Font Size
15px

Ciuman yang lembut ini segera ngisi hati Viona dengan kehangatan.

Setelah setengah nit reka berciuman, wajah Viona sudah benar-benar rah.

natap perempuan yang dicintainya di hadapannya ini, Randika mbulatkan tekadnya. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan lepaskan Viona skipun nyawa adalah taruhannya.

Pada saat ini, pintu ruang tamu terbuka.

Dalam sekejap Viona langsung njadi panik. "Ran"

"Sudah tenang saja, serahkan masalah ini padaku."

Randika lalu nggandeng Viona turun tetapi sesampainya reka di tangga, Randika lepaskan tangannya.

"Ran, aku pulang." Inggrid masuk ke ruang tamu dan terkejut ketika lihat sosok Viona.

"Sore bu Inggrid." Viona benar-benar tidak tahu harus berekspresi seperti apa khususnya setelah dia ngetahui hubungan Inggrid dengan Randika.

Wajah rah dan napas yang terengah-engah, Inggrid sebagai perempuan yang berpengalaman tentu tahu kenapa Viona bisa berpenampilan seperti itu.

Tidak dapat nahan dirinya, Inggrid natap tajam pada Randika.

"Viona datang karena dipanggil oleh Hannah." Kata Randika sambil maksakan dirinya untuk tersenyum. Namun hati Randika saat ini terasa sangat kosong.

Inggrid hanya ngangguk dan tidak banyak berbicara. Instingnya ngatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi di antara Randika dan Viona.

lihat reaksi Inggrid yang seperti ini, hati Randika benar-benar ngepal.

Istri tercintanya ini tentu tidak akan marah besar kan?

Ketika Randika sudah berkeringat dingin, dari arah pintu rumah terdengar sebuah suara yang ceria. "Aku pulang."

Ketika Hannah masuk ke ruang tamu dan lihat ketiga orang ini berdiri terdiam, Hannah benar-benar bingung.

Apa yang sedang terjadi?

lihat Hannah yang tiba-tiba pulang ini, Randika benar-benar rasa lega. Kalau tidak, suasana ini akan berlangsung canggung untuk sentara waktu.

"Ada apa ini? Kenapa semuanya terlihat tegang?" Kata Hannah dengan wajah bingung.

"Tidak apa-apa." Randika tertawa, tetapi Hannah benar-benar tidak mpercayainya.

Pada saat ini, Inggrid juga berkata pada reka. "Kenapa kamu tidak ngatakan bahwa akan ada tamu hari ini? Ibu Ipah sedang pergi jadi kita tidak punya makanan sama sekali hari ini. Kalau begitu lebih baik kita makan di luar saja."

Untuk ajakan Inggrid ini, ketiganya tentu saja tidak punya alasan untuk nolak.

Inggrid milih restoran barat yang cukup wah. Restoran yang reka datangi ini miliki interior yang bagus dan alunan musik piano semakin mperindah suasana makan reka. Ditambah lagi, sekarang sedang bulan purnama jadi malam cukup terang.

Keempatnya milih ja di dekat jendela dan tidak lama kemudian reka segera san makanan reka.

Tentu saja semua suasana bagus ini tidak dapat nutup kegugupan Randika.

Benar seorang Ares yang dikenal sebagai 12 Dewa Olimpus itu baru pertama kali rasakan rasa gugup yang luar biasa. Hal ini terjadi karena suasana di ja makan ini benar-benar canggung. Inggrid sama sekali tidak berbicara dan Viona terus nerus nundukan kepalanya. Hannah ncurigai sesuatu tetapi dia tidak tahu apa permasalahannya yang sebenarnya.

Randika berpikir bahwa hal ini akan buruk apabila terus dibiarkan tetapi dia sama sekali tidak kepikiran cara untuk cah suasana canggung ini.

Randika benar-benar pusing. Jika masalah ini bisa terselesaikan dengan tinjunya maka dia tidak perlu rasa sepusing ini.

Hal ini benar-benar rumit.

"Aku rasa kita harus bersulang terlebih dahulu untuk rayakan malam hari yang indah ini." Randika ngangkat gelasnya sambil tersenyum.

"Kak Randika benar-benar kakak ipar yang payah." Kata Hannah sambil ndengus dingin. Hannah mang miliki beberapa tebakan tersendiri ngenai hubungan Randika dan Viona apalagi setelah reka bertiga berlibur ke Makau, Hannah nyadari bagaimana Viona natap Randika. Tentu saja sangat mudah nyadari hubungan reka berdua ngingat sifat sum kakak iparnya itu.

Ketika Viona ndengar kata-kata kakak ipar, hatinya makin ngepal dan terasa sakit.

"Hari ini aku ingin mabuk." Randika maksakan diri untuk tersenyum, dia langsung negak wine yang dimilikinya.

Randika langsung ngisi kembali gelasnya. Untungnya saja, para pelayan datang mbawakan makanan reka berempat jadi suasana canggung ini bisa tertunda beberapa waktu.

"Makan dulu." Kata Inggrid dengan nada dingin.

Keempat orang ini mulai ngambil garpu dan pisau reka, tetapi rasa makanan yang reka makan ini terasa hambar. Randika sendiri terus nerus negak gelas wine miliknya.

Dia berharap alkohol ini dapat ringankan kepalanya untuk sejenak.

Ketika reka berempat makan, Hannah mulai duluan untuk angkat bicara. "Kak Randika, kakak itu terlalu banyak main-main."

Hannah mberanikan diri untuk ngawali topik, Randika lalu mbalas. "Aku hanya nghargai bunga yang ada, apakah itu salah?"

ndengar jawaban Randika itu, Hannah kehabisan kata-kata. Dibantu oleh kekuatan alkohol, Randika mulai berbicara. "Apa kalian semua tahu impian terbesarku di hidup ini?"

skipun Viona dalam suasana hati yang buruk, dia masih ndengarkan.

"Aku berharap bahwa kita bisa belajar dari kehidupan para kaisar di jaman dahulu di mana dia bisa nikahi banyak orang." Kata Randika sambil tersenyum dan terceguk.

Randika lalu negak kembali winenya. "Bukankah itu adalah impian para lelaki? miliki banyak perempuan di istananya?"

Hannah langsung mbalasnya dengan nada marah. "Bisa-bisanya kak Randika mabuk di kondisi seperti ini!"

Inggrid natap tajam Randika, dia sama sekali tidak tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya itu. Sepertinya suaminya itu sedang bertarung di dalam hatinya.

Randika lalu nghirup udara dalam-dalam dan negak kembali winenya, wajahnya langsung berubah njadi serius. Sukses atau tidaknya rencana haremnya ini akan ditentukan oleh hasil hari ini.

"Aku ingin nyampaikan sesuatu padamu." Randika natap Inggrid. "Apakah kamu ingat bagaimana pertama kali kita bertemu? Kamu ndatangiku dan ngajakku untuk kawin kontrak?"

Ketika Inggrid mikirkan hal ini, dia terlihat bingung. Kenapa kamu tiba-tiba nyinggung hal itu?

Apa Randika akan mbatalkan pernikahan reka?

"Sejujurnya pada waktu itu, aku rasa bahwa suatu hari nanti kamu akan njadi istriku yang paling kucinta." Kata Randika sambil tersenyum. "Kamu benar-benar wanita idamanku. Kamu cantik, baik, nawan dan dewasa apalagi kamu juga seorang pemimpin perusahaan besar. Tetapi setelah hidup bersamamu untuk beberapa lama, aku sama sekali tidak peduli dengan semua itu. Bahkan jika kamu tidak punya apa-apa, aku akan tetap ncintaimu apa adanya."

ndengar kata-kata terakhir itu, ekspresi Inggrid yang serius njadi tersipu malu.

"Inggrid, aku ncintaimu. Aku benar-benar bersyukur telah njadikanmu istriku." Setelah itu Randika negak kembali winenya.

Ketika ndengar kata-kata Randika ini, wajah Viona sudah berlinang air mata. Sedangkan Hannah yang seharusnya senang ketika ndengar ini entah kenapa rasa sedikit cemburu dan sedih.

Ketika Hannah hendak berkontar, tiba-tiba Randika berbicara lagi. Dan kali ini tatapan matanya tertuju pada Hannah.

"Han, skipun kamu itu kadang njengkelkan, egois, dan manja, tetapi kebaikan hatimu, keberanianmu dalam bertindak dan kejujuranmu itu benar-benar mbekas di hatiku." Kata Randika.

Inggrid yang tersipu malu itu terkejut, dia langsung natap tajam ke arah Randika. Viona yang tertunduk juga lihat ke arah Randika, matanya ngandung perasaan bingung. Saking terkejutnya, Hannah sampai ternganga dan njatuhkan gelasnya.

"Jika semua sifatmu itu hilang, maka kamu bukanlah Hannah yang kukenal. Aku benar-benar nyukai Hannah yang selama ini kukenal, aku benar-benar ncintaimu." Ketika Randika selesai berbicara, dia negak kembali gelas winenya yang sudah terisi.

Ketiga perempuan ini benar-benar sudah tidak tahu harus berkata apa.

Randika kembali ngisi gelasnya dan natap ke arah Viona.

"VI, aku tahu bahwa kamu adalah perempuan yang pemalu dan pendiam tetapi aku bisa rasakan kelembutan dan rasa cinta yang besar di dalam dirimu. Ketika kita pertama kali bertemu, aku sangat bodoh karena tidak minta nomormu tetapi Tuhan berkata lain karena dia ndatangkanmu kembali kepadaku." Randika tersenyum tulus pada Viona.

Viona kali ini tertunduk lagi, namun yang kali ini karena rasa malu.

"Aku nyukaimu yang pemalu dan pendiam itu. Aku nyukai sisi baikmu maupun sisi burukmu. Viona, aku ncintaimu."

Ketiga perempuan ini benar-benar terdiam setelah Randika nyatakan perasaannya pada reka bertiga.

"Jadi" Randika yang mabuk ini natap ketiganya dengan wajah serius. "Mulai sekarang kalian semua adalah istriku. Inggrid adalah istri pertama sedangkan Viona yang kedua dan Hannah yang ketiga."

Ketika Randika berkata seperti itu, suasana ja makan ini benar-benar njadi hening.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 364: Kalian Bertiga adalah Istriku on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.