Font Size
15px

Inggrid natap tajam Randika, begitu pula dengan Hannah dan Viona.

Ketiganya itu benar-benar terkejut dengan ide Randika satu ini. Tetapi ketiganya langsung ndengus dingin.

Apa kamu pikir ini romantis lamar tiga perempuan sekaligus? Apakah kamu tidak bertanya dulu apakah kita bertiga itu setuju atau tidak?

Hati Inggrid benar-benar campur aduk, dia tidak nyangka situasi akan berjalan seperti ini. Jika dia nerima ide Randika ini, dia harus nerima kenyataan bahwa akan ada perempuan lain yang tidur bersama dengan Randika. Dia sama sekali tidak bisa mbayangkan kehidupan yang seperti itu.

Hannah sendiri benar-benar dibuat terkejut, tetapi entah kenapa dia rasa tertekan. skipun dia tidak tahu kenapa rasa tertekan, mungkin ini karena dia telah ndengar ide gila Randika, tetapi mbayangkan dirinya dan kakaknya Inggrid njadi suami Randika?

Intinya ketiga perempuan ini langsung miliki pemikiran reka masing-masing. Tetapi satu hal yang reka sangat pahami, Randika yang sekarang sedang mabuk!

Wajah rah, bicara lantur, tubuh yang tidak seimbang ini semua rupakan tanda-tanda orang mabuk.

Tetapi apakah Randika benar-benar mabuk?

Sebelum Randika njalani hidupnya di kota Cendrawasih, dia selalu minum alkohol selama hidupnya apalagi ketika dia berkeliling dunia. Berbagai macam alkohol sudah diminumnya, apalagi baginya yang paling keras adalah vodka. Dan sekarang di hadapannya sekarang cuma sebotol wine, tentu saja dia bisa negaknya seorang diri dan masih bisa bertarung dengan kekuatan penuh.

Ketiga perempuan ini sama sekali tidak berbicara sama sekali, sepertinya reka sedang mikirkan kata-kata Randika barusan. Jadi suasana ja makan ini kembali njadi sunyi dan canggung.

Randika mperhatikan keadaan ini dengan seksama, dia tidak bisa mbiarkan keadaan canggung ini terus berlangsung. Sepertinya reka bertiga ini butuh dorongan sekali lagi.

Lalu di bawah tatapan ketiga perempuan ini, tiba-tiba Randika berdiri.

Hannah natap Randika dengan curiga, lalu reka semua lihat Randika berjalan ke arah Inggrid.

lihat Randika yang datang padanya, Inggrid rasakan firasat buruk. Hannah dan Viona terlihat bingung, Randika mau apa?

"Ran" Inggrid mbuka mulutnya seakan-akan ingin ncegahnya. Tetapi detik berikutnya, matanya itu terbelalak dan bibirnya telah terhalang. Sensasi lembut ini sangat dia kenal.

Randika nciumnya!

"Ah!"

Hannah langsung tersipu malu. Kenapa kakak iparnya lakukan hal itu?

Kenapa dia ncium kakaknya di depan matanya? Bukankah itu terlalu berani?

Viona juga terkejut. lihat Randika ncium sra Inggrid, rasa syok mbuat Viona tidak bergerak sama sekali. Hatinya benar-benar rasakan rasa sakit, seolah-olah dirinya telah ditelan oleh ombak. Rasa sakit hati ini benar-benar tidak nyaman.

Hannah dan Viona dipaksa lihat Randika ncium Inggrid, tetapi Inggrid sama sekali tidak berusaha lawan. skipun dia lawan, semua itu percuma karena Randika nggenggam erat pundaknya dan tidak mberikan dirinya kesempatan untuk lawan.

Namun, ciuman reka ini tidak berlangsung lama, paling lama hanya 10 detik. Randika lalu lepas Inggrid dari pelukannya.

Inggrid terengah-engah berusaha ncari napas dan tatapan matanya terlihat sayu. Setelah nenangkan diri sebentar, dia rasa tubuhnya mulai bertenaga kembali. Wajahnya benar-benar rah skipun sudah berkali-kali berciuman dengan Randika. Dia rasa ciuman kali ini adalah yang paling rangsang karena dilakukan di depan adiknya dan perempuan lain!

Tatapan mata Randika sekarang tertuju pada Hannah. Dalam sekejap, Hannah rasakan tanda bahaya sekaligus tanda berharap bahwa dia juga akan ndapatkannya; hatinya benar-benar dilemma.

"Kak, jangan macam-macam sama aku!" Hannah natap Randika yang berjalan nghampiri dirinya. Ketika Hannah mau kabur, tangannya telah tertangkap dan dia sudah tidak bisa kabur lagi.

Dengan satu tarikan, Randika narik dan luk Hannah. Sebelum Hannah dapat ngolinya, Randika nutup bibir Hannah dengan bibirnya!

Oh!

Kedua bola mata Hannah hampir copot dari kantongnya, pikirannya yang sekarang benar-benar kosong.

Dia sudah pernah berciuman dengan Randika sebelumnya yaitu di rumah sakit setelah dia nerima serangan Shadow dan ketika dia nyuapi Randika di dalam gua. Dalam hidupnya dia tidak pernah mbayangkan akan ncium kakak iparnya dalam situasi seperti ini. Karena sekarang dia berciuman di depan kakaknya sendiri dan teman baiknya!

Keadaan seperti ini justru mbuat Hannah bersemangat dan nyambut Randika dengan hangat. Randika sendiri dengan rakus berusaha nikmati bibir lembut ini seakan-akan ingin lahapnya hidup-hidup!

Kejadian ini mbuat Inggrid syok bukan main. Dia ingin nyuarakan isi hatinya tetapi suara tidak bisa keluar dari mulutnya.

Suaminya sendiri ncium adiknya di depannya?

Viona sendiri tidak kalah syok, syoknya ini lebihi ketika Randika ncium Inggrid.

Setelah beberapa detik, Randika lepaskan pelukannya.

"Kak Randika!" Hannah yang sudah tersadar kembali itu miliki wajah yang lebih rah daripada tomat. Ketika dia ingin marah, dia rasa bahwa bukan amarah yang ada di hatinya. Sekarang dia sedang ngalami gejolak batin di dalam hatinya.

Viona sudah tidak tahu harus bereaksi seperti apa, tetapi tiba-tiba kedua mata Randika tertuju pada dirinya.

Ketika Randika berjalan nghampiri dirinya, hati Viona njadi panik.

Apa yang harus dia lakukan?

Apakah dia harus pasrah nerima ciuman Randika seperti kedua orang sebelumnya?

Hati Viona benar-benar sedang berantakan, dia tidak tahu harus lakukan apa. Jika Randika nciumnya sekarang, wajah seperti apa yang harus dia tunjukan kepada Inggrid dan Hannah?

"Aku Aku akan pulang." Viona mutuskan untuk pulang, tetapi Randika tidak akan mbiarkan mangsanya ini kabur.

Viona noleh dan lihat wajah senyum Randika, dalam sekejap kedua bibir reka sudah bertemu.

Rasa wine yang pekat dan otot-otot yang familier baginya mbuat Viona tenggelam dalam dunianya sendiri.

Sejak detik pertama bibir reka bertemu, Viona rasa badannya njadi lemas. Dia rasa ciuman Randika ini bagaikan sihir yang telah nyedot seluruh tenaganya.

Untungnya saja, belakang Viona adalah jendela, kalau tidak dia pasti sudah terjatuh.

Viona dan Randika sudah pernah berciuman sebelumnya, selain malam ketika reka berdua terpergok oleh orang tua Viona di rumah, ciuman kali ini benar-benar yang paling ngesankan.

Di sisi lain, Hannah lihat ciuman reka berdua ini dengan rasa terkejut yang tinggi. Saking terkejutnya, dia sampai tidak bisa ngeluarkan suara.

Inggrid yang duduk di kursinya, dengan tatapan bingung, tidak tahu harus berkata apa lagi.

Awalnya setelah makan makanannya, Viona akan segera pergi dan minta maaf pada Inggrid. Namun tiba-tiba Randika lanturkan rencana haremnya dan Viona kehilangan kesempatannya untuk pergi.

Setelah beberapa detik berciuman, Viona yang tersipu malu itu ndorong Randika. Setelah berhasil lepas, dia langsung berkata pada reka bertiga. "Aku pergi duluan."

Setelah itu, Viona lari ninggalkan reka.

Viona tidak ingin tinggal di ja makan ini satu detik saja karena dia tidak tahu harus berwajah seperti apa di hadapan bosnya dan Randika. Karena sifatnya yang pemalu, kabur mungkin adalah langkah terbaik buat Viona.

lihat Viona yang kabur, Randika nyentuh bibirnya seolah-olah dia sedang ngagumi ketiga bibir perempuan cantik yang baru saja dia cium.

Randika noleh ke belakang dan lihat Hannah dan Inggrid sedang natap dirinya, keduanya benar-benar terdiam.

"Sayang, ayo kita bersulang. Ayo Hannah kamu juga." Randika ngangkat gelasnya, dia pura-pura kebingungan ketika ngambil gelas winenya. "Kita bersulang untuk hari pernikahan kita!"

Kemudian di bawah tatapan mata Hannah dan Inggrid, Randika negak satu gelas penuh wine. Setelah itu Randika kembali ngisi penuh gelasnya.

Hannah hanya bisa ndengus dingin lihat kakak iparnya itu. Inggrid lalu berkata pada Randika. "Ran cukup, jangan minum lagi."

Namun sebelum Inggrid selesai ngolinya, kepala Randika tiba-tiba terjatuh di atas ja. Dengan perlahan, Randika luk botol winenya dan tertidur pulas.

Kedua bola mata Hannah kembali terbelalak, saking mabuknya kakak iparnya ini pingsan?

Inggrid natap suaminya yang tertidur itu, dia hanya bisa tersenyum pahit.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 365: Mencium Ketiga Istri on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.