Tentu saja ketakutan Randika ini dibuat-buat. Setelah nerima pukulan bantal berkali-kali dari Hannah dan Viona, Randika diusir dari kamar reka berdua.
Namun sejujurnya, Randika lah yang keluar sebagai penang hari ini. Di saat pemukulan itu terjadi, dia berhasil ngambil kesempatan dalam kesempitan. Dia berulang kali raba dan remas kedua dada perempuan itu!
Ketika dia berjalan nuju kamarnya, wajahnya tidak bisa berhenti tersenyum. Ah. Aku ingin nyentuhnya lagi!
...
Keesokan harinya, ketiganya langsung jalan-jalan lagi.
nurut rencana reka kemarin, Hannah dan Viona ingin pergi ke pantai hari ini. Randika, tentu saja, nerima usulan ini karena pantai sama saja dengan bikini. Di mana ada bikini, di situ ada perempuan cantik. Jelas Randika sangat nantikan mon ini!
Ketiganya berangkat nuju pantai dengan semangat yang mbara, sayangnya pantai yang reka datangi sangatlah ramai.
"Keren!" Karena dari awal tujuan reka adalah pantai, Hannah dan Viona sudah makai bikini reka sejak dari hotel. Sekarang reka tinggal lepaskan baju dan celana reka saja.
Randika duduk dan njaga barang-barang reka sembari mperhatikan dua malaikat cantik ini.
Tidak diragukan lagi, Hannah dan Viona benar-benar perempuan super cantik. Kaki putih reka yang panjang dan halus itu benar-benar kelas dunia. Belum lagi pinggang reka yang ramping dan dada reka yang besar.
Randika nelan air liurnya berkali-kali, kedua perempuan tersebut sangat nggoda! Namun dari segi sifat, Viona lebih ke arah pendiam sedangkan Hannah ke arah liar dan bersemangat.
Dan apabila diperhatikan baik-baik, sepertinya Viona nang di kategori dada namun perbedaannya tidaklah jauh. Sepertinya dia perlu raba reka berdua agar Randika dapat tahu secara detail.
mikirkan hal tersebut, Randika njadi sedikit murung. Seharusnya sekarang hubungannya dengan Viona sudah masuk tahap hubungan badan! Tetapi sampai sekarang dia masih belum lewati tahap foreplay.
"Ran ayo cepat masuk!" Kata Viona sambil nggandeng Randika.
Ketika reka masuk ke dalam air, Hannah sudah nyambut reka dengan semprotan air.
lihat Randika yang terkena telak, Hannah dan Viona tertawa terbahak-bahak. Rupanya Viona bertugas untuk nahan Randika agar Hannah dapat nyemprotnya secara akurat.
"Kalian ini ya!" Randika mulai lancarkan serangan balik dan Viona mulai lari sambil nggandeng Hannah. Ketiganya saling nyemprotkan air, benar-benar hari yang nggembirakan.
Untuk liburan yang nggembirakan seperti ini sejujurnya tergantung siapa yang kita ajak, hal seperti ini bukan tergantung tempatnya. Ditemani perempuan cantik seperti Viona dan Hannah tentu saja mbuat Randika bahagia.
Namun ketika Randika nikmati mon ini, tiba-tiba kedua perempuan tersebut nyatukan kekuatan dan nyerang Randika!
"Hahaha salah sendiri kakak lamun!"
"Maafkan aku Ran, tapi rasakan itu!"
"Lihat pembalasanku!"
Randika tidak mau kalah begitu saja, tangannya dengan cepat ngambil air sebanyak-banyaknya dan nyemprotkannya pada Hannah dan Viona.
"Ah!"
Randika dengan akurat ngenai keduanya, tetapi tidak lama kemudian, Hannah sudah ngaku kalah karena dia sudah tidak bisa nerima serangan air Randika.
Setelah itu, reka bertiga mulai berenang.
Karena tidak mau terlalu dalam, Hannah dan Viona hanya berenang-renang di sekitar. Bagaimanapun juga, reka berada di laut. Bahkan skipun reka berada di pinggir pantai, reka harus tetap berhati-hati.
"Han, mau kubantu berenang?" Tanya Randika sambil tersenyum.
"Tidak mau, kak Randika pasti aneh-aneh lagi." Kata Hannah dengan wajah cemberut.
"Ya sudah kalau begitu." Randika lalu ncari Viona.
Berenang ke samping Viona, Randika berkata padanya. "Vi, mau kubantu berenang?"
ndengar hal ini Viona tersipu malu dan ngangguk.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita pemanasan dulu?" Randika lalu berkedip. "Aku akan nahanmu dari bawah."
Setelah berkata seperti itu, Randika masuk ke dalam air. Viona terlihat bingung tetapi tiba-tiba dia rasa bahwa pantatnya tiba-tiba dipegang.
Wajah Viona dengan cepat njadi rah, jelas Randika manfaatkan mon ini untuk raba dirinya.
Dengan bantuan Randika, Viona mulai berenang.
Hannah juga berenang ke arah Viona. lihat kakak iparnya itu nghilang, dia ndadak njadi curiga. Tetapi tiba-tiba, dia rasa kakinya disentuh dari bawah air dan sosok misterius tersebut tiba-tiba keluar di depannya.
Ketika Hannah pulih dari keterkejutannya, ternyata Randika lah yang ngagetkan dirinya.
"Tuh kan kak Randika sum lagi!" Kata Hannah dengan wajah marah.
"Hah? Apa yang kamu maksud?" Randika bersikukuh bahwa dia tidak sengaja nyentuh kaki Hannah.
Ketika reka berdua berdebat, tiba-tiba, ada suara teriakan. "Tolong, tolong! Anakku hanyut!"
Randika noleh ke arah tengah laut dan lihat seorang bocah yang sedang makai pelampungnya itu hampir hanyut oleh ombak.
Sepertinya bocah itu manfaatkan kelengahan orang tuanya dan berenang makin jauh nuju tempat yang sepi. Karena makai pelampung, dia rasa aman-aman saja tetapi yang tidak dia ketahui adalah ombak di tengah laut jauh lebih besar daripada yang ada di pinggir.
Dan sekarang bocah tersebut terus nerus dihajar oleh ombak!
Semua orang njadi panik ketika ndengar seruan minta tolong ibu tersebut.
"Orang tuanya bodoh sekali!"
"Cepat panggil penjaga pantai!"
"Sialan, sepertinya semuanya terlambat."
Beberapa orang tentu saja miliki pemikiran untuk berenang ke arahnya untuk nyelamatkannya tetapi kecepatan berenang reka terlalu lambat. Bisa dipastikan bahwa anak tersebut hanyut makin jauh ataupun tenggelam sebelum bantuan datang.
Randika nyadari bahaya ini kemudian dia langsung berenang dengan kecepatan penuh nuju anak kecil itu.
Sang ibu sudah hampir pingsan karena nangis sedangkan si ayah masih berusaha berenang ke arah anaknya. Karena ombak yang terus nghantamnya, dia akhirnya kelelahan dan akhirnya nyerah.
"Habis sudah."
"Panggil ambulans!"
"Ini juga salah orang tuanya, bisa-bisanya reka teledor seperti itu."
Para turis yang lain sudah nyerah, tetapi tiba-tiba salah satu dari reka nyadari sesuatu.
"Anak itu akan tenggelam!"
Ombak besar ternyata nghantam anak kecil itu dan nelannya hidup-hidup.
Ibu dari anak itu langsung pingsan lihat kejadian ini, tetapi secara ajaib anak itu berhasil muncul ke permukaan tetapi tidak nunjukan tanda-tanda bahwa dia masih hidup.
Sepertinya anak kecil itu nggunakan tenaga terakhirnya untuk muncul ke permukaan. Tetapi jika ada ombak lagi yang nghantamnya, dia pasti tidak bisa bertahan lagi.
Jika anak kecil itu tidak ndapatkan bantuan, jelas dia akan mati di tempat ini.
Beberapa penjaga pantai sudah berenang ke arahnya tetapi kecepatan reka terlalu pelan dan jarak reka cukup jauh.
Pada saat ini, anak kecil tersebut muntahkan sejumlah air dari dalam tubuhnya. Di tengah-tengah perjuangannya itu, dia sudah rasa bahwa dia akan mati.
Semua orang sudah nyerah dalam hati reka ketika lihat sebuah ombak kembali nelan anak kecil tersebut.
"Anakku! Tidakkkk! Maafkan ibu!" Si ibu yang kembali sadar itu langsung nangis dengan keras.
Para penjaga pantai yang berenang ke arah anak kecil tersebut sudah berhenti berenang dan nghela napas reka. Si ayah skipun terengah-engah masih tidak nyerah dan terus berenang skipun pelan. Apa pun yang terjadi, dia harus mbawa anaknya skipun dalam keadaan mati.
Detik demi detik terus berlalu, tidak ada tanda-tanda anak kecil itu kembali muncul ke permukaan. Sepertinya harapan sudah sirna.
Semua sudah mberikan belangsungkawa kepada sang ibu yang masih nangis.
Namun, tiba-tiba muncul keajaiban, anak kecil itu muncul ke atas permukaan!
Kejadian ini mbuat semua orang di pinggir pantai terkejut.
"Apa yang terjadi?"
"Lihat! Ada tangan yang nggendong anak kecil itu!" Kata orang yang lihat nggunakan teropong.
Semua orang langsung njadi heboh, kemudian Randika juga muncul ke permukaan. Hal ini mbuat semua orang bersorak-sorak.
"Dia nyelamatkan anak kecil itu!"
"Luar biasa!"
Ketika si ibu ndengar bahwa anaknya berhasil diselamatkan langsung manjatkan syukur tanpa henti.
Semua orang berbondong-bondong nggunakan teropong ataupun kara HP untuk lihat Randika yang berenang dengan satu tangan nuju pinggir pantai.
Di tengah-tengah perjalanannya, Randika sudah dibantu oleh sang ayah dan para penjaga pantai.
"Anakku!" Akhirnya si ibu berhasil luk anaknya kembali, tetapi kesadaran anaknya itu masih hilang.
"Cepat beri napas buatan!" Para penjaga pantai langsung ngambil sang anak dan mberikan pertolongan pertama.
Perjuangan sang anak akhirnya terbayarkan, setelah 30 detik akhirnya dia nyemburkan air yang dia telan sebelumnya.
"Mana ambulans? Bawa dia ke rumah sakit!" skipun dia sudah tidak apa-apa, lebih baik mbawanya ke rumah sakit untuk jaga-jaga.
Ketika orang-orang masih sibuk lihat anak kecil tersebut, sosok pahlawan yang nyelamatkannya sudah nghilang dari antara reka.
"Mana orang yang telah nyelamatkan anakku?" Orang tua si anak ingin nyampaikan terima kasihnya tetapi pada saat ini Randika sudah kembali bersama dengan Viona dan Hannah.
Hanya si ayah dan para penjaga pantai yang lihat wajahnya jadi Randika bisa nghilang dengan cepat dan tidak narik perhatian sama sekali.
"Ran, kamu lagi-lagi nyelamatkan orang." Kata Viona dengan wajah yang terkagum-kagum.
Randika hanya bisa tersenyum. "Sudah kewajiban untuk mbantu sesama kita."
Hannah yang bersemangat itu juga kagum dengan kakak iparnya. Setiap Randika berbuat sesuatu, entah kenapa Hannah juga ikut bersemangat.
"Kak Randika mang luar biasa! Bagaimana caranya kakak bisa berenang secepat itu?" Hannah terkagum-kagum karena Randika tiba-tiba sudah berada di sisi anak kecil tersebut.
"Kamu mau tahu?" Kata Randika sambil tersenyum.
"Tentu saja!" Hannah pun ikut tersenyum.
"Sini aku ajari." Kata Randika sambil tertawa.
Hannah ndekat dan Randika mbisikinya. "Rahasia."
Hannah terdiam beberapa saat dan njadi marah ketika dia sudah sadar kembali.
"Kak Randika sti kayak gini!" Hannah sudah siap nenggelamkan Randika.
"Vi, tolong aku!"
Ketika reka sudah berhenti berkelahi, reka bertiga kembali ke pinggir pantai. Pada saat ini, Randika nerima pesan di HP miliknya.
Pasukannya telah tiba di Makau!
Reviews
All reviews (0)