir, saya tidak larang bapak untuk ngunjunginya kok." Kata Kelvin sambil tersenyum.
Randika tidak peduli dengan sarkas Kelvin, dia hanya peduli dengan Viona. Sepertinya kejadian semalam itu berdampak besar baginya. Kemungkinan besar Viona sedang mikirkan bagaimana dia harus nghadapi kenyataan ini.
Dasar perempuan bodoh.
Randika hanya bisa nghela napasnya dalam-dalam.
Selama seharian penuh, Randika dan para ahli parfum ini bekerja dengan giat untuk ngembangkan produk baru reka.
Dengan bantuan Randika, proses reka berjalan dengan cepat.
Dalam sekejap, waktu sudah masuki siang hari. Tidak lama kemudian, HP milik Randika bergetar.
Randika ngintip HPnya dan ternyata yang neleponnya adalah Hannah.
"Kenapa?"
"Antarkan aku ke sekolah." Kata Hannah dari balik telepon.
"Bukankah kamu biasanya berangkat sendiri? Kenapa tiba-tiba aku harus ngantarmu?" Randika jelas bingung dengan permintaan adik iparnya ini.
"Terserah aku kan! Sudah, kak Randika mau antar atau tidak?" Suasana hati Hannah hari ini benar-benar buruk.
Randika hanya bisa tersenyum pahit. "Baiklah, baiklah, tunggu aku sebentar."
Adik iparnya hari ini benar-benar galak pada dirinya.
Setelah berbicara dengan Kelvin, Randika ninggalkan perusahaan. Di perjalanannya nuju rumah, Randika berpikir ngenai Hannah. Apakah kejadian semalam telah mbuat sifat Hannah berubah drastis?
Tetapi kalau dilihat dari sikapnya tadi pagi, apakah akhirnya Hannah telah mbulatkan tekadnya? Berarti apakah ini waktunya ncicipi buah terlarang?
mikirkan hal ini, Randika benar-benar bersemangat.
Tidak lama kemudian, Randika akhirnya tiba dan masuk ke ruang tamu sambil tersenyum. Dia lalu nemukan Hannah sedang duduk di sofa sambil makan es krim dan nonton TV.
Hannah natap Randika yang baru saja pulang, dia lalu berkata padanya. "Kak, apa kakak ke sini naik mobilnya kak Inggrid?"
Randika terkejut. "Buat apa aku minjam mobil kakakmu itu?"
"Terus kak Randika mau ngantar aku naik apa?"
"Bukankah kamu ada mobil?"
"Mobilku rusak dan dibawa pergi sama tukang bengkelnya." Kata Hannah sambil makan es krimnya.
"Kenapa kamu tidak ngatakannya dengan jelas di telepon tadi?" Randika geleng-geleng.
"Hah? Bukankah maksudku itu sudah jelas? Aku kan cuma ingin diantarkan ke sekolah jadi jelas aku butuh nunutan bukan? Kalau tidak butuh bantuan jelas aku sudah naik mobilku sendiri ke sekolah seperti biasa. Masa kak Randika tidak bisa ngetahui hal yang jelas seperti ini?" Kata Hannah dengan nada santai.
Randika rasa ingin pingsan.
......
Akhirnya, Randika manggil taksi dan ngantarkan Hannah ke kuliahannya.
Tentu saja, Randika bertanya pada Hannah kenapa dia tidak naik taksi saja tadi. nanggapi pertanyaan ini, Hannah hanya ngatakan bahwa dia tadi tidak kepikiran. Jawaban ini mbuat Randika ingin muntah darah.
Setelah berduaan di taksi selama beberapa waktu, akhirnya reka tiba di Universitas Cendrawasih.
"Kak, antarkan aku sampai asrama." Kata Hannah sambil tersenyum.
"Yah mumpung aku di sini, baiklah." Randika lalu ngantarkan Hannah ke asrama miliknya.
Ketika reka berdua berjalan dengan santai, Hannah natap Randika. "Kak, apa kak Randika benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi tadi malam?"
"Hmm? Iya aku tidak ingat apa-apa, sepertinya aku terlalu banyak minum." Kata Randika.
Hannah mperhatikan ekspresi Randika, tetapi dia tidak tahu apakah kakak iparnya ini berbohong atau tidak setelah lihat ekspresinya.
Setelah berjalan dari gerbang sekolah, Randika dan Hannah lewati sebuah lapangan sepak bola sebelum ncapai asramanya Hannah. Ketika reka berdua lewati lapangan sepak bola tersebut, banyak orang sedang lihat pertandingan yang sedang berjalan.
"Maju terus! Kamu pasti bisa!" Teriak beberapa perempuan.
"Goal!! Hebat sekali orang itu."
"Siapa laki-laki itu? Sudah jago, ganteng lagi orangnya." Para perempuan tidak bisa nutupi semangat reka ketika lihat lelaki keren yang barusan ncetak gol itu.
"Hei, hei, mainnya biasa saja. Lihat itu fans-fansmu nggila di pinggir." Salah satu teman dari pencetak goal itu nggoda temannya sambil geleng-geleng.
Di kala teriakan para perempuan itu terus terdengar, orang-orang masih penasaran siapakah lelaki tersebut. "Hei, siapa laki itu? Aku belum pernah lihatnya di sekolah ini sebelumnya."
"Iya, iya, aku sendiri tidak pernah lihatnya di sekolah ini." Kata temannya.
"Kalian ini lelaki bodoh, masa kalian tidak kenal lelaki keren seperti itu?" Kata salah satu perempuan yang rupakan fansnya itu.
Semua orang mulai natap perempuan tersebut.
"Dia Roberto, dia barusan saja masuk ke sekolah kita 2 hari yang lalu untuk program pertukaran pelajar luar negeri." Kata perempuan tersebut.
"Tetapi wajahnya kayak orang lokal gitu." Orang-orang yang ndengarnya mulai penasaran.
Perempuan itu tidak marah, dia lalu mbalas. "Dia itu anak dari politikus di kota kita jadi dia itu berdarah campuran. Wajahnya yang lokal itu tentu saja dari ayahnya."
ndengar hal ini, orang-orang nganggukan kepalanya. Tidak heran wajahnya kayak bule-bule biasanya.
"Keluarga Roberto itu kaya raya, dia sendiri tampan dan baik hati. Dia itu seperti pangeran berkuda putih yang ada di film Disney." Perempuan itu natap Roberto yang ada di lapangan dengan tatapan penuh asmara.
Semua orang hanya bisa tertawa ketika ndengar kata-kata itu, mana mungkin dia mau dengan perempuan sepertimu!
Di lapangan sepak bola, Roberto ngontrol bola dengan lihai. Tidak heran para perempuan ngaguminya.
Dengan tinggi 180 cm, baju seragamnya itu terlihat sesak karena otot-ototnya yang begitu besar. Terlebih lagi, ketika dia berlari, postur tubuhnya sudah seperti seekor macan tutul yang berlari. Dia lewati dua orang dengan sangat mudah, hal ini mbuat orang-orang bersorak untuknya.
Pada saat yang sama, Hannah dan Randika baru saja lewati lapangan bola ini.
Roberto, yang sedang berlari ngecoh lawannya, tiba-tiba berhenti berlari. Dia kemudian nendang bola yang dia bawa itu ke atas hingga tinggi sekali.
"Salto?"
"Ayo Roberto, kamu pasti bisa!"
"Wah sudah seperti kapten Tsubasa aja pakai salto."
Orang-orang bersorak lihat aksi Roberto. Tetapi Roberto baru saja lihat Randika dan Hannah yang lewat.
Ketika bola itu sudah ncapai titiknya, Roberto ngayunkan kakinya. Tiba-tiba bola itu ndapatkan energi yang luar biasa dan lesat ke depan!
Namun, bola itu bukan ngarah pada gawang lawan, bola itu ngarah pada Randika dan Hannah!
Reviews
All reviews (0)