Font Size
15px

Ketika reka masuk ke dalam kamar reka, jelas kedua perempuan itu bersemangat dan adrenalin reka sedang berpacu. reka ingin rayakan kenangan reka.

"Kak Randika mang luar biasa." Hannah langsung luk Randika dan ncium pipi Randika. Ketika Randika ingin berbuat lebih, Hannah sudah lepas dari pelukannya.

"Aku harus cerita ini ke kak Inggrid." Kata Hannah dengan semangat.

"Ran, dari mana teman-temanmu itu? Kenapa reka muncul tiba-tiba?" Viona yang terkagum-kagum Randika itu langsung bertanya ngenai pasukan Ares yang tiba-tiba muncul tadi.

"reka itu anak buahnya temanku." Kata Randika.

Dia masih berusaha nyembunyikan identitas aslinya.

Di permukaan, dia adalah orang biasa. Identitas aslinya akan mbahayakan siapapun yang ngetahuinya jadi sebisa mungkin Randika ndekam rahasia ini seorang diri.

....

Selama dua hari berikutnya, ketiga orang ini masih liburan di Makau dengan gembira. Bagaimanapun juga, reka miliki uang yang banyak dan waktu yang panjang.

Sejak nang banyak di kasino, Viona dan Hannah tidak sungkan-sungkan makai uang reka itu. Dalam dua hari ini, reka selalu belanja dan makan makanan wah di restoran.

Setiap toko baju yang dilewati reka pasti akan reka beli, reka yang sekarang jijik dengan baju murah!

Awalnya Hannah yang mulai gila-gilaan dalam berbelanja, Viona masih terlihat ragu-ragu. Namun, berkat dorongan dan kata-kata dari Hannah, Viona mulai kecanduan belanja dan reka berdua njadi monster.

reka tidak pernah mikirkan tentang uang, apa yang reka lihat akan reka beli detik itu juga. reka tidak terlalu dulikan pakaian itu cocok atau tidak, bagi reka yang sekarang adalah beli, beli dan beli.

Setelah reka pulang nanti, baru reka akan milih busana yang cocok untuk reka. Bagaimanapun juga, untuk nggaet hati cowok perempuan perlu berpakaian cantik. Jika sebuah bunga penampilannya tidak bagus, bagaimana mungkin ia bisa narik perhatian kupu-kupu?

Selama dua hari ini, Randika terus dijadikan kuli oleh reka berdua. Kedua tangannya selalu penuh dengan tas belanjaan.

skipun begitu, Hannah tidak pernah puas. Dia selalu nyeret Viona ke toko pakaian lainnya.

Randika hanya bisa tersenyum pahit. Untungnya saja, liburan ini akan segera berakhir dan nerakanya ini akan berakhir sebentar lagi.

Di hari ketiga, setelah belanja lagi, ketiganya kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, kedua perempuan gila ini akhirnya tidak sabar untuk ncoba hasil tangkapan reka.

"Ih, ini kurang bagus deh buatku." Hannah lihat dirinya di depan cermin. Dia sedang makai baju berwarna pink, warna yang kurang cocok baginya.

Sedangkan Viona makai baju sederhana dan sebuah rok pendek. skipun penampilannya sederhana, entah kenapa dia mbawa sensasi segar bersamanya. Tinggal ditambahkan sebuah topi dan kacamata hitam, dia sudah seperti orang yang siap liburan ke mana pun.

Sejujurnya, pakaian yang dipakai Viona selalu cocok untuknya. Mau itu ngesankan rasa segar ataupun sexy, perempuan cantik ini selalu berhasil lakukannya.

Randika tentu saja sangat paham dengan Viona. Dia langsung teringat dengan lemari pakaian dalam Viona yang penuh dengan keindahan dunia itu. Bagaimanapun juga, dia lebih milih lihat Viona berpakaian dalam.

Terlebih lagi, Randika tiba-tiba teringat mon makan malam reka yang pertama. Pada waktu itu, Viona lupa makai celana dalam dan Randika dapat lihat semuanya dengan sangat jelas.

Tidak dapat nahan diri, bagian celana Randika mulai terasa sesak.

"Aku coba ganti yang lain." Hannah yang cemberut itu langsung ngobrak-abrik tas belanjaan miliknya. Dia lalu lihat sebuah gaun yang dia rasa cukup bagus dan makainya.

lihat kedua perempuan yang sedang asyik ncoba-coba baju ini, Randika tersenyum.

"Han, boleh aku mbantumu untuk milih?" Kata Randika.

"mangnya kak Randika bisa?" Wajah Hannah penuh dengan keraguan.

"Apa kamu tidak percaya denganku?" Randika ngerutkan dahinya, mangnya apa di dunia ini yang tidak bisa dia lakukan? Dia yang sudah pernah naklukan hati perempuan tercantik di kota Cendrawasih dan naklukan Jepang itu kesusahan dalam milihkan baju untuk perempuan? Kalian pasti bercanda.

"Tentu saja tidak!" Kata Hannah sambil njulurkan lidahnya.

"Apa kamu rasa malu?" Balas Randika.

"Buat apa aku malu!?"

Berkat usaha Randika, sekarang dia bertugas milih baju untuk Hannah.

Viona juga penasaran dengan selera fashion Randika, mungkin dia bisa belajar beberapa hal setelah ini.

Setelah beberapa saat, Randika telah selesai milih dan mberikannya pada Hannah.

"Coba pakailah."

Hannah ngambil baju tersebut dan masuk ke kamar mandi untuk ncobanya. Viona benar-benar penasaran. "Ran, baju seperti apa yang kamu berikan ke Hannah?"

"Hahaha tenang saja, sebentar lagi kamu akan lihatnya." Karena Hannah tidak ada, Randika mulai nakal. Tangan kanannya ndarat di pantat Viona.

Ketika rasakan tangan Randika, wajah Viona berubah njadi rah. "Jangan Ran, ada Hannah di dalam."

mangnya kenapa kalau ada Hannah? Bukankah ini lebih negangkan?

Randika lalu tersenyum nakal, dia berbisik di telinga Viona. "Apa kamu cemburu aku milihkan baju buat Hannah saja?"

"Siapa mangnya yang cemburu." skipun cemberut rupanya tebakannya Randika itu benar.

"Hahaha jangan khawatir." Randika mbelai pipinya. "Setelah kita kembali nanti, aku akan mbantumu milih pakaian terbaik untukmu. Aku sangat ingin lihatmu makai berbagai macam pakaian dalam terbaikmu. Jadi nantikan saja ketika kita kembali nanti."

Wajah Viona sudah rah, apa Randika ingin dirinya lakukan fashion show pakaian dalam?

Tidak lama kemudian, Hannah keluar bersama dengan baju barunya. Sebenarnya Hannah itu perempuan cantik yang kecantikannya tidak kalah dengan Inggrid maupun Viona, tetapi sifat tomboinya itu mbuat Hannah njadi pribadi yang energik dan liar.

Oleh karena itu, Randika ingin nunjukan bahwa ada sisi perempuan di dalam Hannah. Dia madukan one piece dress berwarna krem muda dengan sandal jepit imut. Hannah yang awalnya tomboi itu berubah njadi pribadi yang elegan dengan rambut hitam panjangnya itu terurai.

Viona benar-benar terkejut ketika lihatnya. Dia tidak nyangka bahwa perubahan pada Hannah benar-benar bisa sedrastis seperti ini.

Hannah sendiri juga sama terkejutnya, dia tidak nyangka baju sederhana seperti ini bisa ngeluarkan daya tarik yang selama ini berbeda dengan apa yang dia pikirkan.

"Bagaimana? Apakah aku cantik?" Tanya Hannah dengan senyuman nawan.

"Ya ampun Hannah, kamu benar-benar cantik! Siapapun pasti jatuh cinta ketika lihatmu." Viona njadi bersemangat.

"Han, nanti jangan jauh-jauh dari kita, bisa-bisa kamu diculik!" Kata Randika.

ndengar pujian dari kedua orang ini, Hannah njadi sedikit malu tetapi hatinya benar-benar bahagia. Viona lalu ngajaknya untuk berkaca sekali lagi.

lihat dirinya di dalam kaca, Hannah benar-benar puas. Mungkin dia harus latih sifat lemah lembutnya lagi?

Randika mperhatikan Hannah yang terus tersenyum itu, adik iparnya itu lalu noleh ke arahnya. "Aku tidak nyangka selera fashion kak Randika benar-benar bagus."

Randika lalu tertawa, sudah jelas! Dia juga sudah latihan bersama Inggrid di malam hari, mana mungkin seleranya itu jelek?

"Ran, bagaimana kalau kali ini kamu mbantuku?" Kata Viona dengan tatapan penuh harap.

Viona sendiri tidak miliki masalah dalam selera fashion tetapi baju yang dipilihkan sendiri oleh Randika jelas itu masalah lain.

"Baiklah kalau begitu." Randika dalam hati benar-benar bahagia.

Untuk Viona, semakin tipis berarti semakin bagus.

You are reading Legenda Dewa Harem Chapter 358: Selera Fashion Randika on novel69. Use the chapter navigation above or below to continue reading the latest translated chapters.
Share with your friends
Library saves books to your account. Reading History saves recent chapters in this browser.
Continuous reading

You may also like

No reviews yet. Be the first reader to leave one.
Please create an account or sign in to post a comment.