lihat hal ini, semua penonton njadi heboh.
"Tendangan Roberto lenceng!"
"Hei awas!" Teriak salah satu penonton ke arah Randika dan Hannah.
"Habis sudah orang itu, mana tendangannya keras lagi. Bisa-bisa gegar otak!"
Para penonton ini sudah tidak bisa apa-apa selain berteriak ke arah Randika. reka tahu dengan pasti tendangan Roberto kali ini benar-benar keras dan apabila ngenai kepala orang maka bisa-bisa dia gegar otak. Apalagi jarak Randika dan Hannah dengan lapangan sepak bola ini tidak terlalu jauh.
Pada saat ini, Randika sedang ngobrol dengan Hannah. Tiba-tiba, Randika rasa udara di sekitarnya robek dari arah sisi reka!
"Kak awas!" Hannah yang nyadari bola itu akan ngenai Randika segera berteriak.
Randika noleh dan nyadari bahwa benda asing tersebut ternyata sebuah bola sepak. nghadapi bahaya ini, wajah Randika terlihat biasa-biasa saja.
Para penonton itu langsung ncaci maki Randika. "Bodoh! Cepat lari!"
"Tidak, ini sudah terlambat. Bola itu sudah terlalu dekat dan pria itu rupanya sudah pasrah."
reka nutup mata reka semua karena tidak tega lihat kejadian ini tetapi apa yang terjadi mbuat reka ternganga lebar.
nghadapi bola sepak yang nuju dirinya ini, Randika hanya ngulurkan satu tangannya.
Tangan kanannya itu terbuka lebar ketika bola sudah berada di jangkauan tangannya dan Randika berhasil nangkap dan nggenggam erat bola tersebut!
Hebat!
Bola tersebut berputar dengan cepat karena tendangan Roberto yang begitu dahsyat tetapi sekarang bola itu berhenti berputar dan beristirahat dengan tenang di tangan Randika.
Para penonton yang sudah rasa kasihan terhadap Randika langsung terkejut bukan main.
"Apa aku salah lihat?" Salah seorang langsung nggosok-gosokkan matanya dengan kuat.
"Ini pasti mimpi." Kata teman di sampingnya.
Jika itu bola tenis atau bola pingpong mungkin orang bisa nghentikannya, tetapi ini adalah bola sepak! Mustahil bisa nghentikannya tanpa terluka!
Terlebih lagi, Randika nangkapnya dengan tangan kosong yang di mana seharusnya bola itu terpental ataupun ndorong Randika ke belakang. Tetapi Randika tetap berdiri tegak dan nggenggam erat bola dengan satu tangan.
Semua orang yang lihat ini terpukau, akhirnya reka baru ngontari kejadian ini setelah beberapa saat.
"Apa dia kiper rahasia sekolah kita seperti Roberto?"
"Aku tidak tahu tetapi dia sangat hebat!"
"Sialan, orang asing ternyata kuat-kuat!"
"Hei, bukankah kejadian ini mirip dengan Shaolin Soccer?"
Di saat orang-orang berdiskusi, Roberto berlari nuju Randika dan Hannah berada.
"Kak, orang itu sepertinya sengaja." Hannah terlihat marah. Untung saja yang njadi korban itu kakak iparnya, kalau orang lain maka bisa-bisa dia harus dilarikan ke rumah sakit.
Randika hanya natap Roberto yang datang dan tidak berbicara sama sekali.
"Maaf bro." Kata Roberto sambil berwajah cemas. "Aku tidak sengaja nendangnya keluar lapangan, apa kalian baik-baik saja?"
Hannah langsung nunjukan taringnya, tetapi Hannah terpana ketika lihat Roberto.
Seumur hidupnya dia tidak pernah lihat lelaki setampan ini.
Ketampanannya sebanding dengan lukisan-lukisan agung dan kedua bola matanya penuh dengan semangat dan tekad yang kuat. Belum lagi bajunya yang nonjolkan kedua lengan yang besar dan berotot itu.
Ganteng sekali!
Hannah yang awalnya mirip seperti setan itu berubah njadi gadis perawan yang malu-malu ketika lihat wajah tampan Roberto.
Dia tidak pernah ngira ada lelaki setampan itu di dunia ini.
Randika juga natap wajah Roberto, hatinya sedikit ngepal. Entah kenapa Randika rasa ada sesuatu yang aneh, hal ini mbuatnya resah.
"Maaf aku sama sekali tidak berniat lukai kalian, aku tidak nyangka tendanganku akan lenceng sejauh itu." Roberto kembali minta maaf, kali ini dia minta maaf sambil mbungkuk.
"Tidak apa-apa, kami juga tidak terluka kok." Kata Hannah sambil tersenyum.
Roberto langsung tersenyum. "Baiklah kalau begitu, aku hanya khawatir kalian terluka gara-gara aku. Ah, bisa minta bolanya? Kita mau lanjutkan pertandingannya."
Randika hendak berbicara ketika Hannah tiba-tiba motongnya. "Tentu saja!"
"Terima kasih." Kata Roberto sambil tersenyum. "Untuk nunjukan rasa terima kasihku, bagaimana kalau kita kapan-kapan nonton bioskop bareng? Anggap ini sebagai permintaan maaf dariku."
"Kamu baik sekali." Hannah makin lama makin sopan gaya bicaranya.
"Ah, maaf aku sudah dipanggil. ngenai penawaranku, mungkin nanti kita bisa bicarakan lagi. Aku sentara ini tinggal di asrama lelaki di lantai 3 jadi mampir saja kalau kamu mau."
lihat Roberto yang berlari kembali ke lapangan, Hannah natapnya lekat-lekat.
"Kak, nurutmu dia ganteng atau tidak?" Kata Hannah sambil terus lihati punggung Roberto.
Wajah Randika terlihat aneh, adik iparnya ini tertarik sama laki-laki itu?
Randika tidak dapat mpercayai hal ini, dia langsung narik tangan Hannah. Hannah lumayan terkejut karena dipaksa berjalan kembali. "Kenapa buru-buru kak?"
"Tidak apa-apa." Suasana hati Randika njadi buruk.
"Lebih baik kita cepat pergi ke asramamu." Kata Randika.
Hannah noleh ke belakang sambil nghela napas. "Sayang sekali hanya ada beberapa orang seperti lelaki itu tadi. Wajahnya begitu tampan dan sifatnya sudah seperti seorang pangeran. Benar-benar suami idaman."
"Hah? Kamu yakin tidak salah lihat?" Wajah Randika terlihat marah. "Ada pepatah yang ngatakan, hidup itu penuh dengan lelaki tampan tetapi hatinya belum tentu seperti penampilannya."
Hannah hanya tertawa. "Jika dunia ini penuh dengan laki tampan, kenapa aku tiap hari tidak lihatnya?"
"Tidak lihatnya?" Randika noleh ke arah Hannah. "Bukankah kamu setiap hari lihatnya? Bukankah kamu sudah ngenal lelaki tampan yang elegan, pintar dan tangguh?"
Wajah Hannah terlihat bingung. lihat kakak iparnya itu yang mbusungkan dadanya, Hannah hanya bisa berkata dengan nada sinis. "Kak, jangan-jangan yang kakak maksud itu kak Randika?"
"Hahaha tepat sekali! Benar, kakak iparmu ini saking gantengnya, matahari tiap pagi itu nyinari wajahku dan bulan yang indah itu iri dengan wajahku! Kurang ganteng apa coba?" Kata Randika dengan bangga.
Hannah hanya nganggukkan kepalanya ketika Randika nyombongkan diri seperti itu, dia hanya bisa tertawa dalam hati. "Iya, iya, kak Randika mang tampan. Omong-omong apa kakak pernah berkaca akhir-akhir ini? Mungkin mata kak Randika sudah rusak."
Randika terkejut ketika ndengarnya, berarti maksud adik iparnya ini ketampanannya ini cuma sebuah ilusi?
Sialan, bisa-bisanya dia rehkanku!
Hannah yang suasana hatinya sedang baik ini nambahkan. "Sudahlah kak, kenapa kak Randika bandingin diri sama karya agung Tuhan? Kalau diumpamakan ya, laki-laki tadi itu sebuah mawar dan kak Randika itu cuma bunga biasa jadi mana bisa dibandingkan?"
"Oh ya? Bukankah aku nikahi kakakmu yang disebut-sebut perempuan tercantik di kota ini?" Kata Randika sambil lirik.
Hannah hanya berkata sambil cemberut. "Itu karena selera kakakku aneh!"
Keduanya terus berdebat di perjalanan reka nuju asrama perempuan.
"Han, apa nurutmu laki bernama Roberto itu familier?" Randika terus kepikiran dengan wajah Roberto. Entah kenapa dirinya rasa resah ketika lihat sosok Roberto.
Insting seperti ini tidak pernah ngecewakan Randika, banyak kejadian dirinya selamat karena mpercayai instingnya.
Oleh karena itu, Randika terus nerus ngerutkan dahinya.
"Kak, sepertinya kak Randika itu Cuma iri karena dia lebih ganteng dari kak Randika." Hannah ngerutkan dahinya. "Bagaimana mungkin kakak pernah lihat wajahnya? Bukankah dia siswa baru dari program pertukaran pelajar dari luar negeri?"
Benarkah?
Hati Randika masih penuh dengan rasa curiga, apa instingnya itu salah?
reka akhirnya sampai di asrama perempuan. Setelah berpamitan, Randika mulai berjalan keluar nuju gerbang. Selama perjalanan, Randika terus nerus mikirkan Roberto.
Dia miliki beberapa kecurigaan. Bola yang ditendang Roberto jelas ditujukan nuju dirinya dan tidak ada mahasiswa yang bisa miliki tendangan sekencang itu. Tetapi Randika tidak miliki bukti kuat untuk ndukung teorinya ini.
ngingat bagaimana senyuman Roberto yang begitu hangat, Randika rasa tidak nyaman lihatnya. Dia selalu rasa di balik senyuman yang hangat, pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh orang. Seolah-olah Randika rasa bahwa senyuman Roberto itu adalah sebuah topeng. Di balik topeng itu barulah sifat asli Roberto berada.
Roberto orang ini ncurigakan!
Entah kenapa Randika tidak bisa lepaskan Roberto dari benaknya, jadi dia mutuskan untuk nyelidiki siswa baru itu.
ngambil HP miliknya, Randika nekan sebuah nomor. "Halo, ini Ares."
"Apa yang bisa saya bantu tuan?" Suara dari balik telepon ini benar-benar tenang dan tegas.
Saat Dion dkk datang ke Indonesia atas permintaannya, Yuna juga ngirim beberapa anggota ke Indonesia. Jadi bisa dikatakan bahwa beberapa elit dari pasukan Ares bersembunyi di Cendrawasih dan kota-kota penting lainnya. Tentu saja, setiap individu miliki tugas masing-masing dan sekarang yang ditelepon oleh Randika rupakan anggota intelijensi.
"Pergi dan selidiki orang bernama Roberto, dia rupakan murid internasional dari universitas Cendrawasih." Kata Randika.
"Siap tuan." Jawabnya.
Setelah nutup teleponnya, Randika berniat ncari Christina tetapi dia tidak tahu di mana gedung dia ngajar. Jadi mau tidak mau dia mbuang ide ini.
Setelah itu, Randika berjalan nuju gerbang kampus dan berniat untuk pulang. Ketika sesampainya Randika di sana, Roberto berdiri di kejauhan dan natap Randika tanpa ekspresi.
Wajah Roberto yang tanpa ekspresi itu tiba-tiba berubah njadi wajah penuh amarah.
KRAK!
Bolpen yang dipegangnya itu tiba-tiba hancur njadi dua.
Cepat atau lambat aku akan mbunuhmu!
Apa yang telah kamu lakukan padaku, aku akan mbuatmu nerimanya 1000x!
Randika, kamu akan mati di tanganku!
Reviews
All reviews (0)