Font Size
15px

Inggrid dan Hannah natap diam ke arah Randika.

"Kak, apa kak Randika benar-benar mabuk?" Tanya Hannah dengan penuh keraguan.

"Sepertinya." Inggrid hanya bisa tersenyum pahit. "Sebaiknya kita mbawanya pulang."

Hannah ndengus dingin, dia natap tanpa ekspresi kepada Randika, matanya penuh dengan ketidak percayaan.

Apa benar kakak iparnya ini mabuk?

Jadi omongannya tadi cuma karena dia sedang mabuk?

Inggrid kemudian berjalan nghampiri Randika dan ngangkatnya secara perlahan. skipun hatinya masih penuh keraguan, Hannah mbantu Inggrid nggotong Randika. Keduanya lalu mbawanya ke dalam mobil.

Namun, skipun dirinya terlihat tertidur, Randika benar-benar rasa puas di dalam hatinya.

Dia rasa bahwa dirinya adalah Einstein jaman sekarang. Berkat pura-pura mabuk ini, dia bisa ngutarakan rencana haremnya dan mbuat ketiga perempuan cantik itu mikirkan proposal miliknya itu. Setelah itu dia bisa kabur dari situasi canggung ini dengan pura-pura pingsan! Benar-benar cerdas!

........

Keesokan harinya, Randika terbangun dan berjalan nuju lantai bawah.

Sepertinya, Hannah dan Inggrid baru saja selesai sarapan. Hannah, yang sedang duduk di sofa, natap ke arah tangga dan lihat kakak iparnya datang.

Randika tersenyum dan lambaikan tangannya. Ketika dia nyapa Hannah, adik iparnya itu hanya malingkan wajahnya dan nundukan wajahnya.

Sialan, jadi dia milih untuk ngabaikanku?

Randika nghela napasnya, apakah ini karena dia masih bingung dengan perasaannya atau kesal dengan dirinya?

"Pagi." Randika berjalan lewati Hannah sambil tersenyum.

"Hum." Hannah dengan cepat malingkan wajahnya lagi dan berpura-pura tidak lihat Randika sama sekali.

"Hahaha setiap hari kamu makin cantik saja, kok bisa ya kayak begitu?" Kata Randika.

Ketika ndengar hal ini, wajah Hannah kembali njadi ceria. Tetapi ngingat kejadian kemarin, suasana hatinya kembali njadi galau.

Randika dapat rasakan bahwa kata-katanya yang manis barusan telah berhasil, dia harus nyerang mumpung masih bisa. "Bagaimana kalau hari ini kita pergi main, kebetulan aku ada waktu luang! Kamu mau pergi ke mana, kakak akan nemanimu ke mana pun!"

"Siapa mangnya yang mau pergi?" Kata Hannah sambil cemberut.

Randika hanya bisa tersenyum pahit. Ah Malu-malu kucing? Dasar anak muda, kenapa kamu tidak mau jujur dengan perasaanmu!

"Yakin kamu tidak mau pergi? Aku dengar ada toko kue baru di mall dekat sini lho, katanya kuenya itu nomor 1 di kota!"

"Tidak mau." Hannah natap Randika dan berkata dengan nada dingin. "Apa kakak berusaha nyuapku?"

"nyuapmu?" Randika terlihat bingung. "Buat apa aku nyuapmu? Kamu sudah besar bukan?"

Hannah natap Randika dengan tatapan bingung. Di dalam hatinya sekarang banyak pertanyaan buat kakak iparnya ini, akhirnya dia pun bertanya. "Kak, apa kakak lupa kejadian kemarin malam?"

"Kemarin malam?"

Dengan aktingnya yang bisa raih piala Oscar, Randika masang wajah kebingungan.

"mangnya ada apa kemarin malam?" Tanya Randika.

"Apa kakak benar-benar lupa atau sedang berpura-pura?" Hannah natap tajam pada kedua bola mata Randika, seolah-olah berusaha lihat apakah Randika berpura-pura atau tidak.

"Aku benar-benar tidak ingat." Kata Randika dengan tatapan mata tidak bersalah. "Jujur aja ingatanku sedikit kabur karena kebanyakan minum kemarin malam jadi aku tidak tahu mana yang benar."

Hannah natapnya curiga, dia tidak tahu apakah Randika pura-pura atau tidak.

Karena reka berdua sudah kenal begitu lama, Hannah sangat paham dengan sifat kakak iparnya ini. Selama ini Hannah nganggap Randika adalah serigala berbulu domba, benar-benar orang yang licik!

Randika masih masang wajah polosnya. "Kalau begitu tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi tadi malam."

Kamu ingin aku yang bercerita?

Kedua mata Hannah terbelalak. Yang benar saja!

Apa kakak iparnya ini ingin dirinya bercerita bahwa dia lamar dirinya, kakaknya dan Viona? Terlebih lagi, dia telah ncium kami semua dengan paksa!

Ketika mikirkan hal ini, Hannah njadi panik dan dia tidak tahu harus berbuat apa.

Pada saat ini, Inggrid tiba-tiba keluar dari arah dapur. Dengan nada dingin, dia berkata pada Randika. "Cepat makan."

Randika lalu natap istrinya yang cantik itu duduk di ja makan, entah kenapa dia rasa ada yang aneh hari ini. Kenapa istrinya terlihat dingin begitu?

Akting Randika kemarin malam itu benar-benar sempurna dan tanpa cela, tetapi Inggrid rasa ada sesuatu yang ganjil dengan tindakan Randika kemarin.

"Wah makanannya terlihat lezat semua! Istriku makin pandai masak, aku benar-benar bangga sama kamu!" Randika dengan cepat duduk dan ngambil sayur bening.

"Wih istriku ternyata sekarang bisa masak pepes ikan! Benar-benar hebat! Bumbu-bumbunya pas dan lezat, bisa-bisa aku habis 10 kg nasi!" Randika terus muji masakan Inggrid.

Kali ini Hannah natap tajam ke arah Randika.

Randika nyadari tatapan adik iparnya ini dan ngerutkan dahinya. Apa ada yang salah?

Randika lalu lirik ke arah Inggrid yang mukanya benar-benar cemberut. "Pepes ikan itu aku beli di pasar."

Uhuk, uhuk, uhuk!

Randika hampir saja tersedak.

"Pfft!!"

Hannah berusaha nahan ketawanya itu dengan nutup mulutnya. Ketika dia nyadari tatapan Randika, Hannah langsung masang wajah serius. "Sudah cepat makan, main lirik terus."

"Kenapa kok hari ini kamu begitu marah sama aku Han?" Randika pura-pura terlihat sedih. "Apa aku berbuat salah padamu?"

"Kamu ini bodoh atau apa? Sudah jelas kita semua marah sama kamu gara-gara kemarin!" Kata Inggrid.

"Sayang, aku benar-benar lupa dengan kejadian kemarin. mangnya aku berbuat apa sampai kalian berdua marah sama aku?" Randika natap Inggrid.

Hannah yang ndengar ini ingin muntah darah, kulit kakak iparnya ini benar-benar tebal.

Namun, wajah Inggrid tidak ada perubahan. Dia hanya berkata dengan nada dingin. "Cepat makan."

ndengar respon yang seperti itu, Randika hanya bisa nurutinya. Sialan, apa aktingnya itu terbongkar? Tidak, tidak, tidak mungkin!

Sejak Randika dan Inggrid berhubungan badan selayaknya suami istri, karakter istrinya ini berubah njadi pribadi yang lembut. Namun hari ini sifat istrinya itu benar-benar dingin. Seolah-olah Inggrid Elina di hadapannya saat ini sama dengan ketika reka berdua bertemu.

Tujuan utamanya adalah mbuat Inggrid kembali seperti sedia kala, ini semua demi kehidupan ranjang reka berdua!

Namun ketika Randika ingin berbicara, Inggrid berkata duluan. "Aku ada beberapa sampel parfum yang harus departen parfum kembangkan, hari ini aku butuh bantuanmu agar proses produksinya bisa berjalan dengan cepat."

"Tidak masalah." Kata Randika sambil mbusungkan dadanya.

"Kak Randika ini benar-benar genit, inginnya nyenangkan hati semua perempuan." Kata Hannah sambil nggerutu.

"Maksudmu apa?" Randika rasa tersinggung.

lihat Hannah dan Randika mulai bertengkar lagi, Inggrid hanya berkata dengan nada dingin. "Apa kalian tahu bahwa di ja makan itu tidak boleh bertengkar? mangnya umur berapa kalian sampai-sampai bertingkah kayak anak kecil begini."

"Kak, aku mang masih kecil kan?" Kata Hannah sambil tersenyum.

"Sayang, aku juga masih kecil!" Kata Randika dengan wajah las.

"Bicara apa kamu ini? Rambut penuh uban itu sok kayak anak kecil." Kata Inggrid dengan nada marah.

"Aku kan mang masih kecil, aku juga haus kasih sayang dari istriku." Kata Randika.

Hannah natap jijik pada kakak iparnya.

Inggrid benar-benar kehabisan kata-kata, dia terdiam dan lanjutkan sarapannya.

Setelah sarapan, Randika dan Inggrid langsung masuk ke mobil reka.

"Lho mana pak supir?" Tanya Randika ketika lihat Inggrid hendak duduk di kursi pengemudi.

"Dia sedang cuti." Kata Inggrid sambil mbanting pintu mobilnya.

Setelah mbuka dan nutup gerbang rumahnya, Randika duduk di samping Inggrid. Pada saat ini, istrinya itu makai jas dan rok berwarna hitam dengan kalung berwarna ungu. Penampilannya begitu nawan karena ditambah dengan stocking hitam yang nutupi seluruh kakinya.

Dengan rambut yang terurai, wajah istrinya ini benar-benar cantik skipun dilihat dari samping. Lipstik rahnya itu nggoyahkan imannya.

Randika makin cinta ketika sinar matahari yang hangat itu nyinari wajah istrinya, seolah-olah langit telah mberikan malaikatnya pada dirinya. Randika sudah tidak sabar lagi.

Randika mulai naruh tangannya di atas paha Inggrid dan berusaha lepaskan stockingnya. Setelah rasakan kelembutan paha istrinya, dia tidak ingin lepaskannya.

"Jangan aneh-aneh, aku sedang nyetir." Inggrid langsung nampar tangan Randika.

"Hahaha cuma sedikit saja kok." Randika kemudian kembali naruh tangannya. Sedangkan Inggrid hanya bisa nghela napasnya dan nyetir dengan wajah cemberut.

"Sayang, kamu benar-benar cantik." Puji Randika.

"Aku yakin kamu ngatakannya itu pada semua perempuan." Kata Inggrid.

ndengar kata-kata ini, Randika rasa ada yang aneh. Apakah benar aktingnya ini ketahuan oleh Inggrid?

"Sayang, kemarin malam itu" Randika terlihat ragu-ragu. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

"Kamu benar-benar tidak tahu?" Kata Inggrid dengan nada dingin.

"Aku minum terlalu banyak, aku benar-benar tidak ingat apa pun." Randika nggaruk-garuk kepalanya, nunjukan bahwa dia terlihat bingung.

Inggrid lalu mbalas setelah terdiam cukup lama. "Tidak terjadi apa-apa."

Tidak terjadi apa-apa?

ndengar respon istrinya yang seperti itu, Randika tidak tahu harus mbalas apa.

Mungkin cara paling sederhana adalah cara yang paling tepat.

Randika kembali bermain dengan tangannya, tangannya mulai nyusup ke dalam stocking Inggrid. Awalnya paha Inggrid itu terbungkus oleh stocking tetapi berkat Randika, paha putihnya itu kembali terungkap. Dan tangannya mulai masuk ke gua milik Inggrid.

"Jangan aneh-aneh." Kata Inggrid dengan wajah yang sedikit rah.

Randika natap wajah istrinya, dia masih ingin neruskannya. Dan ketika ada lampu rah, mobil reka berhenti total.

manfaatkan kesempatan ini, Randika langsung luk leher Inggrid dan nciumnya.

Kelembutan bibir Inggrid mbuat Randika terpana dan tidak ingin berpisah. Pada saat yang sama, tangannya berenang-renang di dada Inggrid. Dalam sekejap, Inggrid rasa tubuhnya itu kehilangan tenaganya.

"Jangan." Wajah Inggrid terlihat malu. "Kita masih di dalam mobil."

"Kalau begitu malam nanti?" Bisik Randika di telinga Inggrid.

Inggrid lalu natap Randika dan malingkan wajahnya. "mangnya aku punya pilihan lain?"

ndengar jawaban itu, Randika hanya tertawa. Tetapi di dalam hatinya, Randika benar-benar lega. Sepertinya Inggrid tidak ngetahui aktingnya ini, kalau dia benar-benar tahu bisa-bisa situasinya bertambah buruk!

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 366: Pasca Kejadian on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

Elven Invasion cover
Trending now

Elven Invasion

Respro ·Action

MagicvsScience HumanvsElves EarthvsForestia MortalvsGod ThisisataleinwhichGoddessLunainordertosaveherplanetandcivilizationstartsainvasiononEarth,Wi...

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.